Kanadia Agraf tahu ini adalah hari pertamanya menstruasi di bulan ini. Dan itu adalah alasan terbesar mengapa Kana yang memang sudah mewarisi sifat pemarah dan sensitif dari bayi, sekarang semakin menjadi perasa. Mungkin orang lain akan merasa ini berlebihan, tapi Kana tidak.
Pagi tadi ketika papa dan mamanya berpamitan untuk pergi melayat ke rumah teman SMA nya yang meninggal karena stroke, tiba-tiba Kana jadi mellow. Suasana hatinya memburuk. Jika ini di sinetron-sinetron Indonesia, mungkin sudah terdengar lagu sendu mengiringinya ketika ia mengambil tangan papanya untuk dijabat. Papanya masih cukup muda untuk disebut tua, tapi juga terlalu aneh jika menyebutnya muda karena ia sudah berumur. Papanya masih segar bugar, badannya masih bagus, masih tampan dan rupawan. Tapi namanya juga sudah berumur, sudah memiliki anak seusia Kanadia Agraf, tentu papanya sudah memiliki keriput di beberapa bagian wajahnya dan bagian tubuh lainnya.
Ketika tangan halus Kana menyalimi tangan papanya, ia bisa merasakan betapa kasar tangan tersebut. Betapa tua papanya dengan keriput-keriput disana.Lalu seperti yang sudah-sudah, pikirannya melayang ke masa-masa kecilnya. Bagaimana papanya selalu mendidik Kana agar menjadi perempuan kuat. Tak kalah dengan kerasnya dunia. Papa yang elalu membantunya untuk berdiri setelah terjatuh. Papa adalah orang pertama tempatnya berlari ketika ia mulai lelah.
Melihat sekarang Papanya sudah menua tapi Kana masih beoum pernah membanggakan pahlawannya itu, hati Kana tina-tiba sesak. Menyesal. Kemana saja ia selama ini? Mengapa Kama selalu menyia-ynyiakan waktu?
Setetes air bening muncul lagi dari sudut matanya.
Tiba-tiba ia benci menjadi perempuan dewasa. Ia ingin kembali menyelami masa kecil. Ia ingin bisa dekat dengan papamya lagi. Bisa merasakan kasih sayang sebanyak-banyaknya dari papa. Bukan berarti papanya sekarang tidak menyayangi Kana, hanya saja Kana tidak memiliki waktu lebih untuk menghabiskan waktu bersama papa seperti dulu
Bukan pula karena Kana tak menyayangi ibunya.
Mama Kana adalah perempuan tersabar sepanjang ia hirup di dunia. Mamanya yang terbaik. Mamanya penunjung arah dalam kegelapan, penenang kala ia kalut, penghangat di kala ia kedinginan dan butuh pelukan.
Kana mencintai kedua orang tuanya. Kana bersumpah tak ada yang bisa menandingi prioritas orang tuanya di kehidupan Kana.
Kana harap...
Semoga ia tak terlambat memberi balasan budi kepada mereka.
Kana harap.
✓
Kelas siang hari ini membuatnya banyak menguap karena mengantuk. Apalagi didukung dengan mata kuliah yang membuatnya bosan, Kana rasa ia bisa tertidur dalam hitungan detik apabila ia tak merasakan getaran di dalam ponsel yang ia saku di celana.
Kana bersyukur karena ia tak terlambat atau datang mepet kali ini. Karena jika iya, bisa-bisa Kana tidak bisa berada dalam posisi senyaman ini ; menempelkan dagu di meja dengan tangan sibuk memegang ponsel.
Ada pesan masuk dari Richo. Bertepatan ada pesan masuk dari Jeri juga. Disana, Richo memintanya menemani cowok itu ke mall. Entah untuk apa, Kana tak bertanya. Yang pasti ia iyakan. Beda lagi dengan pesan dari Jeri, lelaki itu memintanya memamitkan pada papa dan mama pulang terlambat. Lelaki itu ada urusan, katanya. Dan Kana hanya meng-oke-kan. Tanpa bertanya apapun.
"Saya akhiri pertemuan kali ini. Jangan lupa tugas seribu katanya saya minta dikumpulkan paling terlambat pukul sebelas malam hari ini."
Kana langsung menegakkan tubuhnya. Terkejut karena ia baru tahu bahwa dosen di depan itu memberinya tugas— yang bahkan Kana tak tahu tugas apa, dan hei, seribu kata itu banyak. Yang benar saja.
"Selamat sore."
"Sore."
Kana beranjak pergi seiring teman-temannya yang lain juga berdiri dan keluar dari kelas satu-persatu. Kana memasang high heels yang ia lepas selagi mendengarkan dosen tadi, lalu beranjak berdiri dan pergi.
Tanpa ke kamar mandi untuk mengecek dandanannya seperti yang sudah-sudah ketika ia akan bertemu dengan Richo, kali ini tidak. Jujur dari dalam lubuk hati Kana yang paling dalam, Kana mulai bisa menerima kenyataan bahwa ia dan Richo hanya bisa berakhir sebatas teman. Tak bisa lebih. Dan Kana juga tak punya kuasa untuk menuntut Richo begitu. Ia tahu segala sesuatu yang dipaksakan tak berakhir baik Walaupun sebenarnya masih ada rasa cemburu ketika Kana harus berhadapan dengan Richo dan Indri. Terlebih Indri. Membuatnya selalu berkaca, menginstropeksi diri, apa yang tidak ia punya dan Indri punya. Tapi mungkin Kana tahu jaeabannya ; bahwa Kana adalah kebalikan dari Indri. Indri kebalika. dari seorang Kanadia Agraf.Itu alasan Richo memilih perempuan itu.
Kana bukan Indri.
Kakinya mengayun ke tempat parkir fakultasnya, mencoba mencari sosok Richo yang katanya menunggu ia disana. Kana harap tak Indri karena— ya kali Kana harus jadi nyamuk ke mall di antara mereka berdua?— dan syukurlah karena Tuhan memang baik hati. Di seberang sana ada Richo yang melambai, membuat Kana mengetahui dimana posisi lelaki itu. Kana ikut tersenyum lalu melangkah menghampiri Richo.
Ketika ia sampai di depan motor hitam Richo, Kana langsung naik ke motor. Kepalanya maju ke samping kepala Richo. "Mau ngapain ke mall? Tumben amat."
"Bantuin milihin kado buat Indri."
Oh.
Jadi ini alasan mengapa Richo tidak menyuruh Indri saja menemaninya?
Motor besar Richo membelah keramaian Jakarta. Dulu, sebelum Richo resmi berpacaran dengan Indri, Kana tak pernah sungkan untuk memeluk linggang lelaki itu ketika mereka berdua di atas motor. Lagi pula Richo sendiri yang awalnya menyuruh. Katanya agar tak jatuh. Kana tentu setuju karena ia suka dengan keintiman mereka.
Tapi kali ini semuanya sudah berbeda. Richo tak lagi meminta Kana menyimpan kedua tangan di saku jaket lelaki itu. Kana juga tahu diri untuk tidak melanggar batas apa lagi Richo sudah dengan status yang berbeda.
Jakarta macet. Jakarta panas. Dua hal tersebut tentu menjadi hal yang lumrah bagi orang-orang yang bertempat tinggal disana. Kalau Jakarta dingin malah aneh. Karena tak biasanya. Tapi dua hal yang akan menjadi sangat menyebalkan itu tak akan seperti itu jika bersama orang tersayang. Benar, bukan? Begitu pula yang dirasakan oleh Kana detik ini. Panas, bermacet-macetan, polusi udara, bukan jadi masalah karena ada punggung Richo di depan wajahnya. Kana membayangkan sebesar apa bahagianya jika saja Kana yang menjadi pacar lelaki itu. Bisa memeluk pinggang Richo tanpa permisi. Bisa menaruh dagu di pundak Richo tanpa ragu-ragu. Memanggil sayang pada lelaki yang memang disayangnya. Pasti indah. Batin Kana sembari tersenyum miris. Jelas miris karena semua itu hanya imajinasinya semata. Tak akan jadi nyata.
"Indri ulang tahun?" tanya Kana ketika keduanya memasuki pintu utama. Richo tersenyum membalas senyuman para karyawan di mall yang mengucapkan selamat datang. Betapa ramahnya seorang Richo.
Lelaki itu mengangguk. "Besok, sih, sebenernya. Bodohnya, aku baru tahu dia ulang tahun pas tadi di kasih tahu temen."
Richo terkekeh menyadari kebodohannya yang satu itu. Lelaki itu berdecak. "Kan, dicariin apa, nih, enaknya?"
"Banyak pilihan, sih. Bisa boneka, kesukaan cewek pada umumnya. Atau sepatu, tas, dress. Sebenernya ngasih kue-kue lucu gitu juga gak papa. Tergantung Indrinya suka apa."
Richo mengambil tangan Kana, meminta perempuan itu mengikuti Richo dari belakanh untuk berbelok ke salah satu toko make up dan aksesoris. "Emm.. kemarin Indri sempet bilang kepingin beli lipstick, sih."
"Bilang ke kamu?"
Richo mengangguk. "Waktu kami jalan-jalan, Indri cerita gitu. Lipstick-nya hampir abis. Terus dia bingung mau beli lagi tapi warna apa." Tiba-tiba lelaki itu terkekeh. "Sebenernya aku gak ngeh, sih, kalau diajak ngomongin begituan. Jadi agak gak nyambung dia pengennya yang apa, yang gimana. Makanya aku ajak kamu."
Iyalah. Fungsi teman memang sebatas memberi uluran tangan jika ada kesulitan, kan?
Kana maju mendahului Richo, ia mengambil satu lipstick di hadapannya dari sekian banyak pilihan. "Indri warna kulitnya, kan, kuning langsat, ya? Jadi aku pikir..." Kana mencoba mencoret pergelangan tangannya dengan lipstick testimoni. "Ini aja kali, ya?"
Richo mengamati warna lipstick di kulit Kana. "Gak terlalu terang, Kan?"
Mengerti bahwa Richo sedikit tidak setuju, Kana maju selangkah, mengamati jejeran jenis lipstick, lipgloss, lipbalm, liptint, dan lainnya. "Dibeliin banyak aja gak, sih, Cho? Biar dia juga punya banyak dan gak melulu pakai warna itu-itu terus."
"Oke. Aku serahin sama kamu, ya?"
Kana tersenyum. "Siap, deh."
Selama perempuan itu memilih dan memilah produk untuk Indri, sebenarnya sebagian hati perempuan itu masih merasakan sakit yang sama. Ternyata tak mudah menjadi seseorang yang pura-pura baik-baik saka padahal hatinya benar-benar hancur. Kana terus memaksakan tersenyum, padahal matanya sudah berkaca-kaca. Ia melirik Richo yang sedang berjalan di rak samping dan Kana menggunakan kesempatan itu untuk mengusap cairan bening di sudut matanya.
Ya Tuhan, Kana kira ia sudah mulai bisa merelakan Richo untuk gadis lain.
"Kan, udah?"
Kana menoleh cepat, terkejut karena tiba-tiba lelaki itu sudah berdiri di sampingnya. Beruntung Kana sudah menghapus air matanya. Perempuan itu tersenyum. Tangannya bergerak mengangkat empat jenis pewarna bibir. "Nih. Coba lihat."
Richo menunduk, tangannya mengambil satu pewarna bibir, membuka tutupnya, lalu tersenyum tanda setuju. Membuka satu yang lain. Lalu tersenyum lagi. Begitu terus hingga pewarna bibir ke empat alias yang terakhir. Kana mengamati setiap pergerakan Richo yang terlihat puas dengan pilihannya. Membuat Kana lagi-lagi tersenyum miris. Terlihat dengan jelas betapa Richo menyayangi Indri lewat gerakan sederhana sekalipun.
"Makasih, ya, mau bantuin." Richo mengulas senyum lembut pada Kana. Dan seperti biasanya, lelaki itu menepuk kepala perempuan itu lalu mengusaknya. Gerakan yang sering dilakukan Richo sebagai tanda terimakasih tapi diterima dan diartikan beda oleh Kana.
"Santai, Cho."
"Mau makan apa?"
Kana menoleh pada Richo yang kini lagi-lagi menggandeng tangannya dan terus berjalan ke arah foodcourt. "Kamu traktir?"
Richo tertawa. "Iya, dong. Buat ucapan terimakasih."
"Oke! Pizza hut, gimana?"
"Cool. Let's go."
✓
Rasa nyaman berada di sekitar Richo Dicardo selalu membuat Kana lupa waktu. Kalau saja Kana tak menerima pesan singkat dari salah satu temannya di salah satu mata kuliah bahwa ia mendapatkan tugas individu yang harus dikumpulkan pada pukul sebelas malam, mungkin Kana tak akan sepanik sekarang.
Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Sebenarnya Kana juga santai-santai saja karena ia sudah bilang pada papa dan mamanya bahwa ia menemani Richo— omong-omong, kedua orang tua Kana memang sudah mengenal Richo dengan baik— untuk mencari hadiah dan diiyakan oleh sang papa. Padahal demi apapun di dunia ini yang Kana cintai, Kana masih betah berlama-lama bersama Richo. Makan pizza berdua, banyak mengobrol dan bercanda, persis seperti apa yang ia bayangkan selama ini.
"Cho, pulang sekarang aja, deh."
Richo mengangkat satu alisnya ke atas, mengernyit bingung. Ia menelan satu gigitan pizza bertoping jamur dan saus keju mozarella itu, lalu menjawab. "Tumben? Biasanya paling betah kalau lagi keluar rumah begini."
Kalau gue sih maunya juga gitu! teriak Kana lewat batinnya saja. Masalahnya, kan, tugas Kana tak bisa menunggu dan Kana juga tak ingin mendapat nilai jelek di mata kuliah ini. Karena jujur saja, ia sudah terancam tak lulus untuk kedua kalinya dari dosen dan mata kuliah yang sama.
Kana meringis. Ia meletakkan pizzanya. Tiba-tiba tak lagi berminat dengan roti segitiga tersebut. "Ada tugas. Dikumpulin malem ini."
Richo berdecak. "Kebiasaan, deh, suka nyepelein tugas begini."
"Ih, kalau aku nyepelein mana mungkin aku ngajak kamu pulang sekarang apa lagi sampai ninggalin pizza begini? Kamu kira aku seneng?" Kana cemberut, yang mana mebuat Richo semakin tertawa hingga matanya sipit.
"Ya udah, dikerjain disini aja. Sekalian aku bantuin. Kamu bawa laptop, kan?"
Wow. Kana suka ide bagus semacam ini. Gini, kan, enak. Kana bisa berlama-lama dengan Richo dan masih bisa menikmati pizzanya.
"Seriusan kamu bantuin?"
Richo mengangguk tanpa beban. "Iya. Itung-itung ucapan terimakasih."
"Ucapan terimakasih mulu dari tadi."
Richo menyengir. "Hehe. Ya udah ayo mulai kerjain. Katanya malem ini harus ke kumpul?"
"Oh iya." Kana mengeluarkan laptopnya, menghidupkan, dan mulai mengerjakan tugasnya. Richo menggeser kursinya mendekat, kepalanya condong ke depan mengintip pekerjaan Kana. Sesekali lelaki yang lebih senior dari Kana itu mengomentari letak kesalahan Kana dan memberi pembenaran.
Satu jam berlalu, Kana sudah mendapatkan sekitar tujuh ratus kata, yang mana artinya ia harus mencari tiga ratus kata untuk melengkapi tugasnya. Itupun minimal. Dan Kana ingin kali ini ia mendapatkan nilai plus dengan menambahkan sekitar lima ratus kata sebagai pendorong nilai bonus. Bukan, sih. Sebenarnya bukan itu. Tapi Kana benar-benar masih ingin bersama Richo. Kapan lagi, coba, Kana bisa menghabiskan malam dengan Richo Dicardo padahal lelaki itu sudah memiliki kekasih dan tanpa gangguan yang lain. Jadi bukan salah Kana, dong, kalau ia memanfaatkan waktu dengan baik?
"Yang ini salah, Kan. Kamu pakai kalimat—"
Kalimat Richo terpotong dan lelaki itu menjadi diam ketika ponsel di meja milik Kanadia Agraf berdering, menampilkan telepon masuk dari sang Papa. Kana meringis, dan Richo mempersilahkan perempuan itu mengangkat telepon lebih dahulu.
"Kenapa, Pa?" sapa Kana langsung tanpa berbasa-basi.
"Kamu dimana? Lagi sama Jeri apa gimana? Kok jam segini sama-sama masih belum pulang?"
Kana memejamkan mata erat. Lupa benar bahwa ia harus menyampaikan pesan Jeri kalau lelaki itu pulang terlambat. Lagian Jeri juga, sih, kenapa tidak pamit sendiri padahal punya nomer kedua orang tuanya? Hmm. Merepotkan saja.
"Aku tadi udah pamit, kan, kalau mau nganterin Richo ke mall? Jadi aku, ya, sama Richo, bukan sama Jeri."
"Terus Jeri kemana?"
"Tadi katanya ada urusan makanya pulang telat. Dia udah bilang suruh nyampein ke papa tapi aku lupa. Sowri."
Di seberang sana, papanya menghela nafas entah untuk apa. "Kalau suaminya sampai jam segini belum pulang, walaupun udah ngabarin, tanyain, dong, Kan. Jangan-jangan kamu gak tau, lagi, Jeri dimana dan ada urusan apa?"
Kana berdecak. Papanya memang selalu menomorsatukan sang menantu daripada anak sendiri. "Iya. Aku tanyain nanti." Jawab Kana mengalah saja.
"Kalau sama-sama pulang malem, sekalian aja kamu minta jemput suami kamu."
"Ih, ngapain amat? Orang aku ke mall sama Richo, ya, pulangnya sama dia jugalah."
Papanya menghela nafas kedua kali. Bedanya kali ini lebih kasar dan sengaja dikeraskan. "Kamu ini istri Richo apa Jeri?"
Kalau Kana bisa menjawab, ia pasti akan mengatakan ini : "Maunya, sih, jadi istri Richo, Pa. Tapi Papa sendiri yang bikin kisah cinta Kana jadi rumit. Gara-gara perjodohan sialan." Tapi tentu Kana tak bisa. Menjawab seperti iru hanya membuat telinganya berdengung karena papanya akan menceramahi Kana habis-habisan.
"Pulang sama Jeri. Ngerti, Kan?"
"Iya! Bawel, ah. Bye. Assalamualaikum!"
"Dasar, gak sop—"
Tut tut tut.
Kana memutuskan panggilan dengan Papanya secara sepihak. Dan Richo Dicardo di sampingnya jadi mengernyit meminta penjelasan atas raut wajah kesal milik Kanadia Agraf yang ia tak ketahui alasannya.
"Kenapa?" tanya Richo. Kana menggeleng dan tersenyum. "Gak papa. Papa cuman nanyain aku lagi dimana."
"Masa nanya lagi dimana sampai bermenit-menit?" Richo tersenyum miring. "Boong, ya?"
Kana tertawa kecil melihat ekspresi menggelikan milik Richo. "Enggak. Udah, ah. Ayo, katanya mau bantuin aku. Jam sebelas udah dikumpul, nih."
"Iya-iya." Richo menggeser laptop milik Kana untuk emnghadapnya. Ia membaca satu baris kalimat terakhir yang ditulis perempuan itu. Menghapus kata disana dan menggantinya dengan kalimat yang lebih baik. Seiring Richo yang membantu Kana mengoreksi makalah buatan Kana, perempuan itu malah bergerak gelisah di tempat duduknya. Ia kebingungan melakukan perintah sang papa. Menyuruh Jeri menjemputnya dan mereka oulang bersama sedangkan ia sedang bersama Richo. Bagaimana jika sahabatnya ini bertanya siapa Jeri dan mengapa Jeri menjemputnya? Atau lebih parahnya, Richo mengenal Jeri karena bisa saja begitu mengingat mereka ada dalam satu fakultas yang sama.
Kana memutuskan mengirimi pesan pada Jeri. Menanyakan keberadaan lelaki oitu yang dibalas berupa pertanyaan juga oleh sang empu. Pertanyaan dibalas pertanyaan itu memang tak enak.
Jeremi Yudistira : Ngapain tanya-tanya?
Kana mendengus. Memang apa salahnya, sih, Jeri langsung menjawab dimana keberadaan lelaki itu tanpa embel-embel bertanya basa-basi busuk begini. Tapi sebelum Kana sempat mengirim pesan yang berisi marah-marah karena Jeri terlalu bertele-tele, ternyata Jeri mengirimi satu pesan lagi. Kana segera membacanya.
Jeremi Yudistira : di J&G
Lalu kejadian kemarin terulang di benak Kana. Dimana Jeri menceritakan kerugiannya di kafe itu selama empat bulan belakangan yang ia lalaikan, lalu lelaki itu kalut dan frustasi. Jadi seharusnya Kana tahu bahwa urusan yang dimaksud Jeri adalah mengurus pembukuan keuangan di J&G.
Kanadia Agraf : Jadi gimana soal pembukuan?
Kana malah lupa dengan tujuan awalnya mengapa ia menanyakan keberadaan lelaki itu. Tapj sebeanrnya Kana memang penasaran, sih, bagaimana kelanjutan permasalahan disana. Ada sedikit rasa kasihan di benak Kana apabila Jeri benar-benar kehilangan uangnya. Walaupun memang tak banyak— apa lagi Kana yakin uang sepuluh juta hanyalah uang jajan Jeri selama tiga hari, mungkin— tapi tetap saja Kana kepikiran. Ia jadi merasa bersalah karena ia banyak melalaikan tugasnya mengerjakan pekerjaan rumah dan berfoya-foya menggunakan uang Jeri padahal lelakinyang menyandang status sebagai suaminya itu bekerja keras untuk mendapatkan uang.
Kana tak kunjung mendapat balasan. Perempuan itu menggigiti kukunya selagi menunggu Jeri mengirimi pesan. Tak sadar bahwa ia mengacuhkan Richo di sampingnya yang selama ini menjadi pemandangan kesukaannya.
"Kan, coba lihat dulu, deh. Takut salah masukin materi."
Kalimat yang keluar dari bibir Richo membuat Kana mengerjap tersadar. Ia tergagap saat mengatakan iya dam berniat mengecek hasil makalahnya. Tapi baru ia membaca di paragraf ketiga di halaman terakhir, ponselnya berderig lagi. Kana melirik. Kali ini bulan dari papa atau mamanya, tapi dari nomor tak dikenal yang Kana sekarang mulai hapal bahwa nomor itu milik Jeri. Bukan sengaja menghafal, tapi karena ia memang tak pernah menyimpan nomor Jeri jadi setiap kali ia menghubungi atau diihubungi, Kana jadi tahu. Lagian empat nomor paling belakang milik Jeri tak susah diingat. Dua nomor sama di depan dan dua nomor yang sama di belakang.
Kana yang baru saja melirik ponsel, kini melirik ke arah Richo yang ternyata sedang menatap terang-terangan ke arah ponselnya. Richo menoleh pada Kana. "Siapa, tuh, yang telepon?"
Kana tak menjawab. Ia hanya mengangkat telapak tangan dan menunjukkan ke wajah Richo. Perempuan itu berdiri dan pamit dari meja. "Bentar, ya. Aku angkat telepon dulu. Siapa tahu penting."
Richo hanya menganggukkan kepalanya sekali. Lelaki itu memilih menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tugas Kana yang ia kerjakan sudah banyak, mungkin kurang sekitar tujuh kata dan itu bukan masalah besar. Lagi pula ini sudah malam dan ia harus segera mengantar Kana pulang.
Disisi lain, Kana terdengar suara serak yang belakangan ini sering ia dengar. Iyalah, serjng didengar. Orang serumah. "Ngapain lo telpon-telpon gue?" sewot Kana begitu saja setelah mendengar Jeri berkata halo padanya.
"Judes amat, anjir."
Kana mendengus. Memutar bola matanya malas. "Apaan, dah, Jer? Gue lagi nugas, nih. Ganggu aja lo."
"Gue pakai saran lo kemarin. Yang lo suruh gue koreksi ulang pembukuan dan lo curiga kalau gue dan Gama sendiri yang bikin kesalahan. Dan lo tahu hasilnya?"
Kana mengernyit. "Eung— lo dan Ga— siapa, Gama? Lo dan Gama sendiri yang bikin kesalahan?"
Disana, Jeri tertawa lepas. "You right!" seru Jeri menggebu-gebu. "Anjing, Kan, b**o banget gue. J&G baru inget kalau bulan lalu uang kepake buat nambahin biaya rekonstruksi di J&G Surabaya. Anjirlah."
Tak ayal, perasaan lega dan puas juga terasa meluap di benak Kana. Ia ikut tersenyum merasakan kelegaan yang luar biasa. Semua takutnya menguap entah kemana. Tapi walaupun begitu, Kana tetap mengeluarkan kata-kata pedas pada Jeri. Tak ada manis-manisnya. "Udah gue duga, sih. Lo, kan, pikun."
"Ye, bangsat.,"
Kana tertawa. Lalu terhenti saat ia teringat pesan papanya. Jadi ia berdeham membuat Jeri disana langsung terdiam menunggu kelanjutan kalimat Kana. "So, lo udah mau balik?"
"Eh-hem."
Kana diam. Sedikit gengsi jiga kalau minta dijemput. Tapi bodo amatlah. Ngapain juga Kanadia Agraf harus bermalu-malu ria padahal biasanya tak punya malu, ya, kan?
"Lo... eng— bisa ke Icon Mall, gak? Gue lagi di Pizza Hut. I mean, lo kan... eung— J&G, kan, searah, ya, sama Pizza Hut? Jadi... bisa, gak—"
Tiba-tiba Jeri tertawa. Bukan tertawa manis apalagi jenis tawa renyah yang enak didengar. Bukan. Tetapi jenis tawa mengejek. "Gue tahu lo mau ngomong apaan." Jeri tertawa lagi. Kali ini lebih keras. "Gue baru tahu kalau lo bisa malu-malu juga kalau mau minta tolong?"
"Malu-malu apaan, anjing?"
Tolong dicatat, ya. Kana bukan malu-malu tapi Kana merasa tidak enak harus merepotkan Jeri!
"Eh. Kalau mau minta jemput gak boleh ngomong kasar."
Kana mendengus. Alay banget, dah, ni cowok.
"Ya udah pokoknya jemput gue, ya! Setengah jam lagi di depan pangkal ojek depan Icon Mall. Ngerti gak, lo?"
"Ye, udah minta jemput, pake marah-marah lagi."
"Bodo."
Jeri berdecak. "Ngomong ama lo emang bikin emosi mulu, ya. Mancing keributan." Lelaki itu diam sebentar. Lalu selanjutnya bersuara. "Iya setengah jam lagi gue jemput. Tapi imbalasnnya, bikinin gue nasi goreng sosis pulang nanti."
✓