"Enak banget, Kak makanannya," ujar Ratna, sembari mengambil gelas yang ada di depannya.
"Kenyang gak, Dek?" tanya Alya.
Ratna menganggukkan kepalanya mantap, lalu menjawab, "Kenyang, Kak. Kenyang banget malah, hehe."
Alya hanya bisa tersenyum, sembari mengelus lembut kepala adiknya itu.
"Nak, kamu dapet ini semua dari mana?" tanya Surti heran.
"Alya dapet dari Bu Jubaedah, Mak," jawab Alya.
Surti mengangguk.
"Eh! Kak," panggil Desi.
"Kenapa, Dek?" tanya Alya.
Bukannya menjawab, Desi hanya tersenyum dengan alis yang dinaik turunkan.
"Kenapa sih, Dek?" tanya Alya lagi.
"Cowok tadi siapa, Kak?" tanya Desi, yang masih dengan alis naik turun.
"Cowok? Yang mana?" Alya berpura-pura tidak tahu, apa yang ditanyakan adiknya itu.
"Ih! Kakak pura-pura," ucap Desi, dengan bibir yang dikerucutkan.
"Emangnya siapa, Nak?" Surti angkat bicara.
"Hah? Tadi itu ..., Kang Zidan, Mak."
"Mak tau, kan?" tanya Alya, yang diangguki oleh Surti.
"Kang Zidan itu, tadi cuma nganter Alya pulang. Soalnya udah malem banget," ujar Alya menjelaskan.
"Apa sih, Dek!" Alya menyapu wajah Desi dengan tangan kanannya, supaya tidak lagi menaik turunkan alasnya.
Desi tertawa, lalu berucap, "Kakak salah tingkah!"
"Udah! Sana masuk, gih!" perintah Alya, sembari membereskan piring.
"Iya, iya. Ayo Rat, masuk ke kamar, yuk!" Desi dan Ratna masuk ke dalam kamar mereka, dengan tangan yang saling berpegangan.
"Nak." Surti kembali bersuara, membuat Alyag menghentikan aktivitasnya.
"Iya kenapa, Mak?" tanya Alya, sembari tangan yang dilipat di atas meja.
"Mak udah pikirin matang-matang," jawab Surti, yang kini wajahnya berubah menjadi sendu.
Anisah mengernyit, lalu bertanya, "Mak mikirin apa sampe harus matang-matang?" sambil tertawa kecil.
"Tentang ... kamu yang mau kerja di Jakarta," ucap Surti, dengan suara yang sedikit keci.
Tawa kecil Alya perlahan menghilang, saat Surti membahas hal itu.
"Mau berangkat kapan emangnya?" tanya Surti, sembari menatap wajah anaknya itu.
"Kalo dari sms yang Alya dapet, Alya dikasih waktu sampai satu minggu. Kalo lebih dari itu, bakalan habis," jawabku.
Surti mengangguk, lalu kembali berucap, "Sekarang hari apa, Nak?"
"Sekarang? Hari kamis, Mak."
"Ya udah, nanti hari sabtu, kan kamu dapat bayaran. Kamu simpen uangnya buat bekal perjalanan kamu," ucap Surti, sembari memegang pundak Alya.
Wajah Alya berbinar, ia sangat senang sekali orang tuanya mengizinkan untuk mencari nafkah di Jakarta.
"Be-berarti Alya berangkat hari minggu, Mak?" tanya Alya, yang belum percaya.
Surti mengangguk. "Iya, Nak."
"Alhamdulillah, Mak! Makasih ya." Alya langsung memeluk Surti, serta mencium pipi kanan dan kirinya.
"Iya, Nak iya. Mak percaya sama kamu," ucap Surti, sembari tersenyum.
Alya melepas pelukannya, memandang lekat wajah Surti, lalu kembali memeluk tubuh renta itu.
"Udah, sekarang kita tidur, yuk! Udah malem," ajak Surti.
"Tapi, Mak. Ininya?" Alya menunjuk ke arah meja makan yang masih penuh dengan piring dan juga gelas.
"Udah, itu semua bisa dikerjain pagi-pagi," ucap Surti.
Alya mengangguk, lalu merangkul pundak Surti, sembari melangkah menuju ke kamar mereka. Yups, mereka memang tidur satu kamar.
_
Alya menggeliat di atas tempat tidurnya, saat hati menyuruhnya untuk bangun. Ia melirik ke samping, diusapnya pelan kepala Surti, lalu melihat jam dinding.
"Jam tiga?" gumam Alya, lalu berjalan keluar dari kamar dan menuju ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, ia membuang air kecil dan berwudu, lalu kembali ke kamar dan mengambil mukenah yang ada di lemari.
Alya menghamparkan sajadah terlebih dulu, barulah ia memakai mukenah.
"Allahu Akbar!" Alya memulai salat Tahajud dengan khusyuk yang ia bisa, sampai rokaat yang terakhir.
Selesai salat Tahajud, Alya melipat mukenahnya dan kembali keluar dari kamar, menuju ke kamar adik-adiknya yang berada di samping kamar Alya dengan Surti.
Memandang wajah tenang adik-adiknya yang masih tertidur, membuat Alya yang juga ikutan tenang. Diciumnya kening milik adik-adiknya, lalu keluar dari kamar tersebut.
Alya menghampiri meja makan dan membereskan piring-piring kotor, bekas makan tadi malam dan membawanya ke tempat mencuci piring, di samping kamar mandi.
Setelah semua piring bersih, Alya menata ke rak piring, lalu tangannya mengambil sapu dan mulai menyapu seluruh penjuru rumah, kecuali kedua kamar, memang masih ada yang menempati.
Alya memandang rumahnya, setelah dirasa bersih, Alya menaruh sapu yang masih setia berada di tangannya itu, lalu masuk ke dalam kamarnya dan melanjutkan tidurnya lagi. Karena jam masih menunjukkaan jam 03.30.
Hingga suara adzan Subuh kembali terdengar, membuat Alya menggeliatkan tubuhnya lagi dan bangun, sembari mengucek matanya.
"Hoamm ...." Alya menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
"Mak! Mak bangun, Mak!" Alya menggoyang-goyangkan tubuh Surti, supaya terbangun dari tidurnya.
"Engh ...." Surti menggeliat, perlahan membuka kedua matanya dan mendapati anaknya yang tengah menatap ke arahnya.
"Bangun, Mak. Salat Subuh dulu," ucap Alya, yang diangguki Surti.
Setelah itu, Alya pergi ke kamar adik-adiknya dan berusaha membangunkan mereka dari tidurnya.
"Dek! Hey! Bangun, Dek!" Alya menepuk-nepuk pelan pipi adiknya, secara berkala.
"Hoamm ...." Desi menguap, lalu terduduk dengan posisi masih di atas tempat tidur.
"Bangun, Dek! Salat Subuh dulu!" ucap Alya.
"Iya, Kak," jawab Desi, lalu turun dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamarnya.
Kini, tinggal membangunkan Ratna yang tertidur dengan posisi memeluk bantal guling itu.
"Dek! Bangun, Dek!" Alya menepuk-nepuk pipi Ratna, tetapi sama sekali tidak bergeming.
Alya beralih menarik bantal guling yang dipeluk Ratna dengan paksa.
Seketika Ratna langsung membuka lebar matanya dan saat itu juga Alya bersidekap, dengan memicingkan matanya.
"Bangun! Salat Subuh dulu!" perintah Alya, dengan nada dingin.
"Enghh ...." Ratna menggeliat di atas kasurnya, lalu memejamkan matanya lagi.
"RATNA SARASWATI!!" Tangan Alya bergerak menarik telinga Ratna, hingga sang empu meringis kesakitan.
"Ish! Sakit tau, Kak," ringis Ratna, sembari mengelus telinganya yang sudah memerah.
"Rasain! Siapa suruh gak bangun-bangun," ucap Alya, lalu melenggang pergi keluar dari kamar adik-adiknya itu.
"Cepetan bangun, terus salat!" seru Alya, saat baru beberapa langkah keluar dari kamar adik-adiknya.
"Ish! Bawel banget," omel Ratna, sembari berdiri dan keluar dari kamarnya menuju ke kamar mandi.
"Nah, gitu dong! Baru adiknya kakak," ucap Alya, saat mendapati Ratna yang sudah ada di sampingnya, dengan bibir yang membentuk kerucut. Alya tersenyum, sedangkan Ratna hanya diam menatap datar ke arah Alya.
"Kamu dulu aja, Dek," ucap Alya, saat melihat Desi yang keluar dari kamar mandi. Tanpa sepatah kata, Ratna langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Duluan ya, Kak," pamit Desi, saat melihat keberadaan Alya.
Alya mengangguk mempersilahkan.