Chapter 4 - Reuni Singkat

779 Words
khirnya aku menghabiskan waktu makan siangku bersama keempat sahabatku ini. Aku merasa seperti kembali hidup di masa lalu. Kami mulai bercerita tentang kehidupan perkuliahan kami masing-masing. Fena begitu bersemangat bercerita bagaimana kehidupan kuliahnya di falkutas hukum yang ia idamankan sejak SMA dan ia bercerita banyak hal yang ia dapatkan selama ia kuliah di universitas yang sama denganku ia merasa sangat bahagia dengan kehidupannya saat ini, lalu Bobby bercerita bagimana sulitnya ia harus belajar menjadi seorang perawat yang di tuntut untuk sabar saat menghadapi seorang pasien yang cerewet luar bias padahal ia sendiri bukan tipikal orang yang sabar, dan Fatir pria yang sejak SMA sangat terobsesi dengan dunia kesehatan pun bercerita bagaimana pusingnya dia belajar untuk menjadi seorang apoteker hanya harus sibuk berkutat dengan bahan-bahan kimia dan ribuan campuran bahan kimia. Aku begitu terpanah mendengar cerita dari sahabat-sahabatku ini. Setelah sekian lama kami tak pernah menghabiskan waktu bersama mereka, kami bisa bersama-sama kembali dengan cerita yang lebih menarik bukan hanya sekedar mengosip tentang senior atau junior bukan hanya membicarakan guru-guru yang rese tapi, kami berkumpul menceritakan bagimana hidup kami dengan impian kami semua yang mulai terbina secara perlahan namun pasti ini. Tiba-tiba Fatir menghentikan ceritanya lalu ia memandangiku dan Dikta yang duduk bersebelahan. "Nah, kita bertiga udah cerita ya! Sekarang, tinggal kalian yang belum," sindir Fatir "Ayo siapa yang mau cerita duluan? Bu dokter atau bapak arsitek kita ni?" Aku menoleh kearah Dikta yang duduk bersampingan kini wajah kami saling berhadapan dan kedua mata kami juga saling berpandangan. Seketika aku merasa aliran darahku menjadi lebih cepat dari sebelum. Sorot kedua mata hazel Dikta tak pernah berubah walau nyaris hampir dua tahun aku tidak pernah menatapnya sangat dekat seperti saat ini. "Lo mau duluan, Nad?" tawar Dikta. "E-e-eh, u-u-dah lo aja duluan deh!" ujarku gelagapan, "Cerita gue mah bikin boring nantinya." "Oke deh," jawab Dikta. Lalu, kini ia memaling pandangnya dariku. "Sekarang, emangnya kalian mau gue cerita apa?" "Coba ceritain," sahut Bobby, "Di kampus lo ada cewek cantik gak?" Dikta mengalihan pandangnya kembali kepadaku sekilas. "Yang cantik si banyak tapi nggak ada yang kaya malaikat. Malaikatnya Victoria Secret's tapi--" "Angel's VS atau apa kaya Nadia?" celetuk Fena tiba-tiba. Wajah Dikta terlihat malu denganku, lalu ia langsung membuang pandangnya dariku. "Weh, Angel's VS itu punya gue, gue lempar pake sumpit ni!" ancam Bobby "A....ngel's VS lah. A....apa...lagi, Mirranda Kerr sama Behati Prinsloo!" jawab Dikta gelagapan. "Mirranda punya gue!" teriak Fatir tiba-tiba. Yah dasar pria-pria m***m kenapa jadi tiba-tiba malah mengalihan pembicaraan tentang para model Victoria Secret's segala dasar pria-pria m***m err -_-. "Ah, mulai deh otak cowok-cowo ini!" Sindir Fena. "Udah ah, cerita elo itu emang dari dulu selalu nggak menarik, Dik!" Dikta tersenyum meledek. "Namanya juga cowok! Wajarlah ya liat yang cantik seksi kaya model Victoria Sceret's langsung heboh." "Kalo buat kalian mah, nggak wajar ngomongin tentang Victoria's Sceret. Baru juga nonton sekali doang!" jawab Fena acuh. "Nggak sengaja pula!" tambahku sembari tersenyum meledek. Sontak wajah para pria-pria ini terlihat salah tingkah. Ya, mereka bertiga adalah pria-pria polos yang ternodai akibat tak sengaja menoton Victoria's Sceret saat berkunjung ke rumahku waktu itu dan mereka menonton Victoria's Sceret bersamaku dan Fena mereka. Sukses pun berubah jadi pria pria berfikiran sedikit aneh. "Ah, yaudah!" tuas Bobby, "Kita lupakan tentang malaikat-malaikat seksi yang bikin mata cling-cling itu. Coba Bu Dokter, ceritakan bagaimana pengalaman kuliah elo selama nyaris dua tahun kita nggak pernah ketemu?" Shit -_- menyebalkan. Kenapa aku juga kena? Apa aku harus menceritakan bawah aku hampir gila karena aku harus praktik pre-klinik sialan itu? Ditambah lagi riset-riset sialan itu di setiap semester ya tuhan aku benar-benar nyaris gila seperti ini -_- aku sedikit menyesal masuk di jurusan ini tapi... ini kan kemauanku dan papa juga mengizinkan aku juga ya? Walau awalnya Papa sempat menolaknya akhirnya papa memberiku restu juga dengan keinginanku ini. "Mau cerita apa?" "Gimana perasanya selama jadi anak FK? Ketemu cowo-cowo calon dokter yang bening-bening?" tanya Fatir, "Bahagia dong, Bu Dokter?" "Ugm...." "Atau belum nemu cowo bening?" potong Bobby, "Atau masih beningan cowo yang disamping elo?" Aku spontan melirik kearah Dikta ia menatapku dengan tatatap penuh tanya. pipiku terasa panas saat ini. Oh, ya tuhan terkutuk kalian semua -_- kalian memang para manusia menyebalkan dan selalu membuatku salah tingkah di depan Dikta. aku yakin saat ini wajahku mirip kepiting rebus. tidak ada pria yang lebih baik dari Dikta ya. "Masih beningan Song Seung-hyun mah, kata Nadia pasti!" ujar spontan Fatir. "I-i-itu t....ahu!" ujarku gelagapan. "Nggak ada cowo seganteng Song Seung-hyun biar gimana pun buat aku mah. Fix pake banget yang namanya Song Seung-hyun itu ganteng nggak ada yang bisa nandingin!" "Iya kan Song Seung-hyun emang paling ganteng buat elo," tambah Dikta, "Pokoknya cowo Korea kata Nadia mah, pasti lebih bening." *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD