PROLOG
Randi terdiam menatap pintu yang menjulang tinggi di depannya. Ia bimbang sejak beberapa menit yang lalu. Tak lama kemudian, ia menghela napas. Berusaha menenangkan diri, lebih tepatnya menguatkan dirinya untuk melangkahkan kakinya. Sedetik kemudian, tangannya terulur. Meraih gagang pintu dan perlahan memutarnya.
Perlahan pintu terbuka, dan dia melangkah ke dalam ruangan dengan perasaan berkecamuk. Ia tiba tiba berhenti, seolah ragu untuk melanjutkan langkahnya. Ia berpikir seharusnya dia tidak datang ke acara ini. Acara pertunangan Cindy ,sahabatnya sejak remaja. Sahabat yang juga perempuan yang diam diam dia sukai.
Ia berniat berbalik kembali ke pintu yang sudah dia lewati,sebelum sebuah suara memanggilnya.
"Randi..."
Suara yang sangat dikenalinya. Suara yang selalu ingin dia dengar, memanggil namanya. Suara Cindy.
Randy tertegun sejenak. Berusaha untuk menahan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya. Sebelum akhir nya berbalik dan mendapati Cindy setengah berlari menghampiri nya. Ia tampak cantik dengan gaun yang dipakainya. Terlihat anggun, membuat Randi terdiam memandangnya. Terpesona. Sejurus kemudian, Randi tersenyum yang sedikit ia paksakan tapi terlihat tulus.
"Kau terlambat.." Cindy dengan setengah cemberut berkata pada Randi. Membuat laki-laki di depan nya merasa bersalah.
"Maaf...ada klien penting yang harus aku temui. Jalan juga sedikit macet."
Randi berusaha menjawab dengan ekspresi sewajar mungkin. Tentu dengan raut muka merasa bersalah. Wanita di depannya tak bergeming. Masih terlihat kesal dengan Randi karena datang terlambat.
"Maafkan aku...please...." ujar Randi seraya menjewer kedua telinganya, menandakan ia benar-benar merasa bersalah pada sahabat nya itu. Cindy perlahan tersenyum melihat apa yang dilakukan sahabatnya itu. Tangannya terulur untuk menurunkan tangan Randi yang menjewer telinga. Sejenak Randi terdiam, larut dalam pikiran nya sendiri. Memikirkan tangan Cindy yang memegang tangannya dengan lembut.
"Kau memang tidak berubah, Ran. Dan aku juga tidak pernah bisa benar-benar marah padamu." ucap Cindy sambil tetap tersenyum.
Randi hanya bisa memandang Cindy sambil tersenyum sambil mengedipkan bahunya.
"Dimana Alvin?"Randi hanya sekedar basa-basi menanyakan pria yang telah bertunangan dengan Cindy.
"Aku disini.." Randi merasakan tangan menepuk bahunya, dan ia seketika berbalik ke arah datangnya suara. Seorang laki-laki sedang tersenyum menatapnya. Pandangannya tampak bersahabat namun Randi tahu,itu hanya topeng. Alvin. Randi mengambil napas pelan dan tiba-tiba penyesalan akan pertanyaan yang ia lontarkan sendiri memenuhi rongga dadanya. Sedang Cindy hanya tersenyum sambil berjalan melewati Randi ke arah Alvin, tunangannya.Meraih tangan Alvin yang terulur padanya. Lalu tangan Alvin menempel di pinggang Cindy dengan nyaman. Mereka berdua menatap Randi dengan senyum bahagia ,membuat rahang Randi mengeras melihat pemandangan di depannya.