"Nisa, mulai sekarang kamu sudah resmi menjadi bagian keluarga ini. Kamu bisa pilih salah satu kamar disini juga," ucap Fara menghampiri Nisa yang tengah duduk tertunduk di tempat bekas akad.
Nisa mendongakkan kepalanya menatap Fara. "Tolong izinkan aku untuk tetap tinggal di paviliun belakang mbak. Aku akan lebih nyaman disana," pinta Nisa.
"Tapi disana tempat untuk pekerja Nisa. Sedangkan kamu adalah keluargaku," ucap Fara.
Nisa menggenggam tangan Fara. "Tidak apa-apa mbak. Yang terpenting aku merasa nyaman disana. Aku mohon biarkan aku tetap tinggal disana," pinta Nisa.
Sebenarnya dia hanya tak ingin selalu melihat kebersamaan Haris dengan Fara jika ia tinggal bersama mereka di rumah utama. Dia memang belum memiliki perasaan cinta untuk Haris. Tapi mulai saat ini, Haris telah menjadi suaminya. Mana mungkin ada seorang istri yang tak cemburu melihat suaminya bersama wanita lain? Sekalipun itu madunya sendiri.
"Baiklah jika itu mau kamu. Kalau kamu perlu apa-apa bilang saja," ucap Fara membalas genggaman tangan Nisa.
"Aku ucapkan selamat untukmu Nisa. Dan maaf aku sudah egois memaksakan kehendakku," lirih Fara dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
Tangan Nisa tergerak mengusap air mata di wajah Fara. "Mbak, sudah ya. Jangan pikirkan itu lagi," ucapnya.
"Terimakasih Nisa."
Fara menarik Nisa kedalam pelukannya. Rasanya satu beban nya hilang saat suaminya telah resmi menikahi wanita dengan nama Annisa Nadira tersebut.
Tanpa mereka sadari, Haris yang ingin menghampiri, tak sengaja melihat pemandangan mereka yang tengah berpelukan. Sedari akad selesai, lelaki itu langsung meninggalkan Nisa dan berdiam diri di dalam kamar.
Apa aku sanggup memikul tanggung jawab besar ini Yaa Allah. Batin Haris.
Nisa dan Fara saling melerai pelukannya dan menghapus air mata masing-masing.
"Yasudah kamu ganti pakaian dulu sana,lalu istirahat. Aku akan panggilkan Mas Haris untuk tidur di kamarmu," ucap Fara pada Nisa yang masih mengenakan kebaya akad sedari tadi.
"Tidak usah mbak. Biar Pak Haris tidur denganmu saja," tolak Nisa secara halus.
Kepala Fara menggeleng pelan. "Tidak bisa Nisa. Kalian sekarang adalah suami istri,dan malam ini adalah malam pertama kalian. Sudah seharusnya kalian tidur dalam satu tempat yang sama"
"Tapi aku gak mau membuat mbak sakit hati atau cemburu karena Pak Haris tidur di kamarku," ucap Nisa yang merasa tak enak dengan Fara.
Fara tersenyum lalu kembali menggenggam tangan Nisa. "Aku gak akan cemburu ataupun sakit hati. Mas Haris bukan sedang berselingkuh Nisa, dia bersamamu karena kamu juga istrinya. Lagi pula kalian harus membiasakan diri untuk bisa lebih dekat satu sama lain. Aku harap kamu bisa segera membuat Mas Haris jatuh cinta padamu Nisa," harap Nisa.
"Itu tidak mungkin mbak. Aku bisa lihat bagaimana besarnya Pak Haris mencintai mbak Fara. Sangat mustahil jika Pak Haris bisa mencintaiku," ucap Nisa sambil tertunduk.
"Dan aku yakin kemustahilan itu bisa terjadi Nisa. Kamu sendiri yang sering bilang bahwa Allah Maha Berkendak kan? Aku yakin suatu saat Allah akan menghadirkan rasa cinta di antara kalian."
***
Haris tengah melamun sambil terduduk di tepi ranjang. Entah pernikahannya kali ini akan bernilai ibadah atau bahkan malah menjadi ladangnya menambah dosa, karena tak bisa bertanggung jawab dan berlaku secara adil.
"Mas."
Panggilan dari Fara membuyarkan lamunannya. Gegas ia melirik pada istrinya yang tengah mendekat padanya dengan kursi roda.
"Ada apa sayang?" tanyanya lembut pada Sang Istri.
"Kamu bersiaplah. Temui Nisa. Malam ini kamu tidur dengannya ya," ucap Fara sambil mengenggam tangan Sang Suami.
"Aku gak bisa Fara," jawab Haris sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Mas, kalian telah resmi menikah. Nisa adalah istrimu juga. Aku mohon perlakukan juga dia sama seperti kamu memperlakukan aku," pinta Fara
"Itu tidak mungkin Fara. Kamu dan dia jelas berbeda. Dan aku rasa kamu pun tahu tanpa aku harus menjelaskannya," ucap Haris.
"Baiklah. Tapi aku mohon bersikap adil lah dalam menemani kami. Kamu bisa begantian bermalam di kamarku dan Nisa. Dan malam ini, aku mohon kamu bermalam dengan Nisa ya. Ini pernikahan pertamanya, jangan buat dia bersedih Mas," ucap Fara sambil memohon.
Huffft
Haris mengeluarkan nafasnya kasar.
"Baiklah. Aku akan tidur disana," ucapnya mengalah.
Dia pun gegas berdiri untuk berganti pakaian. Setelahnya ia menggendong Fara dan menidurkannya di atas kasur. Tak lupa ia pun menaikkan selimut sebatas d**a dan menghadiahi kecupan manis di dahi sang Istri.
"Selamat malam sayang," Ucapnya.
***
Nisa baru selesai membersihkan diri. Memakai make up sungguh membuat wajahnya tak nyaman. Setelah membersihkan sisa make up dan mandi, Nisa lekas mencari baju tidur untuk ia kenakan.
Tok Tok Tok
Ketukan pada pintu kamarnya membuat Nisa terburu-buru mengambil piyama dan memakainya. Ia pun segera menggulung rambutnya yang masih basah dengan handuk.
Itu pasti Pak Haris. Buka jangan ya. Tapi kalau gak di buka nanti aku dapat dosa. Batin Nisa gusar.
Akhirnya Nisa pun memberanikan diri untuk mendekati pintu. Sebelum membukanya, ia lebih dulu mengintip di balik gorden.
Bener kan Pak Haris. Batinnya.
Ceklek
Nisa membukakan pintu sedang ia berdiri di balik dinding agar tak terlihat dari luar, sebab ia sedang tak menggunakan hijab.
Haris masuk dan lansung mematung ketika ia melihat penampilan Nisa yang berbeda dari biasanya.
"K-kenapa kepala kamu pakai handuk begitu?" tanya Haris agak gugup.
"Maaf Pak. Saya baru saja mandi dan rambut saya masih basah," jawab Nisa sambil mencengkram ujung piyamanya.
"Yasudah. Keringkan dulu saja, nanti kamu bisa sakit kepala," ucap Haris sambil melangkahkan kakinya menuju ranjang.
Nisa pun ikut melangkah di belakang Haris. Namun tanpa aba-aba Haris memberhentikan langkahnya secara mendadak hingga Nisa menubruk punggungnya.
"Aduh," ringis Nisa sambil memegangi jidatnya.
Haris berbalik menghadap Nisa. "Kenapa kamu ikuti saya?" tanyanya.
"Kan saya mau keringkan rambut Pak. Hair dryer nya ada di atas nakas samping tempat tidur," ucapnya sambil menunjuk ke arah Nakas.
Haris menghelas nafas sejenak. "Baiklah," ucapnya kemudian melangkah kembali.
Namun baru juga Nisa melangkahkan kakinya, Haris kembali berbalik hingga keduanya saling bersitatap untuk beberapa saat.
"S-saya cuma mau bilang kalau malam ini saya tidur disini," ucap Haris gelagapan.
Nisa menganggukkan kepalanya dan berjalan lebih dulu ke arah nakas dengan perasaan campur aduk.
Perasaan Nisa gak tenang banget, baru kali ini Nisa satu kamar sama seorang pria. Batin Nisa tak tenang.
Beberapa saat kemudian, Nisa telah selesai mengeringkan rambutnya. Ia melirik ke arah Sang Suami yang tengah duduk di atas ranjang dengan bersandar pada headboard sambil memainkan ponsel.
Nisa melangkah dengan perasaan gugup mendekati ranjang.
"A-apa saya boleh tidur disini pak?" Tanyanya pada Haris dengan hati-hati.
"Kalau tidak tidur disini, lalu kamu mau tidur dimana? Memang disini ada sofa atau kasur lain?" tanya Haris tanpa mengalihkan tatapan dari ponselnya.
"O-oh iya. Kalau gitu, berarti saya boleh tidur disini juga ya pak?" tanya Nisa memastikan.
Ia tak ingin Haris merasa tak nyaman karena harus tidur satu kasur dengannya.
"Hem." Haris hanya menjawab dengan deheman.
Nisa pun perlahan menaiki ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan membelakangi Haris. Sungguh dia sangat merasa canggung.
"Nisa," panggil Haris yang masih terduduk di atas kasur.
Nisa membalikkan badannya menatap Haris.
"Kenapa pak?" tanyanya.
"Mungkin seharusnya malam ini menjadi malam yang indah untuk kamu. Tapi maaf saya tidak bisa melakukannya bersama kamu Nisa."
Degh
Hati Nisa mencelos mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya sendiri. Padahal sebelumnya ia telah tahu bahwa Haris tak akan memperlakukannya sebagaimana istri pada umumnya.
"Saya harap kamu jangan terlalu baper dengan saya. Saya tidak ingin kamu sakit hati nanti nya. Saya tidak tahu pernikahan ini akan bertahan sampai kapan Nisa," ucap Haris lagi.
Nisa memberanikan diri untuk menjawab Haris. "Tidak apa-apa Pak. Saya cukup sadar diri kalau status saya hanya istri di atas kertas. Saya tidak akan meminta hak apapun pada bapak," ucapnya sambil membalikkan badan memunggungi Haris kembali.
Tanpa terasa air mata Nisa keluar begitu saja. Hatinya sakit. Bukan karena ia tak bisa mendapatkan nafkah batin sebagai seorang istri, namun karena seolah pernikahan ini hanyalah sebuah mainan di mata suaminya sendiri.
Apa salah jika hatiku sakit Ya Allah? Batinnya menjerit.