Bab 2

1153 Words
"Sampah!" komentar Jack sinis saat membaca headline itu lagi. Perhatian Jack teralih saat ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Ada nomor asing yang mengiriminya sesuatu. Jack membuka ponselnya dan melihat isi pesan itu, di mana ada foto hasil screenshot kamera pengintai dengan wanita berambut hitam panjang dengan setelan jas berada di dalamnya. Jack menggulirkan tangannya ke layar ponsel dan melihat isi pesan itu dengan lamat-lamat. "Kami menemukannya, Tuan. Namanya Evelyn, dia bekerja di bawah naungan Jasmine Vettel, pasangan dari Sebastian Vettel. Kami sedang menunggunya keluar dari gedung kantornya." Jack makin tersenyum senang saat ada beberapa video masuk ke ponselnya, di mana wanita bernama Evelyn itu terekam kamera pengintai yang dipasang nyaris di seluruh ruangan klub malam miliknya. Terlihat belakang tubuh Evelyn yang tengah melirikkan kepalanya ke kiri dan kanan seperti seorang pengintai amatiran dan mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya yang Jack yakini merupakan kamera pocket. Pada video kedua, Jack bisa melihat dengan jelas wajah Evelyn. Rambut hitam panjang, bahu sempit, bibir penuh dan tubuh tidak terlalu tinggi. "Menarik," Jack menaikkan sebelah alisnya. Dia jelas terlihat senang sekarang. "Ah, aku tidak sabar bertemu dengan kucing kecil ini." Jack merenggangkan ototnya. Jack mengambil ponselnya dan mengirim pesan balasan untuk seseorang yang mengiriminya info itu dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Kepalanya mendongak mengarah ke langit-langit ruangannya. "Mari kita lihat seberani apa kucing kecil ini di kandang macan." *** Evelyn baru saja keluar dari gedung kantor dan berencana pergi membeli makanan untuk dibawa pulang ke rumah saat tiba-tiba ia merasa ada orang yang mengikutinya. Berkali-kali ia melirikkan kepalanya ke belakang dan lagi-lagi Evelyn tidak menemukan apa-apa. Hanya beberapa orang yang berlalu lalang dan itu sangat sangatlah wajar. Evelyn berjalan cepat menuju salah satu restoran yang berada tidak jauh dari kantornya sambil beberapa kali melirik ke belakang. Ia bernafas sangat lega saat dia sudah sampai di restoran dan tidak ada hal buruk yang terjadi padanya. "Apa yang kau pikirkan Evelyn? Memangnya kau artis yang sedang diincar stalker?" Evelyn memarahi dirinya sendiri. Dia mendudukkan dirinya di dekat kaca sambil memperhatikan jalanan di luar dan menunggu pesanannya selesai dikemas. "Konyol! Kenapa juga aku bisa berpikir sedang diincar?" Ia terkekeh sendiri dengan pemikirannya. Saat pesanan Evelyn selesai, ia benar-benar sama sekali lupa untuk bersikap waspada. Ia menenteng makanannya keluar restoran, bersenandung kecil mengikuti lagu yang sedang didengarkannya melalui earphone yang terpasang di telinganya. Saat ia masuk ke dalam parkiran mobil di gedung kantornya, saat itu ia benar-benar terlambat untuk sadar sebuah suntik tertancap di lehernya. Tidak sampai beberapa detik kesadaran Evelyn mulai hilang. Hal terakhir yang ia lihat adalah 3 orang dengan masker dan kacamata hitam serta kaos putih polos dan celana jeans berdiri menjulang di dekatnya. *** "Tuan, Evelyn sudah bangun." Chris membungkukkan badannya selesai bicara. "Bawa dia ke ruanganku sekarang!" Jack menyeringai. "Lihat! Kucing kecil yang mencuri ikan sudah tertangkap hari ini." Jack William tertawa jahat menakutkan. Pria berkulit pucat itu duduk di sofa tunggal ruang kerjanya sambil menumpukan kakinya di atas meja. Mata tajam pria berkulit pucat itu memandang sinis pada tawanan yang berlutut tak jauh di depannya dengan dua dodyguard berbadan besar berdiri tepat di samping kiri dan kanan si tawanan. Senyum paling menyebalkan tersampir di wajah dinginnya. "Apa kabar Evelyn?" Suara berat bernada ejekan itu ditujukan Jack pada gadis bersurai hitam panjang yang berlutut di depannya. Evelyn, seorang wartawan media online yang sering berburu berita tentang kehidupan para artis. Ia kini menelan ludahnya susah payah. Bohong kalau dia tidak ketakutan sekarang. Di hadapannya sedang duduk seorang mafia, menyebut namanya, menanyakan kabarnya dan sebentar lagi akan membantainya tanpa ampun. Evelyn bahkan tidak punya nyali untuk mengangkat kepalanya hanya untuk sekedar mencuri pandang pada laki-laki beraura berbahaya di depannya. Tanpa perlu melihat berkali-kali pun, ia sadar di depannya sedang duduk Jack William yang baru saja ia buat terlibat skandal dengan artis berumur belasan tahun. "Berani sekali kau mengacuhkanku." Jack menggelengkan kepala dengan dramatis karena Evelyn tidak menjawab pertanyaannya. Ia menurunkan kakinya dari atas meja, melepas jas yang menempel di tubuhnya dan mulai berdiri menuju Evelyn yang masih berlutut di hadapannya. "Apa mereka menutup mulutmu?" Jack berjalan dan berdiri tepat beberapa centi dari depan Evelyn. Evelyn yang menunduk takut bisa melihat sepatu hitam mengkilat milik Jack yang berdiri menjulang di depannya. Dadanya berdetak kencang dan menyakitkan, semakin merinding saat Jack berjongkok di depannya dan mengangkat dagunya. Evelyn terperangah. Tangan Jack yang menyentuh dagunya terasa dingin di kulitnya. Jack mengangkat pelan dagu Evelyn hingga ia tidak menunduk lagi. Tapi Evelyn masih ingin panjang umur, dia tidak berani memandang wajah Jack sama sekali. Sekalipun wajahnya terangkat, Evelyn memilih menundukkan pandangannya. Setidaknya karpet hitam yang berada di bawahnya lebih manusiawi daripada wajah pria pucat yang sedang mengamati wajahnya dengan serius. "Kau tidak sepenakut ini saat di club?" Jack menarik paksa dagu Evelyn dan membuat gadis itu tersentak kaget. Mau tidak mau matanya bertemu dengan mata dingin milik Jack. "Tampan," batin Evelyn saat matanya bersitatap dengan mata milik pria itu. 'Katakan, apa kau bersenang-senang hari ini?" Jack mengunci pandangan Evelyn di matanya. Ia bisa melihat mata Evelyn yang bergetar takut dan putus asa. Menyadari hal itu, ia tersenyum miring. "Seksi," batin Evelyn lagi. "Apa kau mendadak bisu sekarang?" Jack memindahkan tangannya yang dari tadi bertengger di dagu Evelyn menuju puncak kepalanya. Tangan besar pucatnya mengelus rambut Evelyn beberapa kali sebelum akhirnya meremasnya kuat. "b******k!" maki Evelyn dalam hati. Evelyn bergetar hebat, kepalanya terdongak ke atas karena Jack meremas rambutnya. Takut-takut ia melirik pada Jack yang masih saja dengan senyum iblis tercetak di wajahnya. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Jack karena merasa remasan itu semakin kuat saja di rambutnya. "Sa- sakit ...," cicit Evelyn. Suara pertama yang berani ia keluarkan saat tiba di rumah yang ia yakin sangat amat besar ini. "Sakit?" Jack tertawa mengerikan. Tangannya terlepas dari rambut Evelyn dan merapikan kembali rambutnya. "Jadi apa kau tahu kalau kau sedang berurusan dengan siapa, Evelyn?" Jack menekan kata-katanya saat menyebutkan nama Evelyn. Matanya berkilat jahat hingga Evelyn menunduk ketakutan. "Ma- maaf ... maafkan aku." Suara Evelyn makin bergetar. Dia benar-benar ketakutan sekarang. "Ck! Jangan mulai menangis. Saat kau mengambil fotoku bersama jalang itu, kau tidak seperti ini?" Jack memasang muka kasihan penuh kepalsuan di depan Evelyn yang sudah kembali menundukkan pandangan dan wajahnya. Tangan besar Jack yang mengelus rambut Evelyn benar-benar membuat ia merinding. Ini lebih menyeramkan daripada bertemu hantu. "Jadi apa kau sudah cukup bersenang-senang hari ini?" Jack mengulang pertanyaannya, memaksa wajah Evelyn agar menatap padanya. "Tuan ...." Evelyn mengumpulkan keberaniannya hanya untuk bersuara dan rasanya suaranya tercekat di tenggorokan saat dia menatap wajah Jack. "Hm?" "Ku- Ku mohon ...." "Mohon apa?" Jack menaikkan alisnya. Bibirnya menyunggingkan senyum yang ditahan-tahan. Ia benar-benar menikmati tiap detik ketakutan Evelyn padanya. "Ma- mohon maafkan aku ...." pinta Evelyn. "Apa kau pikir setelah meminta maaf maka semua masalah ini selesai?" Jack menatap tajam pada Evelyn. Satu-satunya ekspresi Jack yang Evelyn tangkap hanyalah kemarahan. Kemarahan yang terpancar jelas dari sorot mata dinginnya. "Aku tidak semurah hati itu Evelyn," bisik Jack tepat di depan bibir Evelyn.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD