Keinginan Dewa

465 Words
Safa terkejut melihat kedatangan dua bersaudara itu. Apalagi melihat wajah ceria sang ayah. Ada apa ini. Batin Safa. Dewa yang melihat Safa terlihat kebingungan segera berdehem. Eheemm... "Apa kamu mau berdiri di situ terus Fa? Sini sapa dulu tamu bapak." perintah bapaknya. Dengan cepat Safa menghampiri duo Mahardika itu. " Selamat sore Pak Bintang dan Pak Dewa." cicitnya. Dewa tersenyum tipis melihat wajah malu malu Safa. Di depan orang lain Safa mengganti panggilannya kepada Dewa. "Sore juga Safa." Jawab Bintang lembut menyapa calon adik iparnya. "Panggil ibumu kemari." Titah bapaknya. Safa mengangguk dan bergegas masuk. "Ibu disuruh ke depan sama bapak." bisik Safa. "Ayo, kamu juga. Siapa sih orang orang itu Safa?" Kenapa bertamu kemari? Kamu gak bikin salah sama mereka kan?" Safa menggeleng. Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Tetapi Safa memilih untuk diam saja. Safa duduk di tengah diapit kedua orangtuanya. Dewa tersenyum menatapnya. Sementara Safa terlihat salah tingkah. Apalagi mendengar penuturan Dewa. " Jadi begini pak bu, kedatangan saya kemari untuk meminang anak bapak sama ibu yang bernama Safa. Mungkin ini terlalu cepat tetapi bagi saya hal baik itu harus disegerakan." Dewa benar benar sangat gugup saat ini. Tatapan matanya tampak terlihat sangat meminta kepada Safa. Safa terdiam. Dia tidak menyangka Dewa akan melamarnya secepat ini. "Kami sebagai orangtua Safa sangat menghargai niat baik nak Dewa. Tetapi apakah keluarga nak Dewa sudah tahu siapa Safa?" Dewa mengangguk mantap. "Ibu saya tidak mempermasalahkan status Safa pak." Ayah Safa manggut manggut. Menatap anaknya yang menundukkan kepala. Rona merah terlihat di wajah anaknya. "Bagaimana denganmu bu?" Bu Retno terlihat kurang suka dengan Dewa. Dia menghela nafas berat dan berkata dengan ucapan yang tajam. "Sebagai seorang ibu, ingin yang terbaik untuk anaknya. Selama ini Pram selalu memperlakukan kami sebagai mertuanya dengan baik. Bagaimana dengan kamu? apa kamu sanggup?" Tanya bu Retno pada Dewa. Semua yang ada di ruangan itu tersentak kaget. Safa tidak terima dengan kata kata ibunya. Dia merasa tidak seharusnya ibunya mengungkit kembali tentang masalalu yang sudah dia coba lupakan. "Maafkan ibu saya Pak." Safa langsung saja meminta maaf karena tak enak hati pada Bintang dan Dewa. Tetapi Bintang justru tersenyum. Sebagai seorang dokter yang selalu menangani berbagai macam keluhan dia terlihat sangat tenang dengan ucapan bu Retno. "Tidak apa apa Safa, kami sadar keluarga ini belum mengenal kami. Bagaimana kalau kami mengundang keluarga kamu makan malam." Tanya Bintang. Bu mendelik kesal. Ayah Safa berusaha mencairkan susana yang terlihat tegang. "Baiklah nak, namun ada baiknya kita mendengar jawaban dari Safa." Dengan mantap Safa menganggukan kepalanya. Dewa menatap tak percaya. Reflek dia berdiri dan berteriak sangat keras. "Yes.. aku diterimaaaaaa." Semua tertawa melihat kehebohan Dewa. Sementara Dewa yang sadar dengan kelakuannya hanya menggaruk tengkuknya. Suasana sedikit mencair meskipun bu Retno terlihat tidak suka. Semoga bu Retno segera mengikhlaskan Safa untuk menjadi milikku. Bathin Dewa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD