Aku Adalah Lawanmu

573 Words
Siapa yang tidak kenal Dewa Mahardika. Dia adalah pria mapan pemilik beberapa usaha di negara ini. Dia juga dengan sangat mudah mencari informasi tentang seseorang. "Jadi cecunguk ini bekerja sebagai manager di kantor cabang kita?" "Iya bos." " Baiklah,aku akan menemuinya. Cecunguk seperti dia patut di musnahkan. Benar kan Jeff?" "Iya bos, pengecut yang bisanya membuat wanita beranak pinak tapi lepas tanggung jawab." "Hah,aku tak sabar ingin menghancurkan karirnya." "Saya boleh ikut bos?Biar bisa menghajar muka sok nya itu?" "Tidak Jeff,belum saatnya. Kamu cari saja informasi pria bernama Naffi eh Hannafi yang bekerja sebagai guru honorer itu. Dia sangat menjengkelkan." "Baik bos." Asisten Dewa segera berlalu setelah mendapat perintah dari Bosnya. * * "Randy...." "Iya ma.." "Apa kamu tidak merindukan ayah Pram?" tanya Safa dengan hati hati. Randy menggeleng. "Kenapa?" "Aku gak mau bertemu ayah,rasanya ayah juga tidak ingin mengangapku sebagai anaknya." "Jangan begitu.. Jangan pernah membenci ayah. Biar bagaimanapun dia adalah ayahmu. Ayah ingin bertemu denganmu. Apa kau mau? " bujuk Safa. Randy mengangguk mengiyakan. Safa buru buru mengabari mantan suaminya. Aku akan mengantarkan Randy ke alun alun.Kamu boleh menemaninya bermain. itu pesan dari Safa. "Ayo Ran.. kita akan bertemu ayah sebentar lagi." Ajak Safa. Randy mengangguk mengiyakan. Safa segera meminta ijin pada ibunya. Mereka berangkat ke alun alun. "Itu ayah ma." Tunjuk Randy. Safa menajamkan penglihatannya. Pramudya tampak sedang berdiri menanti kedatangan mereka. "Maaf kalau menunggu terlalu lama." "Ah tidak juga. Apa aku mengganggu aktifitasmu?" Pramudya tampak tersenyum canggung. "Tidak, aku sedang libur.Bermainlah dengan Randy." "Apa kau tak ingin tinggal di sini sebentar saja?" Pramudya bertanya walaupun sudah tahu jawaban seperti apa yang akan diberikan oleh mantan istrinya itu. "Maaf aku ada urusan." Tolak Safa dengan halus. Safa sangat menjaga jarak dengan Pram. Dia sedang berusaha mengobati rasa sakitnya. Sejujurnya melihat Pram,Safa merasa terlempar ke dalam masa lalu. Sakit yang tak berdarah. Kekecewaannya pada Pram sudah sangat mendarah daging. Wajar saja dia tidak mau bertemu dengan Pram. Bahkan mengingat namanya saja rasanya sangat sakit. Safa kemudian pergi setelah menitip pesan pada Ran. Dia akan menemui bu Anggi. Ada beberapa hal yang ingin dia bicarakan. "Kok kamu di sini? emang kamu masuk?" tanya Rere yang melihat Safa baru saja masuk ke dalam toko. "Kepo." Jawab Safa. "Ya kali dipanggil lembur. " "Bu Anggi ada Re?" " Gak tahu tuh.Tumben nyariin kakak ipar." Rere meledek Safa. "Apaan sih kamu?" Rere tertawa melihat wajah Safa memerah. Safa segera berlalu meninggalkan Rere yang masih asyik meledeknya. Bisa bisa akan menjadi gosip terbaru di toko itu. Tok tok tok. Masuk. Terdengar sahutan dari dalam. Perlahan Safa memutar gagang pintu dan masuk ke dalam ruangan. Di ruangan bu Anggi ada Sofa yang berada di sisi sebelah kanan. Bu Anggi tampak sibuk melihat berkas penjualan. Sementara di sofa ada dua orang tamu. Safa tidak terlalu memperhatikan karena dua orang itu sedang sibuk dengan ponselnya masing masing. Safa segera menghampiri bu Anggi. "Ada apa Fa? Bukannya kamu hari ini libur? kenapa malah berangkat?" Tanya bu Anggi saat melihat Safa berdiri di depannya. "Ah duduklah dulu." titahnya lagi. Safa pun menurut. Menungu bu Anggi selesai memeriksa berkasnya. "Kita duduk di sofa aja yuk." bu Anggi menggamit lengan Safa. Membawanya ke arah Sofa. Safa kaget. Matanya terpaku menatap sosok pria yang beberapa hari ini mengusik tidurnya. Berbeda dengan pria itu. Dia sibuk dengan gamenya. "Mereka sdang sibuk. Ayo Safa, kita makan di luar. Aku belum makan dari pagi." Anggi sengaja mengeraskan suaranya. Dewa mendongak dan menatap Safa yang juga sedang menatapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD