main masak-masakan

3276 Words
Siapa yang bisa terlelap jika harus tertidur satu ranjang dengan lelaki yang selama ini menjadi teman bertengkarmu? Jawabannya tidak ada. Begitu pula dengan Kanadia Agraf yang sedari tadi mencoba memejamkan mata tetapi gagal. Mengingat ini bukan kamarnya. Bukan ranjangnya. Apalagi ada lelaki yang sedang berada di balkon luar, sedang menghisap nikotin dengan tenangnya, menghembuskan ke udara dan angin malam. Dari sini saja, Kana yang sedang berbaring dengan posisi miring bisa melihat punggung Jeremi Yudistira dari belakang. Kana tak tahu apa yang membawanya turun dari ranjang dan membuka pembatas ruangan antara kamar dan balkonnya. Bunyi deretan pintu membuat Jeri menoleh. Kana tak membalas tatapannya, ia pura-pura tak melihat, lalu mengambil duduk di kursi sebelah Jeri. Jeri tak berniat bertanya mengapa Kana belum tidur, atau mengapa Kana disana, atau mengapa Kana mengikutinya. Malam ini Jakarta dingin. Jeri pikir suasana seperti ini membuatnya nyaman tenggelam dalam lamunan. Ia menyesap rokoknya sekali lagi, kali ini meghembuskan ke samping kiri, berusaha agar asapnya tak mengudara ke arah Kana. Secuek-cueknya seorang Kanadia Agraf, perempuan penganut zodiak yang satu itu adalah tipe perempuan yang teramat peka. Dia scorpion. Itu adalah alasan mengapa ia selalu sensitif terhadap hal-hal di sekitarnya. Ia tahu benar bahwa pikiran Jeri masih kusut. Masih suntuk. Berantakan. Kana menghela nafas pelan. Mengapa uang belasan juta bisa menyita perhatian Jeri sampai begini? "It's okay, tahu, Jer, ngalamin kerugian sesekali." Kana mengangkat suara dan Jeri masih menatap lurus ke arah bangunan-bangunan tinggi yang ia lihat dari balkon. "Mungkin dengan gini lo bisa belajar dari pengalaman. Jangan ceroboh. Jangan lalai." "Gue bener-bener gak pernah tenggelam ke dunia perbisnisan. As you know, gue cuman anak manja yang minta apa-apa selalu keturutan. Tapi bukan berarti gue gak tahu ilmu beginian." Kana mengingat kebaikan Jeri belakangan ini. Membantunya yang sedang di bawah pengaruh alkohol kemarin. Mengalah untuk Kana pada hal-hal kecil. Jadi Kana rasa tak ada salahnya menghibur Jeri kali ini. Gadis itu menepuk pundak Jeri dua kali. Sebagai isyarat bahwa Kana mendukung Jeri. "Gak selamanya lo bakal di atas terus. Dan rugi uang segini, bukan berarti lo akan bangkrut, kan? Take it easy, Jer. Dari awal lo bangun J&G, as you said before, lo udah pernah ngalamin yang lebih parah, kan? Sampai-sampai lo mau tutup kafe. Jadi harusnya bisa ngatasin ini pakai kepala dingin, dong." Kali ini Jeri menoleh. Sembari meletakkan bekas rokok yang sudah kecil, ia mematikan api di asbak, mengangkat kepalanya menghadap Kana, lalu tersenyum kecil. "Bisa bijak juga, lo?" Mengerti bahwa Jeri kembali seperti Jeri yang semula ; Jeri yang menyebalkan, tak ayal membuat Kana sedikit lega dari pada melihat lelaki itu diam saja seperti tadi. "That's why gue di kuliahin di psikologi." Jeri tertawa. Menganggukkan kepalanya beberapa kali seakan mengejek sembari menunduk. "Lo belum tidur?" "Kalau gue udah tidur, gue gak bakal ada di sebelah lo, dong, Jer?" Jeri tertawa lagi. "Kana and her sarcasm. Right." Kana menyeringai. Membenarkan kalimat Jeri yang satu itu. "Gue gak biasa tidur jam segini." Ujar Jeri memberitahu. "Biasanya jam dua pagi baru bisa tidur." "Kayaknya cowok emang selalu tidur jam segitu, gak, sih?" Jeri menoleh. "Tahu dari mana?" "Richo juga tidur jam segituan." Jeri menahan tawanya ketika Kana menyebut nama cowok itu. "Pffft. Masih aja ngomongin cowok orang." Kana berdecak. Sedikit malu juga karena seorang Kanadia Agraf bisa sampai seperti ini jika sudah menyangkut Richo. Padahal dilihat dari penampilan dan gayanya jika di kampus, tak ada yang tahu kalau Kana adalah sosok cewek yang bisa bertekuk lutut untuk laki-laki modelan Richo yang kalem. "Move on, lah, Kan. Cowok masih banyak, kali." Tanpa sadar, keduanya memang lebih akur dari pada hari-hari sebelumnya. Dulu di awal-awal hari pernikahan, mereka benar-benar tak bisa menghabiskan waktu tanpa bertengkar. Beda dengan sekarang yang walaupun masih beberapa kali berdebat, tetapi tak pernah sesering duku. Dan ada kalanya mereka berdua bisa mengobrol versi manusia normal seperti sekarang. "Ngomong doang emang enak, sih, Jer." Kini jadi Kana yang menatap dengan pandangan kosong ke arah lurus ke depan. "Coba jadi gue." Jeri tertawa. "Ya, gimana coba. Emang lo mau sampai kapan terbayang-bayang cowok orang?" Kana menumpukan dagunya di atas telapak tangan. "Gak usah bahas-bahas kisah cinta gue, deh. Mentang-mentang lo punya pacar sombong amat." "Ye, salah mulu, ya, emang ya kalau sama lo." Jeri berdecak. "Dikasih tahu juga." "Gak butuh dikasih tahu." Tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas di kepala Kana. Semenjak perjodohan yang dilakukan kedua orang tuanya dan Jeri, hingga hari pernikahan, dan sampai detik ini, Kana tak pernah tahu akan dibawa kemana hubungan tidak jelas ini. Mereka menikah karena dijodohkan. Mereka tak saling mencintai. Itu pasti. Lalu untuk apa mereka berdua menjalani pernikahan? Kana sudah pernah mengutarakan pemikirannya kepada sang Mama, karena ia juga tak berani bilang begini kepada sang Papa. Tapi seperti yang sudah-sudah, Mama selalu memberinya kalimat yang sama. Bahwa seiring berjalannya waktu, mereka berdua akan saling mencintai dan bisa menjalani rumah tangga seperti seharusnya. Kana menghela nafas. Tanpa menghadap Jeri, ia bersuara. "Jer, pernah mikir, gak, sih, kita ini lagi ngapain? Nikah sama orang yang gak kita suka. Serumah. Beda kamar. Gak akur. Buat apa coba? Gak ada masa depannya. Yang ada lo malah rugi karena biayain kuliah gue, kasih duit belanja. Gue juga rugi. Harus tiba-tiba jadi pembantu disini. Punya batasan ini dan itu. Gak ada faedahnya banget, kan?" "Gue juga pernah mikir gitu. Apalagi lo tahu sendiri, gue punya Mella. Lo boleh bilang ini berlebihan tapi sumpah, bayangin gue putus dari dia aja ngeri banget." "Gue gak bisa gini terus, Jer. Gue pengen jadi Kana yang kayak dulu. Bebas. Gak ada ikatan." "Lo kira gue mau?" "Kita sama-sama gak mau. Terus kenapa kita malah stuck di circle kayak gini?" Keduanya diam. Selalu begini. Mau Kana sedang melamunkan hal ini sendirian. Atau Jeri. Atau keduanya sama-sama membicarakan tentang ini. Selalu tak terpecahkan. Selalu tak ada solusi dan jalan keluar. "Apa kita cerai aja, ya, Jer?" Jika padasinetron yang biasanya para ibu-ibu tonton, mengutarakan hal semacam ini akan disusul dengan bunyi sound track menegangkan, seakan-akan ini adalah puncak konflik. Tapi beda lagi dengan Jeri dan Kana. Lelaki itu hanya melirik Kana sekilas. "Gue pernah, sih, kepikiran soal cerai. Tapi mana tega gue sama Mama, Kan?" Satu hal lagi yang kalian belum ketahui tentang Jeremi Yudistira. Lelaki yang lahir di bulan Desember itu adalah anak mama. Bukan berarti ia manja. Hanya saja ia terlalu memprioritaskan sang Mama. Memang wajar, sih, tapi bedanya Jeri benar-benar menyayangi Mamanya. Tak sungkan apabilania harus mencium dan memeluk sang Mama di depan umum, mengajak ibunya berlibur berdua, membelikan hadiah di setiap hari ulang tahun dan hari ibu, segala sesuatunya Jeri selalu berusaha untuk menyenangkan sang Mama.  Pernah pula, Jeri menangis hanya karena mamanya tak kunjung sehat setelah tiga hari demam. Padahal dokter sudah mengatakan bahwa demam biasa, tapi Jeri berani membolos tiga hari untuk menemani mamanya yang tak mau di rawat di rumah sakit. Sesayang itu Jeri pada ibunya. Kalau Kana yang ada di posisi Jeri, mungkin ia hanya khawatir. Tapi kalau sampai menangis, apalagi kala itu Jeri sudah berusia dua puluh tahun, ya, tidak. "Emangnya lo gak mau nikah sama pacar lo?" Benar, kan, pertanyaan Kana? Jika Jeri tetap mempertahankan pernikahannya bersama Kana— sekalipun dengan alasan lelaki itu tak mau membuat ibunya bersedih— itu artinya Jeri harus siap kehilangan Mella. Jangan memberi pilihan apalagi sebuah poligami karena seumur hidup Kana, ia tak oeenah mau dimadu. Sekalipun dengan lelaki yang tidak ia cintai. Yang benar saja. Jeri menjambak rambutnya kesal. Satu masalah tentang keuangan J&G belum kelar, ia sudah harus mencari solusi atas pernikahannya. "Terus gue harus gimana, Kan?!" Kana pura-pura berpikir. Padahal perempuan itu sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Jeri yang satu itu. Kana menoleh pada Jeri yang menatapnya meminta bantuan. Kana menjetikkan jari, seakan-akan ia baru mendapar ide cemerlang. "Gini aja." Kana membalik duduknya hingga sepenuhnya menghadap Jeri. "Kita gak mungkin cerai dalam waktu dekat, kan? Jadi ya... kita cerainya beberapa bulan lagi aja. Bener gak, sih? Kita bisa bilang ke nyokap bokap kalau kita udah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan rumah tangga tapi ternyata hasilnya nihil." Jeri mengernyit tak mengerti. "Kenapa gak pakai alasan itu untuk sekarang aja? bIar cerainya lebih cepet." Kana memutar bola matanya jengah. "Pasti orang tua kita bakal bilang kalau kita belum maksimal buat mencoba saling mencintai! Ah, b**o lo. Gitu aja gak ngerti." Jeri mengumpat. "Jadi gimana?" Jeri manggut-manggut. Sebuah seringai kecil muncul di sudut bibirnya. "Pinter juga lo." "Is it yes? Deal?" Kana menatap penuh binar semangat ke arah Jeri. Ia mengulurkan tangan, meminta Jeri menjabat tangannya sebagai bentuk formalitas tanda persetujuan. Jeri melebarkan senyum. Segala rencana masa depannya bersama Mella Melonica langsung terancang begitu indahnya dengan sang kekasih. "Deal." Jeri lupa dengan satu nasihat dari mamanya. Bahkan manusia boleh punya rencana, tapi Tuhan punya kuasa untuk menentukan bagaimana kedepannya. ✓ Pagi-pagi sekali, dengan memaksakan mata untuk terbuka karena kemarin malam ia baru bisa tertidur sekitar pukul satu dini hari, Kana mendengar alarm dari ponsel yang ia set semalam agar ia bisa bangun lebih pagi untuk membantu ibunya memasak— bukan, sih. Ia hanya tak ingin diomeli lagi oleh papanya— Kana terkejut karena pinggangnya dilingkari oleh lengan seseorang. Yang tak lain dan tak bukan adalah lengan milik Jeri. Kana mencoba mengingat mengapa ia bisa terbangun dalam posisi begini. Ia melirik ke arah bawah tubuhnya yang ternyata aman. Masih terbalut piyama yang sama dengan semalam. Kemarin malam pun, ia sudah mewanti-wanti Jeri untuk tidak melakukan hal aneh-aneh kepada Kana— karena mereka sepakat untuk tidur seranjang hingga tiga hari ke depan. Bahkan, Kana sudah memberi batasan berupa guling yang menjadi pembatas di antara ia dan Jeri. Jadi yang pertama ia lakukan setelah menyadari Jeri merangkul pinggangnya adalah berbalik dengan cepat, menghadap Jeri yang masih tertidur pulas, lalu menepis lengan Jeri kasar. Namun karena Kana tak ingin berdebat pagi-pagi dengan Jeri apa lagi ada orang tuanya di apartemen sekarang, jadi Kana langsung berdiri meninggalkan ranjang tanpa membangunkan Jeri dan mengajak lelaki itu bertengkar. "Dilarang skinship, t*i ayam." Kana menggerutu lirih. "Dia yang bikin peraturan, dia yang ngelanggar." Kana bergegas ke kamar mandi untuk membersihakan diri— tumben sekali ia mau mandi pagi-pagi—, berusaha secepat mungkin untuk mengejar waktu agar ia bisa menyelesaikan membuat sarapan sebelum orang tuanya bangun. Tapi karena ceroboh adalah sifat Kana yang tak pernah tertinggal, perempuan yang baru keluar dari mandi malah tersandung kursi hingga tubuhnya terhyung. Tak berhenti disitu, ia yang gagal menjaga keseimbangan membuatnya jatuh terduduk di atas ranjang— tepatnya di atas paha Jeri yang sedang tertidur pulas.  Jeri jadi tiba-tiba terbangun. Terkejut karena pahanya menahan berat. Bahkan tak tanggung-tanggung, lelaki itu langsung terduduk saking kagetnya. Mata lelaki itu terbuka lebar mendapati tangan Kana berada di atas perutnya. "Heh, nagpain lo?!" bentak Jeri begitu saja.  Kana yang tersadar dimana tangannya berada jadi terkesiap, melepaskan tangannya dari perut keras Jeri. "Maap, astaga. Gue kesandung itu, tuh, kursi lo!" tunjuknya pada kursi di depan meja kecil milik Jeri. "Alesan aja. Ngaku, dah, aslinya lo mau grepe-grepe gue. Mentang-mentang gue lagi tidur." Kana melotot tak terima. "Siapa yang mau grepe-grepe, sialan?! Dibanding nuduh gue, mending sadar diri siapa yang meluk pinggang gue tadi pagi, hah?" "Siapa?!" "Ya, elo, lah! Ya kali pocong!" "Ngarang cerita aja lo. Mana ada?!" "Elo gak tahu karena elo lagi tidur." Kana berdecak. "Ternyata bahaya, ya, elo. Lagi gak sadar aja tangannya kemana-mana." "Mending, dong, gue pas gak sadar?! Kalau lo namanya apaan, malah duduk di paha gue begini?" Jeri melirik ke arah pahanya yang diduduki Kana. "Enak banget, ya, dipangku gue?!" Kana terkesiap. Ia lagsung berdiri dan menjauh dari Jeri. Bahkan buntalan handuk yang ia pakai di rambutnya karena baru keramas saja hampir terlepas. "Y-ya, i-itu tadi g-gue, kan, udah bilang, gue kesandung kursi!" "Jatuhnya dari tadi, minta pangkunya sampai sejam."  ejek Jeri. Karena menyadari dirinya salah dan Kana enggan meminta maaf, Kana memilih memberengut dan meninggalkan kamar langsung. Menuju dapur untuk memasak. Ia sempat mengucap syukur karena orang tuanya tak terbangun karena ia dan Jeri yang berisik. Ia melangkah menapaki tangga sepelan mungkin, berusaha tak menimbulkan suara sekecil apaoun. Bahkan ketika ia harus mulai mengambil bahan masakan di kulkas, mengeluarkannya, mengambil panci dan peralatan lainnya, ia melakukan sepelan mungkin. Pokoknya Papa dan Mamanya harus tahu kalau Kana juga bisa jadi istri yang baik! "Mau masak aja banyak gaya. Segala pakai mandi dulu." Komentar pedas dari belakang punggungnya membuat Kana menoleh. Mendapati Jeri disana sudah duduk tenang di meja makan. Bahkan Kana yakin Jeri tak sempat cuci muka terlebih dahulu karena cetakan bantal masih membekas di pipi cowok itu. Ew, jorok banget! "Gak ada kerjaan lo ngintilin gue mulu?" Jeri tak menjawab. Lelaki itu memilih memasuki dapur dan membuka kulkas. Mengambil botol soda kesukaannya, tapi gerakan tangannya terhenti ketika suara Kana terdengar. "Jangan soda mulu, kali. Udah tahu gak sehat, doyan banget tiap hari minum begituan." Dan entah apa alasannya, tangan Jeri meletakkan kembali botol soda, memilih menutup kulkas dan mengambil gelas. Ia mendekat ke arah Kana, tangannya terulur mengambil air putih. Kana menahan tawanya melihat Jeri menurut begitu saja. Meneguk air putih hingga tak bersisa, Jeri menoleh pada Kana di sampingnya yang sibuk mengupas bawang merah. "Bisa-bisanya lo nyuruh gue gak minum soda, tapi elo sendiri malah demen minum bir." Kana melirik Jeri. "Elah, mabok kemarin tuh adalah mabok pertama setelah dua bulan gue kagak minum begituan."  Kini perempuan itu mengambil blender, memasukkan potongan-potongan bumbu rempah-rempah yang sudah ia kupasi dan memasukkannya kesana. "Beda, lah, sama elo yang tiap minggu selalu nyempetin nge-Swill." "Tahu dari mana kalau gue kesana tiap minggu?" Kana mengedikkan bahu. "Nebak doang. Ternyata bener, ya? Hhh, tau gitu gue ganti laporin elo ke bokap lo biar dipasung." Jeri menjetikkan jarinya di kening Kana, membuat Kana memekik kesakitan fapi tangannya tak bisa mengusap kening karena ia baru saja memegang cabe. "b*****t, ya, lo, Jer. Suka banget main kekerasan." Jeri tak merespon kalimat Kana. Ia malah asik melihat tangan Kana yang berkutat dengan wajan di atas kompor. Perempuan itu sibuk mengaduk bumbu yang sudah ia masukkan di atas minyak panas. "Jadi udah jago masak, nih, sekarang?" Melihat Kana yang tangannya begitu cekatan memilih bumbu tadi, memotong, mengupas, memblender, menggoreng, dan lain sebagainya, membuat Jeri sedikit kagum karena Kana belajar memasak dengan cepat. "Bukan Kana namanya kalau lemot masalah belajar hal baru." "Alah, gegayaan bahasa lo." "Nih, ya, Jer. Dari pada elo dari tadi bacot mulu komentarin gue. Mending bantuin, nih, biar cepet." Kana mengambil potongan daging ayam di dalam kantung plastik, menaruhnya di mangkuk besar lalu menyerahkannya pada Jeri. "Nih, cuci di wastafel. Sampai bersih." Jeri mundur selangkah melihat daging mentang di hadapannya. "Lo gila nyuruh gue megang beginian?" "Ya, emang kenapa, sih? Orang elo juga suka ayam goreng, kan? Ini mau gue gorengin." Jeri mengernyit jijik. Tapi Kana tak peduli. Ia mendorong mangkuk tersebut ke arah Jeri, memaksa lelaki itu agar mau menurutinya. "Cepet, elah." "Iya-iya, sabar!" Jeri mau tak mau akhirnya mengambil mangkuk tersebut, membawanya ke wastafel, dan mencuci satu persatu daging ayam yang masih berbau menjijikkan tersebut. Memang Jeri sangat aneh. Suka ayam goreng, tapi jijik melihat daging ayam mentah. Bahkan wajah Jeri terlihat jelas bahwa tersiksa disuruh mencuci benda lembek tersebut. "Yang bersih, Jer. Awas kalau gak persih, digentayangin lo sama arwah ayamnya!" Jeri berdecak. Seiring tangannya mendekatkan daging ayam ke kran air, ia menjawab. "Lo kira gue anak SD bisa lo kibulin?" Tetapi usai mencuci dan membersihkan daging ayam, Jeri lebih mudah disuruh-suruh Kana. Lelaki itu mau dimintai Kana mencuci sayur kubis, memotongnya kecil-kecil, dan lain sebagainya. Lumayan agar Kana bisa lebih cepat menyelesaikan acara memasak sarapannya ini. "Kenapa masak banyak banget, dah?" Jeri melihat dua lauk-pauk yang sudah dihidangkan di meja makan. Ada ayam goreng dan udang asam manis disana. Tapi nampaknya Kana belum selesai. Masih ada kubis, beberapa bawang dan cabe yang belum terkupas, dan lain-lainnya. "Biasanya juga masak nasi goreng doang dua piring." "Karena biasanya yang makan cuman elo sama gue. Hari ini kan ada bokap-nyokap gue juga." Kana memotongi tomat, matanya melirik Jeri yang berdiri mengamatinya dari samping. "Jer, minta tolong lagi, dong." Jeri mendengus. "Gak bisa banget, ya, lo, liat gue santai sebentar?" Kana terkekeh. Tangannya menggeser cabai dan bawang bombay ke arah Jeri. "Potong kecil-kecil. Miring-miring, gitu, biar cantik." "Hah? Miring gimana, sih?" Kana mengambil alih pisau yang sebenarnya sudah berada di tangan Jeri. Memberi contoh pada lelaki jangkung itu untuk memotong sesuai keinginannya. "Gini. Bisa, kan?" Jeri manggut-manggut. "Oke. Dah sana, lo, jangan deket-deket gue. Lo bau ayam." Kana mengumpat. "Sinting." Tapi baru beberapa detik Kana membiarkan Jeri memotongi cabe dan bawang bombai sendiri, lelaki itu meringis kesal membuat Kana menoleh. Mata Jeri mengerjap beberapa kali. Sepertinya matanya terasa panas. Kana mendekat. "Kepedesan, ya, mata lo?" Kana mengambil pisau Jeri lahi, meletakkan benda tajam itu juga menggeser para bawang dan cabai menjauh dari Jeri. "Udah, biar gue aja yang lanjutin." Jeri masih diam. Matanya berair. Kana hampir terbahak melihat cowok tinggi itu bengong-bengong ayam. Tapi ketika tangan Jeri terulur untuk mengucek matanya, Kana panik. "Woi-woi, jangan dikucek!" Tapi terlambat. Jeri dengan bodohnya mengucek mata dengan tangan yang barusan memotongi bawang dan cabai, Alhasil, Jeri semakin meringis kesakitan. Jeri bergerak panik. "Kan, anjing, sumpah mata gue panas!" Kana yang memang sudah panik dari awal jadi makin panik karena Jeri bilang begitu. "Elo, sih, gue bilang jangan dikucek!" Kana melesat mencuci tangannya dengan sabun, lalu mengambil air di baskom dan menghampiri Jeri. "Diem dulu. Tangan lo jangan ikut-ikut." Maksud Kana, perempuan itu ingin Jeri mendongak dan menatap ke atas dan Kana bertugas mencipratkan air ke mata Jeri. Tapi karena Jeri terlalu tinggi— walaupun Kana sebenarnya juga tinggi tapi masih kalah tinggi dengan Jeri— jadi ia menekan pundak Jeri. "Jongkok aja, dah, elo. Jongkok. Buka matanya." Jeri menurut begitu saja. Kana meneteskan air di tangannya ke mata Jeri yang beberapa kali mencoba terpejam. Jadi Kana juga harus memegangi kelopak mata lelaki itu agar terus terbuka. Kana juga mengusap-usap bagian bawah mata Jeri. Berusaha meredam rasa panas disana.  "Udah belum?" tanya Kana ketika Jeri tak kunjung berhenti mengeluh. "Belum!" Jadi Kana memilih sedikit menunduk— karena Jeri sekarang sedang berlutut— lalu meniup mata kanan Jeri hati-hati. "Udah?" "Lagi." Kana menurut. Ia meniup mata Jeri sekali lagi. Hingga Jeri bersuara. "Udah, deh, kayaknya." Kana menjauh seiring dengan Jeri yang berdiri dari posisi berlututnya. Kana baru akan menasehati Jeri— atau lebih tepatnya akan memarahi cowok itu karena mengucek matanya dalam keadaan tangan kotor, tapi Jeri sudah memarahinya duluan. "Elo, sih, nyuruh-nyuruh gue motong bawang! Suruh yang lain aja, kek." Bibir Kana terkatup. Semua kalimatnya hilang ia telan di tenggorokan. Kana memilih mengalah. Kasihan juga mata Jeri sampai memerah begitu. "Iya-iya. Sori. Ya udah lo nungguin di meja makan aja sana. Gue masak sendiri." "Gue bilang gue mau bantuin yang lain aja. Bukan gue gak mau bantuin elo." Hhh, Jeri kenapa tiba-tiba jadi sensitif, deh? Dikira Jeri doang yang bisa marah-marah. Jadi, Kana memilih membalas kalimat Jeri. "Ya udah, nih, bantuin gue numis kubis!" Jeri menurut. Ia maju mendekati kompor seiring Kana yang menjauh darinya. Jeri menuangkan minyak ke atas kompor. Lalu menoleh pada Kana, "segini?" "Kurang— udah-udah!" Jeri meletakkan kembali minyaknya. Lalu ia membesarkan api, menunggu minyak hingga panas sesuai instruksi Kana. "Masukin bumbunya." "Tumis." "Kecilin apinya." "Kalau udah wangi, masukin kubisnya." "Eh, Jer, sini. Kubisnya gue cuci dulu!" "Jangan dibesarin apinya!" Jeri hanya diam dan menurut. Tapi dalam hatinya ia membatin. Mengapa jadi ia yang mengambil alih tugas memasak di dapur sedangkan Kana malah bersandar di kulkas diam saja. Hanya mulutnya yang bergerak-gerak menyuruh Jeri ini dan itu. Hhh, untung Jeri anak yang baik. Jeri tersenyum puas ketika ia memindahkan tumis kubis di piring dan menatanya. Ia menoleh dan menatap sombong ke arah Kana. "Pinter masak, kan, gue? Set, set, set, dah jadi!" "Set, set, set, mata lo peyang?" Kana mengambil piring di tangan Jeri dan menyuruh lelaki itu membersihkan dapur selagi Kana menyiapkan lauk di meja makan. Tapi Jeri menatap tajam ke arah Kana. "Ogah! Bersihin sendiri. Enak aja lo nyuruh-nyuruh gue mulu dari tadi." Kana menoleh sebal. Kakinya ia hentak-hentakkan ke lantai seiring ia berjalan ke arah dapur setelah meletakkan piring di meja makan. Tapi tepat ketika ia melewati Jeri, ia malah terpeleset air di lantai yang entah datang dari mana, membuat tubuhnya lagi-lagi terhuyung ke belakang, menabrak wastafel di belakangnya, dan Jeri dengan sigap langsung menahan pinggang Kana agar tak sampai mennyentuh wastafel. Membuat Jeri terjatuh ke depan ke arah Kana yang menghadap tubuhnya. Posisi tubuh yang sangat-sangat tidak aman. Tangan Kana yang memegang kaos Jeri, Jeri yang tangannya berada di pinggang Kana, tubuh keduanya yang berdempetan, dan posisi yang membuat orang lain berpikir bahwa Jeri sedang menghimpit tubuh Kana di antara tubuhnya sendiri dan wastafel. "Eh." pekikan itu membuat Jeri dan Kana sama-sama menoleh ke sumber suara. Papa ada disana. Di anak tangga dengan muka bersalah entah untuk apa. "Maaf. Papa ganggu kalian, ya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD