Tepat pukul 03.00 dini hari, Nisa terbangun dari tidurnya. Ia terkejut saat melihat seorang lelaki tampan tengah tertidur pada ranjang yang sama dengannya.
"Astagfirullah. Semalam Nisa kan udah nikah sama Pak Haris," gumamnya sambil menatap Haris yang tengah tertidur.
Perlahan sudut bibir Nisa tertarik keatas membentuk senyuman yang indah. Namun senyum itu tiba-tiba menghilang saat Nisa mengingat kata-kata yang di ucapkan Haris semalam.
"Lebih baik aku ambil wudhu dan shalat tahajud," gumam Nisa.
Ia pun turun dari ranjang secara perlahan agar tak membangunkan Haris. Kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu. Setelahnya, ia memakai mukena dan menggelar sajadah di sudut kamar.
Di malam yang sunyi, saat orang-orang tengah terlelap dalam tidurnya. Nisa malah sibuk dengan do'a-do'a yang ia panjatkan pada Sang Maha Pencipta. Nisa menengadahkan tangannya dengan mata terpejam, seakan ia sedang meresapi semua do'a yang ia panjatkan.
"Yaa Allah, aku tahu pernikahan ini terjadi atas Kehendak-Mu, meskipun aku tak pernah berharap ada di antara pernikahan Pak Haris dan Mbak Fara. Sebenarnya aku takut Yaa Allah. Aku takut tak bisa mengendalikan hati untuk tidak mencintai lelaki yang kini menjadi suamiku. Aku takut, aku akan mengingkari kesepakatan yang telah di buat Pak Haris denganku," lirih Nisa dalam do'a yang bercucuran air mata.
Sedangkan dari atas ranjang, Haris yang telah bangun karena terusik oleh isakan Nisa pun, mendengarkan setiap do'a Nisa dengan jelas. Hatinya seperti tertampar sangat keras. Sakit, namun dia pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia masih bimbang dengan pernikahan yang baru di jalaninya.
Nisa telah menyelesaikan shalatnya. Gegas ia merapikan mukena dan sajadah kembali pada tempatnya. Haris yang melihat Nisa telah bangkit pun cepat-cepat merapatkan matanya kembali.
Tanpa disangka, Nisa berjalan ke arah Haris. Ia mengulurkan tangannya membelai wajah Sang Suami dengan tangan yang gemetar.
"Katanya menikah itu ibadah yang paling panjang. Setiap yang dilakukan oleh suami ataupun istri akan bernilai pahala yang sangat besar. Apa suatu saat Nisa juga bisa mendapatkan pahala tersebut?" Lirihnya dengan air mata yang kembali mengalir.
Tanpa sengaja, air mata Nisa jatuh pada wajah Haris. Cepat-cepat Nisa menghapusnya dengan pelan dan menjauhkan diri dari Haris.
"Seharusnya kamu jangan begini Nisa. Ingat! Kata Pak Haris kamu gak boleh baper," peringatnya pada diri sendiri.
"Apa ini sudah shubuh Nisa?" Tanya Haris tiba-tiba dan membuat Nisa terperanjat.
"Astagfirullah," gumam Nisa sambil memegangi dadanya.
Ia lalu menolehkan pandangannya pada Haris. "Belum Pak. Ini baru pukul 4 pagi," ucapnya.
"Lalu kenapa kamu sudah bangun?" tanya Haris lagi.
"Saya habis shalat tahajud Pak," jawab Nisa sambil menunduk.
"Kenapa kamu tidak membangunkan saya? Apa kamu tidak ingin shalat bersama saya?" tanya Haris lagi.
Nisa terdiam sebentar. "B-bukan begitu Pak. Saya takut mengganggu tidur Bapak," ucap Nisa agak gugup.
"Baiklah. Lain kali bangunkan saya juga," ucap Haris.
Nisa menganggukkan kepalanya. "T-tapi memang Pak Haris akan bermalam di sini lagi?" tanya Nisa dengan hati-hati.
"Saya akan bergantian bermalam disini dan di kamar Fara," ucapnya sambil menoleh ke arah Nisa.
Nisa tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Ia menunduk dalam agar Haris tak melihatnya yang tengah menahan senyum.
"Allahu Akbar Allahu Akbar," suara adzan shubuh terdengar mulai bersahutan membuyarkan lamunan sepasang suami istri yang tengah sama-sama terdiam.
"Saya akan mandi. Kamu ambilah wudhu lebih dulu. Setelah itu, tunggu saya untuk shalat berjama'ah," ucap Haris pada Nisa.
Nisa mendongak menatap Haris. "B-bapak mau mengimami saya?"
Haris mengangguk. "Iya. Cepat ambil wudhu sana."
Nisa pun beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
"Saya sudah selesai Pak," ucapnya saat telah keluar dari kamar mandi.
Haris bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Namun sebelum masuk, Haris membalikkan badannya terlebih dahulu pada Nisa.
"Di tas itu ada beberapa baju ganti dan baju shalat milik saya. Tolong nanti kamu rapikan dan siapkan untuk saya shalat," pinta Haris sambil menunjuk satu tas berukuran sedang di pojok kamar.
Kapan Pak Haris bawa tas kesini? Perasaan semalam dia gak bawa apa-apa. Batin Nisa heran.
***
"Assalamu'alaikum Warrahmatullah"
"Assalamu'alaikum Warrahmatullah"
Sepasang suami istri itu telah selesai melaksanakan shalat subuh berjama'ah untuk yang pertama kalinya setelah mereka menikah.
Tak dapat di pungkiri, hati Nisa kini berbunga-bunga setelah di imami oleh Sang Suami.
Setelah selesai memanjatkan do'a dan berdzikir, Haris membalikkan badannya menghadap Nisa. Ia menyodorkan tangan kananya untuk di salimi Sang Istri. Nisa mengambil tangan Haris dengan gemetar dan menciumnya penuh takdzim.
Dan tanpa disangka, Haris menarik pelan kepala Nisa dan mengecup kening Sang Istri agak lama. Tak terasa, air mata Nisa tumpah saat itu juga.
Haris melihat air mata yang berjatuhan di wajah Nisa. Gegas ia menghapus jejak air mata tersebut dengan lembut.
"Maafkan saya," ucapnya sambil menangkup wajah Nisa.
"Kamu adalah perempuan yang baik. Tidak seharusnya kamu memiliki suami br*ngsek seperti saya," ucapnya lagi.
Nisa menggelengkan kepala pelan. "Semua ini atas Kehendak Allah Pak. Kita mungkin tidak mengiginkannya, tapi Allah telah mengiring kita sampai disini. Ini sebuah Takdir dari Allah. Dan InsyaAllah saya akan menerima takdir saya dengan ikhlas," lirih Nisa.
"Kamu berhak mendapatkan suami yang lebih baik dari saya Nisa," ucap Haris.
Nisa mendongakkan kepalanya menatap manik mata Haris. "A-apa Bapak akan menceraikan saya?" Tanyanya dengan suara tercekat.
"Entahlah," jawab Haris sambil tertunduk.
***
Malam harinya, kediaman Haris akan di sambangi keluarganya juga keluarga Fara. Sejak sore, Nisa telah berkutat di dapur menyiapkan segala jamuan untuk menyambut mereka.
"Nisa, kamu istirahatlah dulu. Kita bisa beli makanan untuk makan malam nanti. Kamu gak perlu repot-repot," ucap Fara yang sedari tadi melihat Nisa sibuk dengan bahan makanan.
"Tidak apa-apa mbak. Lagi pula aku gak ada kegitan. Jadi dari pada aku diam, lebih baik aku masak saja," ucapnya sambil tersenyum pada Fara.
"Okelah kalau begitu. Jadi, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Fara pada Nisa.
Nisa nampak berfikir sejenak. "Emh.. mbak hiasi cake-cake ini saja. Biar lebih cantik," ujar Nisa.
Fara pun mengangguk dan mulai menghiasi beberapa cake yang telah di buat Nisa. Ia menghiasi dengan cream berbagai rasa, dan di beri taburan toping warna warni agar terlihat lebih cantik.
"Cantik," gumam Fara saat telah selesai menghias cake tersebut.
"Wah cantik sekali. Ternyata mbak Fara sangat pandai berkreasi," puji Nisa saat melihat hasil kerja Fara.
Fara hanya tertawa kecil. "Kamu ini bisa saja. Aku hanya kasih cream dan toping"
"Sepertinya enak nih," ucap Haris yang melihat berbagai hidangan tersaji di meja makan.
Lelaki berparas tampan dengan hidung mancung dan rahang tegas itu baru saja kembali dari kantor.
Fara segera memutar kursi rodanya mendekati Haris dan menyalaminya. Tak lupa Haris pun mengecup kening Fara dengan penuh kasih.
"Gimana dengan pekerjaan kamu hari ini mas?" tanya nya pada Haris.
"Agak sibuk sih. Tapi semuanya lancar,dan aku bisa pulang cepat," ucap Haris sambil tersenyum manis pada Fara.
Nisa yang menyaksikan itu hanya diam sambil melamun.
"Nisa, ayo salam sama Mas Haris," tegur Fara.
Nisa terperanjat kaget. "Eh? Mbak bilang apa?"
"Kok kamu malah melamun? Suami kamu baru pulang, salamilah dia. Sini," Fara menyuruh Nisa untuk mendekat.
Nisa berjalan mendekat dan mengambil tangan Haris dengan ragu, lalu mengecupnya.
"M-maaf Pak. Saya tadi melamun," ucapnya.
"Mas kamu cium kening Nisa juga dong," omel Fara yang melihat suaminya hanya diam.
"I-iya," ucap Haris tergagap.
Ia pun mendekatkan bibirnya pada kening Nisa, lalu mengecupnya. Ia merasakan gelenyar aneh saat berdekatan dengan Nisa.
"Nah begitu dong," ucap Fara sambil tersenyum senang.
Fara lalu mengalihkan perhatiannya pada Nisa. "Nisa, mulai sekarang ganti panggilan kamu sama Mas Haris. Jangan panggil bapak lagi, kamu bisa panggil Mas atau yang lainnya," ucap Fara.
"T-tapi mbak, saya sudah terbiasa dengan memanggil Bapak," ujar Nisa.
"Nanti juga kamu akan terbiasa dengan panggilan yang baru. Coba sekarang panggil Mas," pinta Fara.
"M-mas Haris," ucap Nisa agak susah.
Degh
Jantung Haris berdetak kencang saat Nisa memanggilnya dengan panggilan Mas.
Kenapa perasaanku jadi begini?. Batinnya bertanya-tanya.