RASA SESAK DI d**a

1402 Words
Faranisa Maharani-wanita malang yang harus terduduk di kursi roda itu, tengah memusatkan pandangannya pada sekelompok anak-anak kecil yang sedang asik bermain di depan sana. Jika saja ia tidak menderita kanker serviks yang menyebabkan rahimnya harus di angkat, mungkin saat ini dia telah memiliki seorang anak sebagai buah cintanya bersama Sang Suami. Perlahan tapi pasti air mata Fara turun tanpa bisa dicegah. Dadanya sesak. Hidupnya begitu pilu hingga ia merasa bahwa hanya dia satu-satunya wanita di dunia ini yang tak sempurna. "Mereka lucu ya bi," ujarnya pada Sang ART yang sedari tadi duduk di sampingnya. "I-iya Nyonya," jawab Bi Darsih dengan ragu. Ia tahu saat ini hati Sang Majikan pasti tengah sakit. "Sebelum aku mati, aku ingin sekali melihat Nisa memiliki anak dari Mas Haris. Setidaknya aku bisa merasakan menjadi seorang ibu juga, meski aku bukan kandungnya," ucapnya pilu. Bi Darsih memandangi Sang Majikan dengan sendu. Ia begitu paham apa yang tengah di rasakan majikannya. "Nyonya yang sabar ya. Tapi Nyonya tidak boleh berbicara seolah kematian Nyonya telah dekat. Tidak baik mendahului takdir Tuhan Nyonya." Bi Darsih menasehati. "Aku ingin percaya bahwa aku bisa hidup lebih lama lagi. Tapi itu terlalu mustahil bi," ucap Fara sambil tersenyum kecut. "Tidak ada yang tidak mungkin Nyonya. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka hal muastahil apapun bisa terjadi. Nyonya harus yakin bahwa keadaan Nyonya perlahan bisa membaik, dan Nyonya akan panjang umur." Bi Darsih mencoba menyemangati. Namun kini tak ada lagi semangat dalam diri Fara. Apakah dia lebih semangat menjalani hidup setelah keinginannya untuk melihat Haris menikah dengan Nisa terwujud? Tentu saja TIDAK. Istri mana yang rela cintanya terbagi? Kata ikhlas yang keluar dari mulut Fara hanya bohong semata! Ia hanya ingin menyelamatkan Sang Suami dari wanita-w*************a yang ingin mengambil posisinya sebagai istri. Dengan adanya Nisa, dia yakin wanita itu bisa menjadi benteng untuk melindungi suaminya dari wanita liar di luar sana. Fara sadar, perannya sebagai istri kini sangatlah terbatas. Dengan kondisinya sekarang, ia tak bisa selalu menunaikan kewajibannya pada Sang Suami. "Kita pulang saja yuk Nyonya. Sudah lumayan lama kita disini." Ajakan Bi Darsih membangunkan lamunan Fara. Fara terperanjat. "Eh udah lama ya Bi? Yasudah kita pulang sekarang," ucapnya. Bi Darsih pun mendorong kursi roda Sang majikan untuk keluar dari taman. Saat kursi roda Fara baru menginjak aspal jalan, tiba-tiba sebuah mobil mucul dari arah kanan jalan. Mata Darsih membulat sempurna. Dengan refleks ia kembali menarik kursi roda Fara agar mundur. Dan benar saja, jika Bi Darsih tak menarik kembali kursi roda Fara, saat ini majikannya pasti telah terpental sebab mobil itu melaju kencang dan berjalan begitu menepi. "Astagfirullah!" Fara terperanjat kaget saat mendapati sebuah mobil melintas kencang tepat di depannya. Padahal jalanan di kompleks nya masih lebar, keadaannya pun kosong, tak ada pengendara lain. "Hampir saja." Bi Darsih mengeluarkan nafas lega. "Dari mana munculnya mobil itu Bi?" tanya Fara pada Sang ART. "Tidak tahu Nyonya. Saya tiba-tiba lihat mobil itu ngebut dari arah kanan," jawab Bi Darsih. 'Aku memang gak kenal mobilnya. Tapi hatiku berkata bahwa itu kamu adikku' batin Fara. *** Nisa masih tergugu dalam tangisnya. Sejak keluar dari ruangan Sang Suami, ia langsung menyendiri di pojokan pantry sambil terisak. Cici dan Jamal bingung di buatnya. "Nisa sebenernya kamu kenapa? Cerita sama kita." Cici bertanya sambil mengelus punggung Sang Teman. Sejak tadi gadis itu bertanya pada Nisa, namun tak ada jawaban. Nisa hanya sibuk dengan tangisnya. "Biarin aje lah. Die belum siap cerite kali," ujar Jamal-lelaki berdarah betawi asli. "T-tolong biarkan aku sendiri dulu ya," pinta Nisa pelan, namun Cici dan Jamal masih bisa mendengarnya. Keduanya pun bangkit meninggalkan Nisa dan meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda. "Tadi terakhir dia antar kopi ke ruangan Pak Bos. Apa dia nangis gara-gara di marahin Pak Bos ya?" tanya Cici sambil berbisik pada Jamal. "Udeh, jangan ikut campur urusan orang. Kalo die mau cerite, entar juga cerite same kite. Kite biarin die tenang dulu," ujar Jamal sambil terus membereskan gelas yang telah selesai ia cuci. Kembali lagi pada Nisa. Perempuan cantik itu masih belum usai dengan tangisnya. Hatinya kini sakit. Sangat sakit. Ia tak pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya. Sakit yang hanya dia dapatkan dari Haris-suaminya sendiri. Nisa meremas dadanya yang terasa sesak. "S-sakit," lirihnya tercekat. "Kenapa kamu jahat Mas? Kemarin kamu membuatku terbang, hingga aku berani meyakinkan hatiku untuk mencintaimu. Tapi hari ini, kamu membuat hatiku hancur." "Lalu apa arti dari sikap manismu itu, jika kamu menyesal telah menikahiku? Mungkin harusnya kita memang tidak bersatu Mas," lirihnya sendu dengan air mata yang terus mengalir. "Nisa!" panggil Dimas yang baru saja memasuki pantry. Nisa buru-buru menghapus air matanya dan sedikit membenarkan jilbabnya yang pasti telah berantakan. Ia memutar tubuhnya menghadap Dimas. "Iya Pak Dimas, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nisa dengan suara yang masih parau. "Kamu kenapa?" tanya Dimas heran, sebab ia melihat mata gadis cantik di hadapannya ini basah seperti habis menangis. "Bapak perlu sesuatu?" tanya Nisa mengalihkan pembicaraan. Tak mungkin ia berkata bahwa ia menangis karena Bos Besar mereka. "Oh iya. Pak Haris meminta kamu untuk ke ruangannya. Tadi sudah telpon bagian pantry tapi gak di angkat," ujar Dimas. "Maaf Pak. Saya tadi tidak mendengar, dan teman-teman saya sedang mengerjakan pekerjaan yang lain," ucap Nisa sambil sedikit menunduk memberikan hormat. "Yasudah tidak apa-apa. Sekarang kamu langsung ke ruangan Pak Haris saja ya," pinta Dimas dengan tersenyum manis. Dimas membalikkan badannya dan hendak melangkah pergi, namun urung ketika Nisa memanggilnya. "Tunggu Pak," ujar Nisa. "Iya, kenapa Nisa?" tanya Dimas yang telah kembali menghadap Nisa. Nisa menunduk agak dalam. "M-maaf pak, bolehkah saya izin untuk istirahat sebentar? Saya kurang enak badan. Dan sepertinya saya tidak bisa pergi ke ruangan Pak Haris dulu," pinta Nisa dengan ragu. "Apa? Kamu sakit?" pekik Dimas. Lelaki itu langsung panik dan memindai keadaan Nisa dari atas hingga bawah. "Apa mau saya antarkan ke dokter?" tawar Dimas khawatir. "Tidak usah Pak, terima kasih. Saya hanya butuh istirahat sebentar saja." tolak Nisa secara halus. "Yasudah. Kalau begitu, kamu pulang duluan saja hari ini. Istirahat yang cukup di rumah," ujar Dimas. "Boleh Pak?" Nisa memastikan. Dimas mengangguk. "Boleh. Tapi maaf saya tidak bisa mengantar kamu. Sebentar lagi saya harus menemani Pak Haris untuk meeting." "Tidak apa-apa Pak. Saya bisa naik angkutan umum. Sekali lagi terima kasih Pak," ucap Nisa. Ia agak lega sebab Dimas tak memaksanya untuk tetap ke ruangan Haris. Malah ia mendapatkan kesempatan emas untuk bisa keluar dari kantor lebih cepat. Setelah Dimas berlalu, buru-buru Nisa menukar pakaian kerjanya dengan pakaian biasa. Setelanya, ia dengan cepat berjalan ke luar kantor. Ia takut saja Haris nekad untuk menemuinya. *** Tok Tok Tok "Masuk!" Teriak Haris. Alis lelaki pemilik tatapan tajam itu mengernyit. "Kenapa malah kamu yang kesini? Bukannya kamu suda saya suruh untuk memanggil Nisa?" tanya Haris heran pada sang Asisten. Tadi, tak lama setelah Nisa keluar dari ruangannya. Haris sedikit merenung. Ia sadar telah keterlaluan pada Sang Istri yang bahkan tak tahu apa-apa. Lelaki itu telah beberapa mencoba menghubungi Nisa dan menelpon bagian pantry, tapi tak ada jawaban. "Maaf Pak. Nisa bilang dia sedang tidak enak badan. J-jadi saya suruh dia pulang saja untuk istirahat," ujar Dimas hati-hati. "Oh yasudah," sahut Haris singkat. Dimas melongo di buatnya. Ia tak percaya lelaki di depannya ini adalah Haris-Sang CEO Wiyatama Group yang terkenal tegas dan tak pandang bulu. Biasanya ketika ada karyawan yang tak mematuhi perintahnya, ia akan berubah menjadi singa lapar. 'Apa ini beneran Bos gue?' batin Dimas bertanya-tanya. Berbeda dengan Dimas yang masih menatap Sang Bos tak percaya. Haris justru malah melamun dalam diamnya. 'Pasti dia pura-pura sakit untuk menghindari saya. Maafkan saya Nisa, saya sudah menyakiti kamu lagi,' batin Haris sendu. Saat tersadar, Haris teringat dengan sesuatu. Ia pun mengambil ponselnya dan menatap Sang Asisten dengan serius. "Dim apa kamu tahu nomor ini?" tanyanya sambil memperlihatkan nomor peneror tadi. Dimas mengambil ponsel tersebut. Namun seketika matanya membulat sempurna. Mulut nya menganga tak percaya. Ia dengan jelas melihat foto Haris tengah memeluk Nisa dalam room chat tersebut. "Kamu kenapa?" tanya Haris heran saat melihat Sang Asisten seperti sangat terkejut. "P-pak maaf. Apakah ini betul foto anda dengan Nisa?" tanya Dimas sambil memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Mata Haris ikut membola. Ia cepat-cepat menarik kembali ponselnya dari Dimas. "Oh s**t! Aku malah memperlihatkan chatnya!" umpatnya kesal. Lelaki itu pun kembali menatap Sang Asisten. "Ini hanya rahasia kita saja. Jika sampai bocor, maka kamu orang pertama yang akan saya cari," ujarnya dengan nada ancaman. Dimas hanya diam menunggu Sang Bos meneruskan perkataannya. "Saya dan Nisa telah resmi menikah." "Apa?" Suara Dimas memekik keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD