"Alya ... punya Alya tuh mana ya?" Tangan Jubaedah sibuk mencari nama Alya di amplop yang berada di atas mejanya, sedangkan Alya hanya duduk sembari menatap Jubaedah.
"Nah, ini punya kamu." Jubaedah menyerahkan amplop yang bertuliskan nama Alya.
"Terima kasih, Bu," ucap Alya, lalu berdiri dari posisi duduknya.
"Eh, bentar!" cegah Jubaedah, membuat Alya kembali terduduk.
"Ada apa ya, Bu?" tanya Alya heran.
"Kamu beneran nanti besok berangkat ke Jakarta?" tanya Jubaedah, dengan tangan yang ditumpuk diatas meja.
Alya mengangguk, sembari menjawab, "Iya, Bu. Besok Alya berangkat ke sana."
"Udah dapet izin dari mak kamu?" tanya Jubaedah, dengan menautkan alisnya.
"Alhamdulillah, Bu. Maknya Alya ngizinin Alya," jawab Alya, dengan seulas senyum yang menghiasi bibirnya.
"Ya sudah, semoga itu yang terbaik buat kehidupanmu," ujar Jubaedah, sembari tersenyum.
"Aamiin, Ya Allah Aamiin," balas Alya, dengan kedua tangan yang mengusap wajahnya.
"Mmm ... Alya keluar dulu ya, Bu," pamit Alya.
Jubaedah mengangguk mempersilahkan, Alya pun segera bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan milik Jubaedah.
"Huft ...." Alya menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan secara perlahan.
Pemandangan sore hari di wilayah perkampungan, memang terasa sangat menyejukkan. Alya berjalan menuju ke rumahnya, dengan bersenandung kecil, sembari sesekali tersenyum jika ada orang yang ia kenal.
Hari sabtu adalah hari yang sangat menyenangkan bagi Alya, karena ia pulang dari tempatnya bekerja, saat sore hari. Jadi, ia memiliki waktu untuk istirahat lebih banyak.
"Assalamu'alaikum," ucap Alya, sembari membuka pintu rumahnya.
"Wa'alaikumussalam, Nak," jawab Surti, yang langsung menghampiri anaknya itu. Alya masuk ke dalam rumahnya dan mencium punggung tangan Surti.
"Makan dulu yuk, Nak!" ajak Surti.
Alya megangguk dan berjalan ke arah meja makan, dengan Surti yang berada di sampingnya.
"Oh iya, Mak. Ini gajiannya Alya," ucap Alya, sembari menyodorkan amplop yang sedari tadi berada di kepalan tangannya.
Surti mencegah tangan Alya dan berucap, "Kamu simpen aja, Nak uang itu."
Alya menggeleng, lalu membuka amplop yang dipegangnya. "Alya ambil sebagiannya aja, Mak," ucap Alya, sembari tangannya yang bergerak mengambil sebagian uang gajiannya.
"Sisanya buat kebutuhan sehari-hari Mak aja," sambung Alya, menyerahkan uang yang tersisa.
"Emangnya segitu cukup, Nak?" tanya Surti ragu.
Alya mengangguk meyakinkan.
"Ya sudah, Mak simpen uangnya ya," ucap Surti, yang kembali memasukkan uang tersebut ke dalam amplop.
"Ya udah, Mak. Alya makan ya," ucap Alya, sembari tersenyum.
Surti mengangguk dengan bibir yang melengkung, membentuk senyuman. Alya pun mulai memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
-
"Mak," panggil Alya, lalu duduk di sebelah Surti yang tengah melamun.
Surti menengok ke arah Alya, lalu tersenyum getir.
"Mak kenapa?" tanya Alya, sembari menatap wajah keriput Maknya itu.
Surti menggelengkan kepalanya, sembari tersenyum dan membelai lembut kepala Alya. Tak terasa, air mata jatuh dari mata Surti. Menyadari hal itu, Surti segera mengusap air mata tersebut.
Alya yang melihat itu pun tak kuasa menahan tangisnya, lalu segera memeluk tubuh Surti dan menumpahkan semua air matanya, di pelukan Surti.
"Mak ... hiks!" Alya melepas pelukannya, lalu menghapus air mata yang ada di mata Surti.
Ratna dan Desi yang tengah belajar pun mendengar suara tangisan kakak dan maknya.
"Kak Des," panggil Ratna sembari menutup buku yang tengah ia baca.
Desi menatap adiknya itu, lalu menggerakkan dagunya, memberikan isyarat bahwa ia sedang bertanya 'ada apa?'
"Kak Des denger suara tangisan gak sih?" tanya Ratna bingung.
Desi menutup bukunya, lalu mempertajam pendengarannya sejenak. "Kak Alya sama Mak!" seru Desi yang langsung berdiri dari posisi tidurnya.
"Ke sana, yuk, Kak!" ajak Ratna yang juga terbangun dari tidurnya. Desi mengangguk, mereka berdua pun segera keluar dari kamarnya, lalu menuju ke kamar Alya dan juga Surti.
"Hustt! Kita berdiri di sini dulu, Rat!" titah Desi mencegah langkah Ratna, yang ingin masuk ke dalam kamar Alya.
"Kenapa emangnya, Kak?" tanya Ratna heran.
"Udah diem aja dulu!" jawab Desi, yang diangguki oleh Ratna.
"Huftt ... barang-barangnya udah disiapin semua belum, Nak?" tanya Surti.
Alya menggelengkan kepalanya, sembari menghapus sisa air mata yang masih menempel di sudut mata.
"Yaudah, kita beres-beres, yuk!" ajak Surti, lalu berdiri dan membuka lemari yang berada di samping tempat tidur.
Alya mengangguk, lalu berdiri di samping Surti dan sedikit berjinjit untuk mengambil tas yang ia punya, untuk nanti akan diisi dengan perlengkapan seadanya.
"Kamu yang masuk-masukin ke tas ya, Nak!" perintah Surti, sembari meletakkan dua baju milik Alya yang ada di lemari.
"Iya, Mak."
Alya membersihkan bagian depan tasnya yang sudah dipenuhi oleh debu, karena memang sudah lama tidak terpakai. Setelah itu, Alya mulai membuka resleting tasnya dan memasukkan baju yang tadi dengan rapih.
"Sudah, Mak?" tanya Alya heran.
"Iya, Nak," jawab Surti, dengan raut wajah yang lesu, lalu tangannya bergerak menutup kembali lemari tersebut.
Alya mengangguk, lalu menutup kembali resleting tasnya. Pandangannya beralih ke Surti yang tengah berdiri di dekat lemari, dengan tatapan kosong.
"Mak," panggil Alya, dengan sedikit menggoyangkan tangan kanannya.
"Mak!" panggil Alya lagi. Surti mengerjapkan matanya, lalu melihat ke arah Alya dengan tatapan bertanya.
"Mak kenapa?" tanya Alya berdiri, sembari memegang kedua tangan Surti.
"Apa Alya gak usah berangkat lagi, Mak?" tanya Alya, dengan sudut mata yang sudah penuh dengan air mata.
Surti menggeleng pelan, lalu menjawab, "Enggak, Nak. Kamu juga punya jalan hidup sendiri, enggak selamanya kamu bakalan ada terus sama, Mak."
"Tapi, Mak ...." Ucapan Alya terpotong, saat Surti membelai lembut kepala Alya, sembari menggelengkan kepala.
"Sudah, jangan bahas ini lagi. Kamu jaga diri baik-baik aja di sana, nanti kita kasih tau ke Desi sama Ratna pas sarapan," kata Surti, lalu tersenyum. Alya mengangguk paham.
"Mak ... Kak Alya ...." Desi keluar dari balik tembok, dengan Ratna yang berada di belakang.
Desi melangkah diikuti dengan Ratna menuju ke Alya dan juga Surti yang sedang berdiri beriringan.
"Kak ... Kak Alya mau ke mana? Kok tadi Desi denger ucapan Mak, suruh Kak Alya jaga diri?" tanya Desi bertubi-tubi.
"Duduk dulu aja, Yuk!" ajak Alya, pada adik-adiknya itu.
Desi dan Ratna mengangguk, lalu mereka segera duduk di tepian tempat tidur.
"Mak ... duduk," titah Alya, yang melihat Surti masih tetap berdiri.
"Kak Alya," panggil Desi lagi.
Alya hanya menatap adiknya, tanpa bisa menjawab pertanyaan yang terlontar.
"Kak Alya mau pergi ke Jakarta," ungkap Surti lantang, lalu sedetik kemudian air matanya kembali jatuh. Sama halnya dengan Ratna dan juga Desi yang terkejut, kedua adik Alya itu langsung mengeluarkan air mata.