03

1298 Words
Alice memasuki ruang kerja Ayahnya diam-diam, setelah Jino pergi, ia semakin tidak bisa tidur. Di dalam ruangan kerja Ayahnya yang berdebu, karena sangat jarang ditempati, banyak buku-buku yang tidak dijual di pasaran. Kebanyakan sampulnya berwarna coklat dan merah marun, juga bertekstur kasar, seperti terbuat dari kulit pohon. Karena buku-buku itu terkesan membosankan, Alice pun tidak pernah penasaran untuk membacanya. Tapi sekarang, Alice ingin mencari tahu, vampire sejenis Jino, adalah vampire jenis apa. Alice yakin, Ayahnya punya buku tentang itu. Setelah cukup lama mencarinya di rak buku, Alice akhirnya menemukan sebuah buku yang hanya memiliki judul ‘Tentang kita’. Alice yakin yang dimaksud kita adalah vampire. Sampulnya berwarna merah bata, berbeda dengan warna sampul buku yang lain. Alice duduk begitu saja di lantai, untuk membaca lembar perlembar buku. Hingga akhirnya Alice tiba di halaman yang berjudul ‘Vampire dengan kelainan’. Alice langsung membacanya dengan seksama, dan menggarasi beberapa point di dalam benaknya. ‘Jika dalam kehidupan manusia, mungkin vampire dengan kelainan ini, bisa juga disebut dengan sakit jiwa, kelainan jiwa, atau punya penyakit psikilogis. Dia bengis, kejam, ambisius dan hanya mau meminum darah manusia. Dia tidak mau mengikuti aturan yang berlaku, kalau vampire tidak boleh lagi meminum darah manusia, meskipun hanya sedikit. Sementara vampire dengan kelainan ini, bahkan akan meminum darah manusia, sampai tubuh manusia itu kering. Mereka juga punya cara sendiri untuk menghisap darah. Bukan menggunakan taring mereka, tapi mereka akan menggunakan benda tajam untuk menggores tubuh korban, sebelum menghisap darahnya. Iris matanya saat sedang menunjukan bahwa ia adalah seorang vampire juga berbeda. Warnanya merah darah. Kekuatannya lebih besar, dan hanya Raja langsung yang bisa menanganinya. Vampire dengan kelainan ini, biasanya akan dimusnahkan, karena keberadaan mereka yang berbahaya. “Dari semua keterangan yang ada di buku ini, sudah jelas Jino seorang vampire dengan kelainankan? Tapi kenapa dia tidak dimusnahkan? Apa karena dia Pangeran?” gumam Alice. “Kalau aku mengadukannya pada Ayah? Apa itu bisa? Atau nanti malah bisa membahayakan Ayah?” “Aku harus menjauhi Jino, dia berbahaya.” _ Alice datang ke sekolah seperti biasa, meskipun dengan keadaan wajah yang masih pucat. Meskipun ia sudah minum obat penambah dari sebelum ke sekolah. Seperti dugaannya, sekolah kini tengah ramai didatangi Polisi serta warga setempat. Tubuhnya mematung untuk beberapa saat, saat melihat Polisi yang tengah membawa sebuah mayat yang kondisinya kering kehabisan darah. Mayat itu dimasukan ke dalam kantung mayat, sebelum akhirnya dibawa keluar dari gedung sekolah, untuk dibawa ke ambulan yang sudah menunggu di depan sekolah. “Jadi kutukan itu benar ya?” “Iya. Areum kan akhir-akhir ini dekat dengan Jino. Kenapa sih dia tidak ambil pelajaran dari korban sebelumnya?” Samar-samar Alice mendengar obrolan para gadis di sebelahnya. “Siapa korban selanjutnya?” “Aku harap tidak ada lagi. Aku tahu Jino itu tampan, tapi dia punya kutukan.” Alice memilih pergi ke kelasnya untuk menenangkan diri yang mendadak takut. Bagaimana tidak? Dialah korban Jino selanjutnya. Alice duduk di bangkunya, dan meletakan tasnya di atas meja. Apa Jino akan menghisap darahnya sampai habis juga nanti? Lalu mengambil semua permata yang ada di dalam tubuhnya? Atau membiarkan tetap hidup, dan hanya mengambil permata yang ada di tubuhnya? Tapi kenapa Jino tidak melakukannya langsung saja tadi malam? Apa karena dia sudah kenyang? Berbagai pertanyaan terus menghantui pikiran Alice, sampai akhirnya orang yang sedari tadi ia pikirkan tak lama muncul. Alice langsung menundukan kepalanya, dan pura-pura sibuk merogoh tasnya. Jino tersenyum kecil dengan sinis melihatnya, ia kemudian duduk di samping Alice, membuat Alice tersentak. “Apa kau melihat bagaimana kondisi korban ku tadi?” tanya Jino dengan nada pelan. Alice tidak merespon, dia hanya diam dengan tubuh yang membeku. “Gadis-gadis itu bilang menyukai ku, jadi sudah seharusnya mereka melakukan apapun untuk orang yang mereka sukai kan?” Alice seketika menatap Jino dengan sorot mata marah. “Kau bukan vampire, kau monster.” Kata Alice. Jino memperlebar seringaiannya, sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Alice, hingga Alice dapat merasakan hembusan napasnya yang dingin. “Kalau memang benar dengan meminum darah ku bisa membuat mu bertahan hingga sebulan, minum saja darah ku sampai kering.” Kata Alice. “Kau keturunan bangsa ku, jadi aku akan menghormati mu walau sedikit. Aku tidak akan meminum darah mu sampai kau kering, aku hanya akan minum sedikit saat haus, dan ingin mencari permata yang ada di dalam darah mu.” Kata Jino. “Tidak, kau bukan mau menghormati ku. Kau membuat ku bertahan hidup, agar kau selalu bisa merasakan darah ku yang kau sebut langka kan?” Jino tersenyum. “Anak pintar.” Ucap Jino sembari menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinga Alice. “Aku mohon jangan membunuh siapa pun lagi.” Kata Alice. “Kenapa aku harus melakukan itu? Tidak ada yang bisa mengatur ku, bahkan Ayah ku sekalipun.” Kata Jino. “Aku mohon.” “Kalau itu kemauan mu, ikut aku. Kita menghadap Ayah ku, dan jadilah istri ku. Ayah mu pasti akan bangga kau menikah dengan seorang Pangeran.” _ Mata Alice membelalak mendengarnya. “Aku tidak mau menikah dengan vampire, apa lagi vampire kelainan seperti mu!” “Apa kau bilang? Coba ulangi.” Alice mengerang kesakitan, saat Jino tiba-tiba mencengkram dagunya. “Kau... vampire kelainan, seharusnya kau dimusnahkan.” Kata Alice dengan sedikit terbata. “Ya benar, seharusnya aku dimusnahkan. Tapi aku ini adalah vampire bangsawan, kekuatan ku jauh, jauh lebih unggul dari vampire yang lain. Aku bisa menutupi diri ku yang sebenarnya dengan baik.” Kata Jino. “Aku bisa memberitahunya pada vampire yang lain, kalau kau gila.” Jino tertawa kecil. “Aduh, kau sedang ngelawak ya? Kan sudah aku bilang, aku ini vampire bangsawan. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan aku, kecuali Ayah ku. Kalau ada vampire lain tahu tentang diri ku yang sebenarnya, tinggal aku bunuh, termasuk Ayah mu.” Jino kemudian memasang ekspresi lebih dingin dan serius, irisnya yang sebelumnya hitam pekat, perlahan berubah jadi merah darah. “Aku akan mengikat mu selamanya, karena kau sangat berguna. Kau mengerti? Kau tidak akan lagi bisa mengelak, apa lagi mencoba menghindari ku.” - Jino pergi ke kerajaan. Setelah sekian lama, ia akhirnya pulang. Jino ingin menemui Ayahnya serta Ayah Alice. Ayah Alice sendiri memiliki nama Johnny, sementara Ayah Jino bernama Daniel. Sebagai Raja dan penasihat, keduanya jarang aktif di dunia manusia, sekalipun Johnny punya keluarga di dunia manusia. Kaki Jino berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu besar, dengan knop berupa besi panjang. “Ayah, ini Jino.” Ucap Jino. Pintu kayu tersebut pun tak lama terbuka sendiri, menampilkan sebuah ruangan dengan nuansa coklat dan hitam. Banyak rak-rak tinggi penuh buku, barang-barang aneh, serta sebuah meja dan kursi di tengah ruangan. Terdapat Daniel di sana, yang terlihat tengah membaca. “Sudah berapa tahun?” tanya Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Jino memutar kedua bola matanya malas. “Lima tahun.” Ucap Jino. “Apa yang kau butuhkan?” “Aku tidak butuh apa-apa, aku hanya mau bilang kalau aku mau menikah.” Daniel seketika menutup bukunya, dan menatap Jino yang tidak memasang ekspresi apapun. “Johnny.” Panggil Jino.                                      Beberapa saat kemudian, pria yang ia sebutkan namanya, muncul di dalam ruangan Daniel. Ia datang menggunakan teleportasi. “Aku mau menikahi Putri mu.” Johnny tersentak mendengar penuturan Jino, ia menatap Daniel yang terlihat tidak berniat memberi penjelasan apa-apa. “Ya, kalian berdua pasti tahu tidak bisa menghentikan ku. Aku memang hanya mau memberitahu, bukan meminta izin. Kalau begitu aku permisi.” Kata Jino sembari hendak pergi, tapi Johnny segera menahannya. “Kenapa tiba-tiba?” tanya Johnny. Jino menatapnya sembari menarik sudut kiri bibirnya. “Apa kau tidak mau Putri mu menikah dengan Pangeran?” “Kalau boleh jujur, aku ingin Putri ku hidup normal, dengan menikahi pria biasa.” “Sayangnya Putri mu itu bukan manusia biasa.” Kata Jino. “Tidak, dia hanya manusia biasa seperti Ibunya.” Balas Johnny. “Aku ingin menikahinya, jadi aku akan menikahinya.” “Tidak ada pernikahan.” Daniel akhirnya buka suara. “Kalau Ayahnya tidak mengizinkan, kau harus menghormati keputusannya.” Jino tanpa sadar menggertakan gigi, tapi ia kemudian berusaha menahan raut wajah marahnya. Karena sewaktu-waktu iris mata merahnya bisa keluar. “Baiklah,” ucap Jino tanpa menatap wajah Daniel. “Lagi pula dia masih sekolah, masih terlalu muda untuk menikah.” Kata Johnny. “Kalau begitu aku permisi, aku akan kembali ke kamar.” Setelah kepergian Jino, Daniel kembali menutup pintu. “Dari dulu aku merasa anak mu yang satu itu berbeda.” Kata Johnny. “Aku tahu. Dia lahir dari seorang Ibu yang bersekutu dengan iblis.” Balas Daniel. “Sekarang di mana Ibunya?” tanya Johnny. “Tentu saja jadi tawanan iblis. Dia bersekutu, karena tidak rela menjadi istri ke tiga ku.” Balas Daniel. “Apa Jino tahu soal Ibunya?” tanya Johnny lagi. “Aku tidak pernah memberitahunya, aku takut itu akan melukai hatinya. Jadi yang dia tahu, dia itu anak istri ku yang kedua.” Jelas Daniel. “Bagaimana kalau dia jadi vampire kelainan?” “Tidak ada tanda-tanda dia begitu.”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD