Nisa terus melangkahkan kakinya dengan tatapan kosong tanpa tujuan yang jelas. Wanita itu tak berniat untuk pulang, ia hanya ingin menenangkan diri dan menghindari berbagai pertanyaan.
Langkahnya terhenti di sebuah taman yang terdapat di pinggir jalan. Nampak sepi sekali. Mungkin karena memang masih jam kerja dan anak-anak pun masih berada di sekolah, pikirnya.
Nisa mendudukan tubuhnya di atas bangku panjang yang terdapat disana. Perlahan air matanya kembali mengalir membasahi wajah cantik itu.
Ingatannya berputar pada saat Sang Bapak masih ada. Begitu bahagianya dia meskipun hidup serba kekurangan. Bapak nya adalah lelaki luar biasa yang memberikan seluruh cinta untuknya seorang. Dia merindukan lelaki yang telah tiada itu, sangat merindukannya.
"Nisa kangen sama Bapak," lirihnya dengan air mata yang terus mengalir.
"Cuma Bapak yang beneran sayang sama Nisa."
"Kenapa nasib Nisa begini Pak? Nisa bingung dengan takdir yang Allah kasih sama Nisa," lirihnya tercekat.
"Saya siap mendengarkan kamu. Ceritalah," ujar seseorang yang tiba-tiba duduk di bangku yang sama dengannya.
Nisa seperti mengenal suara tersebut. Ia menolehkan pandangannya ke samping. Dan benar saja, ia sangat mengenal lelaki di sampingnya ini.
Kenapa Tuhan harus mempertemukan lagi dia dengannya?
"Ceritalah. Saya tahu kamu sedang tidak baik-baik saja Neng," ujar Imam yang duduk di sampingnya.
"Saya baik-baik saja," jawab Nisa singkat sambil memalingkan wajahnya.
Niatnya untuk menenangkan diri harus gagal karena kedatangan Imam.
"Kamu tidak pandai berbohong Neng," sahut Imam.
Nisa hanya diam. Dia enggan meladeni Imam. Susana hatinya sedang sangat buruk. Ia tak mau berlama-lama dengan Imam. Perempuan itu pun berdiri dari duduknya hendak melangkah pergi.
"Kamu mau kemana Neng?" cegah Imam dengan cepat.
"Saya harus pergi," ujar Nisa singkat.
"Tunggu dulu Neng. Kita bisa berbicara dulu disini. Sudah lama juga kita tidak mengobrol bukan?"
"Maaf Kang tapi saya harus pergi. Tidak baik berduaan disini. Takut terjadi fitnah," ujar Nisa tanpa menoleh pada Imam.
"Kenapa Neng? Ini kan tempat umum. Gak mungkin kita macam-macam. Orang yang lewat pun bisa lihat sendiri," sanggah Imam.
"Tapi Nisa sudah tidak seperti dulu lagi Kang. Sekarang Nisa istri orang. Gak baik seorang istri berduaan dengan lelaki lain," ucap Nisa kesal.
Tubuh Imam mematung. Ia seperti mendapati ribuan panah menancap pada hatinya. Sakit.
"K-kamu bercanda kan Neng?" tanya Imam tak percaya.
"Saya serius. Jadi biarkan saya pergi Kang," ujar Nisa sambil melangkahkan kakinya kembali.
Kali ini Imam tak mencegahnya. Lelaki berparas teduh itu masih belum pulih dari keterkejutannya.
"Sudah menikah? Kamu pasti bohong Neng," gumamnya tersenyum kecut menatap kepergian Sang Pujaan Hati.
***
Hari sudah mulai sore. Nisa memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia memesan taksi online dari ponselnya.
Setelah beberapa menit menunggu, taksi online tersebut datang. Gegas Nisa masuk, dan mobil pun melaju membelah jalanan menuju tempat tujuan.
Setelah 40 menit melaju, taksi online yang di tumpangi Nisa telah sampai di depan rumah megah milik Haris Ivander Wiyatama. Gegas Nisa turun dan masuk ke halaman rumah. Dia akan masuk ke paviliun lewat jalan samping. Rasanya Nisa malas menjelaskan jika ada orang yang bertanya kenapa ia pulang lebih dulu.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga." Nisa menghembuskan nafas lega setelah sampai di kamarnya.
Wanita yang masih mengenakan jilbab lengkap itu, menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Matanya lurus menatap langit-langit kamar. Memorinya berputar pada kejadian tadi siang yang membuatnya merasakan sesak di d**a.
Nisa menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk mengusir ingatan-ingatan tentang kejadian tak mengenakan itu.
"Kamu harus lupain Nisa. Kamu gak boleh cengeng." Tekadnya menguatkan diri sendiri.
"Aku gak boleh baper. Yang di katakan Mas Haris benar kok. Gak seharusnya aku ada disini. Jika saja aku gak bertemu sama Mbak Fara dan bekerja disini, mungkin semuanya gak akan jadi begini. Hidupku dan Mas Haris gak akan serumit ini," ujarnya. Namun beberapa saat kemudian Nisa kembali menggelengkan kepalanya.
"Astagfirullah.. ingat Nisa semua ini terjadi atas Kehendak Allah! Kamu tidak boleh berandai-andai!" peringatnya pada diri sendiri.
"Tapi, apa ini sudah benar Yaa Allah? Sampai kapan Nisa terus begini?"
Hari telah berganti malam. Sejak tadi Nisa tak keluar dari kamarnya barang sebentar pun. Wanita itu seakan betah berdiam sendirian sambil merenungkan nasib pernikahannya yang entah akan dibawa kemana.
Berbeda dengan Nisa, lelaki pemilik rahang tegas dan tatapan tajam, tengah gelisah sedari tadi. Sejak Nisa pulang lebih dulu, ia sudah mulai gelisah. Saat menjalani meeting pun tak terlalu fokus. Pikirannya hanya berpusat pada Sang Istri yang sianh tadi ia marahi habis-habisan.
Kegelisahannya bertambah saat Fara menceritakan bahwa Nisa tak keluar kamar sejak tadi. Bahkan tak ada orang yang tahu jika perempuan itu telah pulang lebih dulu.
Sungguh ceroboh sekali aku!. Batin Haris menggerutu.
"Mas, malam ini jatahmu di tempat Nisa bukan? Kenapa kamu masih disini?" tanya Fara saat melihat Sang Suami masih ada di kamarnya.
"A-ah iya. Aku sebentar lagi kesana," jawab Haris agak kikuk.
"Mas apa kalian sedang bertengkar?" Tanya Fara dengan tatapan mengintimadasi.
"T-tidak. Semuanya baik," kilah Haris.
"Baiklah."
***
Nisa tengah berusaha memejamkan matanya. Sejak tadi matanya terus menolak untuk tertidur. Otaknya terus berputar seakan tak mengizinkan Nisa untuk istirahat.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pada pintu kamarnya. Nisa hanya membiarkan saja. Di enggan membuka. Pun ia juga tahu pasti Haris yang datang. Sebab malam ini memang harusnya Haris bermalam bersamanya.
"Nisa ini saya!" teriak Haris dari luar.
Nisa menutupi telinganya dengan bantal,berusaha untuk mengabaikan Haris. Namun hatinya berkata agar membiarkan Haris masuk.
"Nisa, tolong buka pintunya!" teriak Haris lagi.
Hufftt
Nisa mengehembuskan nafas panjang. Ia malas sekali bertemu dengan Haris, namun ia ingat statusnya sebagai seorang istri. Dia pun mengalah dan berjalan untuk membukakan pintu.
Ceklek
Nisa membuka pintu lebar-lebar tanpa menoleh ke arah Haris. Haris segera masuk dan kembali mengunci pintu. Ia mengikuti Nisa yang telah lebih dulu berjalan ke arah ranjang.
"Nisa, maafkan saya," ujar lelaki berparas tampan itu.
"Saya tahu saya sudah keterlaluan. Saya minta maaf," ujarnya lagi.
Namun Nisa sama sekali tak menggubris. Perempuan itu justru telah membaringkan tubuhnya sambil memunggungi Haris.
Haris memberanikan diri untuk memegang pundak Sang Istri. "Saya minta maaf,saya selalu menyakiti kamu," lirihnya. Namun Nisa masih tak merespon.
"Maafkan saya. Saya memang bukan suami yang baik untuk kamu."
Cup
Haris mengecup pipi Nisa agak lama. Nisa bisa merasakan hangat nafas yang keluar dari mulut Haris. Ia juga bisa merasakan air mata Sang Suami jatuh mengenai pipinya. Haris yang sadar, cepat-cepat menarik diri dan menghapus air matanya.
Lelaki itu membaringkan diri sambil memeluk sang istri dari belakang. Ini adalah kali pertamanya Haris memeluk Nisa ketika tertidur. Entah mengapa ia sangat ingin sekali tidur dengan posisi begini hingga pagi.
'Maafkan saya. Saya masih bingung dengan perasaan saya sendiri. Keadaan pun membuat saya lagi-lagi menyakiti kamu.' Batin Haris sendu.