Melihat Pramudya yang semakin
gencar mendekati Safa. Dewa akhirnya memilih untuk mempercepat lamarannya. Dia tahu keluarga Safa sangat menjunjung tinggi nilai agama. Ayahnya seorang tokoh masyarakat.
Hari ini Dewa berencana menemui ayah Safa. Tentunya tanpa sepengetahuan Safa. Dia sudah bersusah ayah menghalau Hannafi tentunya dia tidak mau Safa kembali terlepas dari genggamannya.
"Apa kau yakin Wa?" Bintang kembali bertanya pada Dewa.
"Aku harus secepatnya mengikat Safa bang, agar dia mau berobat. Dia tidak tahu dengan penyakitnya itu. Aku juga tidak mau dia kembali pada cecunguk itu."
"Manager perusahaan cabangmu yang sok itu?"
"Iya bang."
"Baiklah kalau menurutmu itu yang terbaik."
"Kamu harus menemaniku bang." Pinta Dewa sedikit memaksa.
"Iya. Sebagai wakil dari ayah Mahardika aku akan mendukung keputusanmu."
"Apa ibu sudah tahu?" tanya Bintang.
"Sudah. Ibu merestui pilihanku bang." Jawab Dewa.
Dewa menerawang mengingat perbincangan hangatnya dengan sang ibu.
"Apa? Kamu mau menikah? Dengan siapa?"
Dewa tersenyum mendengar ibunya yang mulai heboh. Dewa tidak pernah memperkenalkan seorang wanita kepada keluarganya. Wajar ibunya terlihat syok mendengar penuturan anaknya itu.
"Kau tidak menghamili anak orang kan?" Selidik sang ibu.
"Tidak bu, Dewa masih ingat pesan ibu."
"Baiklah, jadi siapa perempuan beruntung yang mau menjadi istri pria ganteng ini?" ledeknya.
"Namanya Safa bu, dia bekerja di tokonya Anggi."
"Apa ibu pernah bertemu dengannya?"
Bu Dewi ibu dari Dewa itu tampak mengingat sesuatu.
"Dewa tidak tahu ibu pernah bertemu dengannya atau tidak. Tetapi dia orangnya baik dan lembut seperti ibu. Dia juga punya prinsip yang kuat."
"Wah wah wah... sepertinya kamu hafal banget dengan dia ya Wa?"
"Dewa sudah menyelidiki dia terlebih dahulu bu. Tetapi.. "
"Tetapi apa?
Palingan kamu ditolak kan?" Goda bu Dewi.
"Dia single parent bu."
Bu Dewi yang awalnya sangat antusias menjadi terdiam. Entah kenapa ada sedikit rasa tidak rela ketika Dewa akan meminang seorang janda beranak satu.
Sebagai keluarga yang bisa mendapatkan semuanya dengan mudah Dewa justru tidak melakukan hal itu.
Padahal kalau wanita itu tahu siapa Dewa Mahardika pasti tidak akan menolak sekalipun wajah Dewa tidak setampan Bintang.
"Apa dia tahu siapa kau sebenarnya?"
"Tidak bu, Safa itu tidak terlalu suka mencari tahu tentang orang lain. Dia juga tidak tahu siapa Dewa, yang dia tahu Dewa adalah adik iparnya Anggi bosnya."
"Baguslah.Semoga saja dia tidak mencintaimu karena harta. "
"Itulah masalahnya bu, dia susah sekali di dekati. Ketika Dewa mengutarakan keinginan Dewa dia juga belum memberi jawaban sampai saat ini."
"Dewa ingin menemui ayah Safa bu."
"Temuilah, belajarlah menjadi ksatria seperti ayahmu." Bu Dewi mengusap airmatanya mengingat mendiang sang suami.
Dewa memeluk ibunya dengan erat.
"Aku akan membawa calon istriku kesini bu."
"Bawalah,aku ingin melihatnya."
"Semoga dia bisa menemani hari hari ibu." Hibur Dewa.
Bu Dewi mengangguk mengiyakan harapan Dewa.
"Kapan kamu kesana, ajak Bintang untuk menemanimu."
"Baik bu, rencananya nanti sore. Doain usaha Dewa berhasil ya bu."
"Iya."
Sang ibu memberikan petuahnya kepada Dewa. Ingin sekali dia ikut ke rumah Safa menemani putranya. Tetapi mengingat Safa belum tentu mau dengan Dewa, bu Dewi menahan niatnya itu.
Dan di sinilah Dewa sekarang. Di depan rumah calon mertuanya. Itu pun kalau di terima. Rasa gugup tiba tiba menyerangnya. Tetapi tatapan mata Bintang lebih menyeramkan. Bintang memang tidak suka laki laki pengecut. Yang mempermainkan wanita. Dia pasti akan sangat marah jika Dewa melakukan hal itu.
Tok tok tok. Dewa mengetuk pelan pintu kayu itu.
Iya sebentar. Jawaban dari dalam membuat Dewa tambah berkeringat dingin. Jika di suruh memilih lebih baik dia bertemu klien daripada calon mertua.
Bisa runyam kalau salah langkah sedikit saja.
Krieeett..
Suara pintu dibuka dari dalam. Tampaklah seorang ibu paruh baya mengenakan daster panjang dan penutup kepala bulat khas wanita pada jaman dahulu kala.
Wanita itu tampak bingung melihat ke arah Dewa dan Bintang sebelum akhirnya bertanya dengan ramah.
" Maaf, mas mas ini cari siapa ya?"
"Selamat sore bu, maaf sebelumnya apa benar ini rumah Safa?"
Wanita tua itu mengangguk. Berbagai pikiran buruk langsung saja terlintas di benaknya.
"Silahkan masuk dulu mas, tetapi Safanya belum pulang." Untuk menghindari kecanggungan bu Retno segera menyuruh dua tamunya untuk masuk.
"Silahkan duduk mas. "
Dewa dan Bintang kemudian duduk.di kursi kayu panjang yang ada di ruang tamu. Keluarga yang sederhana. Batin Bintang.
"Apakah ayah Safa ada di rumah bu?"
" Oh ada sebentar saya panggilkan. Bu Retno tergopoh gopoh masuk ke dalam.
"Pak, ada tamu agung. Orangnya bawa mobil nyariin bapak." bisiknya pada sang suami yang baru saja mau menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Siapa?"
Bu Retno mengangkat bahunya tanda tak tahu. Ayah Safa segera berganti pakaian dan keluar. Sementara bu Retno membuat teh dan menyiapkan cemilan.
"Selamat sore pak." Sapa Bintang yang langsung berdiri.
"Sore mas." Ayah Safa duduk di depan mereka. Heran menatap dua pemuda di depannya yang belum pernah dia temui itu.
"Perkenalkan pak, nama saya Bintang. Saya kakak dari Dewa ini."
Ayah Safa manggut manggut.
Selesai berkenalan mereka mengobrol untuk mengurangi kecanggungan. Setelah dianggap tidak ada kekakuan barulah ayah Safa bertanya dengan tegas.
"Apa tujuan mas berdua kemari? tidak mungkin kan hanya sekedar berkenalan." Senyum itu menghiasi wajah keriput pria paruh baya itu.
Akhirnya Dewa pun menceritakan tujuannya menemui ayah Safa. Awalnya semua terkejut. Tetapi setelah di jelaskan dengan baik ayah Safa pun akhirnya mengerti. Tetapi keputusan tetap berada di tangan Safa.
Tiba tiba dari arah pintu masuklah Safa yang baru pulang kerja. Dengan keheranan dia pun langsung bertanya.
"Loh mas Bintang, mas Dewa kenapa ada di rumahku?..