Alice berusaha terlelap, tapi sangat sulit. Ia masih memikirkan kejadian di sekolah tadi, tubuhnya juga masih terasa sangat lemas. Sementara luka di perpotongan lehernya, sudah sembuh. Iya, menggunakan kekuatan sihirnya, Jino menyembuhkan lukanya.
Sekarang Alice jadi tahu, apa yang sudah Jino lakukan dengan gadis itu di dalam kelas. Kondisi gadis itu pasti sudah mati kehabisan darah di dalam kelas.
Alice seketika bergidik. Jino ternyata vampire, sama seperti Ayahnya. Tapi iris mata Ayahnya, berwarna merah kecoklatan, tidak seperti Jino yang warnanya merah darah. Jenis vampire apakah itu? Alice baru pertama kali melihatnya. Setahu Alice, vampire juga meminum darah hewan, bukan manusia. Tapi Jino?
Yang membuatnya lebih terkejut, mengetahui di dalam darahnya terdapat permata. Ayah dan Ibunya tidak pernah membicarakan soal itu. Atau memang sengaja dirahasiakan?
Mau bertanya, tapi kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Ayah, pasti sedang ada di wilayahnya sendiri, atau lebih tepatnya wilayah yang hanya dihuni vampire. Karena Ayahnya seorang penasihat Raja, dia banyak beraktifitas di sana. Sementara Ibunya, seorang wanita karir.
Lalu apa gunanya permata di dalam darahnya? Kenapa ekspresi Jino tadi, seolah ia baru mendapatkan sesuatu yang sangat menakjubkan?
Alice tidak merasa selama ini dia punya kekuatan magis, meskipun dia keturunan vampire, bahkan punya sesuatu di dalam darahnya.
Angin tiba-tiba berhembus cukup kuat, menerbangkan gorden serta tirai pintu balkon Alice. Alice sontak beranjak duduk karena terkejut. Sejak kejadian di sekolah tadi, dia memang merasa jadi was-was.
Dan sepertinya kewaspadaannya itu, bukan sesuatu yang berlebihan. Kini di balkon, berdiri seorang pemuda dalam balutan pakaian serba hitam, serta iris semerah darahnya.
Alice terkesiap. Rasa takut seketika menjalar di sekujur tubuhnya.
Pemuda yang tak lain Jino itu, menjentikan jarinya, membuat pintu balkon terbuka. Padahal kondisi pintu sebelumnya terkunci.
Jino melangkah masuk, membuat Alice merasa semakin takut dan panik. Ia pun hendak kabur, tapi tubuhnya mendadak tidak bisa digerakan.
Jino duduk di pinggir ranjang, bersikap seolah kamar ini adalah tempat tinggalnya sendiri.
“Apa aku sudah bilang, akibat kalau kau membokar apa yang aku lakukan di sekolah tadi? Kau pasti sudah sadar apa yang sudah aku lakukan pada gadis itu di kelas.” Ujar Jino.
Alice tidak merespon, ia sibuk menenangkan diri yang masih ketakutan. Jantungnya bahkan tidak berhenti berdetak dengan cepat, sampai-sampai keringat mulai mengucur dari pelipisnya.
“Kenapa kau sangat takut? Bahkan tadi aku sudah membantu mu pulang dengan teleportasikan? Seharusnya kau berterimakasih.” Kata Jino.
“Apa yang kau inginkan?” akhirnya suara Alice keluar.
Jino menarik sudut kiri bibirnya. “Apa yang aku inginkan? Tentu saja apa yang ada di dalam darah mu itu, dan kau sudah mengetahuinya kan? Apa itu.”
“Oh, dan apa aku sudah memberitahu? Kalau darah mu itu berbeda. Rasanya jauh lebih lezat, dan membuat tubuh ku lebih segar. Mungkin kalau aku bisa hanya meminum darah seperti mu, aku hanya perlu mengisi perut sebulan sekali. Tapi siapa selain mu yang keturunan manusia dan vampire? Itu sangat langka. Hanya orang kerajaan, yang boleh menikah dengan manusia. Jadi siapa Ayah mu?”
“Untuk apa kau tahu?” tanya Alice.
“Kau pasti tahu Pangeran di kerajaan vampire ada 11, termasuk aku. Apa kau anak dari salah satu Pangeran?”
“Tidak. Aku anak penasihat.”
“Ohh wow... karena aku tidak tinggal di kerajaan, aku jadi tidak tahu banyak.”
Jino kemudian menopang dagunya, menatap Alice dengan seringai yang tak kunjung lepas dari bibirnya.
“Apa kau tahu kegunaan dari permata yang ada di dalam darah mu?” Alice tidak menjawab, ia tidak bilang iya atau pun tidak.
“Permata itu bisa mewujudkan keinginan. Di dalam darah mu ada 18 permata, jika aku berhasil mengambil semuanya, keinginan ku akan terkabul. Tapi hanya vampire yang bisa menggunakannya. Orang seperti mu, hanya ada satu dari seratus orang. Jadi berapa beruntungnya aku bisa menemukan mu kan?” Jino kemudian tertawa kecil dengan bahagia di akhir kalimatnya. “Sayangnya orang seperti mu, jika Ayah ku tahu, kau akan dibunuh.”
Alice terkejut mendengarnya.
“Ya, kau pasti terkejut.” Raut wajah Jino berubah dingin dan datar seperti semula. “Kau pasti bertanya-tanya kenapa. Seperti yang aku bilang, permata di dalam darah mu, bisa digunakan untuk mengabulkan berbagai permohonan. Hanya satu permata pun, sebenarnya bisa digunakan untuk mengabulkan permohonan, tapi efeknya hanya sementara. Berbeda kalau ada 18, permohonan yang diminta, bisa berefek selamanya. Kalau para vampire tahu soal diri mu, mereka mungkin akan memburu mu dan memperebutkan mu. Untuk menghindari hal itu, Ayah lebih baik memusnahkan orang-orang seperti mu, dan menghancurkannya menjadi debu, agar tidak ada perang dan kekacauan.”
“Apa lagi kalau Pangeran yang menemukan mu. Kau pasti mengerti maksud ku kan? Semua Pangeran mengiginkan tahta Ayah kami, tapi kami ada ber sebelas, kemungkinan itu sangatlah kecil. Hanya anak pertama yang kemungkinan besar mendapatkan tahta itu. Sementara aku adalah anak ke empat.”
“Jadi...” Jino mendekatkan dirinya pada Alice, sembari meraih beberapa helai rambut Alice. “Kau pasti mengerti maksud ku kan?”
“Setahu ku vampire tidak meminum darah manusia, sementara kau? Kau meminum darah manusia, yang itu tandanya, kau tidak pantas mengambil tahta Ayah mu.” Kata Alice. Entah datang dari mana keberaniannya untuk berkata begini.
Jino tiba-tiba mencengkram rahang Alice, menancapkan kuku-kukunya pada kulit dagu Alice.
“Semua yang aku inginkan, semua akan terkabul. Sekarang kau adalah milik ku, tidak ada yang bisa memiliki mu, kecuali aku. Kau bahkan tidak bisa minta perlindungan dari Ayah mu, karena Ayah mu bawahan ku. Dan kau tahu? Ayah mu akan tega membunuh mu, kalau tahu di dalam darah mu ada permata. Karena semua vampire menginginkannya, tidak terkecuali Ayah mu.”
-
Jino menjentikan jarinya, sebuah rumah besar pun tak lama muncul mengisi tanah kosong yang berada di tengah hutan. Kakinya pun melangkah ke dalam rumah tersebut, yang tak lain adalah rumahnya.
Rumah ini selalu ada di sini, tapi Jino hanya membuatnya tidak terlihat sementara, saat ia sedang tidak ada di rumah. Agar tidak ada manusia atau pun vampire yang menemukannya.
Jino suka menyendiri, itu lah alasannya ia memilih tinggal sendiri di tengah hutan. Bukan di kerajaan, atau pun di tengah-tengah manusia.
Usia Jino sendiri sudah menginjak 70 tahun, tapi rupanya masih tetap sama, seperti Jino yang masih berusia 19 tahun. Ia sudah berkali-kali jadi murid SMA, untuk mengisi harinya, sekaligus mencari seseorang yang spesial.
Setelah bertahun-tahun, akhirnya dia menemukannya juga. Alice. Orang spesial yang dia maksud, adalah orang seperti Alice.
Keturunan manusia dan vampire, serta memiliki permata di dalam darahnya.
Pencariannya tidak sia-sia, meskipun memakan cukup banyak waktu.
Yah, setidaknya dia juga jadi mudah memancing korban untuk dihabisi darahnya.
Gadis-gadis yang masih remaja itu, mudah dibuat jatuh pada pesonanya, hingga mau menurutinya, termasuk menghabiskan malam dengannya. Padahal yang dimaksud menghabiskan malam dengannya, adalah dengan menjadikan mereka santapan.
Jino melepas coat hitamnya, begitu ia memasuki ruang baca. Jino kemudian menggantungnya, pada gantungan yang berada di pinggir pintu.
Ia berjalan ke meja, dan duduk pada kursi yang ada di depan meja. Matanya menatap toples kaca berisi sebuah batu merah yang pecah.
Batu pemberian Kakeknya yang kini sudah tiada. Sampai saat ini Jino tidak tahu apa kegunaannya. Batu ini pecah, saat kekasihnya dulu mati terbunuh karena melindunginya.
Jino menghela napas berat.
Awalnya Jino pikir, kegunaan batu ini bisa untuk menghidupkan kekasihnya lagi, tapi nyatanya batu ini tidak berguna untuk apapun.