Chapter 3 -Pria Aneh

1356 Words
Setelah dua tahun berlalu, aku mulai sibuk dengan kehidupanku sebagai mahasiswa kedokteran yang... ah jangan di tanya bagaimana rasanya. Melelahkan sangat melelahkan. Setiap hari aku menghabiskan waktu membaca buku-buku yang tebal menghadapi dosen yang galaknya minta ampun. Tapi, aku sangan menikmatinya karena ini impianku sejak aku kecil... menjadi seorang dokter. Handphoneku berdering dengan keras, dengan setengah hati aku berusaha bangkit dari tempat tidurku dan meraih handphone yang tergeletak di atas meja belajarku. Aku melihat sebuah panggilan dari Fena, tumben sekali ia menelfonku disaat liburan pagi-pagi sekali? "Halo?" "Baru bangun ya?" Tanya Fena. "Iya ni," Jawabku, "Ada apa Fen? Kok tumben telfon pagi-pagi?" "Eh, Pengumuman test hasil universitas udah keluarkan?" ujar Fena spontan, "Gimana hasilnya si gadis cerewet? Masuk gak dia di kampus kita?" "Mau lo gimana?" tanyaku. "Gue si maunya, dia masuk di kampus kita," balas Fena, "Apalagi di Hukum. Di falkutas gue. Biar kita bisa main bareng-bareng." "Sepertinya," ujarku, "Sepertinya--" "Sepertinya apa si, Nad?" potong Fena, "Jangan bikin kepo deh!" "Sepertinya doa lo terkabul, Fen," jawabku acuh, "Selamat ya! lo bakalan ospekin adik gue seperti impian kamu dua tahun lalu!" "SERIUS?" tanya Fena nampak tak percaya, "NAD, LO GAK LAGI BERCANDAIN GUE KAN? YAAMPUN GUE SENENG BANGET! SENENG BANGET BISA SATU JURUSAN SAMA DELIMA!" "Jangan galak-galak loh pas ngospekin Delima!" aku tertawa meledek, “Kalau, elo macem-macem sama Adik gue, gue laporin langsung ke Pak Rektor kampus kita!" "Ah, Nadia!" Fena mendesah kuat, "Gue nggak mungkin galak-galak sama adik gue sendiri. Btw, gadis cerewet udah bangun belum? Pengen ngomong ni sama dia, mau ngucapin selamat." "Dia masih tidur, Fen." "Yah!" Fena nampak kecewa, "Salam aja deh buat Delima" "Sip, nanti di sampein." "Nad, gue mau ngomong something deh." Fena mengalihkan topik pembicaraan kami. "Aish!" erangku. "Lebay deh lo pake ngomong-ngomong segala! lo biasanya selalu ngomong ya ngomong aja. Emang ada apa?" "Bobby sama Fatir kan baru sampai di Jakarta hari Jumat kemarin... mereka mau ngajak kita ketemuan ni, mau nggak nanti siang?" "Dikta?" tanyaku spontan. Asih babo babo babo kenapa aku tiba-tiba aku bertanya seperti ini? "Jadi cuman kita empat aja gitu nggak ada--." "Dikta lagi, Dikta lagi! Udahlah Nad, berhenti pikirin dia!" potong Fena, "Kata Bobby si, dia belum bisa ke Jakarta masih sibuk ada praktek gitu lah entah kapan dia pulang. Ya susah si ya anak Arsitek ya. emang gue, cuman anak Hukum nggak ada praktek tapi ngafalin UUD." "Oh," sahutku acuh, "Lagian salah sendiri mau jadi anak Hukum." "NADIA!" erang Fena, "Jadi anak hukum itu asik tahu! daripada jadi dokter yang kerjaanya ngurusin orang sakit duh, so sweet banget kesehatan orang aja di perhatiin tapi kesehatan sendiri suka terabaikan." "Biarin!" ujarku kesal, "Yang penting nggak ngafalin UUD sampe mabok!" "Jadi, mau ketemuan gak?" Fena mengalihakan pembicaraan kami. "Kalo jadi, ya lo Line atau sms Bobby aja mau kemana. kalo gak Bobby ya Fatir lah oke?" "Males ah!" ujarku, "Lo aja yang kasih tahu mereka. Gue mau kok ketemuan sama mereka, emangnya rencana mau ketemuan dimana?" "Mungkin di daerah Senanyan kaya biasa aja,” jawab Fena. "Oke deh kabarin-kabarin ya!" balasku, "Gue mau kasih tahu Papa sama Mama dulu, nanti kita line-line-an aja ya bye." "Bye Nad." Fena menutup telfonya. Dan aku pun mendesah kuat. Astaga kenapa jantungku jadi berdetak lebih cepat setelah dua tahun aku tidak pernah bertemu dengan Bobby dan Fatir akhirnya aku bertermu dengan mereka walau.. hanya satu orang yang sangat aku rindukan... Dikta ya. Aku sangat merindukanya. ##### Taksi yang aku tumpangi bersama Fena berhenti di sebuah mall di bilangan Senanyan. Ya mall ini adalah tempat di mana akau dan teman-temanku menghabiskan waktu bersama termaksud bersama Dikta. kami berdua mulai memasuki mall tersebut. Mall tersebut tak pernah berubah walau hampir dua tahun aku tidak pernah mengunjunginya karena aku terlalu sibuk dengan kuliahku di tambah lagi, sahabat-sahabatku sudah pergi merantahu dan jauh dari Jakarta. Kami berjalan dengan cepat saat memasuki mall ini. Kedua mataku terus berputar melirik kesegalah arah mall ini hingga akhirnya aku berhenti di sebuah toko yang menjual sepatu dan seketika kedua mataku mulai tertarik dengan sepasang sepatu kets nyang nampaknya itu edisi terbaru yang ada di majalah fashion yang sering aku baca di perpustakaan kampusku. "FENA!" teriak saat berjalan menjauhi toko sepatu itu. "Ish! lo kenapa si? Pake teriak-teriak segala,  norak ah lo!" dumal Fena. Aku mencengkram lengan kanan Fena hingga nyaris meremukan tulangnya. "Aaa... Fen, bentar gue mau liat dulu itu loh ada sepatu terbarunya Selena Gomez!" "Nadia!" erang Fena, "Kita itu mau apa si tujuan utamanya? Kenapa jadi-." Aku langsung menyeret Fena untuk masuk kedalam toko sepatu itu. dan well, mungkin karena hari ini weekand dan toko ini pun terlihat cukup ramai di tambah lagi mungkin hari ini adalah hari diskon di toko ini. "Kok kita malah masuk kesini si, Nad!" dumal Fena, "Ayolah, Bobby sama Fatir udah nungguin di foodcourt ni!" Aku mengabaikan ocehan Fena. Aku terus mencari-cari sepatu itu dan well, memang stand display sepatu ini sangat ramai dan kedua mataku nampak berbinar di mana aku melihat seorang Selena Gomez menjadi bintang iklan sepatu ini. "Mbak, saya ambil yang itu ya!" seru seorang pria di belakangku dan membuyarkan lamunanku tentang sepatu itu. "Oh, oke Pak. Saya liat stocknya dulu ya," sahut pelayan toko ini. Aku mendongak kearah belakangku. Terlihat seorang pria ya dia cukup tampan, kulitnya putih bersih seperti bayi bahkan aku sendiri yang notabenya seorang gadis saja merasa iri dengan kulit pria ini, lalu tubuhnya yang tinggi, kekar dan atletis mungkin membuat setiap wanita akan terpanah denganya dan rambutnya yang hitam legam bagai menabah daya tarik untukknya. "Pak, stocknya tinggal satu aja ni nomor 39, mau?" tanya pelayan toko ini. "Ah, kebetulan!" sahut pria ini, "Saya ambil yang itu, Mbak." Apa? tinggal satu? Dan ukuranya pas di kakiku. Sepatu idamanku... oh tidak! "Eh.. eh.. eh.. apa-apaan ini?! Hey hey hey itu sepatu gue!" bentakku kesal. Seketika pria tinggi ini mengalihan pandangannya kepadaku dengan tatapan nampak seperti elang akan mencengkram mangsanya. "Loh? lo siapa?" tanya pria tinggi itu, "Sepatu lo? Sejak-." "Sebelum lo lihat sepatu itu, sepatu itu udah jadi milk gue!" potongku, "Jadi, elo itu udah mencuri barang milik gue!" Alis pria itu terpaut satu sama lain. “Lo gila ya? Apa perlu gue panggil petugas keamanan buat bawa lo keluar... pendek?" Sial memangnya dia siapa?! Apa pendek memangnya aku pendek sekali apa? "Apa kata lo?" "Lo gila ya, Kurcaci?" sindiri pria itu, "Datang-datang terus ngaku-ngaku pula... dasar sinting!" Lalu pria itu berbalik arah. Dengan cekatan aku pun berusah berjinjit dan menjitak kepalanya walau hanya di bagian tengkuknya saja karena ia sangat tinggi dan aku sangat pendek. Sial, kenapa aku di takdirkan untuk menjadi orang pendek si? "Berani-beraninya lo ngatain gue ini gila!" omelku, "Dasar om-om sinting! tegil! gila! Ih." Pria itu berbalik, ia  menatapku tajam. "Lo memang gadis sinting ya! Berani banget ngatain gue gila! Gue panggil juga-.” "Nadia!" seru seseorang dan mencegahku untuk memaki pria aneh ini lebih jauh. "Dikta?" Dikta bersama Fena menghampiri aku dan pria aneh ini. aku langsung berlari memeluk Dikta ia nampak bingung dengan sikapku yang tiba-tiba menjadi aneh ini. "Lo kemana aja si?" tanya Fena kesal, "Gue nyariin lo udah kaya nyari bocah umur lima tahun ilang tahu!" "Maaf," ujarku "Sebenernya kalian kenapa si?" tanya Dikta tiba-tiba, "Ada apa kalian ber-." "Tolong, kalian bilangin sama kurcaci ini," Potong pria tinggi itu, "Atittudenya di jaga ya!" Pria tinggi itu berbalik arah dan berjalan meninggalkan kami bertiga dengan angkuhnya. Iyuh -_- siapa si dia? angkuh sekali jadi orang. Om-om gila dasar beraninya sama anak kecil -_-. Aku dengan cekatan menjulurkan lidahku seperti anak berusia lima tahun. "Lo kenapa si?" tanya Dikta tiba-tiba. dan ini membuatku menjadi kikuk seketika. "Umm.... umm... anu anu tadi dia itu orang iseng doang kok he-eh." Aku tersenyum memaksa, "Ah, udah udah jangan di pikirin ayo kita pergi udah laper banget ni gue!" "Dasar Nadia!" gerutu Fena, "Ada Dikta aja langsung deh, gue di kacang." Aku langsung menarik tangan Fena. "Ayo kita mau makan dimana? makan ramen ya ramen please!" Dikta mengacak-ngacak poniku. "Iya iya. kita makan ramen kok, Pipi Tomat." "DIKTA!" dengusku kesal. Dengan spontan Dikta mendekapku. "Jangan ngomel-ngomel lagi, Pipi Tomat. Doain ni makin pendek!" Aku merasa pipiku sangat panas saat ini. ya tuhan, Dikta kamu masih saja menyebalkan!. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD