Ed pun menimang keputusnnya dan berpikir panjang, akhirnya ia lebih memilih mengantongi lagi handphone dan memasukkannya lagi ke saku celananya dan ia lebih memilih kembali ke ruang ICU untuk melihat keadaan kakaknya.
Sesampainya disana ia mendengar bahwa kakaknya mengalami cidera punggung karena tabrakan keras yang mengenai bagian belakang mobilnya. Untungnya semuanya di tangani secara cepat sehingga tidak mengakibatkan luka yang fatal akibat lambatnya penanganan.
Sekarang Ad sedang mengalami masa kritisnya, sedangkan Jack sudah tersadar dan sudah berada di ruang rawat inap sehingga Ed lebih memilih ke ruangan Jack karena ia akan menanyai pria itu se detail mungkin.
"Jack, bagaimana semua itu bisa terjadi?" tanya Ed ketika telah duduk di samping Jack yang terbaring di ruang rawat inapnya.
"aku juga tidak tau, kami sedang mengobrol tentang pekerjaan dan tiba-tiba ada yang menabrak dari belakang, kemudian setelah itu aku tidak ingat apapun." Ujar Jack.
Ed pun menjambak rambutnya frustrasi. "memangnya kalian akan kemana?" tanya Ed.
"kami rencananya akan pergi ke Bandung untuk menemui seorang anak CEO yang itu di yakini Kay." Ucap Jack menjelaskan semua itu dengan lirih.
Ed pun menepuk dahinya tidak percaya, bagaimana kakakknyaa bisa begitu terburu-buru mengambil keputusan dan sangat ceroboh. "bagaimana kalau itu bukan Kay?" tanya Ed.
"makannya kami ingin memastikan." Ucap Jack.
"kalian ini sangat bodoh." Gumam Ed. "lalu bagaimana, apa mereka sudah tau bahwa kau kecelakaan?" tanya Ed.
"belum. Bisakah aku meminta bantuanmu untuk menghubungi perusahaan Central Indonesia Company dan mengatakan bahwa kami seperti ini?" tanya Jack.
Ed pun meghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah, aku akan menghubunginya, menghubungi keluargamu juga." Ucap Ed kemudian beranjak pergi dari kamar inap Jack.
Ed menghubungi seseorang untuk mendapatkan nomor perusahaan Central Indonesia Company itu, tidak lama ia pun langsung mendapatkan nomor itu dan segera meneleponnya.
"apakah saya bisa berbicara dengan CEO perusahaan ini? Saya adik dari Adrian yang sebelumnya memiliki janji bertemu dengan beliau." Ucap Ed sopan pada resepsionis perusahaan itu yang di terima dengan baik olehnya.
Setelah beberapa saat akhirnya ia menyambung dengan anak dari CEO perusahaan ini yang mungkin juga Jack maksud. "ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan dalam telepon.
Setelah menjelaskan semuanya, anak CEO itu menyampaikan perasaan prihatinnya dan ia juga akan mengunjungi Adrian nanti, tentunya setelah Ed beritahukan rumah sakitnya.
Ed pun merasa senang karena itu. Selesai berbincang dan menutup teleponnya kemudian menelepon keluarga Jack. Ia pun memilih menuju kamar inap kakaknya yang disana masih ada orangtuanya dan Nesya.
Setelah mengetuk pintu kamar itu dan masuk, ia pun duduk di samping orang tuanya. "mom, lebih baik kau pulanglah dan istirahat biar aku jaga kakak disini." Ucap Ed kepada ibunya, ia nampak kasihan kepada ibunya karena melihat raut lelahnya.
"tidak, ibu akan disini saja menemani Ad." Tolak ibunya.
"mom, ini demi kebaikanmu, bagaimana kalau kau jatuh sakit karena kurang istirahat? Kakak juga tidak mau melihatmu sakit mom, dad percayalah padak aku akan mengurus kakak dengan baik." Ucap Ed.
Ayahnya pun mengangguk, ia percaya bahwa anaknya bungsunya ini dapat menjaga kakaknya dengan baik, ia pun akhirnya mengajak istrinya pulang dan mereka pun pulang, kemudian besoknya mereka akan kembali lagi ke rumah sakit ini.
"kau? Masih disini?" tanya Ed dengan nada tidak sukanya.
"memangnya kenapa? Kau tidak suka? Ingat ya aku adalah tunangan Ad." Ucap Nesya membela dirinya sendiri.
Ed pun tertawa hambar. "kakakku itu tidak suka kepadamu, jadi bisakah kau menyingkir dari kehidupan kakakku." Ucap Ed penuh penegasan kepada Nesya dan di jawab senyuman remeh oleh Nesya.
"kau tidak ingat dulu rupanya." Ucap Nesya dengan tawa sinisnya. Ed pun seketika bungkam.
"bahkan dulu dia lebih memilih menyelamatkan ku dari pada kau ketika kita sama-sama berada di jurang." Ucap Nesya kemudian ia dengan melangkahkan kakinya dengan sombongnya melewati Ed dan keluar dari ruangan itu.
Ed melangkahkan kakinya dan duduk di samping kakaknya. Ia merenungkan kata-kata Nesya tadi. Seketika amarahnya memuncak, ia menghirup udara dalam-dalam dengan memejamkan matanya, ia butuh tenang untuk saat ini. Ia tidak boleh benci terhadap kakaknya terlepas dari apa yang kakaknya itu lakukan kepadanya.
"kay..."
"kay.."
Suara lirih itu sukses membangunkan Ed di tengah malam ketika ia sedang tertidur di samping kakaknya. Ia pun bangun daan menyadari bahwa kakaknya memanggil nama Kay tadi.
"kk...kayyy.." panggilnya lirih lagi.
"kau sudah sadar? Aku akan memanggilkan dokter sebentar." Ucap Ed kemudian memaggil dokter untuk mengecek keadaan Ad.
"apa aku beritahukan keadaan kakakku kepada Kay, tetapi aku takut bahwa Kay akan panik." Gumam Ed lirih saat ia duduk di depan ruangan kakaknya karena kakaknya yang sedang di periksa oleh dokter.
"ketika aku memberitahukan kepada kakakku bahwa aku mengetahui kabar Kay, aku takut dia akan menyakiti Kay dan merebut Kay dariku." Gumam Ed lagi.
Ini adalah pilihan yang sangat sulit bagi Ed. Di satu sisi ia menginginkan Kay untuk tetap berada di sisinya dan ia tidak mau Kay di sakiti lagi oleh kakakknya, tetapi disisi lainnya ia kasihan meihat Kakaknya nanti yang harus menderita tanpa Kay.
Ia harus membuat keputusan dan prinsip tentang ini, lama berpikir akhirnya Ed memutuskan bahwa ia akan merahasiakan kabar Kay demi kebaikan keduanya. Dipikir-pikir memang Ad harus menjalani hidupnya dengan Nesya karena mereka dulu juga saling mencintai dan Ed juga pernah memergoki bahwa mereka sedang bercinta di kantor Ad, terlepas dari siapa yang memulainya terlebih dulu.
Setelah mendapatkan kabar bahwa Ad telah sadar dan kondisinya akan semakin membaik ia pun bernafas lega, walaupun dokter sempat menanyakan siapa Kay yang di sebut-sebut oleh Ad tadi. Ed pun hanya menjawab tidak tau, tetapi di dalam hatinya ia sangat meminta maaf atas hal ini.
...
Esoknya sekitar jam sembilan pagi, Ed yang sedang menyuapi kakaknya untuk memakan bubur tersebut kedatangan tamu. Ed pun menaruh mangkuk buburnya dan berjabat tangan dengan pria bersetelan jas tersebut, sepertinya ini anak CEO kemarin yang sempat berkomunikasi dengannya.
"tuan ini anak CEO kemarin yang berkomunkasi dengan Saya?" tanya Ed sembari menjabar tangan pria di depannya ini.
"iya, saya Abbi anak CEO CI company." Ucap Abbi dengan sopan.
Setelah ia di persilahkan untuk duduk, Abbi pun duduk di kursi yang ada di samping Ed dan mereka bertiga mulai berkomunikasi dan bercerita bagaimana semua ini bisa terjadi, Abbi sangat-sangat merasa prihatin atas kejadian ini.
Ketika Ed menatap kakaknya yang sedang berkomunikasi dengan Abbi, ia melihat pancaran kekecewaan dari bola mata kakaknya tersebut.
"maaf kak." Batin Ed.