Nisa tengah berkutat di depan pantry. Beberapa karyawan memintanya untuk membuatkan kopi. Entahlah, padahal Nisa baru saja masuk hari ini, tapi para karyawan seakan langsung berlomba-lomba mendapatkan perhatian Nisa.
"Perlu aku bantuin gak?" tanya Cici-teman baru Nisa yang juga sesama Office Girl di kantor Haris.
Hari ini, Nisa telah memiliki 2 orang teman dengan profesi yang sama. Yaitu Cici, gadis berbadan mungil yang masih seumuran dengan Nisa. Ia berasal dari jawa tengah, lalu merantau ke Jakarta dan baru bekerja di PT. Wiyatama Group selama 6 bulan.
Sedangkan satu temannya lagi adalah seorang pemuda bernama Jamaludin. Lelaki asli betawi yang berperawakan tinggi dengan kulit sawo matang itu, cukup humoris dan mudah akrab dengan Nisa.
"Gak usah Ci. Aku bisa sendiri kok. Lebih baik kamu istirahat dulu, bentar lagi kan kita jadwal bersih-bersih lagi," jawab Nisa sambil terus mengaduk satu per satu kopi dalam gelas di depannya.
"Iya juga sih," ucap Cici sambil menyenderkan punggungnya pada kursi.
Kring Kring Kring!
Bunyi telpon khusus untuk bagian pantry berbunyi, membuat Cici bangun dari duduknya dan berjalan ke arah telpon, kemudian mengangkatnya.
"Selamat siang ada yang bisa saya bantu?" tanya Cici pada sang penelpon.
[.........]
"O-oh baik Pak. Akan segera di antarkan ke ruangan Bapak," jawab Cici dengan cepat.
Gadis itu pun dengan segera menghampiri Nisa. Dan menyampaikan pesan si penelpon.
"Nisa, Pak Haris minta di buatin kopi s**u. Harus dan wajib kamu yang bikin dan kamu yang antar ke ruangan dia," beritahu Cici cepat.
"Terus ini gimana?" tanya Nisa sambil mengangkat nampan di tangannya yang bersisi beberapa gelas kopi.
Cici mengambil alih nampan tersebut dari tangan Nisa. "Ini biar aku yang antar. Mendingan kamu cepet kerjain perintah Pak Bos. Nanti dia ngamuk kalau telat," ucap Cici yang kemudian berlalu untuk mengantarkan kopi pesanan para karyawan.
'Apa Mas Haris emang galak sama para karyawannya?' Batin Nisa bertanya-tanya.
Nisa pun dengan segera membuatkan kopi s**u pesanan Sang Suami. Setelah selesai, gegas ia membawa nya menuju ruangan CEO yang berada di lantai 20.
Tok Tok Tok
Nisa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Saya mau antar kopi Pak," ujarnya agak kuat.
"Iya masuk," jawab Haris dari dalam.
Nisa pun memutar knop pintu dan berjalan masuk ke ruangan Haris. Ia meletakkan kopi pesanan Sang Suami di meja kerjanya.
"Silahkan di nikmati kopinya Pak," ucap Nisa dengan tertunduk.
Haris tersenyum melihat sikap Nisa. "Tidak usah begitu, disini tidak ada siapa-siapa," ucapnya sambil menarik dagu Nisa dengan telunjuknya agar tak tertunduk.
Tatapan keduanya bertemu. Untuk beberapa saat mereka saling terpana dengan tatapan masing-masing.
'Usia Mas Haris memang beda jauh sama Nisa. Tapi tetap keliatan muda aja.' Batin Nisa mengagumi Sang Suami.
'Kamu memang cantik Nisa. Harusnya saya merasa beruntung bisa memiliki kamu.' Batin Haris dengan tatapan yang tak beralih dari wajah Nisa.
Nisa tersadar dan dengan cepat menundukkan kembali pandangannya.
Haris berjalan lebih dekat pada Nisa. Ia mengangkat kembali dagu sang istri agar kembali menatapnya.
"Saya ada disini, bukan di bawah," ucapnya dari jarak yang begitu dekat, hingga Nisa bisa merasakan terpaan nafas sang suami di wajahnya.
"Saya menyukai mata indah kamu," ucap Haris lagi dengan tatapan yang sulit di artikan.
Lelaki tampan itu pun semakin memperpendek jarak antara keduanya. Haris sedikit memiringkan wajahnya dan mendekatkan dengan wajah Nisa. Dengan refles Nisa menutup kedua matanya.
Tok Tok Tok
Ketukan pintu dari luar membuyarkan suasana keduanya yang hampir saja terhanyut dalam gelora asmara.
"M-maaf saya tidak bermaksud untuk kurang ajar pada kamu," ucap Haris gelagapan.
Nisa tertunduk malu sambil menahan senyum. "Tidak apa-apa Mas"
S*al! Hampir saja aku menciumnya. Apa yang terjadi padamu Haris?. Batin Haris gusar.
Perhatian Haris dan Nisa teralihkan saat pintu kembali di ketuk dari luar.
"Pak Haris! Apa bapak di dalam?" teriak seseorang dari balik pintu.
"Iya, masuk!" jawab Haris lantang.
Pintu pun terbuka dan memperlihatkan seorang wanita muda berpakaian seksi dengan riasan yang tebal.
"Maaf Pak. Ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani," ucapnya seraya menyerahkan beberapa dokumen pada Haris.
Wanita itu dengan sengaja berlenggak-lenggok dan agak menurunkan posisi tubuhnya hingga belahan dadanya terlihat.
Nisa menatap nya dengan tatapan tak suka. Sedangkan Haris hanya acuh dan fokus pada dokumennya.
"Astagfirullah," desis Nisa sangat pelan.
Wanita bernama Celine yang merupakan sekretaris Haris itu pun melirik sinis ke arah Nisa.
"Kenapa kamu masih disini? Kerjaan kamu di bawah, bukan disini," ketusnya.
"B-baik bu," ucap Nisa tertunduk. Kemudian, ia membalikkan badan dan hendak keluar.
"Tunggu! Saya masih ada urusan dengan kamu. Duduklah dahulu," cegah Haris.
Nisa pun mengurungkan niatnya untuk keluar. Ia memutar langkahnya menuju sofa dan menjatuhkan bobotnya di sana.
Perasaan ini OG dari tadi di ruangan Pak Haris deh. Masa belum kelar-kelar urusannya. Batin Celine kesal.
"Apa masih ada yang lain lagi?" tanya Haris sambil mendongak pada Celine.
Celine menggelengkan kepalanya. "Tidak ada Pak," ucapnya sambil tersenyum dan mengambil beberapa map dari meja Haris.
"Jika tidak ada lagi, silahkan keluar," usir Haris secara halus.
Lelaki itu memang peka bahwa selama ini Celine selalu berusaha untuk menggodanya. Karena itulah ia merasa risih jika berada dekat Celine. Jika bukan karena kerjannya yang bagus, mungkin Celine sudah lama di pecat oleh Haris.
Celine menggeram kesal. Dengan terpaksa ia keluar dan meninggalkan Nisa bersama Haris.
Setelah Celine menghilang di balik pintu, Haris lekas berdiri dan berpindah duduk di samping Nisa.
Nisa menatap heran pada Sang Suami. "Mas Haris tadi mau bicara apa lagi sama saya?" tanya Nisa.
"Saya hanya menahan kamu agar tetap disini," ucap Haris enteng sambil menyeruput kopi buatan Nisa.
"Kenapa?" tanya Nisa bingung.
"Agar kamu tidak banyak bekerja. Kamu adalah istri saya Nisa. Kamu bekerja disini pun hanya untuk mengikuti saya," ujar Haris.
"Tapi yang lain nanti bisa curiga Mas. Saya sudah sejak tadi disini, saya takut mereka berpikir yang macam-macam," sahut Nisa.
Haris menaruh kembali gelas kopinya di atas meja dan menatap Nisa. "Kamu tenang saja. Saya tidak akan setiap hari meminta kamu disini."
"Saya ingin di temani kamu dulu, boleh?" tanyanya pada Nisa.
Nisa hanya mengangguk saja. Memang sudah tugasnya untuk menuruti perintah sang suami bukan?
Haris mengubah duduknya agak menyerong dan sedikit memunggungi Nisa. "Tolong pijat leher saya sebentar. Rasanya pegal sekali," pinta Haris pada Nisa.
Nisa pun menurut dan memijat leher sang suami secara perlahan. Haris memejamkan matanya. Ia dapat merasakan sentuhan Nisa yang begitu lembut dan membuatnya lebih tenang.
'Kenapa saya selalu merasa nyaman jika berada dekat kamu Nisa?' Batin Haris bertanya-tanya.
***
Siang berganti malam. Kini saatnya keluarga kecil Haris melaksanakan kegiatan rutin yang harus di lakukan setiap hari, yaitu makan malam bersama. Setelah seharian bekerja, baginya makan malam bersama sang istri menjadi obat penghilang penat yang mujarab.
Haris, Fara, dan Nisa menyantap makan malam dengan khidmat. Tak ada suara apapun kecuali bunyi sendok dan garpu yang bersahutan. ART mereka telah kembali, hingga ketika pulang bersama Haris, makan malampun telah tersedia dna Nisa tidak perlu lagi memasak.
Bi Darsih-sang ART begitu terkejut saat Fara memberitahunya bahwa Haris telah menikahi Nisa. Namun ia akhirnya memaklumi setelah Fara menjelaskan semua alasanya, agar tak terjadi salah paham. Namun meskipun begitu, bi Darsih harus tetap menutup mulut agar rahasia pernikahan Haris dan Nisa tidak sampai di dengar banyak orang.
Makan malam telah selesai. Semua orang telah menghabiskan porsi makannya. Nisa hendak berdiri untuk membereskan bekas makan mereka, namun Fara dengan cepat mencegahnya.
"Biar Bi Darsih nanti yang bereskan Nisa. Kamu duduklah! Saya ingin bicara dengan kalian," pinta Fara.
Nisa pun mengurungkan niatnya dan duduk kembali pada kursinya.
Fara menatap Nisa dan Haris secara bergantian. "Apa kalian telah melakukan kewajiban sebagai suami istri?."
Uhuk-uhuk
Pertanyaan Fara sukses membuat Nisa tersedak air liurnya sendiri. Dengan segera Haris menyodorkan segelas air putih pada Nisa. Nisa menerimanya dan segera menegaknya hingga tandas.
"Maaf, aku hanya bertanya. Tidak baik jika kalian saling mendiamkan. Itu adalah sebuah kewajiban. Kalian bisa dosa jika melalaikannya," ucap Fara agak tak enak.
"M-maaf mbak. Tapi aku perlu membiasakan diri dulu. I-ini terlalu tiba-tiba," jawab Nisa gugup.
Sedangkan Haris hanya diam tak menyahut apa pun. Ia pikir, Fara pasti telah mengetahui jawabannya.
'Apa aku harus menggaulinya? Apa aku harus mengingkari ucapanku sendiri?' Batin Haris bimbang.