Buruan di Aero Town
Malam di Aero Town tidak pernah benar-benar gelap. Langit kota itu selalu berpendar oleh pendar lampu neon ungu dan biru dari papan reklame terbang yang berdengung di antara gedung-gedung tinggi. Namun, di bawah sana, di labirin sempit yang dikenal sebagai The Gut, cahaya itu hanya menyisakan bayangan panjang yang cacat dan aroma udara lembap yang berbau oli mesin serta sampah busuk.
Geraldine Hyun sedang menghitung hasil 'kerjanya' malam itu di balik bayangan pilar beton yang retak. Tiga keping cip kredit dan sebuah jam tangan analog kuno. Cukup untuk makan mewah selama seminggu, atau cukup untuk membayar utang judinya kepada preman lokal. Gerald menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi namun sedikit kotor. Nama "Geraldine" mungkin terdengar lembut di telinga, tapi di The Gut, pria itu adalah seekor musang yang licin.
Baru saja ia hendak memasukkan cip itu ke sakunya, bulu kuduknya berdiri. Angin malam yang berhembus di lorong itu membawa sesuatu yang asing, bau parfum mahal dan derap sepatu bot taktis yang terlalu teratur.
Gerald menoleh. Di ujung lorong, empat pria berdiri menghalangi jalan keluar. Mereka mengenakan setelan trench coat abu-abu gelap dengan pelindung d**a serat karbon di baliknya. Wajah mereka tertutup masker pernapasan logam yang canggih. Bodyguard. Tapi bukan dari kelas bawah. Ini adalah unit tempur korporat.
"Hoi! Salah alamat, ya?" teriak Gerald, mencoba tetap tenang meski jantungnya mulai memukul rusuk. "Toko perhiasan ada dua blok dari sini. Aku cuma gelandangan yang sedang lewat."
Tidak ada jawaban. Salah satu dari mereka menyentuh earpiece di telinganya dan bergumam pendek, "Target terkonfirmasi. Penampilan berantakan, tapi biometrik wajah sesuai. Eksekusi sekarang."
Eksekusi?
Gerald tidak menunggu instruksi kedua. Dia berbalik dan melesat.
Terjadi pengejaran di lorong buntu.
Gerald melompat ke atas tumpukan pipa besi yang berkarat, memanjat pagar kawat yang dialiri listrik statis, dan terjun ke lorong sempit yang dipenuhi uap panas dari pipa pembuangan kota. Dia mendengar derap langkah di belakangnya berat, bertenaga, dan tak kenal lelah.
"Sial! Sial! Sial!" umpatnya.
Dia biasa dikejar polisi patroli Aero Town yang malas, tapi orang-orang ini berbeda. Mereka bergerak dengan efisiensi mesin.
Gerald mengambil tikungan tajam, menyelinap di antara gerobak pedagang makanan sintetis yang sudah tutup. Dia meraih sebuah tabung gas kecil yang tergeletak dan melemparkannya ke arah pengejarnya. Duar! Tabung itu tidak meledak, tapi mengeluarkan kabut asap tebal yang mengaburkan pandangan.
"Han! Berhenti meronta dan mati saja dengan tenang!" teriak salah satu pengejar. Suaranya terdengar mekanis melalui masker.
"Han? Siapa itu Han?!" Gerald balas berteriak sambil terus berlari. Napasnya mulai terasa seperti menyedot bara api.
Dia tiba di sebuah area terbuka, semacam lapangan penjemputan barang yang sudah ditinggalkan. Di depannya hanya ada tembok tinggi dengan kawat berduri dan pintu baja yang terkunci.
Buntu.
Gerald berbalik. Keempat pria itu sudah mengepungnya dalam formasi setengah lingkaran. Cahaya neon dari papan iklan di atas mereka—yang sedang mempromosikan produk terbaru dari Skye Group—membuat bayangan para bodyguard itu tampak raksasa.
"Aku bukan siapa pun yang kalian cari!" Gerald mengangkat tangannya, tapi jemarinya sudah mengepal. "Aku cuma pencopet! Periksa sidik jariku, cari di database sampah kalian!"
"Crystal tidak butuh bukti, dia hanya butuh jasadmu, Han," kata pemimpin bodyguard itu sambil menarik sebilah pisau taktis dari balik pinggangnya.
Satu lagi fakta membingungkan, Gerald harus mendengar nama yang bahkan tidak pernah ia kenal sebelumnya. Dalam hatinya timbul seribu tanya, "Apakah aku pernah mempermainkan seseorang yang bernama Crystal?"
"Kalau sudah seperti ini, apa boleh buat? Kalian yang meminta aku untuk menjadi brutal, kalian yang harus menerima akibatnya!"
Gerald tidak punya pilihan. Jika dia harus mati, dia tidak akan mati seperti tikus yang gemetar. Saat bodyguard pertama menerjang dengan pukulan lurus, Gerald merunduk dengan kecepatan yang hanya bisa didapat dari ribuan perkelahian jalanan.
Pukulan balasan Gerald menghantam rahang pria bermasker itu. Keras. Dia bisa merasakan tulang tangannya berderak, tapi lawannya terhuyung. Gerald tidak berhenti. Dia memutar tubuh, menyapu kaki bodyguard kedua, lalu menghantamkan sikunya ke tengkuk lawan ketiga. Mereka sempat melakukan gerakan untuk menghindari serangan balik Gerald, karena mereka juga sedikitnya sudah terlatih untuk melakukan hal-hal yang tak terduga yang dapat menghambat pekerjaan kotor mereka ini.
Ketangkasan jalanannya yang brutal sempat membuat mereka terkejut. Namun, mereka adalah profesional. Bodyguard keempat melepaskan tendangan keras ke perut Gerald, mengirimnya terbang menabrak tumpukan peti kayu.
Tubuhnya ambruk, peti itu hancur seketika. Gerald terbatuk, memuntahkan darah segar ke atas aspal. Tatapannya mulai berputar, efek kehilangan darah dengan jumlah yang tidak sedikit.
"Tangguh juga untuk seorang CEO manja," ejek pria itu, tidak menyadari bahwa orang di depannya memang dibesarkan oleh kerasnya aspal The Gut.
"Kalian semua memiliki pakaian bagus, tapi tidak punya telinga! Sudah aku katakan, aku bukan orang yang kalian maksud!" teriak Gerald yang semakin muak dengan keadaan yang hampir membunuhnya ini.
Gerald meraih sepotong kayu runcing dari reruntuhan peti. Dengan sisa tenaganya, dia menerjang maju, mengayunkan kayu itu secara membabi buta ke arah mata salah satu pengejar. Teriakan kesakitan terdengar saat masker pria itu retak. Gerald mengambil kesempatan itu untuk memanjat tumpukan peti, melompati pagar kawat, dan jatuh ke sisi lain jalanan yang lebih terang.
Tubuh Gerald mendarat dengan keras di trotoar Aero Sky, distrik kelas atas yang jarang ia kunjungi. Di sini, jalannya bersih dan udaranya wangi bunga artifisial.
Pengejarnya masih berusaha melewati pagar, tapi alarm keamanan distrik mulai berbunyi, membuat mereka ragu untuk terus maju. Gerald menyeret kakinya, meninggalkan jejak darah di atas trotoar marmer yang mengkilap. Kepalanya terasa sangat berat. Pandangannya mulai buram, berubah menjadi bintik-bintik putih yang menari.
Dia ambruk di depan lobi sebuah apartemen mewah dengan pilar-pilar emas. Di matanya yang hampir terpejam, dia melihat pintu kaca besar terbuka.
Sesosok wanita berlari keluar. Dia mengenakan pakaian formal yang elegan, wajahnya tampak pucat karena panik.
"Pak Han? Pak Han!" suara wanita itu terdengar jauh, seolah tenggelam di bawah air.
Gerald berusaha bicara, ingin mengatakan bahwa namanya adalah Gerald, bahwa dia bukan 'Han', bahwa dia hanya ingin sepotong roti dan tempat untuk bersembunyi. Tapi lidahnya kelu. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan lidahnya sesuai dengan keinginannya. Tenaganya sudah terkuras habis untuk sesuatu yang bahkan tidak pernah ia sangka akan terjadi.
Hal terakhir yang ia rasakan adalah jemari hangat wanita itu yang menyentuh pipinya yang memar, sebelum kegelapan Aero Town menelan kesadarannya sepenuhnya.