04

1111 Words
Edward menatap sosok Kakaknya, Jino, yang baru memasuki kamarnya. “Tumben dia pulang.” Gumamnya. Anak laki-laki itu kemudian hendak ke kamarnya sendiri, tapi di tangannya tiba-tiba ditahan oleh seseorang. Ia pun menoleh, dan menemukan Jeorgi, saudaranya yang lain, yang rupanya telah mencegat tangannya. “Ada apa?” tanya Edward. “Ada hal yang harus kau ketahui.” Balas Jeorgi dengan raut wajah serius. “Oke. Mau bicara di mana?” “Taman kerajaan.” Edward dan Jeorgi pun bergegas ke taman kerajaan. Taman kerajaan, tentu berbeda dengan taman yang ada di depan kerajaan. Jaraknya lebih jauh, dan tanahnya lebih luas. Dengan tanaman yang lebih beragam, dan terbuka untuk umum. Mereka memilih pergi ke tempat ramai, untuk berjaga-jaga, takut ada bagian dari kerajaan yang mendengar obrolan mereka. “Jadi apa yang mau kau bicarakan?” tanya Edward sesampainya di taman. “Jino tiba-tiba bilang pada Ayah mau menikah, dan dia mau menikahi Putri Johnny.” Ujar Jeorgi. “Bukankah itu aneh? Sejak kematian pacarnya dulu, Jino tidak pernah lagi membuka hatinya untuk siapapun.” “Tapi kita sudah lima tahun tidak bertemu dengannya, mungkin saja dia memang berubah.” Kata Edward. “Tidak, ini janggal. Sekalipun memang begitu, apa Jino memang akan terburu-buru ingin menikahinya? Bahkan pacarnya yang dulu, yang sangat, sangat dia cintai pun. Tidak langsung dia nikahi, karena Jino sangat berhati-hati terhadap wanita. Pasti ada sesuatu.” Kata Jeorgi. “Hei, berhentilah mencurigai orang seperti itu, apa lagi Jino itu saudara kita.” Kata Edward. “Kau pasti sadar kalau Jino berbeda.” Raut wajah Jeorgi, mendadak jadi lebih serius. Edward terdiam, dia mendadak tidak bisa buka mulut. Jeorgi memegang kedua lengan Edward, dan menatapnya tajam. “Kita harus mencari tahu, siapa gadis yang mau Jino nikahi. Pasti ada sesuatu yang membuat Jino ingin mengikat gadis itu.” Kata Jeorgi. “Apa untungnya bagi kita?” tanya Edward. “Tentu saja ada keuntungannya. Bagaimana kalau gadis itu memang memiliki sesuatu yang bisa kita manfaatkan?” “Tapi dia anak penasihat Ayah, yang benar saja?” “Untuk apa memikirkan itu? Yang penting keuntungan bagi kita.” “Kau kelainan ya?” “Yang benar saja? Tentu saja tidak! Kau tidak muak? Sebagai Putra terakhir, kita selalu mendapat perlakuan yang tidak adil. Mungkin saja melalui gadis itu, kita bisa membuat sedikit perubahan.” - Alice baru saja selesai membereskan rumah. Meskipun sebenarnya rumah tidak terlalu berantakan, hanya sedikit berdebu. Selesai membereskan rumah, Alice bergegas ke dapur, ingin membuat segelas coklat hangat untuk menemaninya belajar. Tapi saat sedang mengaduk minumannya, ia bisa merasakan hembusan angin di belakangnya, juga adanya seseorang tiba-tiba di belakangnya. Alice menelan ludahnya. “Ayah?” panggilnya tanpa berani berbalik. Duk. Alice memejamkan matanya, saat merasakan sesuatu yang bertemu dengan punggungnya. “Jadi apa kau masih berpikir ini Ayah mu?” Alice seketika berbalik, ia sontak merapatkan tubuhnya pada counter dapur, dan menekan cangkir berisi coklat panas di dadanya. Matanya melebar dan bergetar, sementara orang yang tiba-tiba muncul itu hanya memiringkan kepalanya sembari menyeringai. “Takut?” tanyanya, yang tak lain adalah Jino. “Siapa yang tidak takut ada orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah? Ditambah dia monster.” Balas Alice. Jino tertawa kecil. Tangannya kemudian meraih cangkir berisi coklat panas milik Alice, dan menyeruputnya. “Heum, baru pertama kali aku mencicipi apa yang juga dikonsumsi manusia. Tidak begitu buruk ya ternyata?” “Apa yang kau mau?” tanya Alice. Dia sudah tidak lagi memberontak atau melawan kehadiran pria itu, karena Alice tahu, dia tidak akan bisa mencegahnya. “Aku hanya mau memberitahu, kalau kau tidak akan bisa lepas dari ku, meskipun kita tidak menikah.” Kata Jino. Kening Alice mengernyit. “Apa maksud mu?” “Aku sudah pulang ke kerajaan, aku bertemu Ayah dan Ayah mu, untuk minta izin menikahi mu. Tapi mereka tidak memberi izin.” “Yah, syukurlah.” Jino tertawa kecil meremehkan, sembari menghabiskan coklat panas milik Alice, membuat Alice sontak menghentakan kakinya kesal, dan mengepalkan kedua tangannya. Jino tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Alice, membuat ujung hidung mereka bertemu. “Tapi aku bisa mengikat mu. Kau pikir aku akan menuruti larangan Ayah kita?” mata Alice seketika membelalak, saat bibir Jino mendarat di atas bibirnya. Tapi tak lama ia mengerang kesakitan, karena merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya, melalui mulut. Jino pun tak lama menarik diri, terlihat sebuah rantai kecil dengan cahaya merah yang mengitarinya, keluar dari mulut Alice mau pun Jino. Tapi tak lama rantai itu menghilang. “Kau milik ku. Kemana pun kau pergi, aku tahu.” _ Alice tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia tidak fokus belajar, karena Jino masih di sini. Padahal Jino sedang sibuk sendiri menyicipi berbagai makanan yang ada di rumah Alice. “Ini terlalu asin.” “Akhh... apa ini? Kenapa pedas sekali? Kau mau meracuni ku ya?” “Makanan itu memang pedas.” Dengus Alice. Alice tidak menyangka, Jino punya sisi seperti ini juga. Dia bahkan makan dengan berantakan. Remahan makanan, serta bungkusnya ada di mana-mana. “Woah! Apa ini? Manis tapi kenyal, dingin lagi.” “Itu mochi es krim.” Kata Alice. “Aku suka ini.” Kata Jino sembari menggigit mochinya lagi. “Woah, aku menyesal tidak pernah mempelajari soal makanan yang dikonsumsi manusia. Bahkan aku tidak berminat mengetahui jenis dan namanya.” Alice meringis melihat mulut Jino yang belepotannya semakin parah. Ia pun mengambil tisu dan menyeka bagian pinggir serta pipi Jino, membuat Jino terkejut. “Apa yang kau lakukan?!” seru Jino panik. Dia tidak pernah disentuh duluan oleh lawan jenis. “Bibir mu kotor. Apa aku melakukan kesalahan?” kata Alice. Jino tidak menjawab, ia hanya membuang muka sembari menutupi wajahnya dengan sebagian tangannya. Alice yang tidak mengerti, menggendikan bahu, dan berusaha kembali fokus belajar. _ “Kenapa kau masih di sini? Sekarang sudah malam.” Kata Alice. “Aku masih mau di sini, jadi tidak ada yang bisa melarang.” Kata Jino. Alice menghela napas. “Terserah.” Alice pun memasuki kamar mandi, untuk membersihkan diri dan bersiap tidur. Sementara Jino tetap ada di kamarnya, ia duduk di ranjang sembari menatap keluar, melalui pintu balkon, yang sengaja tetap ia buka tirai dan gordennya. Alice tiba-tiba mengingatkannya pada kekasihnya dulu, seseorang yang berhasil mengontrol dirinya. Bahkan Jino rasa, Alice akan jauh lebih baik mengontrolnya. Apa selama ini Jino juga mau hidup sebagai vampire yang berbeda. Rasa takut karena berbeda juga sebenarnya sering mendera perasaannya. Tapi rasa itu kalah, dengan sifat asli dari kelainannya. Sehingga meskipun ia takut, ia tetap akan meminum darah manusia, bersikap dingin, menyendiri, berambisi, serta kejam. Apa Alice benar-benar bisa mengontrol dirinya? Kalau memang bisa, berarti gadis itu memang seharusnya ada di hidupnya. Cklek. “Ah, aku kira akhirnya kau pulang.” Komentar Alice, saat melihat Jino masih ada di kamarnya. Jino tidak menjawab. Alice pun akhirnya memilih tidak bicara lagi. Ia langsung naik ke kasurnya, dan menarik selimutnya sampai sebahu. “Kalau pulang tolong tutup tirai dan gordennya. Aku lelah, biarkan aku istirahat. Tolong malam ini saja, jangan membuat hal yang membuat ku takut atau marah.” Kata Alice. Jino lagi-lagi tidak merespon. Sampai akhirnya beberapa waktu berlalu, suara dengkuran halus Alice pun terdengar, yang menandakan gadis itu sudah tidur. Jino menatap wajah gadis itu dengan seksama, sebelum akhirnya mencium kening Alice cukup lama, dan memutuskan pulang setelahnya. _ “Kau sudah tahu siapa anak Johnny?” tanya Edward sesaat setelah ia masuk ke dalam kamar Jeorgi. “Namanya Alice, usia 19 tahun.” Balas Jeorgi sembari tersenyum bangga, karena informasi yang sudah ia dapatkan. “Ciri-cirinya?” “Tingginya sekitar 157 cm, rambut coklat keunguan, tebal, panjang sepunggung, dan bergelombang. Kulitnya pucat, warna iris matanya sama seperti rambutnya.” “Woah, detail sekali ya?” “Ya kan memang seharusnya begitu.” “Jadi kapan kau akan mulai mencarinya?” “Besok.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD