tentang richo dan mella

3604 Words
Jeri mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi ketika melihat Kana berjalan keluar pintu mall dengan lelaki yang belakangan ini memang terasa familiar di matanya. Richo Dicardo. Perempuan itu berjalan lurus dengan pandangan ke samping ke arah Richo. Kana terlihat bahagia entah bercerita tentang apa. Dan Richo tampak antusias pula mendengarkan. Jeri mendengus entah untuk apa. Mulutnya gatal ingin berkomentar. Bagaimana bisa pria di samping Kana itu berduaan dengan perempuan lain padahal baru kemarin Jeri menemukannya di kafe bersama sang kekasih? Tapi jelas Jeri lebih heran dengan Kana yang mau-mau saja jalan bersama pacar orang. Apa kabar dengan reputasi perempuan itu bila ada  orang yang tahu? Apa Kana baik-baik saja jika dicap perusak hubungan orang apabila sesuatu terjadi ke depannya? Jeri menyandarkan punggungnya di pintu mobil. Tanganya ia lipat di depan d**a. Laki-laki yang hari ini memakai balutan jaket jeans yang menutupi kaos hitamnya itu mengamati setiap gerak-gerik Kana hingga pada akhirnya si perempuan menyadari atensinya. Dan Richo ikut menoleh padanya. Jeri menegakkan punggung ketika Kana sudah sampai di depan kakinya. Jeri, Kana, dan Richo sama-sama diam. Tak tahu siapa yang seharusnya memulai percakapan. Kana melirik Jeri yang malam ini terlihat ketus lebih dari biasanya— entah  memang benar begitu atau mungkin ini hanya firasatnya saja. Kana berdeham memecahkan kesunyian. Apalagi Richo melirik Jeri juga dengan tatapan aneh. Ada apa dengan dua lelaki di depannya ini? "Eung— Jer, ini... Richo. Temen gue." Jeri melirik Kana sekilas, lalu melirik Richo. Tapi bukan Jeri yang membuka suara setelahnya. Richo mengeluarkan tangan dari saku jaketnya. Tersenyum dengan dua alis yang sedikit berkerut. "Gue Richo. You look familiar anyway." Richo mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan lelaki itu. Lalu Jeri mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana. "Jeri." Ia menoleh pada Kana, tak tahu harus mengenalkan dirinya sebagai siapa di hadapan Richo. Tapi karena tak mendapat jawaban, Jeri langsung mengatakan hal lainnya saja. "Kita pernah ketemu di Okum. Lo sama... cewek lo, rame-rame." Jeri menyeringai kecil entah untuk apa. "Cewek lo yang kulitnya kuning langsat. Bukan putih. Bukan Kana."  Richo tak tahu mengapa ia merasakan Jeri mengeratkan jabatan mereka berdua. Tapi lelaki itu tahu bahwa Jeri mungkin salah paham tentang hubungannya dengan Kana atau dengan Indri. "Right. I see. Kana cuman temen, by the way. Waktu di Okum, gue lagi sama cewek gue." Jeri mengedikkan dagunya ke arah Richo kepada Kana. Menunjukkan ejekannya atas pengakuan Richo bahwa Kana hanya sebatas teman. Kana memutar bola matanya. "Kamu minta jemput ke dia?" Kana menoleh pada Richo yang bertanya padanya. Ia meringis lalu menggeleng. "Eng—gak. Mama nyuruh dia jemput aku." "Kenapa gak bilang kalau aku aja yang nganter kamu pulang, sih? Mama Rani juga pasti setuju." Jeri memicingkan matanya mendengar satu kalimat terakhir yang dikeluarkan Richo. Ia tak tahu bahwa mertuanya mengenal Richo. Sedekat apa? Lebih dekat mana antara ia dan Richo? Apa saja yang tidak ia tahu? Tiba-tiba pikirannya bercabamg kemana-mana. "Jeri ini...." Richo melirik ke arah lelaki jangkung di depannya. Memang. Dibanding Richo yang sebenarnya sudah tinggi, Jeremi Yudistira lebih tinggi lagi. "Siapa kamu?" Kana melirik cepat ke arah Jeri. Meminta bantuan. Tapi dengan sombongnya lelaki itu hanya membalas tatapan Kana dengan seringai mengejek. Membiarkan Kana kebingungan sendiri. Tapi kemudian perempuan itu teringat Mella. Teringat ketika Jeri mengenalkannya pada Mella tempo hari. "Sepupu. Sepupu aku." Kana tersenyum kaku. "Dia anak Fakultas Hukum juga. Satu tahun di atas kamu." "Eh?" Richo terkejut mendengarnya. Tidak enak karena baru tahu lelaki itu ternyata seniornya di kampus. "Sorry, Kak." Kali ini Jeri memalingkan wajahnya dari Kana untuk merespon kalimat Richo. Tapi tatapannya tak bisa diartikan. Jeri juga diam. Lalu kemudian cowok itu malah berbalik badan dan hendak membuka pintu untuknya sendiri. "Ngobrol is enough. Kan, masuk mobil." Siapapun yang melihat kelakuan Jeri malam ini pasti sangat-sangat merasa kesal. Lelaki itu bersikap sombong dan seperti terkesan meremehkan Richo. Padahal apa yang disombongkan dari seorang Jeri dibanding Richo selain hanya karena Jeri berhasil merintis bisnis di usia muda? Richo lebih segalanya dibanding Jeri yang minus etika dan tak bisa bersikap baik. Menyebalkan! Kana cepat-cepat berpamitan pada Richo ketika Jeri membunyikan klakson mobil dua kali dengan tak sabaran. Lebih menyebalkan lagi karena Jeri tak berusaha bersikap ramah. Entah membuka jendela mobil atau sekedar mengucapkan selamat tinggal pada Richo. Bagaimanapun, Richo sudah membantu istrinya itu mengerjakan tugas, for God's sake! "Bisa gak, sih, lo gak nyebelin satu menit aja?! sembur Kana tepat ketika Jeri menginjak gas meninggalkan Richo. "Sama orang baru, tuh, harus SO-PAN!" Jeri diam. Tak berniat menjawab apapun. Lelaki itu dengan seenak jidat malah bersiul. Seolah-olah tak ada orang lain di mobil selain dirinya. Seolah-olah Kana tak mengatakan apa-apa. "Sialan." Kana mengumpat kesal. Ia bersedekap, tatapannya lurus ke depan. Ia mati-matian meledakkan emosinya pada Jeri. "Harusnya gue gak nurutin omongan bokap buat pulang bareng lo." "Your welcome, wife." Sarkas Jeri sebagai jawaban. Dan Kana tak menggubris itu. Kana benci menjadi sensitif di saat-saat seperti ini. Masa menstruasinya belum berakhir dan Kana ingin menangis meluapkan rasa kesalnya karena Jeri. Tapi Kana tahu Jeri hanya akan semakin mengejeknya, mengatainya cengeng, dan tetap tak mau mendengarkan Kana. "Gak usah lo suruh-suruh gue masakin buat lo lagi. Mulai detik ini gue gak mau nurutin permintaan lo!" Kana masih bersungut-sungut. Dan Jeri masih diam. Harusnya Jeri tahu bahwa Kana tak memiliki cukup kesabaran dalam menahan emosi. Kana memiringkan badannya menghadap Jeri. Dengan bar-bar, ia mencubit lengan Jeri sekeras-kerasnya— yang sayangnya sedang terbungkus jaket jeans. Tak berhenti disana, perempuan itu menonjok perut Jeri berkali-kali. Menumpahkan semua kekesalannya. "Anjing, lo, b*****t!" umpat Kana pada Jeri. Jeri mencoba menghindar dengan bibir sibuk merintih dan balas mengumpat akan kelakuan Kana. Beruntung Jeri sedang tak mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Kan, gue lagi nyetir!" "Bodo amat!" "Lo mau mati?!" "Lo aja yang mati!" Teriakan demi teriakan, u*****n demi u*****n, mereka saling melemparkan bom satu sama lain. Dalam hitungan detik, tiba-tiba Kana menangis keras. Kencang sekali hingga Jeri terkejut. Lelaki itu langsung menoleh cepat. Panik karena air mata Kana langsung bercucuran begitu deras. Tapi demi Tuhan, Jeri sebenarnya tak benar-benar tahu mengapa Kana begini. Ia tak tahu mengapa Kana marah. Mengapa Kana menangis kencang. Tapi jika kelakuannya di depan Richo tadi adalah jawabannya. Maka Jeri tak peduli. Ia memang tak bisa baik-baik dengan lelaki yang selalu dibela mati-matian oleh Kana tersebut padahal sudah jelas ia b******n. Jeri.memutuskan menepikan mobilnya ketika Kana tidak juga berhenti menangis. Ia ikut memiringkan tubuhnya menghadap Kana. "Ngapain, sih, nangis?!" Kana tak menjawab. Perempuan itu malah menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tersedu-sedu disana. "Ya elah, Kan, nangisin apaan, sih? Emangnya gue bikin salah?" "Diem!" teriak Kana dengan suara teredam di antara telapak tangannya. "Gue diem kalau lo berenti nangis." Jeri mengusap wajahnya dengan kasar. Heran kenapa Kana tiba-tiba menangis. "Kenapa, sih, tiba-tiba nangis?" Kana mengangkat kepalanya. Matanya memerah dengan pipi basah. Ada beberapa helai rambut yang ikut basah dan menempel di pipi perempuan itu. "Elo ngeselin!" amuk Kana.  Jeri masih kebingungan. Dari tadi Kana hanya mengatakan bahwa Jeri membuatnya kesal. Tapi tak menjelaskan alasannya. Jeri menghela nafas. Suaranya melembut. "Ngeselin kenapa? Gue ngapain elo?" "Pikir sendiri, deh! Gak usah ngomong sama gue kalau gak mau gue tendang dari kamar nanti malem!" Kalau Jeri masih belum mau mengalah, pasti lelaki itu dengan entengnya akan menjawab begini : Itu apartemen siapa? Kamar siapa? Kenapa Kana mengancam akan mengusirnya dari hak miliknya sendiri? Tapi karena tak mau perdebatan tidak jelas kni berlanjut, Jeri memilih mengalah. Kana masih menangis tersedu-sedu. Bedanya kali ini ia membiarkan Jeri melihat wajahnya yang sembap. "Iya, deh. Sori." "Sori aja terus! Dari kemarin-kemarin bilang sori tapi lo juga masih ngeselin!" Perempuan dan seribu alasannya untuk menang. Jeri tak mengerti mengapa Kana benar-benar kelewat aneh. Bahkan Mella saja, yang sudah ia pacari begitu lama, tak pernah seaneh Kana. Jeri sudah mengalah. Sudah menurunkan egonya. Menurunkan intonasi suaranya agar tak ikut membentak. Dan Jeri mau meminta maaf atas apa yang tidak ia lakukan. Tapi masih salah juga. "Iya. Janji gak bikin elo kesel lagi..." Kana tak menoleh. Perempuan itu menatap lurus ke depan. Satu kakinya terangkat menaruh di atas paha yang satunya. Bibir perempuan itu mencebik kesal. Dan sisa-sisa sesenggukan masih keluar dari bibirnya. Kalau Kana bukan sedang berada di mode singa, pasti Jeri sudah meledekinya habis-habisan karena Kana terlihat begitu jelek saat ini. Biar Jeri mengutarakan sesuatu yang ingin Jeri bagi. Jauh di dalam lubuk hatinya, Jeri merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ia berusaha mencari jawaban tapi tak pernah berhasil. Atas apa yang membuatnya mulai melunak kepada Kana. Mengapa ia sekarang lebih banyak mengalah. Mengapa Jeri tak sekeras dulu pada gadis itu. Mengapa Jeri mau-mau saja disuruh ini dan itu oleh Kana. Jeri merasa ada yang aneh. Apalagi sekarang ia lebih sering merasa tak tega pada Kana.  Cengeng dan ceroboh adalah sifat sejati Kana. Dan belakangan ini, kedua sifat Kana tersebut membuatnya ingin lebih banyak berada di radar Kana agar bisa menjaga gadis itu. Ia merasakan sedikit rasa nyaman saat berbincang dengan Kana. Menemukan sedikit demi sedikit sikap baik dari Kana. Tidak. Jangan bilang Jeri jatuh cinta, karena jawabannya adalah bukan. Resmi bukan jatuh cinta. Karena dibanding Kana, Mella masih segalanya untuk Jeri. Dan terjadi lagi di malam ini. Ketika melihat Kana sudah mulai tenang dan air matanya tak lagi terjatuh. Pipi gadis itu juga sudah mulai mengering. Jeri menarik bahu Kana mendekat, merengkuh tubuh itu untuk dipeluknya. Jeri menumpukan dagu di atas kepala Kana. Sedangkan tangannya yang bebas menepuki punggung Kana menenangkannya. "Jangan cengeng kenapa, sih? Bikin panik aja." Kana mencebik. Tapi tak menolak pelukan Jeri. Wangi mint dan rokok dari jaket cowok itu menguar menusuk hidungnya. Wajahnya bergerak di d**a Jeri, perempuan itu mengusap ingusnya disana. "Gue lagi mens, tahu. Jadi sensitif." "Alesan. Lo kagak mens juga sensitif." "Iya! Tapi, kan, kalau lagi.mens sensitifnya makin jadi!" Kana berteriak lagi. Tapi teriakannya tak begitu kencang karena teredam pelukan Jeri. "Baru juga lima menit lo udah ngeselin lagi!" Jeri tertawa. "Ngeselin itu nama tengah gue." Kana bergerak keluar dari rengkuhan Jeri. Dan entah apa yang dipikirkannya karena tiba-tiba Kana merasakan pipinya memanas. Baru sadar bahwa ia baru saja dipeluk Jeri. Baru sadar bahwa ia tak menolak dipeluk. Lalu tanpa menatap Jeri lagi, Kana menyibukkan diri dengan menata rambutnya yang berantakan. "Cepet idupin mobilnya. Gue mau pulang!" ✓ Hampir sebulan Jeremi Yudistira dan Kanadia Agraf sudah menjadi pasangan suami istri. Dan dalam hitungan satu bulan tersebut, Kana bisa menyimpulkan bahwa dari segala macam mi instan di Indonesia, kesukaan Jeri adalah indomi goreng rasa rendang. Dalam hitungan seminggu ini saja, Kana bisa menghitung sekitar empat atau lima kali Jeri minta dibuatkan mi itu. Kana sendiri jadi was-was dengan kesukaan Jeri akan satu hal tersebut. Bukan maksudnya untuk ikut campur, tapi bagaimanapun, jika Jeri sampai masuk ke rumah sakit karena sering mengonsumsi makanan cepat saji, bisa-bisa Kana juga yang direpotkan. Seperti malam ini, baru saja keduanya mengendap-endap masuk ke apartemen karena takut mengganggu papa dan mamanya yang pasti sudah tertidur, Jeri yang sedari tadi berjalan di belakang Kana, tiba-tiba memegangi kedua bahu Kana, membelokkan tubuh gadis itu agar berjalan ke arah dapur. "Bikinin mi dulu, ya?" Tak tahan dengan Jeri yang seperti kecanduan makan mi, Kana menolehkan kepalanya, melotot tajam pada Jeri. "Stop makan mi instan! Lo tuh, ya. Gak bisa apa jaga badan sendiri? Mi itu gak sehat, Jeeeeer." Jeri tahu benar bahea mi instan dan makanan cepat saji lainnya adalah makanan yang tak baik untuk dikonsumsi terus menerus. Tapi memangnya kalau di rumah tak ada makanan dan Jeri selalu lupa beli makanan dari luar, apa Jeri harus menahan laparnya sampai esok hari? Bisa-bisa dia tidak bisa tidur. "Terus mau makan apa guenyaaaa?" Jeri membuka tudung saji dan menunjukkannya pada Kana. "Liat. Nasinya aja abis. Percuma kalau lo mau masak lauk tapi nasinya gak ada, dong?" Keduanya sama-sama berdiri membelakangi kompor. Kana bergerak maju melangkah mendekati kulkas dan membukanya. Perempuan itu berjongkok, tangannya sibuk mencari-cari bahan makanan yang bisa dimasak.  "Ada nugget, nih. Gue gorengin nugget aja, ya?" Kana hendak berdiri dari jongkoknya dan Jeri cepat-cepat bersuara. "Berdirinya ati-ati. Awas kejedot pintu kulkas lagi." Kana meringis. Merasa kalimat Jeri sangat berguna karena jika barusan ia tidak diingatkan, pasti Kana ceroboh lagi. Gadis itu mengambil wajan penggorengan.  "Btw, Kan. Gue gak bakal kenyang kalau makan nugget doang."  Jeri adalah manusia yang makannya sangat-sangat banyak. Jeri akui itu. Sama seperti Kana, keduanya adalah pasangan yang hobi makan. Memiliki perut karet. Tapi karena Kana baru makan pizza seloyang bersama Richo, jadi dia tak merasa lapar. Beda lagi dengan Jeri yang selalu lapar saat pulang ke apartemen padahal tahu kalau meja makan pasti kosong. "Gue gorengin satu bungkus biar kenyang."  "Yang bener aja lo?" Kana mendesah frustasi. "Ya terus gimana, Jeeer?" Jeri membuka kulkas. Matanya bergerak cepat mencari apa yang ia mau. Tapi memang disana lebih banyak sayur-sayuran. Dan ia tak mungkin menyuruh Kana memasaknya malam ini apalagi tak ada nasi. Jadi Jeri memilih mengambil kaleng s**u sapi. Lalu berjalan mendekat pada Kana dan menyerahkan kotaknya. "Nih. Angetin susunya." Kana berdecak. Tapi tak ayal tetap menurut. Ia mengambil panci, menuangkan s**u segar kesana dan menaruh di atas kompor. "Kayak bocah aja lo. Sebelum tidur minum s**u dulu." "Salah siapa jadi istri gak pernah sediain makan malem buat suami?" balas Jeri tak mau disalahkan. "Oh, gue istri lo? Kirain sepupu." Sindir Kana sembari melirik Jeri yang kini malah beridir disampingnya. Mengamati pergerakn tangannya yang membolak-balik nugget di atas minyak panas. "Oh, lo mau diakuin jadi istri di depan Richo?" Jeri dan Kana sama-sama pemilik sifat tak mau mengalah dan dikalahkan. Mereka pandai dalam berdebat. Dan karena Kana tak mau kalah juga kala ini, ia membalas kalimat Jeri. "Silahkan. Gue juga bisa bilang ke Mella kalau gue istri lo." Tak disangka, Jeri malah tertawa geli. Tangannya bergerak mengacak rambut Kana. "Gak ada yang lebih jago dari lo kalau ngedebat orang." "Karena gue Kanadia Agraf." balas Kana sombong. Dan Jeri tak bisa membantah hal yang satu itu. ✓ Setelah mengahabiskan satu bungkus nugget dan segelas s**u sapi, Jeri mengajak Kana— yang memang dari tadi ikut makan— untuk pergi ke kamar. Kana mengangguk menyetujui. Keduanya bergantian menggunakan kamar mandi untuk mencuci wajah dan kaki serta mengganti baju. Walaupun masih ada rasa canggung bagi Kana karena malam ini, lagi-lagi, ia harus tidur dengan Jeri di satu ranjang yang sama, tapi malam ini tak semenegangkan malam kemarin. Kana dan Jeri bahkan bisa bersantai menyandarkan punggung di kepala sofa sama-sama bermain ponsel. Jeri membalas pesan dari kekasihnya. Meminta maaf karena lupa memberi kabar perempuan itu. Beda lagi dengan Kana yang jomblo. Perempuan itu sedang membuka akun sosial medianya, menggulir layarnya pelan-pelan, menikmati kegiatannya di i********:. Jempol Kana berhenti menggulir layar ponsel ketika ada postingan menarik di salah satu postingan snapgram milik teman lamanya. Namanya Galih. Al Galih Anovandi. Teman Kana ketika masih berada di bangku SMP. Laki-laki dengan perawakan besar itu telah pindah ke Kota Malang entah dengan alasan apa. Dan omong-omong soal Galih, satu hal yang pernah Kana dengar kabarnya lewat grup chat. Galih pernah menghamili seorang perempuan di Malang. Tapi karena Kana bukan tipe penggosip, tak banyak informasi yang ia dapatkan. Ia hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa lelaki itu masuk kategori lelaki b******k. Tanpa mendengar kabar miring tersebut, semua orang pasti bisa satu pendapat dengan Kana hanya lewat menjadi penonton snapgramnya. Jika Jeri keluar masuk klub hanya sekitar seminggu sekali, maka Galih adalah setiap hari. Pemabuk handal. Pengemis v****a. Keluar masuk hotel. Citranya sangat buruk.  Mungkin karenaorang tuanya bercerai. Entahlah. Kana tak tahu. Ia hanya bisa menebak. Kuliah di Psikologi nyatanya membuat Kana membuka mata lebih lebar terhadap kenakalan remaja begini. Tapi bukan itu yang ingin dibahas Kana saat ini. Tapi snapgram Galih yang menunjukkan foto perempuan yang memiliki bentuk tubuh familiar di matanya. Pada foto tersebut, Galih memposting foto dengan seorang perempuan, namun fotonya seperti sengaja dipotong di bagian leher ke atas. Jadi hanya terlihat tubuhnya saja. Kana mengernyit. Mencoba mengingat-ingat. Bentuk leher, rambut yang tergerai, tangan, tubuh, cara berpakaian, sepatu itu... Sial. Apa itu Mella kekasih Jeri? "Jer!"  Kana langsung menegakkan punggung. Panik maksimal takut jika tebakannya benar. Tanpa menoleh Jeri hanya berdeham menyauti panggilan Kana. "Jeri, liat!" Kana langssung mendekat pada Jeri, ia menunjukkan ponselnya di depan batang hidung Jeri. Jeri memundurkan kepalanya mencoba mengamati gambar tersebut. Tapi karena terlalu dekat, Jeri akhirnya merebut ponsel Kana. Menunduk dan mengamati gambar tersebut. Tanpa Kana memberi tahu apa maksudnya, Jeri jelas tahu siapa perempuan tersebut. Satu tahun Jeri berpacaran bersama Mella, ia hafal gelang dan sepatu siapa itu. Rambutnya. Bentuk tubuhnya. Jeri tahu. Tapi dari tebakan Jeri, lelaki itu tak ingin menuduh apapun. Ia menggelengkan kepalanya. Mencoba tidak berpikiran buruk terhadap Mella. Mellanya gadis baik-baik. Mellanya tak akan akan macam-macam di belakangnya. Dan siapa tahu, pemilik akun yang memposting foto tadi adalah saudara Mella? Ya, ya, Jeri harus berpikir positif. Ia mengembalikan ponsel Kana. Lalu tangannya bergerak cepat meraih ponselnya sendiri. Jeri berdiri, menempelkan ponsel ke telinga, menunggu hingga panggilannya terangkat. Namun nihil. Ia tak mendapat respon seperti yang ia harapakan. "Ini.. di Finn's club bukan, sih, Jer?" Kana tak berniat mengompori Jeri. Tak ada sama sekali niatnya untuk membuat Jeri semakin menuduh kekasihnya sendiri. Tapi dari penglihatannya, ia berhasil menangkap pemandangan yang sangat-sangat ia hafal. Suasana di finn's club. Kana sering kesana tiap tahunnya untuk berlibur. Latar belakang pantai di belakang dua insan yang berfoto tersebut membuat Kana ikut panik. Ia melihat snap-snap lainnya milik Galih, lalu satu foto lagi yang baru diposting satu detik yang lalu, dimana Galih memperlihatkan dengan jelas atap yang bertuliskan FINN'S. Jelas. Ini di club! Sialan. Bahkan Kana tak pernah menduga bahwa Mella yang terlihat lugu dan peremouan baik-baik itu ternyata bisa menginjakkan kaki di kelab malam. Apalagi ini kelab terbaik di dunia. Astaga. Jeri duduk di tepi ranjang, melihat gambar di ponsel Kana. Hanya butuh beberapa detik untuk Jeri benar-benar mengenali tempatnya. "Bukan Mella. Bukan Mella," gumam Jeri lirih, menenangkan dirinya sendiri. "Shit." Dan ketika panggilan masuk berbunyi di ponsel Jeri, kedua manusia itu langsung menoleh. Jeri mengangkat telepon dari Mella. "Halo, Mel? Kamu dimana?" ranya Jeri bahkan sebelum Mella menyapa. "Aku? Aku di... di Bali." Jeri memejamkan mata. Kepalanya mendadak pusing. "Kapan kamu kesana? Kenapa gak bilang aku? Sama siapa disana?" "Kemarin malem, Jer. Maaf banget gak sempet ngabarin. Soalnya juga lagi rame-rame disini. Sama keluarga sama temen-temen." "Kamu sekarang dimana?" "D-di..." "Mel?" "Di..." "Kamu clubbing?" Butuh beberapa detik bagi Mella untuk menjawab. "Jer, i really am sorry. You right. Aku di club. Tapi, kamu, kok, bisa tahu?" Shit. s**t. Jeri mengumpat seratus kali. Bagaimana bisa kekasihnya berada di kelab malam? Seumur hidupnya, Mella tak pernah kesana. Tak pernah kata club keluar dari bibir Mella. Apa-apaan ini? "Gak penting darimana aku tahu." Jeri mencoba menahan amarahnya. "Sama siapa kamu disana?" "Sama temen-temen. Banyak." "Temen siapa? Kenapa kamu mendadak ke Bali?" "Ada acara keluarga, Jer. Cuman malem ini udah free makanya aku ngikut waktu temen-temenku yang di Bali ngajakin ke Finns." Astaga. Rasanya Jeri ingin menangis kalau tidak ada Kana di sampingnya. Ia tak mau diejek peremouan itu. Tapi demi Tuhan. Telinga Jeri sangat-sangat aneh mendengar Mella bisa menyebut  nama tempat tersebut. "Kamu sama siapa, babe, disana?" "Sama temen-temen, astaagaaaa." "Iya, temen siapa?!" Kana mengusap pelan lengan Jeri, mengingatkan laki-laki itu agar tak membentak atau memarahi Mella. Bagaimanapun Jeri belum tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dan tak disangkanya, Jeri menghela nafas, melembutkan suaranya. Usapan Kana berhasil mempengaruhinya. "Ya, banyak! Sepuluh aja ada!" Jeri tak pernah menemukan kata ribet dari diri Mella. Tapi kali ini memang kekasihnya terdengar memutar-mutar kalimat padahal Mella tentu tahu maksud Jeri. Jeri butuh kejelasan. Apakah ada lelaki disana. Siapa namanya. Mengapa ada foto Mella berduaan dengan lelaki di kelab. Jeri butuh penjelasan. "Siapa Galih?" "What?!" Jeri mengernyit bingung. Kenapa Mella terpekik kaget? Mengapa harus kaget, coba? "Galih. Siapa Galih, babe? Ngapain, sih, kaget gitu?" "Galih? Galih temen aku. Kamu, kok, tahu Galih segala, sih?" Apa ini perasaan Jeri saja atau memang benar Mella terkesan menutup-nutupi sesuatu? Karena sedari tadi, perempuan itu selalu bertanya kembali padanya saat Jeri melontarkan pertanyaan. Jeri malas bertengkar. Jeri tak ingin memarahi Mella. Tak ingin meluapkan emosinya pada perempuan itu. Lagian ini sudah malam dan kepala Jeri sedang tak baik-baik saja. Ia ingin tidur walau jelas matanya tak akan mudah terpejam malam ini. "Terserah. Jelasin ke aku kalau kamu udah di Jakarta. Good night." Tanpa persetujuan Mella di seberang sama, Jeri memutus sambungan. Kana dj sampingmya hanya mengatupkan bibirnya rapat. Tak berami berkomentar apapun karena tahu Jeri sedang tak dalam mode macan dam sensitif. Namun dugaannya salah. Usai meletakkan ponsel di atas nakas, Jeri mengehembuskan nafas pelan. Matanya melirik Kana yang diam saja. Jeri memilih langsung berbaring di kasur. Dengan mata terpejam, Jeri bergumam. "Kan, minta tolong pijitin kepala gue." Hhhh, Kana mendengus. Mau tak mau menuruti permintaan lelaki itu, Tangannya bergerak mengusap rambut Jeri sekilas. Lalu memijat kepala Jeri pelan-pelan. Seumur hidup Kana, baru kali ini perempuan itu disuruh memijat orang lain. Papanya tak pernah menyuruh. Mamanya juga. Bahkan saat Kana kelelahan saja ia tak pernah memijat kakinya sendiri. Harusnya Jeri mendapat piala penghargaan karena Kana mau memijitinya. "I have no idea kalau Mella beneran ada—" "Stop it." Kana menghentikan kalimat Jeri. Tak membiarkan lelaki itu menyelesaikan omongannya. "Jangan menduga-duga. Apalagi keburukan seseorang. Lo bisa tanya langsung ke pacar lo kalau dia udah pulang, Jer. Jangan negative thinking." Dalam diamnya, Jeri mendengus. "Gue sayang sama dia." Kana mengangguk walaupun ia tahu Jeri sedang terpejam dan tak mungkin tahu pergerakan kepalanya. "I know right. Percaya sama gue, kalau Mella beneram sayang sama lo, dia gak bakal aneh-aneh di luar sana." "Tapi dia gak pamit ke gue. Dia tiba-tiba ada di Bali." Jeri membuka matanya, menemukan wajah Kana yang sedang menatapnya juga. Jeri emndesah frustasi. "Dia ke club, for god's sake. Dan parahnya lagi, sama cowok. Gila." "Udahlah, Jer. I told you buat enggak mikir macem-macem. Kunci hubungan, tuh, apa, sih, kalau bukan saling percaya? Trust her. She'll take a good care of her own self." Jeri menghela nafas lagi. Mungkin kali ini ia meresapi kalimat dari Kana. Lelaki itu kembali memejamkan mata. Lalu dengan senyuman kecil di bibirnya, Jeri bersuara. "Thank you, Kan." "Bilang makasihnya sambil suruh gue berhenti pijetin elo, lah. Pegel, nih, tangan gue." "Elah, baru juga lima menit udah ngeluh aja." Tapi pada akhirnya, Jeri menuruti kemauan Kana. Ia menyuruh Kana berhenti memijatnya dan segera tidur. Yang tentu saja Kana langsung setuju. Perempuan itu menguap seiring membaringkan tubuhnya di sisi Jeri. Ia tak lagi memikirkan rasa canggungnya karena berada pada ranjang yang sama dengan Jeri karena kantuk berhasil menguasainya. Hingga tak lama kemudian, Kana benar-benar masuk ke alam mimpi. Dan tanpa disadari, di hadapan wajah Kana, ada Jeri yang senantiasa terjaga. Matanya tak lepas memperhatikan Kana. Walaupun pikirannya melayang di Bali memikirkan Mella. Jeri menarik selimut di kakinya untuk membalut tubuh mereka berdua. Kembali menatap Kana dengan tangan terangkat merapikan poni perempuan itu.  "Good night, Kan." ✓
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD