"Tidak, aku hanya takut kamu akan dimanfaatkan. Jika itu terjadi, kamu akan menyesal dan air matamu tidak akan menemukan pelampiasan. Aku melakukan ini demi kamu, kan? Lihatlah betapa tampannya dirimu. Kamu memiliki kekuatan dan pengaruh. Kamu pasti bisa menemukan seseorang yang lebih baik," tandas Windy. Windy berbicara dengan tulus. Kevin menatap mulutnya saat dia berbicara dan ekspresinya menjadi gelap. "Sungguh bijaksana. Haruskah aku memberimu hadiah?" "Tidak, biarkan aku makan buahnya saja" Windy dengan gugup memasukkan anggur ke dalam mulutnya. "Manis. Dia menyembunyikan rasa malunya. Buah impor itu memang lezat. Dia menghitungnya mendapat skor 80 persen untuk rasa manisnya. Kevin menatapnya saat dia melahap anggur sedikit demi sedikit. Jus yang menodai bibir merahnya sangat m

