Malam di Aero Town kembali menunjukkan wajah aslinya dingin, angkuh, dan penuh rahasia yang terkubur di bawah beton-beton pencakar langit. Di dalam kantor CEO Skye Group yang sunyi, Gerald duduk di balik meja kerja Han yang luas. Cahaya dari layar hologram di hadapannya memantul di bola mata Gerald, memperlihatkan barisan kode dan dokumen rahasia yang baru saja ia retas menggunakan kunci biometrik (sidik jari Han) yang masih melekat di jemarinya.
Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut pada Crystal, melainkan karena apa yang baru saja ia temukan di dalam folder terenkripsi berjudul “Aset Non-Aktif”.
"Sialan ..." desis Gerald.
Isi folder itu adalah draf kontrak pembuangan limbah ilegal ke distrik bawah, ke The Gut rumah Gerald dan sebuah memo internal untuk tim keamanan. Nama Aruna ada di sana. Han yang asli, pria yang dianggap Aruna sebagai dewa teknologi, ternyata sedang menyiapkan skenario untuk menjadikan Aruna sebagai "kambing hitam" atas kegagalan proyek Aero-Core. Ada bukti transfer palsu yang sudah disiapkan atas nama Aruna, serta rencana "kecelakaan mobil" yang dijadwalkan terjadi bulan depan.
Han sedang memelihara Aruna hanya untuk disembelih saat otoritas Aero Town mulai mencium bau busuk skandal korporatnya.
"Dia ingin menghancurkanmu, Aruna," gumam Gerald pada kegelapan ruangan.
Pintu kantor bergeser terbuka tanpa suara. Gerald dengan cepat mematikan layar hologram, jantungnya seolah melompat keluar. Aruna masuk membawa segelas wiski dan beberapa dokumen fisik. Wajahnya tampak lebih lembut di bawah cahaya remang-remang, namun ada sesuatu yang berbeda pada tatapannya.
"Anda belum pulang, Pak?" Aruna meletakkan wiski itu di meja. "Anda biasanya benci berlama-lama di kantor jika tidak ada yang bisa Anda maki."
Gerald berusaha menenangkan napasnya. "Aku hanya sedang ... merenung. Pergi dan istirahatlah, Aruna."
Namun, Aruna tidak pergi. Dia berjalan memutari meja, berdiri tepat di belakang Gerald. Jemari tangannya yang ramping menyentuh pundak Gerald, lalu perlahan memijatnya. Gerald menegang. Sentuhan ini terasa terlalu akrab untuk seorang asisten pribadi.
"Anda sangat tegang hari ini," bisik Aruna. Suaranya rendah, serak, dan penuh emosi yang tertahan. "Apakah karena Crystal? Atau karena ... malam itu?"
Gerald tidak berani bergerak. Aruna kemudian mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu di telinga Gerald yang membuat darahnya berdesir. "Jangan berpura-pura dingin padaku sekarang, Han. Bukankah kau yang bilang bahwa di ruangan ini, kita tidak perlu memakai topeng korporat kita?"
Aruna kemudian meletakkan sebuah kalung dengan liontin kecil di atas meja. Liontin itu terbuka, memperlihatkan sebuah foto mikro. Gerald mendekat dan terpaku. Di sana, di dalam foto yang tampak diambil di sebuah tempat tidur mewah, Han sedang memeluk Aruna dengan sangat intim. Tatapan Han dalam foto itu bukan tatapan dingin seorang CEO, melainkan tatapan posesif seorang pria pada miliknya.
Dunia Gerald serasa berputar. Ia menyadari dua hal sekaligus, Aruna adalah kekasih rahasia Han, dan Han sedang bersiap untuk membunuh wanita yang mencintainya ini.
Aruna kini memutari kursi, duduk di atas meja tepat di hadapan Gerald. Ia menatap mata Gerald dengan dalam, mencari-cari kehangatan yang biasanya ada di sana. "Kenapa kau diam saja? Biasanya kau akan menarikku dan menutup pintu itu."
Gerald menelan ludah. Insting jalanannya berteriak untuk segera lari. Menipu Crystal di ruang rapat adalah satu hal, tapi menipu seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh jiwanya pada pria yang ia tiru adalah misi bunuh diri.
"Aruna ... aku ..." Gerald memulai, suaranya parau.
"Kau memanggil namaku lagi," Aruna memotong, matanya berkaca-kaca. "Dua kali dalam satu hari. Kau tidak pernah melakukan itu kecuali saat kau ... sangat menginginkanku. Apa yang terjadi padamu di The Gut semalam? Kenapa tatapanmu padaku terasa begitu asing, seolah kau baru pertama kali melihatku?"
Aruna mengulurkan tangan, menyentuh pipi Gerald. Gerald bisa merasakan kehangatan dan ketulusan dari telapak tangan itu. Di jalanan, Gerald tidak pernah dicintai. Dia adalah sampah yang diinjak-injak. Dan sekarang, dia mendapatkan cinta yang paling murni, tapi cinta itu bukan miliknya. Cinta itu milik seorang monster bernama Han yang ingin melenyapkan wanita ini.
Ini adalah pengembangan narasi yang lebih gelap dan emosional, di mana batas antara akting dan kenyataan menjadi sangat kabur bagi Gerald.
"Kau sangat dingin hari ini, Han," bisik Aruna. Suaranya rendah, bergetar oleh emosi yang telah ia pendam selama Han menghilang.
Gerald bangkit dan berdiri di dekat jendela besar, membelakangi Aruna. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit. Sial, batinnya. Dia bisa menghadapi sepuluh bodyguard dengan pisau, tapi dia tidak tahu cara menghadapi wanita yang sedang jatuh cinta.
"Aku sedang banyak pikiran, Aruna," jawab Gerald, berusaha menjaga suaranya tetap datar dan berat.
Aruna melangkah maju, tanpa suara di atas karpet tebal, hingga Gerald bisa merasakan kehangatan tubuh wanita itu di punggungnya. Tangan Aruna perlahan melingkar di pinggang Gerald, memeluknya erat. "Jangan dorong aku menjauh lagi. Semalam aku hampir mati ketakutan mengira kehilanganmu. Aku rindu ... aku rindu saat-saat kita tidak perlu memikirkan Skye Group atau Crystal."
Gerald memejamkan mata. Setiap syaraf di tubuhnya berteriak untuk melepaskan diri. Dia merasa seperti pencuri dalam arti yang paling hina, dia tidak hanya mencuri identitas pria ini, tapi dia juga hampir mencuri keintiman yang bukan haknya.
Namun, ia teringat peringatan Aruna sebelumnya. Han tidak pernah menolak apa yang ia inginkan. Jika Gerald mendorongnya sekarang, keraguan Aruna akan memuncak. Penyamarannya akan hancur, dan nyawanya akan tamat sebelum fajar.
Aruna memutar tubuh Gerald agar menghadapnya. Wajah mereka begitu dekat hingga napas mereka bertautan. "Han ... lihat aku," pinta Aruna.
Gerald terpaksa menatap mata itu. Di sana, ia melihat kerinduan yang tulus, sebuah "belaian" yang sudah lama tidak didapatkan wanita itu dari Han yang asli yang perfeksionis dan kaku. Dengan rasa enggan yang luar biasa di lubuk hatinya, Gerald perlahan mengangkat tangannya. Ia menyentuh rahang Aruna dengan ujung jarinya yang kasar.
Saat bibir mereka bertemu, Gerald merasakan konflik batin yang hebat. Secara fisik, Aruna adalah wanita tercantik yang pernah ia temui, namun secara moral, Gerald merasa sedang berjalan di atas tali tipis di atas jurang. Ia harus b******u dengan Aruna, melakukan gerakan-gerakan yang ia bayangkan dilakukan oleh seorang CEO yang dominan, demi mempertahankan sandiwara ini.
Aruna mendesah pelan, seolah seluruh beban dunianya luruh dalam ciuman itu. Bagi Aruna, ini adalah kepulangan kekasihnya. Bagi Gerald, ini adalah tugas intelijen yang paling menyiksa. Setiap sentuhan yang ia berikan adalah akting, setiap belaian adalah strategi bertahan hidup.
Di tengah kemesraan yang dipaksakan itu, saat Aruna beristirahat sejenak di pundaknya dengan napas terengah, Gerald melirik ke arah meja nakas di samping tempat tidur. Di sana, sebuah tablet pribadi Han menyala karena notifikasi masuk.
Gerald menggunakan kesempatan itu untuk berpura-pura meraih sesuatu, namun matanya dengan cepat membaca baris pesan yang muncul di layar.
"Protokol 'Pembersihan Asisten' telah siap. Aruna akan dikambinghitamkan dalam skandal Aero-Core minggu depan. Pastikan semua jejak biometriknya sudah masuk ke database otoritas."
Darah Gerald mendadak terasa dingin, jauh lebih dingin dari udara AC ruangan itu.
Pria yang sedang dirindukan oleh wanita di pelukannya ini ternyata sedang merencanakan kehancuran wanita ini. Han tidak melihat Aruna sebagai kekasih, dia melihatnya sebagai tameng hidup yang siap dibuang.
Aruna kembali menarik wajah Gerald, ingin melanjutkan apa yang mereka mulai. Namun kini, tatapan Gerald berubah. Bukan lagi sekadar akting untuk terlihat seperti Han, tapi sebuah kemarahan yang meluap pada pria yang ia perankan.
"Kau kenapa?" Aruna bertanya, menyadari perubahan ketegangan di tubuh Gerald.
Gerald melepaskan pelukannya perlahan, namun tetap memegang bahu Aruna agar wanita itu tidak curiga. "Aku ... aku baru saja ingat sesuatu yang mendesak di lab. Crystal mungkin sudah mulai meretas sistem biometrikmu untuk menjebakmu, Aruna."
Aruna tertawa kecil, meskipun tampak bingung. "Crystal tidak punya akses sedalam itu, Han. Kau sendiri yang menguncinya."
"Dia punya sekutu yang tidak kita ketahui," ujar Gerald cepat. Dia harus berhenti. Dia tidak bisa melanjutkan ini. Kehormatan kecil yang tersisa di dalam dirinya sebagai "pencopet jalanan yang punya harga diri" melarangnya menyentuh Aruna lebih jauh setelah tahu wanita ini sedang dikhianati begitu kejam.
Gerald bangkit, berjalan menuju meja kerja di sudut kamar dengan alasan mencari kunci enkripsi. Saat ia menggeledah laci, ia menemukan sebuah bingkai foto kecil yang tersembunyi di balik tumpukan dokumen.
Di dalam foto itu, Han dan Aruna tampak berada di sebuah pantai pribadi. Namun yang membuat Gerald terpaku bukan pemandangannya, melainkan cara Han memegang lengan Aruna yang terlalu kencang, hingga kulit Aruna tampak memutih. Itu bukan pelukan kasih sayang, itu adalah cengkeraman kekuasaan.
Gerald menyadari bahwa hubungan mereka selama ini adalah hubungan yang beracun. Aruna mencintai citra yang ia ciptakan sendiri tentang Han, sementara Han hanya mencintai kendali yang ia miliki atas Aruna.
"Han?" Aruna mendekat, wajahnya kini terlihat waspada. "Ada apa denganmu? Kau melihat foto itu seolah kau baru pertama kali melihatnya."
Gerald membalikkan badan. Dia menatap Aruna, wanita yang baru saja ia cumbu demi akting, dan merasakan empati yang mendalam. Dia ingin berteriak bahwa Han adalah iblis, bahwa dia adalah Gerald sang pencopet, dan bahwa mereka berdua harus lari dari Aero Town malam ini juga.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah, "Aku hanya tersadar betapa banyak waktu yang kita buang untuk hal-hal sepele. Pergilah tidur, Aruna. Aku punya pekerjaan yang harus kuselesaikan ... untuk memastikan masa depanmu tetap aman."
Aruna menatapnya lama, seolah mencoba menembus topeng itu. "Kau sangat berbeda sejak kembali dari gang-gang itu, Han. Lebih manusiawi ... atau mungkin, lebih pandai berbohong."
"Pergilah, Aruna. Aku sedang ingin sendiri."
Aruna akhirnya berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Gerald yang terpaku dalam kesunyian yang mematikan. Gerald tahu, malam ini ia tidak hanya menyelamatkan nyawanya sendiri, tapi ia mulai merasa memikul beban nyawa Aruna.
Ia harus terus berpura-pura menjadi Han, bukan lagi demi kehidupan layak, tapi demi melindungi Aruna dari rencana busuk Han yang asli dan dari Crystal yang haus darah.