05

1168 Words
“Kalau dari informasi yang aku dapat, dia satu sekolah dengan Jino.” Kata Jeorgi begitu ia dan Edward tiba di tengah kota manusia. “Oh, jadi mereka terlibat kisah cinta anak SMA?” respon Edward. “Kalau kisah cinta anak SMA itu, tidak ada pernikahan.” Balas Jeorgi. Jeorgi tiba-tiba mencolek bahu Edward, dan menunjuk ke sesuatu. “Hey, itu Jino.” Bisiknya. Edward pun mengikuti arah tunjuk Jeorgi, dan benar saja, terlihat ada Jino dalam balutan seragam SMA, serta jaket. Dia tengah menunggu bis, sembari memainkan ponselnya. “Sudah tua juga, masih sok muda.” Gumam Jeorgi. “Kau juga sudah tua, tapi masih seperti anak-anak.” Balas Edward yang membuat Jeorgi bersungut. “Ayo kita ikuti dia, keburu matahari semakin menyorot.” Kata Jeorgi. “Tapi bagaimana kalau ketahuan? Kau tahukan? Kalau Jino sudah marah itu akan sangat mengerikan. Kak Crish saja sampai sakit berbulan-bulan waktu bertengkar dengan Jino.” Kata Edward. “Ya ampun, tinggal menyamar saja.” Kata Jeorgi. “Menyamar jadi apa?” “Aku akan menyamar jadi siswa SMP, dan kau mahasiswa.” “Perbedaan yang sangat jauh ya?” “Kau pasti sadar betapa borosnya wajah mu.” Edward mengapit leher Jeorgi, membuat Jeorgi meronta. “Tidak usah menyamar jadi siapa-siapa, kita cukup pakai masker dan topi, bereskan?” kata Jeorgi setelah apitan Edward pada lehernya terlepas. _ Jino menolehkan kepalanya ke belakang, menatap dua orang berpakaian abu-abu serta kuning, yang menggunakan masker dan topi hitam. Mereka tampak langsung menundukan kepala dan sibuk sendiri. Meskipun Jino tidak tahu mereka siapa, Jino tentu tahu mereka bukanlah manusia. Jino jadi sedikit gelisah, rasanya ingin buru-buru sampai di sekolah. Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya bis tiba di halte tujuannya. Jino pun segera turun, dan berlari menuju sekolahnya. Dengan pendengaran yang tajam, Jino dapat mendengar derap langkah dua pasang kaki di belakangnya. Bisa Jino tebak, kalau mereka adalah dua orang yang memakai masker serta topi tadi. Tapi begitu ia masuk ke dalam gedung sekolah, kedua orang itu tidak lagi mengikutinya. Jino menoleh ke belakang, lebih tepatnya keluar gedung sekolah, melalui pintu. Dua orang mencurigakan tadi sudah tidak ada. Sementara itu di luar. “Kita tandai di sini.” Kata Jeorgi sembari meletakan ujung jarinya di tanah. “Dan sekarang ayo kita berpura-pura jadi siswa sekolah ini.” _ Set. Alice tersentak saat tiba-tiba ada yang mengambil s**u kotaknya. Ia mendongak, dan melihat Jino tengah menyesap s**u kotaknya dengan santai, seolah itu adalah miliknya. Ekspresi Alice berubah datar. “Ini tidak terlalu enak.” Komentar Jino. “Kalau tidak enak, kenapa tetap kau minum?” sungut Alice. “Kau mau meminumnya lagi? Kan sudah bekas.” Kata Jino. Alice tidak menjawab lagi, dan memilih menghabiskan sarapannya. Karena takut kesiangan, Alice memilih sarapan di sekolah. Jino duduk di sebelahnya, dan mengamati Alice yang pura-pura tidak peduli dengan kehadiran Jino. “Malam ini kau ikut dengan ku.” Ucap Jino. Alice seketika menoleh, menatap Jino dengan kening mengernyit. “Untuk apa?” tanya Alice. “Tentu saja untuk tinggal dengan ku. Apa lagi?” “Aku tidak mau. Memangnya siapa kau mengatur ku?” Jino mendekatkan wajahnya pada Alice. “Aku Jino, orang yang tidak pernah dibantah perkataannya.” Alice seketika bungkam. Memang dia tidak akan bisa menang melawan Jino. “Lagi pula di rumah mu, kau juga sendirian kan? Lebih baik tinggal dengan ku. Masalah dengan orang tua mu, biar aku yang urus.” Kata Jino. “Jangan sakiti mereka.” Ucap Alice. “Kalau mereka melawan, maaf, aku terpaksa." Alice membelalakkan matanya, "Aku mohon jangan," Melihat tatapan memelas Alice, Jino hanya mendengus sembari melihat ke arah lain. _ Jeorgi dan Edward menghabiskan waktu di taman belakang gedung sekolah, saat jam pelajaran sedang dimulai. Edward kadang merasa bodoh, karena selalu mengikuti Jeorgi. Tapi dia harus menjaga anak satu ini yang suka sembrono. Begitu jam pelajaran selesai, dan terganti dengan jam istirahat. Jeorgi dan Edward pun bergegas pergi dari taman belakang, dan berbaur dengan murid-murid lain yang baru keluar dari kelas. “Hei, aku kira Alice tipe orang yang tidak peduli dengan pria. Tapi sekarang dia malah dekat dengan Jino.” “Iya. Dia kan pasti tahu kalau Jino berbahaya, tapi kenapa sekarang dia malah dekat dengannya?” “Sudahlah biarkan saja, tandanya dia tidak mengambil pelajaran dari yang lalu kan?” Mendengar obrolan para gadis-gadis yang sedang jalan di lorong, membuat Jeorgi menghampiri mereka. “Hai,” sapa Jeorgi. Para gadis itu seketika menoleh, dan Jeorgi pun tersenyum. Sementara Edward hanya berdiri di belakang Jeorgi, tanpa memasang ekspresi apapun. “Ada apa ya?” tanya salah satu gadis. “Kalian kenal Alice?” tanya Jeorgi. “Oh iya tentu saja. Dia sekelas dengan kami. Apa kau sedang mencarinya?” Jeorgi menganggukan kepalanya. “Kebetulan dia tidak pernah keluar kelas.” “Kalau begitu, boleh beritahu aku di mana kelasnya?” Para gadis itu pun segera menunjukan jalan menuju kelas Alice, setelah mengucapkan terimakasih, Jeorgi dan Edward pun bergegas ke sana. Saat sudah hampir sampai di kelas Alice, Jeorgi dan Edward memperlambat langkah mereka. Terlihat hanya tinggal Alice dan Jino yang ada di dalam kelas. Mereka duduk di dekat jendela, jadi Jeorgi memilih untuk mengamati mereka hanya dari jauh. Edward pun hanya mengikuti apa yang Jeorgi lakukan. Jeorgi menyipitkan matanya, untuk memperjelas penglihatannya. Ia bisa melihat Jino terlihat tengah meraih tangan Alice, dan mengeluarkan sebilah pisau lipat. Ia terlihat menggores tangan Alice, hingga terluka dan membuat Alice memekik. Jino pun menghisap darah tersebut. Jeorgi maupun Edward, sama-sama terkejut melihat apa yang terjadi. Apa lagi setelah Jino menjauhkan bibirnya dari luka Alice, dan menjulurkan lidahnya. Jeorgi dan Edward jadi lebih terkejut lagi, melihat ada apa di ujung lidah Jino. Permata. Jino tampak menyeringai, dan berbincang dengan Alice sembari menyembuhkan luka di tangan gadis itu. “Lihat, sudah aku bilangkan? Pasti gadis itu ada apa-apanya, sampai Jino mau menikahinya.” Kata Jeorgi. “Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Edward. “Banyak yang aku pikirkan sekarang. Jino juga jelas vampire kelainan, kau bisa melihat warna matanya kan?” Edward tidak merespon, ia kembali mengamati Jino. “Kau pasti tahu Jino pernah diwarisi batu merah oleh Kakek. Batu itu bisa membuat kita jadi manusia seutuhnya, setelah kita mati.” Kata Jeorgi. “Heum, ya aku tahu. Tapi aku rasa Jino sendiri tidak tahu kegunaannya.” Balas Edward. “Hanya saja batu itu sudah pecahkan? Karena cinta Jino sudah mati.” “Aku yakin Alice bisa menyatukan batu itu kembali.” “Jadi... apa rencana mu?” “Kita beri ancaman pada Jino, berikan Alice pada kita, atau kita akan bilang pada Ayah, kalau dia vampire kelainan agar dimusnahkan.” Kata Jeorgi. “Lalu hubungannya dengan batu merah?” “Kita membohongi Jino. Meskipun pada akhirnya dia akan memberikan Alice, aku akan tetap bilang pada Ayah jika Jino kelainan, dan akhirnya dia dimusnahkan, setelah dimusnahkan dia akan hidup kembali sebagai manusia, dan lupa dengan kita. Karena kalau Jino masih hidup sebagai vampire, meskipun kita berhasil mendapatkan Alice. Vampire dengan kelainan itu mengerikan. Sewaktu-waktu dia bisa membunuh kita.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD