Chapter 2 - Ketika sulit mengucapkan Kata Perpisahan

1230 Words
Hari yang kutunggu tiba, setelah mengikuti test masuk universitas pengumuman hasil test univeritas tiba. Perasaan mulai tak karuan. Sejak kemarin malam, aku tidak tidur sama sekali bahkan aku juga tidak makan sama sekali. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun bahkan sebelum mama bangun. saat koran pagi ini di antarkan di depan rumah aku langsung menyambar koran tersebut dari pada koran itu Papa yang membaca terlebih dahulu pasti akan sangat lama -_-. Dan aku pun dengan saksama memperhatikan lembar koran khusus hari ini, dan kedua mataku langsung memperhatikan setiap detail nama dan nomor urut ujian yang tertera lalu menyamkan dengan nomor urut ujian milikku dan bertapa terkejutnya aku saat aku mendapatkan namaku di lembar-an koran itu. "MAMA! PAPA! DELIMA! NENEK!" teriakku histeris. Seketika dengan wajah panik Mama pun menghampiriku yang menangis di atas lantai. "Ada apa?" tanya Mama nampak panik, "Kamu jatuh? Kamu sakit? Ada-." "Mama," potongku. "Aku di terima Ma... aku masuk di kedokteran Mama... aku masuk kedokteran di kampus impianku, Ma!" Ekpresi mama nampak bingung sekaligus bahagia. "Serius? Serius kamu keterima, Nad?" Aku mengangguk khitmad. "Ya, Ma! Aku masuk Ma." Aku pun memeluk mama sangat erat. Aku langsung menangis. Menangis bahagia. Karena, selama hidupku aku belum pernah merasa sebahagia ini. Ya tuhan terimakasih. Ini adalah moment terindah di dalam hidupku. "Ada apa si, Kak? Kok teriak-teriak?" tanya Delima saat menghampiriku dan mama. "Kakak kamu," ujar Mama, "Kakak kamu masuk di kedokteran kampus impiannya, Del." Delima tersenyum senang. Ia langsung memelukku dan Mama dengan erat. "Aku bangga punya kakak, seperti Kak Nadia!" Aku begitu larut dalam kebahagiaanku. Ya, aku berhasil membuktikan seseorang yang begitu di remehkan saat ini bisa membuktikan bahwa orang tersebut jauh dari apa yang sering di katakan. Aku memang bukan seorang anak yang pintar dengan kumpulan piagam yang banyak aku hanya seorang kutu buku yang suka menghabiskan waktuku di perpustakaan dan selalu keluar masuk ruang BK karena kasusku dengan para junior-junior rese itu. "Ada apa?" Tanya papa saat ia menghampiri kami bertiga. Ia terlihat sangat rapi pagi ini seperti biasa. Aku yakin, pagi ini seperti biasa ia hanya akan sempat membaca koran atau mungkin tak sempat sama sekali untuk menyentuh koran. Lalu, ia pergi ke kantor dengan mengendarai motor tuanya itu tanpa menikmati sarapan bersama kami semua. Aku melepaskan pelukanku bersama Mama dan Delima. "Papa, aku keterima dong di kedokteran di universitas yang aku mau lagi. liat deh, Pa!" Aku langsung menyodorkan lembaran koran yang bertulisan pengumuman ujian masuk universitas dengan papa. Wajah papa yang sangat datar pagi ini berubah menjadi bahagia. Ia melemparkan senyumanya seperti biasa. "Yakin? Salah kali ni pengumumannya!" ujar Papa dengan nada meledek, "Mungkin itu, bukan nama kamu kali." "Papa!" erangku, "Liat dong Pa, ini namaku Annadia Septiva Rahardhian siapa lagi yang punya nama kaya aku?" "Masa si?" Papa tersenyum meledek, "Nggak mungkin anak pemalas yang kerjaanya tiap cuman baca novel sama komik dan suka keluar masuk BK kaya kamu bisa masuk di kedokteran." Sial papa kenapa malah meledekku -_- papa menyebalkan! Bukannya ia senang malah aku jadi bahan ejekanya pagi ini -_- kenapa aku harus mempunyai papa yang sangat menyebalkan si? "PAPA!" rajuku, "Kok malah ngeledek aku si? Nyebelin ah papa nyebelin!" Aku memamerkan bibir bebekku seperti biasa dan sialnya papa malah tertawa melihat ekpersiku. "Papa bercanda sayang." tiba-tiba papa memelukku sangat erat, "Selamat ya, anak manjanya Papa. Akhirnya kamu bisa buktiin sama Papa semua yang kamu omongin bukan wacana belaka nak." "Papa!" Seru Delima saat melihat Papa memelukku. Dengan cekatan papa mendekap Delima dan aku bersamaan. "Papa begitu beruntung memiliki kalian, kalian adalah malaikat terindah yang pernah hadir di hidup Papa." "Aku pun," tambahku. "Juga merasa beruntung memiliki pria hebat seperti papa dan wanita baik hati seperti mama juga adik yang begitu pengertian denganku. Tanpa kalian mungkin aku tak akan seperti ini." ##### Jam dinding di kamarku menujukan pukul tujuh malam. Aku terus memandangi handphoneku yang tergeletak di atas meja belajar. Dari semua sahabatku aku hanya belum menghubungi Dikta untuk memberi kabar bahagia ini. Apa aku harus mengubunginya sekarang? Apa aku benar-benar harus memberi tahunya tentang hal ini? Kalau seandanya dia gagal... aduh aku kayanya seperti orang jahat saja bersenang-senang di atas penderitaan orang.  Kuberanikan diriku untuk mengetik nomor telfon Dikta dan menyetuh tombol panggilan. "Halo?" sahut seseorang dan tidak lain itu suara Dikta. "Dikta?" tanyaku, "Hey, gue ganggu ya? Atau lo masih di jalan? Kalo masih di jalan nanti aja aku telfon elo." "Ah, enggak kok. Ini baru sampai rumah dari latihan silat tadi, Nad," elak Dikta, "Kenapa, Nad? Tumben banget telfon." "Gue mau kasih kabar baik sama lo," kataku riang. "Sebenernya gue juga mau ngomong sesuatu si sama lo," balas Dikta, "Ah, tapi lo duluan aja deh gue mah nanti aja." "Dik," panggilku, "Lo tahu nggak si? gue keterima di kedokteran loh! elo tau gue dapet kedokteran di mana, Dik? Di kampus impian gue! Aduh sumpah nggak nyakak banget gue-." "Serius?" potong Dikta, "Wah, selamat ya Nad! Akhirnya impian lo keturutan juga. Hebat elo Nad!" "He-eh makasih!" sahutku, "Lo mau-." "Sebenarnya," potong Dikta lagi, "Gue juga mau kasih tahu lo... Kalo, gue keterima di arsitektur di salah satu universitas yang ada di Bogor. Di kampus impian gue Nad!" Aku membeku. Sungguh? Dia benar-benar ingin pergi meninggalkanku? Apa ini tandanya.. aku harus mencoba melupakanya? Apa aku memang di takdirkan tidak boleh merasa untuk jatuh cinta dengan seseorang di dalam hidupku? "Nadia?" panggil Dikta, "Lo masih di situ kan?" "Oh... oh... oh... iya Dik," jawabku gelagapan, "Kenapa?" "Gue pikir lo shock berat gitu setelah lulus test," Ujar Dikta. "Lo nggak tidur?" "Ini mau tidur kok." ujarku parau, "Lo nggak tidur, Dik?" "Masih mau ngobrol sama Ibu gue ni," sahut Dikta, "Btw, Nad makasih ya." "Buat?" "Lo selalu support gue terus," ujar Dikta riang, "lo memang sahabat yang terbaik yang pernah gue punya, Nadia." Aku tersenyum getir. Apa? sahabat? Hanya seorang sahabat? Iya mungkin aku hanya di anggap seorang sahabat tidak akan pernah lebih Nadia! Berhentilah bermimpi hidup seperti di kisah Romeo dan Juliet atau drama korea  yang selalu happy ending lah.  "Sama-sama! Lo juga, makasih udah support gue juga sampe gue bisa terus berjuang ngebuktiin sama Papa kalau gue bisa masuk kedokteran dengan usaha gue sendiri." "Nadia." "Iya?" Sahutku. "Lo," Ujar Dikta, "Jangan nakal-nakal ya nanti kalau udah jadi mahasiswa kedokteran! Jangan lirik-lirik cowok lain!" "Ha?" "He-he." Dikta tertawa meledek, "I'm just kidding, Nad. Good luck, Bu Dokter! Kalo, gue sakit lo harus kasih diskon special sama gue ya." Aku mendesah kuat. "Ya. Ya. Ya. Pasti gue kasih diskon buat lo mah! Lo juga di Bogor hati-hati ya sering kasih kabar loh! Ah, lo di Bogor, Bobby sama Fatir di Bandung, cuman gue sama Fena yang di Jakarta satu kampus tapi beda jurusan dan intesitas ketemunya berlima pasti bakal jarang juga. Fyh! Nggak asik kita nggak bisa ngumpul lagi kaya biasanya." "Jangan sedih gitu dong, Ini kan pilihan kita masing-masing," ujar Dikta, "Yang penting kita masih sama-sama di pulau Jawa ini nggak ada yang sampe keluar pulau apa lagi keluar negeri." "Tapi--." "Tapi apa?" potong Dikta, "Nadia, tenang jarak Jakarta - Bogor kan dua jam kok. gue gak sampe menyebrang pulau juga kok. Gue pasti bakalan ngabarin elo terus kok nanti." "Janji?" "Ya," balas Dikta, "Gue janji." "Awas kalau sampe lo bohong!" ancamku, "Jangan harap lo bisa dengerin suara gue lagi." "Aduh, anak pendek kenapa setiap gue denger elo marah gue malam kepengen tertawa ya?" ledek Dikta, "Iya.... iya... Anak Pendek, Pipi Tomat. gue pasti akan ngabarin elo kok tenang aja." *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD