KESEPAKATAN SIAMI-ISTRI

1025 Words
Pagi-pagi sekali setelah shalat shubuh, Nisa telah berada di dapur rumah utama untuk menyiapkan sarapan. Ia ingin memberikan sarapan terbaik untuk suaminya pagi ini. Meskipun entah akan di terima atau tidak nantinya. Nisa menyiapkan bahan-bahan terlebih dahulu. Dia akan mencoba membuat waffle juga roti panggang yang akan ia hidangkan bersama smooties buah-buahan segar dan s**u. Nisa tahu Fara dan Haris tidak terbiasa memakan makanan berat di pagi hari. "Kamu sedang membuat apa?" Tanya Haris yang tiba-tiba ada di sampingnya. Nisa terperanjat. "Mas Haris buat saya kaget saja," ucap Nisa sambil memegangi dadanya. "Saya tidak mengagetkan kamu. Kamu saja yang terlalu asik dari tadi," kilah Haris. Entah kenapa juga hatinya mengajak dia bergerak untuk menemui Nisa. "Apa ada yang perlu saya bantu?" tanya Haris lagi. Rasanya tak enak jika dia hanya menonton saja. Nisa menggelengkan kepalanya menatap Haris. "Tidak usah Mas. Mas Haris bersiap saja, lalu ajak mbak Fara kesini. Sebentar lagi selesai kok," ucapnya. "Oh iya, Mas Haris mau minum teh, s**u, kopi, atau smooties?" tanya Nisa lagi. "s**u atau smooties saja. Saya tidak minum kopi pagi-pagi," jawab Haris sambil mengambil duduk di meja makan. Matanya terus menatap ke arah Nisa yang tengah sibuk menyiapkan sarapan. Nisa keheranan melihat Haris yang malah duduk santai dan belum bersiap dengan pakaian kantornya. "Mas Haris kenapa duduk disana? Mas tidak pergi ke kantor?" tanyanya heran. "Saya akan pergi. Tapi saya mau bicara sesuatu dulu dengan kamu," ucapnya. Nisa meninggalkan sejenak pekerjaannya yang telah selesai lalu mengambil duduk di sebrang Haris. Sepertinya suaminya ini ingin berbicara hal yang serius. "Mas Haris mau bicara apa?" tanyanya. Hufft Haris menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Nisa. "Fara meminta saya untuk membawamu ke kantor," keluhnya. "Membawa saya? Untuk apa?" tanya Nisa bingung. Untuk apa dia ikut ke kantor? Apa dia akan di jadikan bodyguard oleh suaminya sendiri? Haris mengedikkan kedua bahunya. "Entahlah. Hanya Fara yang tahu," ujarnya. "Lalu apa Mas Haris akan membawa saya ke kantor?" tanya Nisa lagi. "Iya. Tapi saya bingung harus memberi alasan apa pada orang-orang di kantor. Mereka tidak boleh tahu jika kamu adalah istri saya Nisa." Degh Nisa langsung terdiam. Kepalanya langsung menunduk. Entah kenapa rasanya sakit sekali mendengarkan kalimat itu. d**a Nisa terasa sesak seketika. Haris bisa menangkap raut sedih di wajah Nisa. Dia sangat merasa bersalah. "Maaf Nisa. Saya tidak bermaksud--" "Tidak apa-apa Mas. Saya paham kok," potong Nisa dengan cepat. "Jika di kantor Mas ada pekerjaan untuk saya, jadikan saja saya karyawan disana," usul Nisa. "Sebenarnya ada pekerjaan yang kosong. Tapi saya tidak ingin menempatkan kamu dalam pekerjaan itu," ujar Haris. "Pekerjaan apapun akan saya terima selama saya mampu untuk mengerjakannya. Saya paham, mbak Fara meminta saya mengikuti Mas Haris pasti ada alasanya. Dia pasti sedang berjaga-jaga. Mbak Fara pernah bilang bahwa musuh Mas Haris di dunia bisnis ada dimana-mana. Begitupun dengan para wanita yang ingin menggantikan posisi mbak Fara. Mungkin mbak Fara ingin saya menjadi mata-mata Mas Haris," ucap Nisa serius. Haris refleks terkekeh kecil. "Mata-mata? Kamu mau menjadi mata-mata saya? Jika kamu ingin menjadi mata-mata saya, setidaknya kamu menjadi sekretaris atau asisten pribadi saya agar bisa ikut kemanapun saya pergi," ucapnya. "Memang pekerjaan apa yang ada untuk saya Mas?" tanya Nisa bingung. Dia belum paham akan mendapatkan pekerjaan seperti apa. "Eung- hanya ada posisi office girl. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Haris agak tak enak hati. Meskipun mereka menikah dengan terpaksa, namun Nisa tetaplah istrinya. Nisa dengan terpaksa menganggukan kepalanya. "Baiklah. Saya mau Mas," putusnya. 'Gak apa-apa deh jadi Office Girl juga. Yang penting bisa perhatiin Mas Haris. Aku jadi agak khawatir setelah mbak Fara banyak cerita tentang kehidupan bisnis Mas Haris.' Batin Nisa. *** Sesuai dengan kesepakatan ketika dirumah, Nisa berangkat bersama dengan Haris. Namun dari jarak beberapa puluh meter sebelum kantor, Nisa harus turun dan berjalan kaki agar tak orang yang mencurigai mereka. Setelah berjalan kaki beberapa puluh meter, akhirnya Nisa telah sampai di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Nisa begitu takjub melihat keindahan bangunannya. "Kantor Mas Haris bagus banget. Besar lagi. Pantesan banyak perempuan yang tergila-gila sama suami Nisa," gumam Nisa pelan. Nisa mengalihkan pandangannya kedepan. Terlihat Haris yang tengah berdiri di depan pintu kantor bersama seorang security. Sebelumnya, Haris telah berbicara bahwa dia akan menunggu Nisa di depan kantor. Nisa pun gegas mempercepat langkahnya dan menghampiri Haris yang tengah menunggunya. "Mari ikut saya," ucap Haris saat Nisa sudah ada di depannya. Nisa menganggukan kepalanya patuh. "Baik pak." Mereka pun berjalan beriringan memasuki kantor PT. Wiyatama Group dengan Nisa mengekori dari belakang. "Selamat pagi pak," sapa Dimas-asisten Haris pada Sang Atasan saat mereka bertemu di depan ruangan Haris. "Pagi," jawab Haris singkat. Dimas mengalihkan perhatiannya pada gadis cantik yang sejak tadi mengikuti Haris. "Maaf Pak, ini siapa ya?" tanya nya pada Haris. "Oh iya saya lupa. Dia akan mengisi posisi Office Girl yang kosong. Tolong kamu urus ya," pinta Haris. Dimas jelas mengangguk senang sebab sejak awal melihat Nisa dia telah terpana dengan kecantikannya. "Baik Pak. Siap laksanakan," ucapnya dengan sumringah. Haris heran melihat sikap Dimas. Tidak biasanya sang asisten begitu senang ketika di beri tugas. "Kamu kenapa terlihat senang begitu?" tanya Haris heran. "Jelas saya senang Pak. Bapak suruh saya urusin bidadari," jawabnya cengegesan. Mata Haris melotot seketika. "Apa kamu bilang? Awas saja kalau berani macam-macam," ancam Haris pada sang asisten. "Kan saya masih jomblo Pak. Gak ada salahnya coba PDKT sama mbak ini," jawab Dimas dengan entengnya. "Dia sudah ada yang punya," jawab Haris ketus. "Gak masalah Pak. Selama janur kuning belum melengkung saya masih bisa berjuang," ucap Dimas lagi yang tak mau kalah. "Dia sudah menikah Dimas!" ucap Haris agak keras hingga beberapa orang menoleh ke arahnya. Cepat-cepat Haris kembali ke model cool nya. "Ekhem. Cepat bawa dia ke belakang. Beri tahu aturan disini dan apa saja pekerjaannya," perintah Haris. "B-baik Pak," jawab Dimas yang langsung kicep melihat Haris telah dalam mode serius 1000%. Dimas pun membawa Nisa ke bagian office girl yang terletak di dapur, untuk di berikan pengarahan sebelum mulai bekerja. Sedangkan Haris menatap kepergian Nisa dan Dimas dengan persaan yang masih kesal. 'Bisa-bisanya si Dimas godain istri saya.' Batinnya kesal. Sedangkan tanpa Haris sadari, Nisa yang tengah mengekori Dimas pun diam-diam tersenyum sambil menunduk. 'Mas Haris lucu juga kalau cemburu.' Batinnya terkekeh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD