"Makannya udah selesai, Al?" tanya Jubaedah, yang sedang mengecek sisa-sisa bahan makanan dan mencatat keperluan untuk dibelanjakannya besok.
Alya mengangguk ragu.
"Cepet ya kamu makannya," ucap Jubaedah, sembari terus melanjutkan aktivitasnya.
"Hehe, oh iya, Bu. Ada yang bisa Alya bantu gak, Bu?" tanya Alya.
"Gak ada sih, Al. Mmm ... ngelayanin pelanggan yang mau makan aja deh," jawab Jubaedah.
Alya mengangguk. "Baik, Bu." Lalu melangkah ke depan.
"Mbak beli lauk ya," ucap seorang pria yang sedang memilih lauk yang tertera.
"Silahkan, Mas. Mau beli lauk apa?" tanya Alya.
"Ayam panggang berapa ya, Mbak?"
"Ayam panggang 7000, Mas."
Pria tersebut mengangguk. "Ya udah, saya beli tiga ya, Mbak."
Alya mengangguk, lalu mulai memasukkan tiga potong ayam yang sudah dipanggang ke dalam plastik.
"Apalagi, Mas?"
"Udah deh, Mbak. Minta dikasih sambal ya," pinta pria itu.
"Sambalnya udah ada tadi, Mas," jawab Alya, sembari tersenyum.
"Ouh, okey."
"Ini, Mas." Alya menyerahkan kantong plastik tersebut, lalu pria tersebut memberikan uang 50.000.
Alya menerima uang tersebut, lalu mencari kembaliannya di dalam laci yang ada di bawah meja.
"Ini, Mas kembaliannya," ucap Alya sembari menyodorkan uang yang ada di tangannya.
"Terima kasih, Mbak." Pria tersebut menghitung kembali uang yang diterimanya dari Alya.
"Sama-sama, Mas."
Pria tersebut melangkah keluar dari ruang makan dan pergi menjauh.
"Al, mau pulang enggak?" tanya Jubaedah, menyadarkan Alya yang tengah melamun.
"Eh!" Alya terkejut, saat merasakan tepukan ringan di pundaknya.
"Kamu tuh, Al, malem-malem kok ngelamun," tegur Jubaedah, lalu duduk di kursi samping Alya.
"Hehe, Alya bingung, Bu," ucap Alya, dengan tatapan yang lurus ke depan.
"Bingung kenapa, Al?" tanya Jubaedah heran.
Alya memutar tempat duduknya, menghadap ke arah Jubaedah yang juga melihat ke arah Alya.
"Alya bingung, Bu. Tadi sebelum Alya ke sini itu, dapet sms kalo diterima kerja di kota Jakarta, tapi maknya Alya kek gak mau kalo Alya pergi ke sana," tutur Alya, dengan raut wajah yang sedih.
"Di Jakarta kamu jadi apa?" tanya Jubaedah.
"Belum tau, Bu. Nanti dikasih taunya kalo Alya udah dateng ke sana," jawab Alya.
Jubaedah mengangguk paham, lalu berkata, "Ya udah, kamu omongin sama mak kamu pelan-pelan, biar bisa diterima."
Alya mengangguk.
"Assalamu'alaikum!" seru Akbar dan Ali bersamaan, dari luar.
"Astaghfirullah!" Jubaedah langsung mengelus dadanya sendiri.
"Hehe maaf, Bu bos!" pinta Akbar, dengan tangan seperti sedang hormat.
"Kalian tuh! Selalu aja gitu!" Omel Jubaedah, yang mendapat cengiran dari Akbar dan juga Ali.
"Lagi ngomongin apa sih, Bu? Keliatannya tegang banget," tanya Ali.
"Gak! Gak lagi ngomongin apa-apa," jawab Jubaedah, sembari mengibaskan tangannya.
"Ya udah, Al kamu boleh pulang," ucap Jubaedah, sembari bangkit dari duduknya.
Alya melirik jam dinding, lalu berkata, "Cepet juga ya, Bu jam berlalu. Gak kerasa, tiba-tiba udah waktunya pulang."
"Ya emang gitu, namanya juga waktu, Al. Udah, pulang terus istirahat, jangan terlalu dipikirin. Ngomong pelan-pelan aja sama si mbok," ucap Jubaedah, sembari mengelus pelan kepala Alya.
"Yaudah, Bu. Alya pulang, assalamu'alaikum," pamit Alya, sembari mencium punggung tangan Jubaedah, lalu tangannya meraih plastik hitam yang sudah ia siapkan untuk dibawa pulang.
"Apa itu Al?" tanya Jubaedah, sembari menunjuk plastik hitam yang baru saja diambil Alya.
Alya melirik tangannya, lalu menjawab, "Ini makan an Alya, Bu. Sengaja gak dimakan di sini, biar mak dan juga adik-adik saya bisa ngerasain."
Hati Jubaedah terenyuh mendengar penuturan Alya.
"Bentar, Al jangan pulang dulu," ucap Jubaedah, lalu melangkah ke tempat nasi.
Alya mengangguk, sembari melihat apa yang Jubaedah lakukan. Jubaedah mengambil kertas minyak, lalu menyedokkan nasi ke kertas minyak tersebut. Jubaedah melakukan hal tersebut hingga tiga kali.
Setelah itu, Jubaedah mengambil plastik, lalu mengambil tiga potong ayam bistik dan diikat menggunakan karet.
"Plastik yang tadi tuh mana, Al?" tanya Jubaedah, dengan tangan kanan yang disodorkan ke Alya.
"Engh ... ini, Bu." Alya menyerahkan plastik hitam yang ia pegang tadi.
Jubaedah segera memasukkan nasi dan ayam bistik yang sudah ia siapkan tadi.
"Nih." Jubaedah menyerahkan kembali plastik hitam yang tadi ke Alya, yang masih saja terdiam.
"Ini buat kamu, Al. Satuan sama mak dan adik-adik kamu itu," ucap Jubaedah menjelaskan.
Mendengar penjelasan Jubaedah, Alya menerima plastik hitam tersebut dengan mata yang berbinar.
"Terima kasih, Bu," ucap Alya, sembari mencium punggung tangan Jubaedah. Lagi, lagi, dan lagi.
Jubaedah mengangguk, sembari tersenyum. "Udah, pulang gih!"
Alya mengangguk, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat kerjanya, tentunya dengan senyum merekah dan wajah yang berseri.
Dilihatnya lagi isi dari plastik hitam yang dibawanya itu. "Mereka pasti seneng banget! Gak sabar pengen liat ekspresinya."
Tin! Tin!
Suara klakson, membuat Alya sedikit menepi, memberi jalan untuk orang yang membunyikan klakson tadi.
Namun, kendaraan tersebut justru berhenti di samping Alya. Membuat Alya mengangkat satu alisnya. Saat orang tersebut membuka helmnya, barulah Alya mengenali orang tersebut.
"Kang Zidan?"
"Neng Alya baru pulang?" tanya Zidan.
Alya mengangguk, lalu menjawab, "Iya, Kang."
"Ya udah, biar pulangnya dianter sama Akang aja ya," ucap Zidan menawarkan.
Alya menggeleng pelan. "Gak usah, Kang. Terima kasih."
"Ini udah malem, Neng. Lagian kita searah kok," ucap Zidan lagi.
"Ayo!" ajak Zidan, saat Alya hanya diam tak menjawab.
Alya akhirnya menyetujui, lalu naik ke atas motor Zidan. Perlahan, Zidan melajukan motornya dengan senyum kebahagiaan yang sangat jelas terukir di bibir Zidan.
"Terima kasih, Kang," ucap Alya, setelah turun dari motor Zidan.
"Sama-sama," jawab Zidan, sembari tersenyum.
"Ya udah, aku pulang ya, Neng," pamit Zidan, yang sudah menyalakan kembali mesin motornya.
"Gak mampir dulu, Kang?" tanya Alya basa-basi.
Zidan menggeleng, sembari menjawab, "Lain waktu aja, sekarang udah malem."
Alya mengangguk. "Ya sudah hati-hati ya, Kang. Sekali lagi terima kasih."
Zidan tak menjawab, ia hanya memberikan senyuman manisnya, lalu membunyikan klakson sebelum meninggalkan Alya yang tengah menatapnya.
Setelah kepergian Zidan, Alya berbalik dan tersenyum sangat lebar, sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamu'alaikum!" seru Alya, saat tepat berada di depan pintu.
Pintu tersebut langsung terbuka dan menampilkan Desi, yang tengah tersenyum, sembari mengedipkan mata.
Alya melangkah masuk dan langsung menuju ke meja makan, lalu menaruh plastik hitam yang dibawanya, ia sama sekali tidak menghiraukan tatapan aneh dari adiknya itu.
"Nak, sudah pulang?" tanya Surti, yang baru saja keluar dari kamar tidurnya.
"Iya, Mak." Alya langsung menghampiri Surti dan mencium punggung tangannya.