Sunyi. Itulah yang di rasakan oleh Nisa. Malam ini adalah jatah Haris untuk bermalam di kamar Fara. Sebab itu lah malam ini Nisa hanya mengisi ranjang lebarnya dengan seorang diri.
"Begini banget nasib Nisa. Nikah jadi istri kedua. Itu pun suami sendiri gak cinta sama Nisa. Nisa gak tahu akan gimana kedepannya. Apa Nisa akan tetap bersama Mas Haris? Jujur saja, Nisa sudah mulai sayang sama Mas Haris," gumamnya meratapi nasib sambil memandang langit-langit kamar.
Nisa melirik jam yang menempel pada dinding. "Udah jam 10 malam, lebih baik Nisa tidur. Besok mau temenin mbak Fara check up, takut kesiangan."
Nisa pun menarik selimut sebatas d**a dan mulai memejamkan matanya. Setelah melafalkan do'a pengantar tidur, perlahan ia pun terbawa ke alam mimpi.
Sedangkan di rumah utama, tepatnya di kamar Fara. Haris nampak gelisah hingga ia tak bisa memejamkan mata. Ia melirik pada Fara yang telah terlelap dalam tidurnya. Kemudian kembali menatap ke atas. Kenapa aku jadi gelisah begini? Apa karena tak ada Nisa?. Batinnya bertanya.
"Astagfirullah," gumamnya pelan sambil menggusar wajahnya kasar.
'Sadar Haris. Fara adalah istrimu. Kamu sangat mencintainya dan selalu nyaman bersamanya.' Batin Haris sambil berusaha memejamkan mata.
"Mas kamu belum tidur?" tanya Fara yang tiba-tiba terbangun.
Refleks Haris menolehkan kepalanya pada Fara. "Tadi sudah tidur. Hanya terbangun saja," kilahnya.
"Kamu kenapa bangun sayang?" tanya Haris pada Fara.
"Tidak. Aku cuma terbangun juga," jawab Fara.
Sejenak Fara mengamati wajah sang suami.
"Mas, apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Fara.
"Hanya masalah pekerjaan sayang," jawab Haris cepat. Ia tak ingin Fara curiga bahwa ia tengah memikirkan Nisa.
"Apa ada masalah? Kamu mau berbagi denganku?" tawar Fara sambil membelai wajah Sang Suami.
"Tidak perlu sayang. Tidurlah! Ini sudah malam. Aku juga mau tidur," ujarnya.
Fara pun mengangguk dan kembali melanjutkan tidurnya dengan mendekap Haris. Sedang Haris hanya pura-pura memejamkan matanya.
'Ma'afkan aku Fara. Entah kenapa perasaan ini muncul tiba-tiba.' Batinnya merasa bersalah.
***
Pagi telah kembali menyapa. Sang surya mulai menampakkan dirinya dan memberikan kehangatan pada alam semesta.
Pagi ini Nisa tengah berkutat di dapur. Seperti biasa, ia akan menyiapkan sarapan untuk semua orang. Meskipun telah ada ART, tetap saja ia ingin ikut andil dalam menyiapkan keperluan suaminya.
"Neng Nisa teh m**i baik pisan. Mau aja menerima permintaan nyonya Fara. Padahal gadis seperti Neng Nisa teh bisa dengan mudah dapat lelaki bujang di luaran sana. Apa lagi Neng Nisa teh geulis pisan," ucap Bi Darsih saat keduanya tengah menata sarapan di meja makan.
Nisa hanya tersenyum. "Mbak Fara yang terlalu baik bi. Lagi pula, mungkin ini sudah takdir Nisa. Nisa hanya bisa pasrah dengan Ketetapan Allah," jawab Nisa dengan tenang.
"Tapi, apa Neng Nisa bahagia menikah dengan Tuan Haris?" tanya Bi Darsih dengan Hati-hati.
Nisa langsung terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, ia merasa bahagia jika di dekat Haris. Tapi di sisi lain, keberadaan nya tak di anggap oleh mertuanya sendiri. Bahkan ia tak bisa mengakui statusnya sebagai Istri dari Haris Ivander Wiyatama pada semua orang.
"Maaf Neng. Bibi teh lancang sudah tanya-tanya begitu," sesal Bi Darsih yang merasa tak enak pada Nisa.
Nisa tersenyum sambil mengusap lengan wanita berusia 45 tahun itu. "Tidak apa-apa bi."
"Selamat Pagi," sapa Fara yang baru saja muncul bersama Haris yang mendorong kursi rodanya.
"Selamat pagi Mbak," jawab Nisa dengan ramah.
"Wah sepertinya kamu juga ikut membuatkan sarapan ya?" tanya Fara pada Nisa.
"Iya mbak. Aku hanya membantu Bi Darsih saja kok," jawabnya sambil mengisi piring Haris dan Fara dengan menu sarapan yang telah di siapkan.
"Kamu tidak perlu repot-repot ikut memasak Nisa. Nanti kamu kelelahan," ucap Haris yang langsung membuat Fara menoleh padanya.
Haris langsung gugup sebab di pandang Fara. "Ekhem. Maksud saya kamu seharian bekerja di kantor, kalau masih mengerjakan pekerjaan rumah nanti jadi terlalu berat," kilah Haris.
Fara refleks tertawa kecil dan memukul pelan lengan Sang Suami. "Kamu ini kenapa sih Mas? Masa aku tatap begitu aja langsung gugup? Nisa itu istri kamu juga, aku gak akan cemburu lihat kamu perhatian sama Nisa," ucapnya sambil terkekeh.
Bahkan aku akan merasa sangat senang jika kamu telah mencintai Nisa Mas. Dan aku bisa pergi dengan tenang menghadap Allah. Batin Fara sendu.
Nisa merasa tak enak dan serba salah. Akhirnya ia memberanikan diri bersuara untuk mencairkan suasana. "Setelah ini apa kita langsung ke Rumah Sakit Mbak?" tanyanya pada Fara.
Fara menoleh pada Nisa. "Iya. Setelah ini kita langsung berangkat"
"Saya akan ikut," sahut Haris.
Nisa mengalihkan pandangannya pada Haris. "Kalau begitu biar mbak Fara pergi berdua dengan Mas Haris saja. Aku biar langsung ke kantor ya mbak," pintanya pada Fara.
Dia takut mengganggu waktu kebersamaan antara Haris dengan Fara.
"Aku tetap ingin bersama kamu Nisa. Kita pergi sama-sama ya," putus Fara dengan bulat.
Nisa hanya bisa pasrah dan mengangguk saja. Meskipun kembali menolak, Fara pasti akan memiliki seribu alasan lagi yang mengharuskannya untuk ikut.
***
Pemeriksaan Fara berjalan dengan lancar. Wanita itu juga di sarankan oleh dokter untuk melakukan kemoterapi. Fara tak keberatan sama sekali. Meskipun jauh di lubuk hatinya,semangat untuk bertahan hidup telah hilang sejak lama. Baginya, semakin lama ia hidup dengan penyakitnya, semakin menyusahkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Termasuk Haris Sang Suami.
"Mbak Fara dan Mas Haris pulang duluan saja. Saya ada yang mau dicari dulu di supermarket," ujar Nisa setelah mereka sampai di parkiran rumah sakit.
Perempuan itu tak akan masuk kerja hari ini. Jadi setelah mengantar Fara kemoterapi, ia bisa pergi sebentar untuk membeli beberapa keperluannya.
"Kita antar saja ya," tawar Fara pada Nisa.
"Tidak usah mbak. Mbak Fara pulang saja Mas Haris. Saya bisa sendiri, kan banyak taksi," tolak Nisa meyakinkan.
"Kalau begitu, aku minta sopir untuk jemput saja. Biar kamu pergi di temani Mas Haris ya," ujar Fara.
"Eh, tidak usah mbak. Aku beneran bisa sendiri kok," tolak Nisa. Jelas ia tak enak membiarkan pulang bersama sopir, sedangkan ia pergi bersama Haris.
"Tapi Nisa----"
"Tidak apa-apa mbak. Aku bisa kok," potong Nisa dengan cepat.
Fara menghembuskan nafas pelan kemudian mengangguk. "Yasudah. Kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi kami ya," ucap Fara.
Nisa menganggukan kepalanya. Haris dan Fara pun memasuki mobil dan berlalu dari rumah sakit. Sedangkan Nisa berjalan ke arah luar untuk menunggu Taksi.
***
Nisa berjalan menelusuri rak-rak supermarket. Ia tengah mencari barang-barang kebutuhan pribadi nya. Untuk keperluan rumah, Haris telah mempercayakan pada ART mereka. Jadi ia hanya perlu berbelanja untuk dirinya sendiri saja.
Setelah selesai dengan barang yang di perlukannya, Nisa mendorong troli ke arah kasir. Saat mendekati kasir, tak sengaja ia melihat sang ibu mertua juga tengah mengantri di kasir sambil bercanda bersama seorang perempuan seusianya. Mungkin temannya, pikir Nisa.
"Ibu," panggil Nisa pada Sinta dan langsung menyodorkan tangannya untuk salim.
Sinta melirik Nisa sekilas dan mengabaikan tangan Nisa yang menggantung hendak menyalaminya.
"Dia siapa jeng?" tanya teman Sinta sambil melihat Nisa.
"Dia ART anak saya," jawab Sinta singkat tanpa menoleh ke arah Nisa.
Degh
Nisa menunduk dalam-dalam. Ia lupa, bahwa tak boleh ada yang mengetahui statusnya. Pun keluarga Haris dan Fara sejak awal tidak ada yang merestuinya.
"Oh ini ART nya Haris. Masih muda juga ya. Hati-hati jeng, nanti Haris tergoda," ucap teman Sinta.
"Anak saya tidak akan tergoda dengan perempuan seperti dia. Anak saya suka yang berkelas," ucap Sinta yang sukses menusuk ke hati Nisa.
"Ayo kita pergi jeng," ajak Sinta pada sang teman saat belanjaannya telah selesai di bayar.
Nisa menatap kepergian mertuanya dengan sendu.
"Mbak?" panggil kasir supermarket.
Nisa terperanjat. "Eh? Maaf mbak. Saya melamun tadi."
Nisa pun maju dan membiarkan kasir menghitung belanjaannya. Setelah selesai, ia membayar dengan kartu pemberian Haris.
Nisa berjalan keluar supermarket. Ia masih terbayang dengan ucapan sang mertua tadi. Nisa terus berjalan sambil melamun. Hingga ia tak sadar di depannya ada seseorang yang juga tengah berjalan tanpa memperhatikan jalan.
Bruukkk