Berangkat

1041 Words
Desi dan Ratna sudah diberitahu, bahwa Alya akan pergi ke Jakarta. Awalnya mereka memang tak menerima dan meminta Alya untuk tidak pergi ke sana. Namun, karena kata-kata Alya yang menjelaskan tujuannya, Ratna dan Desi akhirnya melepaskan Alya untuk pergi ke Kota Jakarta. "Hati-hati ya, Nak. Jaga diri di sana, inget sopan santun," pesan Surti, sebelum Alya berangkat menuju ke terminal. "Iya, Bu. Alya pasti inget pesan ibu kok," jawab Alya, sembari tersenyum, lalu mencium punggung tangan Surti. "Ya sudah, hati-hati ya, Nak," ucap Surti, lalu mencium kening Alya dan memeluk tubuh Alya dengan sangat erat. "Kak Alya!" Desi dan Ratna langsung memeluk Alya, secara bersamaan. "Kak, hati-hati di sana ya," ucap Desi, setelah melepas pelukan dan menghapus air mata yang tiba-tiba terjatuh. "Jangan lupa makan, Kak. Jaga diri baik-baik, Ratna sayang Kakak," ucap Ratna yang juga menghapus air matanya. Alya tersenyum, lalu mencubit pelan hidung kedua adiknya itu. "Iya, sayang-sayangnya Kakak." "Ya ampun, udah jam segini! Alya berangkat ya, Mak," pamit Alya, setelah melihat jam yang tertera di ponsel jadulnya. Surti hanya bisa menganggukkan kepala, sambil merapalkan doa di dalam hati, untuk keselamatan anak sulungnya itu. *** "Oh, ini toh yang namanya Jakarta," gumam Alya, sambil mengeratkan lagi gendongan tasnya. Alya berjalan tak tentu arah, karena memang dirinya tidak mengetahui tempat ini. "Neng! Mau ke mana, Neng?" tanya seorang bapak yang tengah berkumpul dengan teman-teman yang lain. "Ini namanya tempat apa ya, Pak?" tanya Alya asal, sambil menatap ke sekitarnya. "Ini itu Jakarta, Neng," jawab bapak tersebut. "Iya. Maksudnya itu, nama tempatnya, Pak," jelas Alya lagi. "Oh! Ini mah terminal pasar senen," jawab bapak-bapak yang lain. Alya mengangguk paham, ia segera merogoh kantongnya, lalu mengeluarkan ponsel yang ia bawa dari kampung. "Kalau alamat ini di mana ya, Pak?" tanya Alya, sembari menyerahkan ponselnya. Salah satu bapak tadi menerima ponsel Alya, melihat-lihat sebentar, lalu sedetik kemudian ia berdiri dan meninggalkan tempat tersebut. Alya yang masih tidak mengerti pun hanya diam dan menatap langkah pergi bapak tersebut. Namun, setelah Alya tersadar bahwa ponsel miliknya telah diambil, Alya segera mengejar bapak tadi, sembari berteriak 'copet!', tetapi sepertinya orang-orang di sekitar hanya bisa menatap, tanpa ada niat untuk membantu. "Aaa!" Alya berteriak dan langsung meringis kesakitan, saat tubuhnya terbentur bagian depan mobil yang tengah melaju dengan kecepatan sedang, tetapi tetap saja sakit. "Ya ampun! Maaf, maaf. Kamu baik-baik saja?" tanya laki-laki yang baru saja turun dari mobil dan langsung menghampiri Alya, yang masih menahan sakit. Alya mendongak, ia sedikit terpana akan paras laki-laki yang ada di depannya sekarang. Namun, tatapannya langsung teralihkan, saat kembali merasakan nyeri di area pinggul. "Kamu baik-baik saja, kan?" tanya laki-laki tadi. "I-iya, Pak. Saya baik-baik saja. Hanya sedikit tersa nyeri di bagian pinggul," jawab Alya jujur. "Ya sudah, kamu naik ke mobil saja dulu, nanti saya bawa kamu ke tukang urut," titahnya. "Tidak usah, Pak. Ini udah baik-baik aja kok," tolak Alya, sembari berusaha bangun dari posisinya sekarang. Dengan cepat, laki-laki itu mengulurkan tangannya, lalu membantu Alya berdiri. "Aww!" rintih Alya. "Sakit ya?" Alya hanya bisa mengangguk, membenarkan apa yang dikatakannya. Laki-laki tersebut segera memapah jalan Alya untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, barulah Alya dibawa ke tukang urut, yang sepertinya sudah menjadi langganan. "Maafin saya ya. Tadi saya kurang konsentrasi bawa mobilnya, sampai-sampai saya gak liat ada kamu," ujar laki-laki tersebut yang sudah diketahui namanya adalah Adit. Alya tersenyum mendengar penuturan Adit. Entah kenapa hatinya sedikit senang saat melihat manik mata itu. "Tidak apa-apa, Pak. Lagian sekarang udah enakan." "Oh iya, saya antar kamu pulang. Tempatnya di mana?" tanya Adit, sambil menatap Alya yang masih setia dengan tas yang berada di genggaman tangannya. Mendengar pertanyaan Adit, perlahan Alya menggeleng ragu dan itu langsung mendapat tatapan bingung dari Adit. "Saya itu dari kampung, Pak. Ke sini mau nyari perusahaan yang nerima saya jadi karyawan, tapi di jalan saya malah kena copet. Jadi ya, saya bingung mau ke mana." Adit masih bingung dengan perjalanan hidup gadis yang ada di depannya ini. "Sekarang kamu belum dapet kerjaan?" tanya Adit. Alya mengangguk lemah. "Pendidikan terakhir kamu apa?" tanya Adit sambil memikirkan pekerjaan apa yang bisa diberikan untuk Alya. "Saya SMK, Pak," jawab Alya jujur. Adit menganggukkan kepalanya, lalu ia hanya bisa memberi pekerjaan pada Alya sebagai pegawai biasa. "Saya ada lowongan buat kamu, jadi pegawai di tempat saya. Kamu mau?" Mata Alya seketika berbinar mendengar tawaran tersebut. "Mau, Pak. Saya mau." Adit tersenyum sambil mengangguk. "Ya udah, kalau gitu saya cariin kos-kosan dulu buat kamu. Nanti besok saya sempetin buat jemput kamu, terus berangkat ke kantor," jelas Adit yang langsung dipahami oleh Alya. Adit terlebih dulu mencari indekos terdekat, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan mendatangi tempat tersebut. Setelah berbincang-bincang dengan pemilik indekos, Adit membayar sewa selama dua bulan ke depan. Alya pun segera masuk ke tempat tinggalnya yang baru, tentunya setelah mengucapkan terima kasih dan juga mobil Adit telah meninggalkan halaman indekosnya. "Huftt ... ya Allah! Terima kasih banyak untuk nikmat yang engkau berikan," ucap Alya saat tubuhnya tengah berbaring di atas kasur yang bisa dibilang lebih nyaman, dari miliknya di kampung. Saat matanya terpejam, Alya tiba-tiba teringat akan keadaan keluarganya. Bagaimana ia bisa memberi kabar lewat Jubaedah--pemilik rumah makan, jika ponselnya saja telah diambil copet tadi. Sedangkan, ia saja belum mulai bekerja. Pikiran Alya benar-benar tak bisa tenang, ia terus saja memikirkan keluarganya. Namun, apa yang bisa ia perbuat? Eh, bukannya Alya masih memiliki uang? Saat ia mengingat itu, ia segera mencari kantor pos terdekat supaya bisa mengirim kabar pada Surti. Alya bertanya-tanya pada warga sekitar dan alhamdulillah sekali Alya menemukan kantor pos terdekat, segera Alya memasukinya dan berkomunikasi pada bagian resepsionis. Alya yang belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya di kantor pos pun bingung, apa yang harus dilakukan? Sampai akhirnya ia tak sengaja bertemu dengan laki-laki yang berumur, tetapi masih sangat segar. Dengan sangat sabar, ia mengajarkan cara bagaimana mengirim surat yang benar. Alya tak bisa menolak tawaran laki-laki itu yang ingin mengajarinya, karena petugas di kantor pos pun sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Kebetulan hari ini sangat ramai. 'Mengapa hatiku tertarik dengan laki-laki ini?' batin Alya berucap, seulas senyum menghiasi bibirnya. Ia terpana, oleh pesonanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD