9

2021 Words
Sejak siang itu, Ed tidak lagi menemui Ad, sampai malamnya ketika Ad sudah berada di mansionnya, seseorang pun mengabarinya bahwa Ed mabuk di salah satu club yang ada di tengah kota dan mengacaukan acara di club tersebut, ketika mendapat kabar tersebut, Ad langsung menyambar kunci mobilnya dan menuju tempat dimana orang itu memberitahunya, belum selesai masalah Kay, kini ia di hadapi lagi dengan masalah Ed. Setelah beberapa saat, Ad pun telaah sampai di club yang di maksud, ia pun segera masuk dan mencari keberadaan Ed. Musik yang sangat keras disini membuat telinganya sangat-sangat risih. Ketika ia menemukan Ed, benar saja anak itu sudah mabuk dan mengacaukan club. Ad pun segera membawa Ed dan menyeretnya ke Luar club, meninggalkan kartu namanya kepada penjaga disana agar mereka bisa membahasnya lain waktu tentang kerugian yang di alami oleh Cluub karena adiknya tersebut. Ed meracau tidak jelas ketika di bawa pulang oleh Ad, pastinya racauan tersebut tentang Kay dan mengumpat Ad. "Kay, kau kenapa pergi meninggalkanku, kau tau aku sangat-sangat butuh kau ketika semua keluargaku sibuk. Hanya kau yang dapat mengerti Kay, hanya kau yang dapat menghiburku ketika aku kesepian." "kakakku memang sangat jahat kepadamu Kay, tapi kau tau ketika aku membahagiakanmu itu adalah maafku kepadamu tentang kakakku, aku tau kau sakit hati karena kakakku Kay, tapi bisakah kau tetap disini menemaniku!!" rancau Ed sembari menumpahkan emosinya. Adrian yang mendengar itu seketika merasa bersaah pada adiknya dan Kay. Ketika ia melihat ke sampingnya, dilihatnya wajah Ed yang memerah dan mengeluarkan air matanya. Ad sangat kaget, adiknya menangis? Karena Kay? Ia menggelengkan keplanya, apa adiknya jatuh cinta kepada Kay? Tetapi dirinya juga mencntai Kay! Ia selama ini memperjungkan Kay tanpa di ketahui oleh siapapun. Persetan dengan pengumuman pertunangan itu. Ia membawa adiknya ke mansionnya, dan membawanya ke kamar yang dulu di tempati oleh Kay untuk tidur adiknya kali ini. Ia pun memandang wajah adiknya yang tertidur, ia tidak akan sudi memberikan Kay kepada adiknya, ia akan tetap memperjuangkan Kay, ia yakin bahwa cinta Kay masih untuk dirinya, Ia yakin pasti Kay tidak mencintai Edgar, ia yakin. Mulai sekarang ia akan mencari Kay bagaimana pun caranya, ia harus mendapatkan Kay. Setelah itu Adrian pun meninggalkan Ed untuk pergi ke kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya. Pagi-pagi buta sekitar jam enam pagi, Ad sudah rapih mengenakan kemeja dan jasnya. Ia akan pergi ke kantor sekarang. Sebelum berangkat ia pun memilih untuk melihat adiknya terlebih dahulu, Edgar masih tertidur disaana dengan wajah polosnya. Sekarang ketika memikirkan Edgar, ambisinya untuk mendapatkan Kay lebih besar daripada sebelumnya. Adrian pun kemudian keluar dari mansionnya dan menuju kantor menggunakan mobilnya. Selama di perjalanan ia masih memikirkan Kay, kemana perginya Kay, apa benar karena pengumuman pertunangannya dengan Nesya? Ad pun menghembuskan nafas kasarnya. Sesampainya di kantor, ia pun segera memanggil Jack untuk ke ruangannya , untuk membicrakan tentang Kay. "Jack, lacak dimana keberadaan Kay." Ucap Ad kepada Jack. Jack pun langsung mengangguk dan mengambil laptopnya kemudian melihat dimana keberadaan Kay. Jack menggeleng. "ponsel Kay tidak aktif, kita tidak bisa melacaknya." Ujar Jack. "memangnya ada apa dengan Kay?" tanya Jack tidak mengerti. "Kay pergi." Ucap Ad singkat. "bagaimana bisa? Kau serius? Dia pergi karena apa?" tanya Jack bertubi-tubi. "aku tidak tau." Ucap Ad singkat. "ini semua pasti gara-gara kau, ini semua pasti kau penyebabnya Ad." Tebak Jack. "kau sok tahu, bagaimana bisa aku yang menyebabkannya?" elak Ad. "Kay mencintaimu, ketika Kay pergi berarti kau telah menyakiti hatinya hingga ia tidak sanggup lagi melihat kau dan memutuskan untuk pergi." Ucap Jack. "kau tau Kay adalah satu-satunya temanku yang mendukungku." Ucap Jack lagi. "kau tidak berguna Jack, silahkan pergi." Ucap Adrian dengan kesal. "baik. Kau perlu mencatat kalau kau lah penyebabnya Ad. Aku yakin seratus persen." Ucap Jack kemudian bangkit dan membawa laptopnya untuk keluar dari ruangan Ad. Ad menjambak rambutnya frustrasi. "BAGAIMANA SEMUANYA BISA SALAHKU!" ucap Ad pada dirinya sendiri. Ad pun kembali ke mejanya yang semula ia duduk di sofa, kini ia kembali ke mejanya dan melamun, melamunkan Kay. Ia mencob menghubungi nomor Kay, sial tidak aktif. Ia pun kemudian membuka dokumen yang pertama kali ia dapatkan tentang Kay dari restoran yang biasa ia makan. Ia pun membuka dokumen itu dan melihat alamat Kay, sial ini alamat apartemen Kay. Tetapi ia memfokuskan pandangannya ke arah tempat lahir Kay dan nama orang tua Kay, ia pun tersenyum berhasil kemudian keluar dari ruangannya. Ia menuju meja Jack dan menyerahkan dokumen kepada Jack. Jack pun menatap ke arah Ad dengan pandangan tidak mengerti. "cari tahu tentang ini Jack, terutama orang tuanya." Ucap Ad datar. Jack memandang Ad tidak percaya, kemudian mengangguk. Ad pun kembali ke ruangannya dan bekerja seperti biasanya karena pikirannya sedikit tenang kali ini, ia pasti akan menemukn Kay, pasti. Sekitar tiga puluh menit, Jack pun mengetuk pintu ruangannya dan masuk. "ternyata Kay adalah anak dari CEO ternama kota bandung, CEO perusahaan batu bara dan perhotelan." Ucap Jack. Ad sedikit mengerutkan keningnya, "apa kau tidak salah? Kenapa Kay bekerja sebagai staff ketika ayahnya adalah seorang CEO yang sukses?" tanya Ad pada Jack dengan tidak percaya. Jack menggeruk tengkuknya yang tak gatal. "aku belum yakin tetapi apa salahnya mencoba?" tanya Jack. "yasudah, atur pertemuanku dengan CEO Central Indonesia Company." Ucap Ad yang di angguki oleh Jack. "aku akan menemuimu Kay." Gumam Ad kemudian kembali bekerja. ... Ed perlahan membuka matanya kala perutnya sudah meminta untuk diisi. Ketika pertama kalinya kakinya kenginjak kerpet di bawah tempat tidrnya, kepalanya pun kembali terasa berputar pening, ia memegangi kepalanya dan berjalan keluar kamar. Ia melihat sekelilingnya, kenapa ia bisa di mansion kakakknya, ketika ia mengingat bahwa tadi malam ia mabuk, ia pun hanya mengangukkan kepalanya mengerti. Setelah menggosok giginyaa dan mencuci mukanya, Ed berjalan menuju dapur untuk melihat apa yang kakaknya siapkan untuknya. Ternyata kosong, Ed pun membuang napas kasar. Ia hanya duduk di meja dapur dan melamun, melamunkan Kay yang sekali lagi tega membuatnya seperti ini. "Kay, aku merindukanmu, masa kau tidak merindukanku!" umpatnya sembari mengacak rambutnya frustrasi. "aku bisa gila ketika aku tidak bersamamu Kay!" "haish, memang kakakku sialan!" umpat Ed lagi kepada kakaknya, kemudian ia menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya dan melamun, menyesali keadaan ketika ia harus menghadiri lagi acara ulang tahun perusahaan. Andai saja ia tetap menemani Kay, Kay tidak mungkin pergi meninggalkannya tanpa kabar seperti ini.  Karena frustrasi disini, Ed pun akhirnya pulang ke rumah orang tuanya dengan menaiki taksi untuk pergi kesana. Dalam perjalanan ia pun memikirkan bagaimana cara untuk bertemu Kay, ia sangat frustrasi tanpa Kay. Saat kembali ke rumahnya, ia pun langsung di sambut oleh scurity di rumahnya yang ia balas senyuman. Ed pun masuk dan langsung di sambut oleh ibunya. "kau sudah pulang rupanya." Ucap ibunya sembari memeluk putra bungsunya, sedangkan Ed hanya menampilkan wajah datarnya. "kau ini kenapa? Ada masalah dengan kakakmu?" tanya ibunya setelah melepaskan pelukannya dan menatap putra bungsunya itu. Ed pun hanya menggeleng. "tidak, aku hanya ingin istirahat." Ucap Ed kemudian melenggang pergi ke kamarnya yang berada di lantai tiga rumah megah ini, lantai tiga merupakan lantai teratas rumah ini. Ed langsung merebahkan tubuhnya di ranjang king sizenya dan memejamkan matanya. "bagaimana cara agar bisa bertemu denganmu, sedangkan informasi yang aku ketahui tentangmu saja tidak ada Kay." Ucapnya lesu kemudian Ed lebih memilih memjamkan matanya lagi. ... "CEO CI Company atau Central Indonesia Company tidak bisa di temui dalam waktu dekat ini tuan, tetapi kau bisa menemui anaknya dalam tiga hari kemudian." Ucap Jack ketika dalam perjalanan menuju ruang meeting. "baik, atur pertemuannya, kita yang akan ke Bandung." Ucap Ad sembari terus berjalan yang di angguki oleh Jack. Adrian pun sangat excited dengan hal ini, bisa jadi bahwa anaknya itu Kay, dan Kay akan segera bertemu dengannya. Ad sangat menantikan hari itu tiba. "kau ingin berangkat menggunakan apa?" tanya Jack. "aku ingin menggunakan mobil." Jawab Ad dengan yakin. "kau serius? Perjalanan dari Jakarta ke Bandung itu lumayan jauh tuan." Ucap Jack. "kau meragukan ku?" tanya Ad yang di jawab gelengan kepala oleh Jack. Tiga hari kemudian, sama dengan hari pertama Kay di Amsterdam, Ad sudah mempersiapkan dirinya untuk menemui CI company. Ad dan Jack akan berangkat ke Bandung pada pukul enam pagi dan target mereka bahwa pada pukul sepuluh mereka sudah sampai disana. Ini adalah kali ketiga Jack di supiri oleh Ad. Karena alasan kurang enak badan, akhirnya Ad lah yang mengendarai mobilnya dan di sampingnya ada Jack. Mereka melewati jalur tol untuk sampai di kota Bandung dengan cepat. Pada pertengahan perjalanan, lebih tepatnya di tengah tol, tiba-tiba sebuah mobil sedan di belakangnya melaju dengan tidak tentu arah, Ad dan Jack yang sedang berbincang tentang pekerjaan itupun seketika merasakan bahwa bagian belakang mobilnya di tabrak dan kemudian ia tidak ingat kejadian apa lagi setelah itu. ... "ini sungguh kau, Kay?" tanya Edgar tidak percaya ketika seseorang meneleponnya dengan nomor asing dan mengatakan bahwa itu Kay, tetapi Edgar memang menyadari bahwa itu Kay dari suaranya. "kau jangan khawatirkan keadaanku, aku baik-baik saja. Kau juga jangan beritahu siapapun tentang keberadaanku, apalagi Ad." Ucap Kay di sebrang teleponnya. Ed pun tanpa berpikir panjang langsung meng iya kan ucapan Kay. Setelah berbincang cukup lama, sekitar sepuluh menit, Ed pun merasa risih karena ibunya yang terus meneriaki namanya dari balik pintu karena sebelumnya Edgar telah menguci pintu tersebut. "sudah dulu Kay, aku akan mengabarimu nanti. Aku merindukanmuuuuuuuuu." Ucap Ed kemudian menutup teleponnya dan bergegas membuka pintu yang sedaritadi di ketuk ibunya dengan tidak sabar. "ada ap.... Ucapan Ed menggantung ketikamelihat ibunya yang segera memeluknya dan menangis. "kau kenapa mah?" tanyaEdgar tidak mengerti. "Adrian kecelakaan." Ucapnya sembari menangis tersedu-sedu. "APA? SEKARANG DIA DIMANA?" Tanya Ed dengan kaget. Ibunya pun langsung menjawab dan mereka segera turun dari lantai tiga untuk menuju rumah sakit yang sudah di beritahukan oleh polisi sebelumnya. Ed menyetir dengan tidak sabar, sampai akhirnya berpuluh-puuh menit kemudian ia telah sampai di rumah sakit yang terdekat dengan tol Cipularang. Setelah sampai disana, Ed dan ibunya pun segera menuju ruang ICU karena Ad dan Jack sedang di tangani disana. Ed yang hanya bisa meihat dari kaca pintu itu berharap agar semuanya cepat seperti sediakala. "bagaimana semuanya bisa terjadi bu?" tanyanya kepada ibunya yang di jawab gelengan kepala oleh ibunya. Tak lama kemudian ayahnya pun muncul dengan wajah paniknya, ibunya pun segera memeluk ayahnya, disana Ed hanya bisa menyaksikan air mata yang keluar dari sudut mata orang tuanya. Tak lama kemudian pun polisi menghampiri mereka untuk memberikan keterangan, ia pun ikut dengan ayahnya menuju TKP sementara ibunya harus menemani Ad disini. Ia menaiki mobil bersama ayahnya dengan supir mereka, jelas tercetak wajah kesedihan dari ayahnya saat ini, ia tidak bisa berbuat apapun pada saat ini karena jujur ia sangat takut dan kaget atas kejadian ini. Dan yang menjadi pertanyaan besar di benaknya adalah akan kemana kakaknya sampai harus sejauh ini? Bukannya ini masih jam kerja? Tetapi ia tidak mungkin menanyakan itu pada ayahnya karena ia yakin itu pasti akan memperkeruh suasana, jadi sebisa mungkin ia pendam pertanyaan besar dalam benaknya itu. Mereka sampai di TKP, dimana sudah banyak polisi, wartawan, dan petugas tol disana. Ia pun melihat garis polisi yang mengelilingi dua mobil yang sangat ringsek tersebut. Dari polisi mereka bisa menangkap bahwa disini kakaknya di tabrak dari belakang oleh mobil sedan berwarna hitam karena mobil tersebut mengalami pecah ban sehingga sang sopir tidak bisa mengendalikan mobilnya dan berujung menabrak mobil kakaknya dan mobil kakaknya pun menghantam pembatas jalan. Dan dua orang dalam mobil kakaknya yaitu kakaknya dan Jack sama-sama tidak sadarkan diri ketika petugas tol melihatnya, begitupun dengan mobil satunya. Kedua mobil tersebut pun di derek karena menghalangi jalanan dan di bawa ke kantor polisi. Ayahnya lebih memilih untuk kembali ke rumah sakit dan melihat keadaan putranya ketimbang mengurusi seperti ini, biar saja sesorang yang turun atas kasus ini. Media pun ramai membincangkan atas kecelakaan yang menimpa direktur muda perusahaan A corp ini sehingga wartawan pun menyerbu perusahaan A corp untuk memintai keterangan. Sedangkan Ed lebih memilih menuju taman rumah sakit ini di bandingkan disana karena disana ada Nesya. Ia dia ada dan langsung menangis memeluk ibunya, jujur Edgar sangat membenci wanita itu tida peduli bahwa kakaknya mencintinya atau tidak. Ia berpikir keras tentang Kay, apakah Kay harus mengetahui ini atau tidak. Ketika ia memberitahu Kay, ia takut bahwa Kay akan panik, tetapi ketika ia tidak memberitahu ia merasa bersalah pada kakaknya karena menyembunyikan Kay dari kakaknya. "Kay, aku bingung." Gumam Ed sembari menundukkan kepalanya frustrasi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD