SAH MENJADI ISTRI KEDUA

1016 Words
Kondisi Fara telah membaik, dan wanita itu pun telah di perbolehkan untuk pulang oleh dokter. Dengan catatan, ia harus rutin check up dan meminum obat yang telah dokter resepkan. "Aku sangat senang bisa kembali pulang ," ucapnya saat telah memasuki rumah. "Iya mbak. Semoga keadaan mbak berangsur membaik lagi ya. Saya yakin keajaiban itu ada," ucap Nisa yang tengah mendorong kursi roda Fara menuju kamar. "Nisa, tolong jangan ubah lagi keputusanmu ya," pintanya sambil menggenggam tangan Nisa. "InsyaAllah mbak," jawab gadis berwajah teduh itu. Baik Haris maupun Nisa telah sepakat untuk melakukan akad pada akhir pekan ini. Mereka tak sanggup lagi menolak permintaan Fara. Haris begitu menyayangi Fara dan tak mau sang istri kembali drop saat ia menolak permintaannya. Begitupun dengan Nisa, ia juga khawatir jika menolak, maka kondisi Fara akan memburuk. Keduanya berharap keputusan ini benar-benar sudah tepat. "Mas," panggil Fara pada sang suami yang baru saja memasuki kamar. "Ada apa? Apa kamu perlu sesuatu sayang?" tanya Haris sambil berjongkok di hadapan sang Istri. Dia genggam tangan Fara yang kian terlihat kurus tiap harinya. Fara menggelengkan kepalanya. "Aku tidak butuh sesuatu. Aku hanya ingin menyuruh kalian untuk berbicara berdua. Kalian harus membicarakan rencana pernikahan kalian," ucap Fara sambil melirik Nisa. "Aku sudah katakan, bahwa hanya akan ada akad saja. Jadi menurutku, tidak perlu ada yang dibicarakan lagi," tolak Haris. "Kalian tetap perlu berdiskusi berdua Mas. Kamu bahkan belum menanyakan apa mahar yang di inginkan Nisa, kan? Lagi pula sebentar lagi kalian akan menjadi suami istri. Kalian tidak bisa terus bersikap canggung seperti ini," pinta Fara. Hufft Haris menarik nafasnya kasar. "Baiklah aku akan berbicara dengan nya." Lelaki itu pun menolehkan pandangannya pada Nisa." Kamu ikut saya," ucapnya dengan datar. Nisa melirik Fara sebentar, dan wanita itu memberikan isyarat dengan anggukan. Nisa pun berjalan keluar kamar mengikuti Haris dari belakang. "Aku yakin kamu bisa memberi kebahagiaan untuk Mas Haris Nisa," gumamnya sendu saat punggung Nisa dan Haris telah menghilang dari pandangan nya. *** "Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Haris pada Nisa. Saat ini mereka tengah duduk di kursi panjang yang berada di taman rumah. Mereka duduk berjauhan dengan Nisa berada di ujung kanan sedang Haris di ujung Kiri. Nisa benar-benar merasa canggung. Baru kali ini ia dekat dengan Haris. Terlebih respon dan nada bicara lelaki itu begitu dingin menusuk hati Nisa. Nisa menggelengkan kepalanya sambil tertunduk. "Tidak ada Pak," ucapnya. "Baiklah. Kalau begitu saya yang akan berbicara," ujar Haris. "Sebelum kamu benar benar menikah dengan saya, kamu harus tahu jalanmu kedepan nya pasti akan sulit. Kamu tahu bahwa saya hanya mencintai Fara. Dan saya pun sudah bilang bahwa saya tak bisa memperlakukan kamu seperti saya memperlakukan Fara. Saya tahu ini tak adil untukmu. Tapi perasaan saya juga tak bisa di paksa. Jika suatu saat kondisi Fara telah stabil, dan kamu ingin melepaskan ikatan dengan saya, maka bicaralah. Saya pasti akan menurutinya." Degh Ucapan Haris sukses memompa jantung Nisa. Pernikahan nya belum dimulai. Dan Haris sudah mempersilahkan jika suatu saat dia ingin pergi. Pernikahan macam apa ini? Jelas kentara sekali bahwa Haris sangat tak menginginkan keberadaan nya disini. "Sebisa mungkin saya pun tidak akan menyentuhmu. Tubuhmu lebih berhak di sentuh oleh lelaki yang akan menjadi suamimu kelak setelah aku," ucap Haris lagi. Kepala Nisa yang tertunduk mulai terangkat. Matanya mentap lurus ke depan. Dia seakan membayangkan masa depan nya yang tak akan seindah seperti yang ia impikan sejak dulu. Akankah ia bahagia dengan pernikahan seperti ini? "Dan satu lagi. Pernikahan ini hanya akan di ketahui pihak keluarga inti saja. Jadi jangan sampai orang lain tahu. Apa lagi hingga tersebar ke media. Saya tidak ingin baik saya ataupun kamu memiliki citra buruk di depan publik." "Apa kamu paham?" tanya nya pada Nisa karena sedari tadi gadis itu hanya diam membisu. "Saya sangat paham Pak," jawab Nisa dengan d**a sesak. Sangat sesak. Hingga untuk sekedar bernafas pun sulit rasanya. "Hubungi lah kerabatmu yang akan menjadi wali. Saya akan mengutus sopir untuk menjemputnya," ucap Haris lagi. "Saya tidak memiliki kerabat dari pihak Ayah Pak. Ayah saya anak tunggal. Kakek saya telah meninggal. Dan saya pun tak tahu berada dimana kerabat Ayah yang berasal dari kakek," ucapnya. Di kampung, Nisa hanya hidup bersama Sang Ayah setelah kakek dan neneknya meninggal. Tak ada saudara dari kakek nya yang ia tahu. Sebab itu lah ketika Sang Ayah meninggalkannya Menghadap Sang Pencipta, Nisa tak memiliki siapapun lagi. Dia hanya seorang diri menghadapi segala cobaan yang datang silih berganti. "Baiklah. Saya akan meminta pihak KUA untuk menyiapkan wali hakim," putus Haris. Setelah mengatakan itu, Haris beranjak dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan Nisa seorang diri. "Bapak, apa Nisa akan kuat?" lirihnya. *** Hari yang di tunggu oleh Fara namun sangat tak di harapkan oleh kedua mempelai pengantin pun tiba. Hari ini tepatnya pukul 8 malam, Haris akan melaksanakan akad untuk kedua kalinya. Sengaja akad di adakan pada malam hari agar tak mencolok dan di ketahui masyarakat. Di depan para saksi, penghulu, wali hakim, pihak KUA dan tentu saja Fara dan Nisa. Tak ada kedua orang tuanya maupun kedua orang tua Fara disana. Pihak keluarga nya justru kecewa dengan adanya pernikahan kedua ini. Wali nikah telah menautkan genggaman nya dengan tangan dingin Haris untuk mengucap kata ijab. "Saudara Haris Ivander Wiyatama saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan ananda Annisa Nadira binti Rahmat Setiadi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan Logam Mulia 500 gram dibayar tunai." "Saya terima nikah dan kawinya Annisa Nadira binti Rahmat Setiadi dengan Mas Kawin tersebut dibayar tunai." "Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu pada kedua saksi nikah. "SAH." "Alhamduillah. Barakallahu lakuma wa baraka 'alaikuma wajama'a bainakuma fii khoirr .... " Semua pun menengadahkan tangan nya untuk mendo'akan kedua mempelai. Setelah menandatangi berkas pernikahan, sang penghulu pun menyuruh mempelai pria untuk menyematkan cincin pernikahan pada mempelai wanita. Haris pun mengambil cincin tersebut dan menyematkan nya pada jari manis Nisa. Sedangkan ia memilih untuk tak memakai cincin pernikahan nya. Dia hanya memakai cincin pernikahan nya bersama Fara. Setelah cincin tersemat, Nisa pun untuk pertama kali mengambil dan mengecup punggung tangan Haris penuh takdzim. Tak terasa air mata nya pun ikut menetes. Kuatkan hatiku Yaa Allah. Luaskan sabarku. Do'a Nisa dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD