Nisa terusik dari tidurnya. Dia merasakan tubuhnya agak sulit untuk di gerakkan. Sebuah tangan kekar melingkar di perut Nisa, memeluknya dengan erat. Siapa lagi jika bukan Haris pelakunya?
"Mas Haris kenapa begini sih," gumam Nisa pelan.
Perlahan ia mengangkat tangan Haris dengan hati-hati. Menyingkirkan tangan kekar itu dari atas perutnya.
"Hem." Haris bergumam seraya mempererat pelukannya.
Terdengar helaan nafas kasar dari mulut Nisa. Bagaimana ia akan bangun jika suaminya terus seperti ini?
"Kamu membuatku susah Mas," keluh Nisa pelan.
Ia kembali menyingkirkan tangan Haris dengan sangat hati-hati. Sungguh Nisa rasanya ingin langsung menepis dengan kasar saja, setelah dia mengingat perlakuan Sang Suami padanya. Namun dia tahu itu salah. Haris adalah suaminya. Sebagai istri, Nisa wajib berbakti dan berbuat baik pada Sang Suami.
"Huh akhirnya berhasil," gumamnya pelan setelah berhasil menyingkirkan tangan kekar Haris dari perutnya.
Nisa beringsut dari ranjang. Dan berjalan menuju kamar mandi. Perempuan manis itu mematut di depan cermin wastafel. Di pandanganya mata teduh yang kini telah membengkak.
"Kalau begini, orang-orang pasti tahu aku habis nangis," gumamnya.
"Yaa Allah bisakah Nisa tak menangis sehari saja?"
Berbeda dengan Nisa yang tengah memulai ritual mandinya dengan tenang. Haris justru gelabakan saat menyadari Sang Istri tak ada di sampingnya.
"Nisa kemana?" tanyanya panik.
Dengan segera Haris turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar.
"Lho pintunya masih di kunci dari dalam," gumamnya heran. Matanya kemudian mengedar mengitari sudut kamar. Hingga ia tersadar ada suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Haris memutar langkahnya menuju kamar mandi. Dia mematut di depan pintu. Memastikan bahwa Nisa memang ada di dalam sana.
"Sepertinya Nisa sedang mandi," gumamnya sambil bernafas lega.
Haris kembali melangkah menuju ranjang dan mengambil duduk di tepiannya. Dia sedikit memijat keningnya yang terasa pening karena terbangun tiba-tiba.
10 menit menunggu, Haris mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka. Dan tak lama keluarlah seorang wanita cantik dengan bathrobe yang menutup sebagian tubuhnya.
Haris mendongakkan kepala menatap seorang wanita di depannya. Cantik. Itulah kata yang pantas untuk menjabarkan objek di hadapannya ini. Haris akui, istri keduanya ini memiliki paras yang nyaris sempurna. Wajah yang cantik alami, hidung mancung, dan sorot mata yang begitu menenangkan. Siapapun yang melihatnya, pasti akan terpesona. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apakah seorang Haris Ivander Wiyatama akan terpesona pada seorang Annisa Nadira?
"Ekhem." Nisa berdehem membuat lamunan Haris buyar seketika.
"Khem." Haris berdehem sejenak untuk mengusir rasa canggungnya. Dia menatap Nisa dan menunggu wanita itu untuk menyapanya. Namun sayang, Nisa tak berkata apa-apa dan malah melenggang begitu saja menuju lemari.
Haris keheranan melihatnya. Namun sesaat kemudian ia tersadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan. Pantas saja saat ini Nisa bersikap dingin padanya.
"Nisa," panggil Haris mengahampiri Nisa yang tengah mengambil pakaian.
"Mas Haris perlu sesuatu?" tanya Nisa tanpa menoleh sedikit pun pada Sang Suami.
"Maaf," ucap lelaki berahang tegas itu.
Kegiatan Nisa terhenti sejenak. Kemudian kembali mengambil pakaian dan membawanya menuju kamar mandi tanpa menghiraukan ucapan Sang Suami.
"Nisa," panggil Haris lagi saat melihat Nisa hendak memasuki kamar mandi.
Langkah Nisa terhenti. "Kenapa lagi Mas?" tanyanya dengan nada dingin.
"S-saya minta maaf Nisa," ucap Haris yang berdiri di belakang Nisa.
"Sudah, kan? Saya ingin memakai pakaian," ujar Nisa yang kemudian memasuki kamar mandi.
Haris masih mematut di depan pintu. Ia akan menunggu Nisa keluar dan menyelesaikan masalah di antara mereka. Haris merasa tak nyaman berada dalam sistuasi begini.
Ceklek
Pintu kamar mandi kembali dibuka memperlihatkan Nisa yang telah mengenakan pakaian lengkap. Perempuan itu melenggang melewati Haris.
Haris cepat-cepat menyusul Nisa. "Kamu mau shalat tahajud, kan?" tanyanya.
"Iya," jawab Nisa singkat sambil terus fokus pada mukenanya.
"Tunggu saya ya. Saya akan mandi sebentar. Kita shalat tahajud bersama," pinta Haris. Lelaki itu pun dengan segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Nisa nampaknya masih menyimpan kecewaan pada Haris. Dia tak menunggu suaminya selesai mandi dan malah shalat seorang diri.
Nisa terlihat khusuk dalam shalatnya. Hingga pada saat ia telah selesai bermunajat pada Sang Pencipta, Haris datang menghampirinya. Terlihat lelaki itu telah berpakaian shalat dengan lengkap.
"Kenapa kamu tidak menunggu saya?" tanyanya pada Sang Istri.
"Mas Haris shalatlah. Saya sudah selesai," ujar Nisa yang kemudian berdiri dan berpindah duduk di tepi ranjang. Dia membuka Al-qur'an yang ia pegang, lalu membacanya pelan.
Haris masih memandangi Nisa dari tempat shalatlah.
Sepertinya kamu sangat kecewa pada saya. Batin Haris sendu.
Lelaki itu kemudian membalikkan badan dan memulai shalat tahajudnya seorang diri.
"Saya ingin berbicara dengan kamu Nisa. Tolong jangan menghindar," pinta Haris yang telah selesai dengan shalatnya. Ia kini duduk di pinggiran ranjang, berdampingan dengan Nisa.
"Saya ingin minta maaf. Kemarin saya sangat emosi. Ada nomor yang tak di kenal mengirim foto pada saya. Dan itu adalah foto saat kita berpelukan di depan Caffe. Dia mengancam akan menyebarkannya ke media. Saat itu juga saya sangat marah. Emosi saya tak bisa di kontrol lagi. Hingga saya melampiaskannya padamu Nisa."
"Saya benar-benar minta maaf. Saya sadar telah menyakitimu," ucap Haris dengan tulus.
Nisa hanya terdiam sambil menatap mata Haris. Dia bisa melihat dengan jelas rasa sesal di dalam sorot mata Sang Suami.
Grep
Haris memeluk tubuh Nisa dengan tiba-tiba. "Maafkan saya Nisa," sesalnya dengan sendu. Dia memejamkan mata sambil menghirup aroma tubuh Nisa yang menenangkan.
Nisa yang tersadar segera berusaha melepaskan pelukan Haris. Dia menatap manik mata Sang Suami dengan serius. "Tolong jangan seperti ini Mas. Bersikaplah biasa saja seperti saat kita belum menikah. Jika Mas terus bersikap seperti ini, Mas hanya akan semakin membuatku jatuh cinta seorang diri."
"Jika Mas tidak ingin ada cinta di antara kita, setidaknya jangan menunjukkan sikap manis dan perhatian yang berlebih. Karena itu akan sangat menyiksaku nantinya Mas."
"Aku sadar, aku hanya seorang istri di atas kertas. Tak seharusnya aku mencintaimu, kan? Maka bantulah aku agar tak mencintaimu lebih dari ini Mas," ujar Nisa dengan perasaan sesak.
Haris merasa tertampar dengan ucapan Sang Istri. Ia hanya diam sambil tertunduk. Dia harus apa? Bukan keinginannya untuk bersikap demikian pada Nisa.
"Saya minta maaf," lirih Haris sambil tertunduk.
***
Hari telah beranjak siang. Aktivitas telah kembali dimulai. Kini baik Haris maupun Nisa telah berada di kantor PT Wiyatama Group untuk bekerja.
Tak ada kehangatan di antara keduanya hari ini. Bakan pagi tadi Nisa memilih untuk berangkat sendiri menggunakan Taksi. Haris telah berusaha agar Nisa kembali seperti biasa. Lelaki itu juga telah beberapa kali meminta Nisa untuk datang ke ruang kerjanya, namun hingga sekarang perempuan itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya.
"Apakah saya sejahat ini Yaa Allah?", lirih Haris sambil menengadahkan kepalanya.
Tok Tok Tok
Pintu ruangan kerjanya diketuk dari luar. Haris segera membenarkan posisi duduknya. Ia harus terlihat baik-baik saja.
"Ini saya Dimas pak!" teriak Sang Asisten dari luar.
"Masuk Dim!"
"Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang nomor itu?" tanya Haris langsung pada Sang Asisten.
Kepala Dimas menggeleng pelan. "Belum Tuan. Maaf saya belum mendapatkan informasi apapun. Sepertinya orang tersebut bukan orang sembarangan Tuan. Dia sangat pintar memutus akses informasi pada nomor tersebut," ujar Dimas dengan hati-hati. Ia sangat takut setelah ini Sang Bos akan kembali murka seperti tempo hari.
Haris menghela nafas berat. "Yasudah lah. Tapi kamu tetap harus mencari informasinya sampai dapat. Saya tidak mau terjadi masalah dengan karir saya. Terlebih lagi, Nisa pasti akan di cap sebagai wanita yang tidak baik," ujarnya.
"Siapapun pelakunya. Saya akan memberi dia hukuman yang setimpal," ucap Haris penuh tekad.