Setiap proses itu pasti sulit, melelahkan dan meninggalkan rasa sakit. Begitupun proses yang dijalani oleh Safa dan Dewa. Setelah resmi bertunangan justru mereka mendapatkan ujian yang bertubi tubi.
Ibu Safa mendiamkan Safa tanpa sebab. Sungguh Safa merasa sangat bingung dengan sikap ibunya itu.
"Buang saja semua makanan itu Randy " Untuk kesekian kalinya Bu Retno menyuruh Randy membuang semua makanan yang dikirimkan oleh bu Dewi. Randy tertunduk sedih melihat makanan kesukaanya harus dibuang sia sia.
"Kenapa harus dibuang nek, kan sayang "
"Nenek tidak sudi memakan makanan dari orang jahat " Randy menunduk takut.
" Besok kalau mama kamu menikah, kamu di sini saja Randy. Jangan ikut w***********g itu. Mamamu itu seorang jalang " Lanjut bu Retno dengan keras.
Safa menghela nafas. Sesak yang dirasakan di dadanya. Sakit yang tak berdarah. Hanya karena menemani Anggi lembur dan menginap di rumah Dewa, bu Retno mengumpat anaknya dengan kata kata yang sangat kasar.
Perlahan air mata itu turun membasahi pipi mulusnya. Safa tercekat. Apa keputusannya menerima Dewa adalah kesalahan. Batinya pilu. Sungguh dia tidak menyangka akan seperti ini kejadiannya.
Setiap hari bu Retno marah marah tidak jelas. Mencari cari kesalahan Randy maupun Safa. Bahkan pakaian Safa mau di buangnya. Safa benar benar tidak tahan dan akhirnya bertanya dengan ayahnya.
"Ada apa dengan ibu pak?" Tanya Safa malam itu.
" Ibumu tidak bisa menerima Dewa "
"Apa sebabnya? Kenapa ibu semakin menjadi jadi? Aku tidak kuat pak"
Safa menutup wajahnya. Menangis tergugu. Bapaknya kemudian bercerita tentang kedatangan kakak Safa ke rumahnya. Awalnya mereka hanya membahas tentang pernikahan Safa. Lama lama semua membanding bandingkan Dewa dengan Pramudya.
Mereka berpendapat bahwa Dewa adalah orang asing Ibunya pun ikut termakan hasutan anak dan menantunya.
Hal itulah yang memicu ibunya menjadi memusuhi Safa.
"Apa aku harus mundur lagi " Safa bertanya dengan lirih.
"Tidak perlu, bapak tetap akan menikahkan kalian meskipun satu keluarga kita tidak ada yang hadir "
"Tapi pak..."
"Apa kamu tidak lelah Safa? Bahkan bapak sangat tidak setuju jika saudara saudaramu melihat semuanya dari harta "
"Terimakasih bapak sudah percaya dengan Safa "
Bapaknya mengangguk. Wajah keriputnya menunjukan kelelahan yang sangat kentara.
"Safa akan mengurus semuanya sendiri pak "
"Kamu yakin?"
"Yakin pak, ibu dan saudara saudaraku tidak mau membantuku "
"Maafkan mereka ya nak "
Safa tersenyum lembut. Mengambil tangan bapaknya dan berkata dengan mantap.
"Aku akan meminta mas Dewa mempercepat pernikahan kami pak "
Bapak menatap Safa tak percaya. Ada rasa sesak yang tidak bisa dia keluhkan. Anaknya memang sangat mandiri. Rasa sedih tiba tiba menelusup ke dalam benaknya.
"Bagaimana dengan Randy nak?"
"Randy bahagia pak, dia sudah dekat dengan mas Dewa "
"Safa pergi dulu ya pak "
"Hati hati nak "
Safa mengucap salam dan segera berlalu dari hadapan bapaknya. Hari ini dia ingin menemui Dewa. Dia akan meminta pernikahan ini dipercepat. Safa sungguh tidak mau jika saudaranya akan membuat ulah dan menggagalkan pernikahannya.
Safa sudah menghubungi Dewa dan akan bertemu di suatu tempat. Dia akan meminta pertimbangan Dewa dengan atas kejadian ini.
" Mas kamu di mana?"
"Di meja paling kanan sayang" Safa tersenyum simpul. Wajahnya merona mendengar jawaban tunangannya di seberang sana.
Safa melihat calon suaminya melambaikan tangan ke arahnya. Safa pun berjalan ke arah Dewa dengan mantap.
"Apa mas sudah lama?"
"Baru 10 menit, aku sudah memesan makanan. Kamu terlihat pucat sekali sayang, apa kau sakit?"
"Tidak"
Setelah Safa agak tenang, Dewa kembali bertanya.
"Apa yang terjadi?"
"Maafkan aku mas, ini terlalu memalukan"
"Katakan sayang"
"Ibu semakin tidak terkendali mas"