"Duet?" Daya hampir menyemburkan teh camomilenya. Sedangkan Mas Rama dan Dewa hanya mengangguk angguk meyakinkan.
"Wait wait. Janjinya nggak gini, Mas." protes Daya. Duet artinya dia juga akan muncul ke publik, namanya sebagai Seira yang selama ini hanya muncul dalam kredit lagu lagunya akan berubah menjadi sang penyanyi.
Daya lalu menatap Dewa dengan heran. Masa iya dia rela debutnya malah dalam bentuk duet. Gila apa? Lagian nurut banget sih sama Mas Rama. Apa jangan jangan...
"Saya suka banget dengerin demo demonya Mba Seira. Bahkan most of them lebih cocok kalau mbak sendiri yang nyanyiin." sela Dewa diakhiri dengan senyum lebar.
Dahi Daya mengernyit. Demo demo? artinya pria itu sudah mendengarkan banyak demo milik Daya? Seharusnyakan hanya Rama sebagai produser dan pihak penyanyi yang akan membawakan lagunya yang berhak mendengarkan. Tuh kan jangan jangan Dewa sama Mas Rama...
Rama memajukan duduknya,"Gue nggak akan nyerah buat ngorbitin lo jadi penyanyi. Kalaupun lo nggak mau solo, seenggaknya bisa coba duet dulu. Syukur syukur nanti ketagihan terus minta jadi penyanyi beneran ke gue."
Daya mendekat pada Rama lalu berbisik,"Tapi Mas, masa iya lo tega bikinin project debutnya dia dalam bentuk duet. Sama gue pula."
Rama mengangkat bahu ringan."Dia yang mau, gue ya sambil menyelam minum air."
Tawaran Rama sukses bikin Daya pusing. Masalahnya Daya sudah seribu kali menolak tawaran itu, masa iya harus nambah satu kali lagi biar jadi seribu satu. Walaupun niat pria itu baik, tapi tetap saja rasanya Daya belum mau dan siap.
Bernyanyi dan menjadi penyanyi merupakan hal yang berbeda. Daya senang bernyanyi dalam studionya, tapi kalau untuk bernyanyi dihadapan banyak orang... Masih banyak keraguan dan ketidak percayaan diri disana.
Mimpinya untuk menjadi penyanyi sudah dikubur dari lama. Tepat saat sembilan tahun lalu, lagu debutnya diberikan pada penyanyi yang lebih cantik. Padahal proses rekaman sudah rangkum dan tanggal rilis sudah ditentukan, tapi dalam satu malam semua mimpinya dihancurkan.
Beruntung Daya bertemu Rama lagi yang juga merupakan salah satu produser rekaman di label tersebut. Saat Rama memulai perusahaan label rekamannya sendiri, Daya merupakan salah satu orang yang langsung Rama ajak untuk bergabung.
Walaupun terkadang Daya membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan saat ini sudah lebih dari cukup. Juga menipu dirinya tentang merasa puas akan bagaimana lagu lagu yang ia ciptakan menemukan penyanyi penyanyi hebat yang dapat menyampaikan pesan dari lagunya. Padahal ia tahu, ada bagian terkecil di dirinya yang selalu membayangkan bahwa ialah yang sedang menyanyikan lagu lagu itu
Atau, apa sebaiknya dicoba saja? Daya bisa menyanyikan bagian yang lebih sedikit dibanding Dewa. Setidaknya ia bisa mendengar suaranya sendiri, berdiri di atas panggung. Dan mungkin mimpinya sebagai penyanyi akan menguat kembali nanti. Tapi...
"Tenang, Day. Kamu masih bisa pertimbangkan kok. We have a lot of time." sela Rama yang bisa menangkap jelas keraguan Daya.
Daya mengangguk lemah sekaligus lega, mas Rama selalu bisa ia andalkan. Ia akan memikirkan tawaran ini lagi nanti, saat sepi sehingga ia bisa berpikir dengan jernih.
"Hm...mas." Daya berbisik kecil pada Rama. Masih ada satu pertanyaan yang harus ia tanyakan. Kalau tidak kepalanya akan tambah pusing.
Dengan patuh Rama mendekatkan telinga.
"Lo sama si Dewa itu ada hubungan apa sih?" desak Daya, suaranya ia usahakan sepelan mungkin.
Mata Rama menyipit, dahinya mengernyit heran. Sedetik kemudian ia tertawa terbahak bahak. "Gue normal Day!" serunya sambil tertawa."Walaupun udah cerai dua kali gue normal." imbuhnya sambil menahan tawa karena mengerti akan maksud Daya. Air matanya bahkan menetes saking gelinya.
Dewa menatap heran pada Daya dan Rama. Daya langsung merasa tidak enak, Ia cuma mau tahu dari pada nanti mati penasaran. Lagipula, bisa saja Rama suka dua duanya, laki laki dan perempuan.
Setelah beberapa menit, Rama baru berhasil menghentikan tawanya."Dewa itu adik saya."
"Adik?" Daya menatap Rama dan Dewa bergantian. Oh! Keduanya memang memiliki jenis rambut ikal yang sama, struktuk wajah mereka juga mirip. Kenapa Daya baru sadar sekarang.
"Day.." gantian Rama berbisik, Daya mendekat. "Suami lo sekarang pengangguran?" tanyanya sambil mengarah pada Kavka yang dari tadi duduk bersama mereka. Bukan duduk bersama dalam artian sebenarnya, tapi pria itu memang seperti ikut mendengarkan pembicaraan mereka dari kursi baca di sudut ruangan. Gelas kopi pria itu juga sudah di isi ulang sebanyak tiga kali.
—————
"Day!" Kavka meneriaki Daya setelah memarkirkan mobil. Setelah berperan sebagai tuan rumah posesif karena kedatangan dua tamu laki laki pagi tadi. Ia harus rela pulang terlambat malam ini. Selain ia harus menjaga rumah beserta isinya -a.k.a Daya-, dia juga haru bekerja sebagai pengacara yang baik bagi kliennya.
Leher Kavka sampai sakit, tampaknya Daya terlalu asik memandangi langit sampai tidak mendengar teriakannya. Ia lalu berlari masuk ke rumah.
Sampai di lantai dua, Kavka masih mendapati Daya sedang memandangi langit dari pintu balkon. Padahal langkah kaki Kavka sudah pasti berisik. Tapi tampaknya pikiran dan segala pertimbangan yang sedang bersarang di kepala perempuan itu lebih menyita.
Kavka mengambil satu piringan hitam yang sampulnya sudah lusuh. Album Vinyl Long Ago and Far Away oleh Tony Bennett, satu satunya warisan Oma yang ingin ia klaim.
Ia putar piringan hitam itu. Perlahan ia geser pintu balkon hingga membuat Daya berbalik, Everytime You Say Goodbye sedang mengalun merdu. Perempuan itu tersenyum. Kavka tahu, suara merdu Tony Bennett selalu bisa membuat mood Daya lebih baik.
"Kapan pulang?" tanya Daya sambil mengetatkan kardigannya. Angin malam tiba tiba berhembus lebih kencang, membuat Daya mulai merasa kedinginan.
"Udah lumayan lama sambil liatin lo bengong di situ sendirian." jawab Kavka, dengan sigap jasnya ia sampirkan ke tubuh Daya.
"Kayaknya mau hujan." Daya kembali berbalik menatap langit.
Kavka kin ikut memandangi langit,"Just believe in yourself, Day. Gue tau lo masih dan akan selalu mau jadi penyanyi. Setidaknya kalau tawaran tadi lo ambil, pressurenya nggak cuma ada di lo." ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari langit.
Anehnya, langit malam ini sedang tidak indah. Tidak ada bintang, hanya ada langit gelap yang bergemuruh dikejauhan. Tak lama, suara desahan napas Daya terdengar, Kavka menoleh. "Lakuin apapun yang buat lo bahagia." ia tersenyum. Daya juga mengangguk sambil tersenyum.
Someday when i'm awfully low
When the world is cold
I will feel a glow
Just thinking of you
And the wat you look tonight...
Kavka mundur selangkah, ia membungkuk dan mengulurkan tangan kanannya."Nona, maukah kau berdansa denganku?"
Daya tertawa, lagu The Way You Look Tonight yang sedang mengalun merdu membangkitkan kembali ingatannya pada dua puluh tahun lalu. Saat mas Valdo dan orang orang dewasa lainnya memaksa Kavka dan Daya kecil untuk berdansa untuk menyemarakkan perayaan ulangtahun Oma.
Dansa yang akhirnya menjadi penampilan tahunan yang harus mereka lakukan sampai mereka berumur delapan belas tahun.
"Sure." jawab Daya sambil terkekeh kecil. Ia menerima uluran tangan Kavka.
Tangan kanan mereka saling menempatkan diri. Daya meletakkan tangan kanannya pada bahu Kavka, dan pria itu pada pinggangnya. Sedangkan tangan kiri keduanya terangkat hingga bahu Kavka, telapaknya menyatu lalu perlahan berubah menjadi genggaman lembut.
You're lovely, with your smile so warm
And your cheeks so soft
There is nothing for me but to love you
And the way you look tonight
Keduanya mulai bergerak maju mundur mengikuti irama, udara malam berhembus makin kencang membuat rambut Daya mulai berterbangan.
Kavka menarik pinggang Daya mendekat ketubuhnya. Mungkin karen hembusan angin yang membuatnya kedinginan? Yang Kavka tahu ia hanya ingin Daya lebih dekat dan semakin dekat. Untungnya tubuh perempuan itu seolah sudah terbiasa, sehingga patuh dengan mudah.
With each word your tenderness grows
Tearing my fears apart
And that laugh that wrinkles your nose
Touches my foolish heart
Daya menyandarkan kepalanya pada d**a pria itu. Tempat teraman dan ternyaman di dunia. Tidak ada keraguan disana, Kavka adalah salah manusia terpenting dalam hidupnya setelah keluarga. Penenangnya, segalanya.
"Masih ingat waktu gue cium lo supaya lo nggak jadi pindah ke Kalimantan?" Kavka membuka percakapan.
Daya tertawa,"Yes, Our first kiss. Lo sih mau aja dibohongin mas Valdo." dengusnya. Konyol sekali kalau diingat ingat. Masa iya ciuman pertamanya terjadi karena kebodohan Kavka. Jauh sekali dari cerita putri putri yang ia baca di buku dongeng."
"Gue dengan bodohnya percaya omongannya yang bilang kalau semua perempuan itu bakal ngabulin permintaan kita cuma dengan satu ciuman." gerutu Kavka, ia lalu menambahkan. "Tapi ternyata lo nggak berencana pindah kemana mana. Lo malah nangis dan diemin gue sebulan."
"Sebulan dua hari." Daya membenarkan cepat.
Kavka tertawa. Daya benar, saat itu dunia Kavka rasanya langsung suram. Daya sama sekali nggak mau diajak main. Jangankan main, didatengin kerumahnya saja langsung di suruh pulang.
"Lo itu selalu yang pertama buat gue, Day." ucap Kavka.
"I know. Begitupun gue." sahut Daya. Bagaimana tidak, sepanjang hidup mereka hampir dihabiskan bersama.
Kavka lalu berdeham,"Kecuali yang satu itu."
"What?" tanya Daya. Tampaknya ia tahu arah pembicaraan Kavka.
"Our first sex."
Tuhkan! "Oh shut up, Kav!" geram Daya. Ini adalah salah satu topik memalukan yang kalau bisa ia hapuskan dari kejadian masa lalunya.
"Lagian lo ya Day. Brian itu pilihan yang buruk."
"Kav! Stop it..." murka Daya. Pengalaman seks pertamanya benar benar memuakkan. Brian bodoh yang katanya penakluk wanita itu tidak bisa melakukan seks dengan benar. Setidaknya hanya pengalaman menyebalkan yang ia sisakan.
"Okay..." Kavka tidak tahan untuk tidak tertawa. Namun hanya sebentar tawanya sirna, digantikan dengan rasa penyesalan karena saat itu hubungannya dan Daya sedikit renggang. Renggang karena dirinya yang juga sibuk dengan Luna.
"Tapi, Day."
"Apa lagi?" Daya masih setengah kesal.
"You will always be my first."
Daya terdiam, ucapan Kavka itu terdengar tulus dan menyimpan makna lain. Makna lain yang lebih dalam. "Me too." jawaban itu mengalir begitu saja dari mulut Daya. Tanpa tahu makna dan arti sesungguhnya, ia hanya merasa perlu untuk mengatakan hal yang sama.
Lovely
Never ever change
Keep that breathless charm
Mereka kembali tenggelam dalam dansa. Tangan kiri mereka perlahan mulai turun. Berganti saling memeluk. Alunan musik membuat mereka berdansa pelan ke kanan dan kiri.
Won't you please arrange it?
Cause I love you
Daya mendongak menatap Kavka. Ternyata pria itu juga sedang menunduk menatapnya. Ada getaran hangat yang ditimbulkan tatapan itu. Getaran hangat yang tidak asing namun berbeda.
Just the way you look tonight
Bibir Kavka mendarat di bibir Daya. Perlahan bergerak mencium lembut dan membuat jantung Daya berdebar. Ciuman kali ini berbeda. Lembut namun cukup kuat membuat Daya terhisap. Bahkan rasanya Daya bisa menangis dibuatnya. Kenapa? Apa karena lagu lagu Tonny Bennett serta udara malam yang mendukung?
Mata Daya memejam. Terserah apapun jenis perasannya saat ini. Ia hanya butuh pria itu lebih mendekat. Daya melingkarkan tangannya pada leher Kavka dan membalas ciuman pria itu. Dalam, dan lembut.
Beberapa menit kemudian ciuman mereka berubah menjadi panas. Lidah keduanya mulai saling menyusup bermain pada rongga lawan. Menggigit kecil hingga menyesap kasar. Hanya rintihan rintihan yang bisa Daya dengarkan.
Ini gila, Kavka selalu berhasil menguasai dirinya. Tidak peduli seberapa kuat akal sehatnya berpikir apa yang mereka lakukan ini tidak benar. Pria itu juga dengan lihai membuat kupu kupunya berterbangan hingga menyebarkan rasa panas keseluruh tubuhnya. Tidak adik, sungguh tidak adil.
Di tengah ciuman mereka, Kavka menjauhkan wajahnya."Let's go inside."
Tatapan mata Daya kecewa tak terima dan ia mengerang enggan.
"Kita bakal dalam masalah besar kalau tetap disini. Gue bisa berakhir nelanjangin lo disini, Day." bisik Kavka. Suara pria itu serak dan matanya menggelap.
Bisikan Kavka membuat Daya merasa lebih baik. Setidaknya dia sedang tidak dipermainkan. Mungkin setelah ini, Daya tidak bisa lagi memunafikkan dirinya kalau diapun butuh, mereka sama sama butuh ini dan tidak ada yang salah dengan itu.
Terlepas dari apapun alasan mereka melakukannya selain butuh. Yang jelas, Daya merasakan kenyamanan yang luar biasa. Pikiran yang dari tadi membebaninya juga terasa tidak lagi memberatkan, karena Kavka.
Dengan patuh Daya mengikuti Kavka yang menarik tangannya lembut kembali ke dalam rumah. Tangan lainnya pria itu sudah membawa jasnya sendiri yang entah sejak kapan sudah kembali kepemiliknya.
Di dalam, alunan musik makin terdengar. Kavka berbalik menghadap Daya, tangannya menangkup wajah dengan pipi berisi itu dan mengecup bibirnya sekilas.
Dalam gerakan lambat, Kavka membuka kardigan Daya. Bahu dan lengan Daya terkulai lemas membiarkan kardigan itu lolos dan menyisakan tanktop putihnya.
Bibir Kavka bergerak mengecup sepanjang leher terus sampa ke selangka. Mata Daya memejam menikmati lihainya bibir pria itu bekerja.
"KAV! DAY!! Kalian dimana sih. Ini mam-"
PRANGGGG!!!!!
Terdengar bunyi nyaring berjatuhan di lantai. Sontak Daya dan Kavka menoleh ke sumber suara.
"Mam..."
"Bu...."
Mami dan Ibu sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Berdiri salah tingkah menyaksikan anak dan menantunya yang sedang b******u mesra.
——