"Good morning."
Kana menuruni anak tangga dengan mata sipit masih mengantuk. Ia menyapa kedua orang tuanya yang sedang berbincang di meja makan. Sudah ada beberapa lauk-pauk disana untuk sarapan. Kana meringis. Ia terlambat bangun. Lagi. Memang dasarnya Kana bukan tipe morning person. Ah, sudahlah. Ia terima telinganya hari ini berdenging karena dimarahi Papa.
"Good morning, Nak." Mama tersenyum pada Kana. Lalu matanya bergerak lebih jauh di belakang Jeri karena lelaki itu juga baru bangun. "Cuci muka dulu, sana, Jer. Terus sarapan bareng. Mama udah masak cumi pedas, nih."
Jeri mengangguk lalu bergerak menuruni anak tangga, menyerobot Kana, lalu berlari kecil ke kamar mandi tamu di bawah. Mencuci wajahnya disana. Kana mendekat pada sang ibu, duduk di sampingnya. "Kok masak banyak, Ma?"
"Pagi ini mama sama papa mau balik ke rumah. Jadi lauknya sebagian dibawa mama, ya? Biar gak masak dua kali."
Kana mengangguk terlalu semangat. Batinnya bersorak kegirangan merasa malam ini tak perlu tidur satu kamar dengan Jeri.
"Ada kita atau gak ada kita, kamu sama Jeri harus sekamar, Kan. Mana ada pasangan suami istri yang tidur beda kamar?" ujar Papanya tanpa mengalihkan perhatian dari koran.
Kana mendengus. mengiyakan saja.
"Papa serius. Awas aja kalau kalian—" Papa menunjuk Jeri yang baru datang ke meja makan, lalu telunjuknya bergerak ke wajah Kana, "ketahuan gak satu kamar."
Jeri menyengir. Kana menatapnya malas. Ketika Mama menyiapkan makan untuk papa, Kana mulai mengambil nasi untuk piringnya sendiri, lalu suara papa kembali menginterupsi.
"Jeri diambilin, dong, Kan."
"Astaga, Pa, dia punya tangan sendiri, kali."
"Kanadia Agraf."
Kana menghela nafas mendengar sang papa menyebutkan nama panjangnya. "Oke, oke, aku ambilin nasi buat suamiku tercinta!" ujar Kana berlebihan sembari mengulas senyum lebar yang dipaksakan ke arah Jeri dan Jeri menahan tawa melihat wajah Kana yang jadi mirip kodok.
Mereka berempat sarapan bersama. Keheningan tercipta mulai dari beberapa detik yang lalu. Hanya suara dentingan piring, garpu, dan sendok yang terdengar. Apalagi Jeri penyuka makanan laut itu. Laki-laki itu terlihat menikmati makanan buatan mama. Makannya lahap sekali seakan-akan ia belum memasukkan apapun pada perutnya selama seminggu penuh.
"Kalian ada kelas jam berapa?"
Pertanyaan Papa membuat Jeri dan Kana yang asik makan jadi mengangkat kepala. Jeri membersihkan tenggorokannya yang terasa pedas akibat saus cumi. "Setengah jam lagi aku berangkat, sih, Pa."
"Pulangnya jam berapa?"
Jeri baru akan berkata jujur bahwa ia selesai kelas sekitar pukul tiga karena hanya ada dua mata kuliah hari ini. Tapi ia teringat bahwa Mella pulang nanti malam dan Jeri ingin menyelesaikan kegelisahannya hari ini juga. Jadi, Jeri memutuskan untuk berbohong. Lagi pula tak mungkin Jeri bilang bahwa ia harus menemui perempuan lain, kan?
"Mungkin malem. Aku harus ke J&G dulu ngecek pembukuan."
Papa mengangguk. Kana mengernyit. Tahu benar bahwa Jeri berbohong karena yang pertama, baru kemarin Jeri bilang bahwa Jeri akan mengecek pembukuan J&G dua minggu sekali di hari sabtu. Dan ini bukan hari Sabtu. Yang kedua, baru kemarin juga Jeri mengatakan pada Kana bahwa ia harus menemui kekasihnya. Jadi, ya, pasti itu adalah alasan sebenarnya.
"Kalau kamu berangkat jam berapa, Kan?"
Kanadia Agraf menoleh pada papanya. Lalu mencoba mengingat-ingat kelas apa yang ia miliki hari ini. "Kelas sore. Satu mata kuliah doang."
"Ya udah berarti siangnya bantuin mama ke pasar mau beli kain."
Kana menatap sang papa tak terima. "Yah, Pa, aku mau seharian di—"
"Gak ada penolakan, Kana. Kamu mau seharian rebahan di kamar padahal mama lagi nggak ada yang bisa nemenin ke pasar? Kamu gak kasihan?"
Kana melirik Mamanya yang kalem saja. Meminta bantuan karena Kana benar-benar ingin bersantai di rumah siang ini. Tapi mamanya tak kunjung menangkap gerak-gerik Kana. Kana hampir menyerah dan mengiyakan permintaan papanya ketika Mama tiba-tiba bersuara. "Biarin, Pa. Lagian Mama, kan, sama supir. Nanti biarin Pak Anwar yang angkat-angkat kainnya."
"Tuh, kan. Ada Pak Anwar!" seru Kana pada papanya. "Lagian Papa, tuh, selalu deh cari-cari alasan biar Kana ini biar Kana itu. Kana, kan, pingin nganggur."
"Nganggur itu gak ada benefitnya, Kan."
"Ada. Badanku jadi gak capek." Kana tak mau kalah dari papanya.
"Papa kerja, mama ngurusin persiapan opening butik, Jeri ngurusin J&G, dan kamu enak-enak di rumah?" sindir Papanya.
Lah, emang Kana harus ngapain?" Kana menatap papanya. "Kecuali, nih, Kana udah lulus kuliah, pasti Kana gak bakalan nganggur. Kana udah kerja."
Papanya meletakkan sendok di piring, menggesernya menjauh karena makanannya sudah habis. Ia mengelap tisu di mulut sebelum menatap sang putri. "Apa bedanya sekarang sama setelah lulus? Kamu masih sama-sama dibiayain Jeri."
"Mana ada? Lulus S1 aku udah cerai, kali, sama Jeri."
Jeri hampir menyemburkan air putihnya mendengar Kana yang mengatakan itu. Lelaki itu menoleh pada Kana, melotot tajam, memperingati Kana bahwa kedua orang tuanya tak boleh tahu tentang rencana perceraian mereka.
Kana menepuk dahinya pelan. Lupa dengan yang satu itu. Lupa dengan siapa ia mengobrol sekarang. Alhasil Papanya melotot pada Kana. Alisnya terangkat tinggi menuntut penjelasan atas kalimatnya. Begitupun mama yang sekarang langsung iku menaruh sendoknya, padahal wanita itu belum selesai makan.
Mampus.
✓
Nyatanya jadwal Kana bersantai di siang ini sebelum kelas sore juga tidak sesuai rencana. Setelah kepulangan papa dan mamanya, baru Kana memasuki kamar dan akan melemparkan punggung di atas ranjang, ada pesan masuk dari grup salah satu mata kuliahnya. Bahwa ada tugas yang harus dikerjakan dalam waktu lima jam dan akan dibahas nanti di kelas.
Kana mengumpat sebanyak-banyaknya. Menggerutu tak henti-hentinya. Ia berdiri lagi, mengambil laptop, dan dengan ogah-ogahan mulai mengerjakan tugas. Satu jam ia berkutat dengan laptop, lalu ponselnya berdering lagi. Kali ini ada nama Jeri disana. Iya, Kana sudah memutuskan menyimpan nomor lelaki itu. Dinamainya J. Begitu saja.
"Apa?" tanya Kana tanpa berbasa-basi dan dengan nada malas.
"Lupa ngabarin. Gue nanti pulang malem banget. Gak usah disiapin makanan karena gue mau makan di luar sama Mella. Dan gak usah nungguin."
Kana berdecak. "Ck. Siapa yang mau nungguin elo? Geer banget."
Di seberang sana, Jeri tertawa. Lalu kembali bersuara. "Mau nitip sesuatu? Gue beliin."
Kana mengetukkan jemari terlunjuknya di atas keyboard laptop, berpikir untuk penawaran Jeri. Tapi tak kunjung menemukan apa yang sedang ia inginkan, Kana akhirnya memilih menawab. "Terserah, dah. Lagi gak tahu juga pingin apa. Gak usah dibeliin."
"Oke."
Kemudian Jeri menutup teleponnya. Dan Kana mengembalikan ponselnya di atas nakas. Tapi baru ia akan mengetik lagi, ponselnya bergetar. Kali ini masih dari Jeri. Namun berupa pesan. Kana membuka kunci kata sandi di ponsel lalu membaca pesan tersebut.
Jeremi Yudistira : Nanti gue kabarin kalau ternyata gue nginep di Mella
Kana mendengus. Bukan apa-apa. Bukan Kana cemburu atau apa. Tapi Kana tak tahu bahwa memiliki status sebagai pacar Jeri, berarti harus menanggung segala resiko hamil. Karena jika lelaki itu menginap di rumah kekasihnya, tak mungkin, kan, mereka tak melakukan apapun? Selalu ada setan di antara dua orang yang sedang berduaan. Dan jika sampai suatu hari nanti Kanadia Agraf mendengar kabar dari suaminya bahwa ia menghamili kekasihnya alias Mella Melonica, maka Kana tak segan-segan melaporkan kelakuan b******n satu itu ke orang tuanya. Biar tahu rasa.
Hari itu, Kana tak menjumpai sosok Richo Dicardo sama sekali. Yang pertama, karena Kanadia Agraf masuk kelas tepat waktu. Tak lebih dan tak kurang. Lalu ia hanya memiliki jadwal satu mata kuliah, yang mana tidak ada jam kosong atau selang ke mata kuliah lain dan Kana tak perlu bersusah-payah ke kantin fakultas. Jadi seusai ia menyelesaikan kelasnya, Kana membawa porsche-nya pulang ke apartemen. Lagi pula, saat ini Kana sedang mengurangi bertemu dengan Richo. Atau setidaknya, Kana tak ingin menghubungi lelaki itu lebih dulu. Beda cerita jika Richo yang menghubunginya atau mengajaknya keluar, maka Kana dengan senang hati menurutinya. Tebak mengapa Kana begitu? Karena jika suatu saat nanti Indri terlibat cemburu buta dengan hubungannya dan Richo, Kana tidak bisa disalahkan karena Richo yang menghubunginya duluan. Eits, jangan mengumpati Kana larena ia terlihat licik. Ini bukan licik. Bukan jahat juga. Ia hanya berusaha melindungi dirinya. Juga hatinya. Kana sudah memutuskan untuk belajar melupakan sosok yang sudah mengisi hari-harinya semenjak satu tahun yang lalu. Pelan-pelan. Tapi pasti.
Ia sampai di rumah tepat ketika jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul setengah enam sore. Melepas high heels dan cardigan yang melekat di tubuhnya, Kana mengambil jepit rambut dan menggulung miliknya ke atas, cepol asal-asalan. Ia berjinjit berusaha meraih kemasan bubur instan dan memasaknya. Kana lapar. Perempuan itu terlihat menikmati kesendiriannya. Menggumam bernyanyi kecil, menikmati bubur buatannya, menonton film kartun di televisi, mengganti baju, mencuci muka, dan tepat pukul tujuh malam, Kana sudah tertidur pulas.
✓
Kana terbangun usai ia memejamkan mata selama kurang lebih dua jam. Ia lupa menghidupkan pendingin ruangan, membuat tubuhnya lengket karena keringat. Jakarta tanpa pendingin ruangan memang suka tak tahu diri. Panasnya bukan main. Padahal ini malam.
Kana beranjak dari kasur, mengambil tanktop hitam dan hot pants putihnya, lalu melangkah ke kamar mandi. Saking panasnya udara malam itu, Kana memutuskan untuk mandi dengan air dingin. Mengguyur tubuhnya di bawah shower dan memakai hotpants serta tanktop saja setelahnya.
Tangan Kana sedang sibuk memegang hair dryer selagi tangan satunya memegang rambut. Ia mengeringkan rambutnya yang basah setelah berkeramas barusan. Tapi belum sampai Kana benar-benar selesai mengeringkan rambut, bahkan bisa dibilang yang hampir kering hanya rambut di sebelah kiri saja, sedangkan yang sebelah kanan masih basah kuyup, tiba-tiba lampu mati. Dan Kana terkejut.
Apa Kana sudah pernah memberitahu bahwa perempuan itu takut gelap? Bukan. Ia bukan phobia dengan kegelapannya. Tapi ia takut hantu. Jangan tertawa mendengar fakta yang satu ini. Kana yang dikenal bar-bar, garang, dan sombong ini memang pengecut jika sudah melibatkan makhluk halus. Jangankan menonton film horror, mati lampu begini saja sudah membuat jantung Kana hampir copot. Selama ini, Kana paling anti menceritakan atau mendengar cerita tentang makhluk halus. Menurutnya, hantu adalah sesuatu yang paling menyeramkan.
Kana bergidik ngeri. Sialan.
Tangannya mencoba mencari ponsel yang tadi ia letakkan di tengah kasur tapi sekarang malah tak ada. Kana sudah hampir menangis tapi kemudian ada pesan masuk di ponselnya membuat benda itu tiba-tiba menyala. Kana merangkak menuju kasur, mengambil ponsel, dan langsung bergerak menyelimuti seluruh tubuhnya di bawah selimut tebal miliknya. Ia tak berniat untuk mengecek mengapa bisa mati lampu. Bagaimana ia mau mengecek jika keluar kamar saja ia takut.
Di bawah selimutnya, Kana membuka pesan masuk yang ternyata dari Jeri. Lelaki itu bertanya apakah Kana tidak takut karena ini sedang mati lampu. Kana mengernyit membaca pesan tersebut. Darimana Jeri tahu kalau di rumah sedang mati lampu padahal lelaki itu, kan, belum pulang?
Kana membaca pesan tersebut sekali lagi.
Jeremi Yudistira : Lagi mati lampu. Lo gak takut?
Dengan cepat, Kana memilih menekan tombol telepon dari pada bersusah-payah mengetik.
"Kok elo tahu kalau lagi mati lampu?" semprot Kana begitu Jeri mengangkat panggilannya.
"Apaan sih. Orang gue lagi di kamar. Gue gak jadi ke rumah Mella tadi. Doi lagi sibuk."
"Lah? Serius? Lo kapan pulangnya?"
"Sejam yang lalu. Elo, sih, molor mulu. Suami pulang kagak tahu."
Kana tak menggubris kalimat Jeri. ia langsung menyerobot dengan kalimat lain. "Jer, gue ke kamar lo, ya? Huhu. Sumpah takut, nih, gue sendirian di kamar." Kana sedikit merengek. Lagian ia sedang benar-benar takut. Bagaimana kalau lampunya mati lama? Bisa-bisa ia tidak bisa tidur.
"Alah, muka doang garang, tapi mati lampu takut," ejek Jeri.
"Bodo, sih!"
Kana menutup teleponnya. Tak peduli Jeri setuju atau tidak dengan kedatangan Kana ke kamarnya, perempuan itu bergegas bangkit dan membawa ponsel serta selimut tebalnya. Ia menyeberangi kamar dan mengetuk pintu Jeri keras-keras.
"Kagak dikunci!" teriak Jeri dari dalam kamar.
Kana langsung memutar kenop pintu kamar Jeri, dan alangkah terkejutnya Kana ketika kamar Jeri yang gelap gulita karena mati lampu, tapi Jeri dengan isengnya berjongkok di belakang pintu dengan senter menyala di bawah dagunya. Kana berteriak histeris. Dan Jeri terbahak sangat keras.
"JERI ANJING b*****t YA LO!"
Kana menangis dan mengumpati Jeri. "Huhuhu, Mama, huhuhu Jeri bangsat."
Jeri masih menertawai Kana. Lelaki itu melompat ke atas ranjangnya dan menyandarkan punggung di kepala sofa. Masih dengan sisa tawanya, Jeri menoleh pada Kana yang senantiasa menangis sambil memegangi selimutnya yang melingkar di tubuh gadis itu.
"Udah, woi, jangan nangis." Jeri tertawa lagi. "Sini duduk."
"Anjing." umpat Kana sekali lagi sebelum memilih bergabung di atas ranjang Jeri, meluruskan kakinya disana, dan ikut menyandarkan punggung pada kepala sofa. Jika ruangan sedang terang, pasti Jeri akan tahu bahwa Kana mengerucutkan bibir panjang-panjang. Sedang merengut. Kana benar-benar sebal. Jeri sudah tahu bahwa Kana benci gelap, Kana penakut. Tapi dengan bajingannya, Jeri malah sengaja menakut-nakuti Kana.
Demi perasaannya yang berkobar begitu besar ingin membalas dendam pada Jeri, Kana memilih mengingit pundak Jeri sekeras-kerasnya membuat lelaki itu berteriak kesakitan.
"Anjing, Kan, sakit!"
"Bodo!"
Jeri mengusapi pundaknya yang terasa sakit setelah digigit Kana. "Gila, ya, lo main gigit-gigit?! Lo kira kagak sakit?!"
"Ya lo kira gue tadi kagak kaget lo takutin kayak gitu?!" balas Kana sama sebalnya.
"Alah. Ngeles mulu. Bilang aja lo mau gue gigit balik, kan?"
"EW!"
Kana tak habis pikir mengapa Jeri sekarang suka sekali menggodanya. Seperti saat ini. Mana ada Kana ingin digigit Jeri? Pemikiran macam apa itu. Dasar sinting.
Jeri terbahak sekali lagi. Tangan lelaki itu merogoh ponsel di saku celananya. Memilih untuk mengabaikan keberadaan Kana disampingnya, ia memulai membuka game online dan bermain disana.
Kana yang merasa diabaikan jadi ikut mengambil ponselnya sendiri. Ia membuka sosial medianya. Semua sosial medianya. Dari w******p, i********:, Twitter, Line, dan lain sebagainya. Tapi tak ada yang menarik. Kana menghela nafas. Lalu menoleh pada Jeri yang asik bermain sendiri.
"Lo kenapa kagak jadi ngapel?" tanya Kana iseng. Bukan penasaran, ya. Kana hanya ingin memecah keheningan di antara mereka. Lagian gabut juga main hape mulu.
Tanpa menoleh— lagian kalaupun Jeri menoleh, lelaki itu juga tak bisa melihat wajah Kana, jadi percuma. Orang lagi mati lampu.— Jeri menjawab. "Gak tau. Mella bilang malem ini dia sibuk packing."
"Packing ngapain?"
"Doi mau ke Los Angeles besok."
"Lah? Padahal baru pulang dari Bali?"
Jeri hanya berdeham saja. Kana melempar pertanyaan lagi. "Berarti lo besok nganter dia ke bandara?"
"Kagak. Doi berangkat sore dan gue besok, kan, harus ngecek J&G. Paling paginya doang gue nyamperin dia."
Kana manggut-manggut. "Emangnya Mella gak papa kalau gak lo anter?"
"Gak papa, lah. Doi gak manja kayak elo."
"Idih. Emang kapan gue manja ke elo?"
"Gue bilang elo manja. Bukan berarti manjanya ke gue."
Kana tak berniat membalas kalimat Jeri. Tapi memang benar, sih, fakta yang satu itu. Kana memang manja walaupun Kana tak pernah manja ke Jeri.
"Gimana lo sama Richo?"
Pertanyaan tersebut tiba-tiba dilemparkan Jeri kepada Kana.
"Gimana apanya?"
"Ada kemajuan kagak? Kan lo kemaren jalan, tuh, sama dia."
"Apaan, dah. Orang dari dulu juga begini-begini aja. Jalan, mah, ya jalan aja."
Jeri terkekeh kecil. "Kasian, deh, cuman temen." Jeri mempause game-nya, melirik Kana sebentar sebelum ia melanjutkan permainan. "Lagian udah tahu Richo b******k—"
"Siapa b******k?"
"Richo, kan? Gak usah dibelain. Mana ada cowok baik-baik yang jalan sama cewek lain padahal udah punya pacar."
Kana mendengus. Sedikit tak terima atas tuduhan Jeri walaupun sebenarnya benar juga pendapat lelaki di sampingnya itu. "Ngaca, Pak. Apa kabar elo yang punya pacar padahal punya bini di rumah? Segala ngatain Richo brengsek." balas Kana.
"Gue gak ada ngomong gue cowok baik, kali. Gue sadar diri gue masih banyak jeleknya."
Kana tak menjawab lagi. Lebih tepatnya Kana sedang malas membahas Richo. Menyebut nama lelaki itu hanya membuat Kana semakin terluka mengingat Richo sudah memiliki kekasih dan itu bukan dirinya.
"Eh, cewek lo ke Los Angeles mau pindah kesana apa liburan, sih? LDR dong, elo?"
"Kagak. Orang cuman seminggu. Acara keluarga doang dia."
"Ooh." Kana manggut-manggut lagi. "Cie mau ditinggal."
"Seminggu doang. Gak usah lebay."
"Kalau gue jadi Kak Mella, sebelum gue pergi jauh, gue udah masang CCTV dimana-dimana biar tahu kalau lo gak macem-macem."
Jeri mengumpat. "Macem-macem apaan maksudnya?"
"Cari selingkuhan, kek. Apa, kek."
"Gue gak butuh selingkuhan, sih. Dua cewek gini aja gak abis-abis. Ya kali mau nambah."
Mendengar itu, Kana tertawa. Iya, ya, benar juga. Jeri sudah memiliki kekasih yaitu Mella dan lelaki itu juga sudah punya istri. Kalau sampai Jeri masih punya selingkuhan, ya, berarti Jeri benar-benar cowok tak tahu diuntung.
"Eung—" Kana mencoba mencari topik lain. Sekali lagi, Kana hanya malas bermain ponsel dan diam saja juga bukan pilihan yang tepat. "Soal... cewek lo yang di Finn's, udah clear?"
Jeri menggeleng. Tapi jelas Kana tak tahu. Kana saja sedang tak menghadap Jeri. Apalagi ini mati lampu.
"Jer, diajak omong juga!"
Jeri terkejut karena Kana tiba-tiba berteriak. "Gue udah geleng, bego."
"Ye, mana gue tahu!"
"Makanya punya mata dipake!"
"Ngerti gelap gak, lo?"
"Lo gak liat ada lilin segede gajah di nakas?!"
Nah, kan. Jeremi Yudistira dan Kanadia Agraf memang tak bisa akur lama-lama. Mungkin hanya sejam dua jam, lalu bertengkar lagi. Benar-benar implementasi nyata dari Tom dan Jeri.
✓
"Jer."
Jeri berdeham tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Sudah satu jam lebih lampu tidak kunjung hidup juga dan sekarang Kana kedinginan karena demi apapun, Jeri memasang pendingin ruangan dengan suhu sebelas derajat! Kini Kana jadi menahan dirinya untuk tidak banyak bergerak karena ia ingin pipis. Tapi tahu bahwa ia tak bisa bertahan selama itu untuk menunggu lampu menyala, Kana memberanikan diri untuk turun dari ranjang.
"Jer, numpang kamar mandi, ya."
Kana tak membutuhkan jawaban dari lelaki yang sibuk dengan permainan di ponselnya itu. Dengan cepat, Kana bergegas turun dengan tangan cepat-cepat melepas selimut yang ia bawa dari kamar untuk membalut tubuhnya dan berlari ke kamar mandi. Menyelesaikan urusannya disana.
Usai merasa sudah selesai, Kana membersihkan diri dan keluar dari pintu kamar mandi. Baru ia menutup kembali pintu di belakangnya, lampu tiba-tiba nyala terang benderang secepat kedipan mata. Jeri mengangkat kepala, mengalihkan perhatian dari ponsel dan yang terjadi selanjutnya adalah Jeri yang terkejut tapi tak bisa bergerak. Kaget setengah mati karena ia menemukan Kana berdiri di depan kamar mandi dengan hanya menggunakan hotpants sangat-sangat pendek dan atasan tanktop hitam. Jeri menyadari dirinya yang tiba-tiba meneguk ludah. Matanya membalas tatapan Kana yang mengernyit. Dan Jeri tak tahu harus apa. Harus bagaimana. Harus bicara apa. Padahal tadi ia sudah akan mengusir Kana dari kamarnya karena lampu sudah menyala.
Kana mengangkat alisnya. "Ngapain, sih, elo ngeliatin gue gitu banget?"
Jelas Kana tak merasa bersalah. Karena memang perempuan itu sudah terbiasa menggunakan hotpants dan tanktop ketika dirumah. Pakaian ternyaman keduanya setelah koleksi-koleksi piyama di lemarinya.
"Lo..." Jeri menggantungkan kalimatnya. Ia bingung harus berkata apa. Lidahnya kelu. "Kenapa bisa p-pakai gini... doang, sih... di rumah?"
Kana mengernyit, ia menyelipkan helaian rambut di belakang telinga sembari menundukkan kepala mengecek pakaiannya. "Ha? Emang kenapa?"
Jeri berdiri dan berkacak pinggang. Sudah tak memperdulikan ponselnya yang ia geletakkan di atas bantal. "Kenapa lo bilang?! Lo pakai pakaian sependek ini dan ada cowok normal didepan lo dan KITA CUMAN BERDUA!"
Kana semakin tak mengerti kenapa Jeri tiba-tiba marah dan menaikkan intonasi suaranya. Kana tak paham. "Eung..." Kana mencari kata yang tepat. Karena ia benar-benar tak tahu dimana letak kesalahannya. "Maksudnya... gimana, sih?"
Dan demi klub bola favoritnya yang selalu Jeri prioritaskan, Jeri tak pernah merasa sefrustasi dan sejengkel ini dalam satu waktu. Bagaimana bisa Kanadia Agraf yang selama ini membangga-banggakan dirinya sendiri karena ia kuliah di Psikologi yang berarti memiliki sikap kepekaan luar biasa tiba-tiba jadi oon dan b***t begini?!
"Terserah."
Kalimat ajaib itu keluar lagi dari bibir Jeri setelah lama Kana tak mendengarnya. Jeri tiba-tiba pergi dari kamar dan menutup pintu dengan kencang membuat Kana semakin terheran-heran. Kana memandangi sekelilingnya, lalu semakin mengernyit ketika menyadari bahwa ia masih di kamar Jeri dan... mengapa Jeri yang pergi? Kan seharusnya Jeri bisa mengusir Kana dari kamarnya? Anjir, b**o juga, tuh anak. Batin Kana terkekeh geli.
Kana baru akan melangkahkan kakinya ke arah pintu untuk keluar dari kamar Jeri ketika tiba-tiba pintu sudah dibuka dari luar dan menampilkan Jeri dengan raut wajah yang datar dan dingin. Ia menatap Kana tepat di retinanya.
Kana mengangkat alis. "Ape? Gue baru mau balik ke kamar gue."
Jeri mengambil beberapa detik untuk diam. "Seharusnya ini gak jadi masalah karena gue sama lo udah sah. Inget. Lo yang mulai."
"Ap—"
Jeri tak mengizinkan Kana melanjutkan kalimatnya karena lelaki itu sudah terlanjur menarik tengkuk Kana, mendekatkan kepalanya dan melumat bibir Kana. Gadis itu tentu terkejut. Bahkan matanya membelalak lebar padahal Jeri sudah terpejam menikmati bibirnya yang memijat. Entah bagaimana awalnya dan bagaimana semuanya bisa terjadi, tiba-tiba saja Kana sudah dihimpit Jeri di dinding. Tangan kiri Jeri sudah berada di pinggangnya, menariknya mendekat, membuat Kana merasakan ada sesuatu yang aneh dibawah sana. Jeri berusaha meraup bibir Kana, berusaha mencari kepuasan disana.
Gila. Jeri gila.
Dan lebih gila ketika Kana malah membalas lumatan Jeri sama liarnya, ikut memejamkan mata menikmati pergulatan lidah mereka berdua. Bertukar saliva. Inilah yang terjadi ketika dua orang beda jenis kelamin yang sama-sama pintar dalam hal cium-mencium disatukan. Beginilah liarnya. Jemari Kana sudah tenggelam di antara rambut lebat milik Jeri. Apalagi saat kepala Jeri turun ke bawah, ke cerukan lehernya, mencium dengan basah disana, Kana semakin menarik kepala Jeri mendekat, memberi akses lebih untuk lelaki tersebut, membiarkan Jeri meninggalkan jejak disana.
Tapi ketika Kana merasakan tangan Jeri bergerak masuk ke tanktopnya yang ketat, mengelus punggung bawahnya, berpindah ke depan perutnya sebentar lalu naik ke atas, Kana segera mendorong Jeri pelan. Diantara nafas keduanya yang bersahutan, Kana menggeleng. "Jangan. Berhenti disini."
Jeri memundurkan kepalanya, matanya bergerak lincah dari mata Kana ke bibirnya, lalu turun ke bawah. Tapi kemudian Jeri mengangguk. Menurut. Hanya dua detik lalu kembali maju memberi ciuman basah di pipi Kana, menggigitnya kecil, lalu mengecup bibirnya. Lalu Jeri benar-benar rmundur ke belakang. Ditatapnya Kana yang sedang merapikan tanktop karena sudah terangkat hingga dibawah d**a. Dan sempat-sempatnya Kana merona karena melihat bibir Jeri yang basah dan memerah.
"Sorry." Ucap Jeri. Kana diam. Tatapannya tak terbaca. Tanpa berkata apa-apa, Kana meninggalkan lelaki itu sendirian di kamar.
Kana menutup pintu kamarnya sendiri dengan keras. Meniru perilaku Jeri tadi. Ia bersandar pada pintu dan memegangi dadanya yang berdentum cepat. Gadis itu masih bisa merasakan bagaimana bibir Jeri di atas bibirnya. Bagaimana bibir lelaki itu menikmati miliknya dengan mata terpejam, hampir membuat Kana terlena jika saja ia tak segera sadar. Bahkan harus Kana akui bahwa detik-detik ia mengamati bibir Jeri yang baru saja selesai menciumnya, adalah Jeri versi seksi. Dan panas. Jeri masih terengah ketika Kana berhasil mendorongnya tadi. Matanya sayu. Bibirnya tebal, basah, dan merah.
Sama seperti Kana yang berusaha menenangkan diri, Jeri juga begitu. Lelaki itu melemparkan punggungnya di atas ranjang. Matanya menerawang bagaimana segalanya terjadi begitu cepat. Jeri hanya lelaki normal. Mempunyai nafsu. Mempunyai gairah. Lampu yang tiba-tiba menyala terang benderang dan matanya langsung menangkap seorang perempuan cantik berbadan seksi dengan balutan hotpants dan tanktop tentu membuat Jeri pusing. Tenggorokannya kering. Pikirannya semakin gelap ketika ia baru sadar bahwa itu adalah istrinya sendiri. Bahwa mereka sudah menikah. Bahwa Jeri halal untuk menyentuh Kana. Kana dalam balutan kain tipis dan pendek seperti itu membuat Jeri mabuk kepayang. Tak bisa berpikir dengan benar.
Kana terlalu menggairahkan.
✓
Kana sengaja bangun siang, tak peduli jika nanti Jeri akan memarahinya karena tak menyiapkan sarapan untuk ke seratus kalinya, Kana tak peduli. Pipinya masih akan selalu merona jika bayangan semalam kembali hadir di ingatannya.
Gila. Jeri gila. Kana juga sama gilanya. Mereka berdua gila.
Dan terkutuklah perut Kana yang tiba-tiba berbunyi dan melilit karena Kana sangat-sangat kelaparan. Membuat Kana mau tidak mau turun ke dapur. Yang sialnya, Jeri sedang duduk manis di meja makan, menyantap roti selai di tangannya. Kana sengaja pura-pura tidak melihat. Perempuan itu tidak mau pipinya memerah di depan Jeri. Dan yang paling penting, Kana harus selalu tampil bodo amat seperti Kana yang biasanya. Begitu lebih baik. Karena bisa dibayangkan jika Kana tiba-tiba canggung, lalu Jeri ikut canggung, lalu semuanya tak lagi sama. Tidak. Kana tidak mau seperti itu. Dia sudah mulai nyaman berteman dengan Jeri apalagi sekarang laki-laki itu selalu menurut jika disuruh-suruh.
"Lo ada kelas, Na?"
Suara bariton yang entah mengapa tiba-tiba di telinga terdengar seksi itu membuat Kana sedikit bergidik. Tapi lebih dari itu, Kana heran. Sejak kapan Jeri memanggilnya dengan nama Na dan bukannya Kan?
"Udah telat." Jawab Kana seadanya.
Itu memang benar. Kana yang baru turun ke dapur pukur setengah sembilan itu tentu saja suda terlambat karena hari ini harus masuk pukul tujuh tepat. Dan Kana tak masalah dengan itu karena salah satu teman dekatnya ada di mata kuliah yang sama. Oleh karena itu, Kana bisa menitipkan tanda tangan agar absennya tak kosong.
"Gue udah masak nasi. Lo tinggal bikin lauknya."
Kana menghentikan kegiatannya yang sedang mengaduk bumbu sarden di atas wajan. "Oh."
"Iye, sama-sama."
Tumben sekali lelaki itu mau turun tangan di dapur tanpa Kana memerintah. Tapi alasan yang paling masuk akal adalah Jeri sengaja memasak nasi agar tidak kelamaan menunggu sarapan. Bagi kerja, bagi waktu. Jadi Kana hanya diam saja. Memasak ikan sarden pada kemasan instan memang tak membutuhkan waktu lama hingga Kana tahu-tahu sudah menuangkan lauk di mangkuk, lalu duduk di seberang Jeri setelah meletakkan mangkuk tersebut di tengah-tengah meja makan.
Melihat Jeri yang ikut mengambil nasi, Kana bersuara. "Lo udah makan roti setengah bungkus dan masih mau makan nasi?"
Jeri mengedikkan bahu. "Bukannya orang Indonesia selalu bilang belum makan kalau bukan makan nasi?"
"Nice info." Balas Kana sarkas.
Jeri merogoh sesuatu di saku jaketnya. Sebuah kertas. Lalu menyerahkannya pada Kana. Perempuan itu mengambil kertas panjang dari tangan Jeri dan membacanya. Karena Kana tak kunjung memberikan komentar karena mungkin ia bingung apa maksudnya, Jeri dengan sabar memberi tahu. "Lo telat bayar tagihan listrik. Itu alasan kenapa kemarin listrik kita dicabut."
"Hah?!" Kana butuh beberapa detik unuk mencerna kalimat Jeri. Ia menyelesaikan kunyahannya sebelum kembali bersuara. "Anjir, Jer! Iya, gue lupa bayar tagihan!"
Jeri memutar bola matanya jengah. Sudah ia duga Kana akan berbicara begitu. Kalau saja mood Jeri sedang buruk pagi ini, mungkin Jeri sudah akan memarahi Kana karena telat membayar tagihan sampai-sampai listrik dipadamkan. Padahal satu minggu yang lalu, Kana sendiri yang mengingatkan Jeri untuk tidak lupa memberinya uang untuk membayar listrik. Tapi sekarang malah perempuan itu sendiri yang lupa.
"Hehe. Sowri." Kana menyengir, jemarinya membentuk tanda damai lewat telunjuk dan jari tengah yang ditunjukkan pada Jeri. "Lain kali gak lagi, deh, telat bayar. Duitnya masih aman, kok, di gue. Belum gue belanjain. Hehe."
"Nyengir aja terus, dah, kalau ketahuan salah. Coba kalau yang telat bayar tagihan gue, pasti elo dah ngomel-ngomel."
"Iya-iya. Sori, elah."
Jeri bangkit dari kursinya, membawa piring kotornya ke wastafel, lalu ia bergerak mengambil kunci mobil di atas meja makan.
"Lo mau cabut?"
Jeri mengangguk. "Gue udah bilang, kan, kemarin, kalau gue mau ke rumah Mella pagi ini?"
Oh iya. Kana lupa.
Ketika langkahnya melewati kursi Kana dimana perempuan itu masih asik makan, Jeri menyempatkan untuk mengusap lembut kepala Kana membuat gadis itu berhenti mengunyah dan tubuhnya menegang. Apa-apaan itu tadi?
Jeri belum sampai tiga kali melangkah, tapi cowok itu menoleh ke belakang, ke arah Kana yang ternyata sedang mengawasinya. "Kalau lo mau keluar, pakai jaket, atau turtleneck, atau gerai rambut lo, atau apapun itu." Kana mengernyit dan Jeri melanjutkan. "Hasil karya gue kemarin kelihatan jelas."
Terkutuklah Jeremi Yudistira dan seringainya yang menyebalkan!
✓