MAKAN SIANG BERSAMA

1323 Words
Haris masih menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja sambil memejamkan mata. Sejak tadi lelaki itu tak bisa fokus. Pikirannya terus tertuju pada Nisa yang masih bersikap acuh. "Apa aku suruh Nisa antar kopi kesini ya?" gumamnya. Lelaki itu kemudian menekan nomor telpon bagian pantry. "Selamat siang Pak Haris. Bapak butuh sesuatu?" tanya seorang perempuan dari sebrang telpon. Haris menghela nafas kesal. Ternyata bukan istrinya, malah karyawan lain yang mengangkat telpon tersebut. "Halo Pak Haris. Apa Bapak masih disana?" "I-iya iya. Saya masih disini. Minta Nisa untuk buatkan saya kopi seperti biasa. Lalu antarkan kesini. Ingat! Nisa yang harus antarkan kesini." "B-baik Pak," patuh karyawan dari seberang telpon yang ternyata adalah Cici. Sedangkan di pantry, Nisa berdecak sebal karena Haris selalu saja memiliki cara untuk mendekatinya. Nisa sengaja meminta Cici yang menjawab panggilan. Ia telah memiliki feeling bahwa Haris lah yang menelpon. Dan ternyata dugaannya tepat sasaran. "Aku males lho antar ke ruangan Pak Haris," gurutu Nisa. Cici dan Jamal mengerutkan kening. "Kenape lu?" tanya Jamal. "Kamu lagi ada masalah sama Pak Haris?" tanya Cici sambil memicingkan mata. Nisa seketika langsung memasang wajah biasa. "Enggak kok. Aku cuma males aja ketemu Pak Haris," kilahnya. "Yakin? Kemarin kamu habis dari ruangan Pak Haris tiba-tiba nangis. Sampai balik duluan lagi. Kalian ada something, kan?" Cici mengintimadi. Nisa yang di desak seperti itu, seketika menjadi gugup. "E-nggak kok. Something apaan? Jangan aneh-aneh deh." "Kamu yakin? Aku sih lihat sebenarnya di antara kalian berdua tuh---" "Gak ada. Aku mau bikin kopi dulu. Keburu bos nya ngamuk." Nisa dengan cepat memotong ucapan temannya. Ia tak mau terus di sudutkan hingga akhirnya rahasia ini terbongkar. Baru ada teror foto saja suaminya begitu marah. Apa lagi jika ada orang yang tahu tentang statusnya? Nisa dengan cekatan meracik kopi sesuai dengan selera Haris. Sedikit banyak ia mulai tahu apa-apa yang disukai dan tidak disukai oleh lelaki berparas tampan itu. Setelah selesai, gegas Nisa menyimpannya di atas nampan, lalu mengangkat nampan tersebut. "Aku antar ini dulu ya," pamitnya pada Cici dan Jamal. Kedua temannya itu menatap punggung Nisa yang telah berlalu dengan heran. "Aku yakin ada sesuatu di antara Nisa sama Pak Haris. Soalnya kayak ada yang janggal gitu. Kamu rasain juga gak?" tanyanya pada Jamal. Lelaki berkulit hitam manis itu sedikit mengangguk. "Gue juge ngerasa sih. Tapi males gue kepo-kepo. Ape lagi urusannya same bos. Bisa gak aman kerjaan gue." Kembali pada Nisa. Perempuan manis itu terus melangkahkan kakinya menuju ruang kerja CEO Wiyatama Group yang merupakan suaminya sendiri. Di sepanjang jalan, Nisa terus menguatkan hatinya. Meskipun ia masih malas bertemu dengan Haris, tapi jika menyangkut urusan pekerjaan, dia tak bisa menolak. "Itu buat Pak Haris, kan?" tanya Celine yang tiba-tiba menghadang langkah Nisa. "Iya bu. Ini untuk Pak Haris," jawab Nisa. "Biar gue yang kasih," ujar Celine. Wanita dengan pakaian yang sangat terbuka itu hendak mengambil alih nampan dari tangan Nisa. Namun Nisa dengan cepat menjauhkannya. "Maaf bu. Tapi Pak Haris meminta saya yang antar ke ruangannya," ujar Nisa sambil menatap Celine. Tak ada ketakutan dalam dirinya meskipun dia hanya seorang bawahan. "Berani lo sama gue?" geram Celine. Nisa memutar bola matanya malas. Lihatlah wanita sexy di hadapannya ini begitu arogan dan tak memiliki sopan santun. Mana mungkin suaminya mau dengan wanita seperti ini? "Maaf bu, Pak Haris sudah menunggu lama. Saya harus segera pergi." Nisa melangkahkan kakinya hendak melewati Celine. Dengan cepat Celine mencekal tangan Nisa. "Jangan pernah berani ngelawan gue. Pak Haris itu cocoknya sama gue. Bukan sama cewek norak kayak lo." Degh Tubuh Nisa membeku seketika. Apa Celine mengetahui rasanya? Tapi tak mungkin. Jika Celine tahu soal ini, tak mungkin Haris membiarkan wanita bebas seperti ini. "Sini gue yang antar." Celine berhasil merebut nampan dari tangan Nisa. Nisa akhirnya mengalah dan hanya diam menatap kepergian Celine. Dia terlalu malas untuk mencari ribut di saat hatinya belum membaik. *** Di ruang kerjanya, Haris tengah menunggu Nisa dengan senyum yang mengembang. Ia sengaja telah berpindah duduk di sofa. Di depannya juga telah terhidang beberapa makanan yang sengaja dia pesan melalui aplikasi pengantar makanan. Siang ini dia ingin makan siang bersama Sang Istri. Haris berharap dengan cara seperti ini, Nisa akan sedikit memaafkan kesalahannya. Ah membayangkannya saja sudah membuat Haris senyum-senyum sendiri. Tok Tok Tok "Masuk!" "Itu pasti Nisa," gumamnya Haris senang. Dia segera merapikan penampilannya dan duduk dengan benar. Sungguh sikap Haris sangat aneh. Persis seperti orang yang sedang jatuh cinta. Apakah dia? Tidak. Haris merasa bahwa tidak jatuh cinta. Semua ia lakukan hanya sebatas tanggung jawab sebagi seorang suami. Pintu dibuka dari luar, dan seketika itu senyuman di wajah Haris luntur. Berganti dengan raut tak suka bercampur dengan kecewa. "Permisi Pak. Saya ingin mengantarkan ini untuk Pak Haris," ucap Celine sembari memasang senyum terbaiknya. Wanita itu meletakkan cangkir berisi kopi di depan Haris. Dan seperti biasa, dia tak pernah ketinggalan untuk berusaha menggoda Haris dengan tubuh sexy nya. Dan semua itu sungguh membuat Haris muak. "Saya tidak menyuruh kamu yang mengantarkan ini," ucap Haris dengan datar. "Emh ... tadi OB itu minta saya yang antarkan kesini. Katanya sih dia malas masuk kesini Pak," ujar Celine dengan suara yang dibuat manja. "Dia punya nama. Namanya Nisa," tegur Haris. "Ups iya. Saya lupa Pak. Namanya Nisa." "Tapi sepertinya dia bukan wanita baik-baik. Bapak jangan terlalu percaya sama dia," ucap Celine lagi. Tangan Haris terkepal di samping tubuhnya. Berani sekali wanita ini mengatai istrinya. Sudah jelas dirinya lah yang bukan wanita baik-baik. "Kamu tidak usah ikut campur urusan saya. Sekarang keluar dari sini," usir Haris. "Baiklah, saya hanya mengingatkan saja. Permisi Pak Haris." Celine pun berjalan keluar dari ruangan Haris. "Dasar wanita jalang!" geram Haris. Tak ada pilihan lain. Haris harus meminta bantuan Dimas untuk membawa Nisa ke ruangannya. Dia tak mau makan siang yang telah dia siapkan jadi sia-sia. Beberapa menit menunggu, Dimas datang dengan membawa Nisa ikut serta. Jelas Haris tersenyum senang. Dengan segera dia menyuruh Sang Asisten keluar. "Duduklah Nisa," ujar Haris sambil menepuk bagian kosong di sampingnya. Nisa menurut, ia mengambil duduk di samping Sang Suami. "Saya ingin makan siang bersama kamu. Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Haris pada Nisa. Nisa terdiam sejenak sebelum menjawab. "Saya takut ada yang lihat Mas. Lebih baik saya kembali bekerja." "Tolong jangan menolak Nisa. Bukankah merupakan dosa jika seorang istri membantah terhadap suaminya?" Nisa terdiam. Terdengar helaan nafas dari mulut perempuan berjilbab pink itu. "Baiklah." Haris tersenyum senang. Mereka pun memulai makan siang dengan khidmat. Beberapa kali Haris menyodorkan makanan ke depan mulut Nisa. Meskipun sempat menolak, Nisa akhirnya menurut dan menerima suapan demi suapan dari Sang Suami. Haris merasakan makan siangnya begitu nikmat. Bukan karena makanan di depannya. Melainkan karena ada Nisa yang menemaninya. Aish apakah Haris benar-benar jatuh cinta? "Saya sudah kenyang Mas," cegah Nisa saat Haris kembali menyodorkan makanan di depan mulutnya. "Yakin? Makanannya masih banyak lho." "Yasudah kalau gitu Mas Haris saja yang habiskan. Saya benar-benar sudah kenyang Mas," ujar Nisa. "Baiklah. Biar nanti saya minta OB bereskan. Sekalian biar mereka makan makanannya yang masih utuh." "Biar saya saja yang bereskan. Ini juga bagian dari pekerjaan saya." Nisa mengulurkan tangannya hendak membereskan bekas makan mereka, namun Haris dengan cepat mencegahnya. "Tidak usah Nisa. Ini bukan tugas kamu. Kamu adalah istri CEO di kantor ini jika kamu lupa." "Tapi disini posisi saya juga bekerja sebagai Office Girl Mas," sanggah Nisa. "Itu hanya alibi saja Nisa. Maka dari itu seharusnya kamu tidak perlu banyak melakukan pekerjaan. Kamu adalah istri saya," ucap Haris dengan tulus. Perasaan Nisa menghangat mendengar perkataan suaminya. Ia pandangi manik tajam milik Haris yang juga tengah memandangnya dengan tulus. Seakan tersadar, Nisa dengan cepat menepis pikirannya. "Maaf Mas. Saya harus kembali sekarang," pamit Nisa. "Baiklah." Haris tidak bisa mencegah lagi. Sudah terlalu lama juga istrinya itu berada disini. "Nisa." Panggilan dari Haris menghentikan langkah Nisa. Perempuan itu menoleh pada Sang Suami yang masih terduduk di tempat yang sama. "Terima kasih sudah menemani saya makan siang," ucapnya sambil tersenyum manis. Senyuman yang tak pernah ia perlihatkan pada siapa pun selain Fara. Dan kini, senyuman itu ia berikan pada Nisa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD