Bab 1
"Lihat! Kucing kecil yang mencuri 'ikan' sudah tertangkap hari ini."
Jack William tertawa jahat menakutkan. Pria berkulit pucat itu duduk di sofa tunggal ruang kerjanya sembari menyandarkan kakinya di atas meja. Mata tajam pria berkulit pucat itu memandang sinis pada tawanan yang berlutut tak jauh di depannya, dengan 2 Bodyguard berbadan besar berdiri tepat di samping kiri dan kanan si tawanan. Senyum paling menyebalkan tersampir di wajah dinginnya.
"Apa kabar, Evelyn?"
Suara berat bernada ejekan itu ditujukan Jack pada gadis bersurai hitam panjang yang berlutut di depannya.
Evelyn, seorang wartawan media online yang sering berburu berita tentang kehidupan para artis. Wanita itu menelan ludahnya susah payah. Bohong kalau dia tidak ketakutan sekarang. Di hadapannya sedang duduk seorang mafia menyebut namanya, menanyakan kabarnya dan sebentar lagi akan membantainya tanpa ampun.
***
"Aku sudah mengikuti artis S selama 2 minggu dan tebak apa yang ku dapat?"
Evelyn menaik turunkan alisnya dengan senyum puas tercetak jelas di bibirnya. Kamera kecil yang selalu berada di kantongnya dimainkannya dengan bahagia.
"Artis S? Maksudmu siapa?"
Rose, karyawan media online yang bertugas sebagai editor bertanya.
"Kau akan terkejut saat mengetahui siapa artis S yang ku maksud. Ini akan jadi berita besar! Siapa yang menyangka artis yang berumur belasan itu berhubungan dengan seseorang yang berumur jauh lebih tua dari umurnya? Ini akan benar-benar menggemparkan!"
Evelyn berucap penuh semangat.
"Oke, jadi kapan aku akan melihat hasil buruanmu itu? Sudah banyak pembaca penasaran sejak aku mengeluarkan berita soal artis S yang dikabarkan berkencan itu."
Rose berbicara sambil sibuk dengan komputer di depannya.
"Tapi aku kasihan padanya, dia masih sangat muda. Karirnya bisa-bisa tamat kalau aku mengeluarkan berita soal ini."
Evelyn mendadak bimbang sendiri, antara rasa kasihan dan uang yang akan ia hasilkan dari berita miliknya ini.
"Di dunia sampah seperti ini kau masih memiliki rasa kasihan pada orang yang bahkan tidak tahu kau hidup dan bernafas di dunia ini?"
Rose berucap sinis.
"Dia masih anak-anak, umurnya bahkan baru 18 tahun kalau kau mau tahu."
"Apa kita sedang membicarakan Sandria?"
Rose memutar kursinya sedikit agar bisa berhadapan dengan Evelyn.
"Bagaimana kau bisa menebaknya?"
Evelyn berdiri dari kursi dan berjalan ke arah meja Rose.
"Jadi benar itu dia?"
Rose tertawa.
"Karena kau sudah bisa menebak siapa orangnya, maka lihat ini!"
Evelyn memberikan kamera kecil miliknya pada Rose.
"Kau seperti stalker saja!" cibir Rose saat melihat hasil jepretan Evelyn. Di kamera kecil miliknya terpampang seorang gadis yang wajahnya tertutup dengan masker sedang masuk ke salah satu club malam terkenal, club malam kalangan atas. Foto selanjutnya adalah seorang pria yang membuka coat milik gadis itu saat baru keluar dari mobil. Di foto terakhir Rose tercengang dengan pakaian yang digunakan gadis itu, gaun malam yang terlalu terbuka untuk dikenakan anak seumurannya.
"Aku mengambil foto itu kemarin jam 02.00 pagi!" cerita Evelyn mengabaikan cibiran Rose.
"Jam 02.00 pagi? Kalau aku menjadi orang tuanya, aku pasti akan menjambak rambutnya dan menguncinya di kamar. Orang tua mana yang membiarkan anak gadisnya keluar tengah malam dengan pakaian bak p*****r kecil seperti ini?"
Rose tiba-tiba merasa kesal.
"Orang tuanya?" Evelyn tertawa akan jawabannya sendiri, disambut dengan tawa juga oleh Rose. Urusan bergosip agaknya keduanya memiliki selera dan cara bergosip yang cocok.
"Tapi siapa yang ditemuinya tengah malam begitu?"
Rose mendongak ke arah Evelyn, meminta penjelasan.
"Jack William, dari beberapa info yang ku dapat dia salah satu pimpinan mafia. Entahlah, kabarnya masih simpang siur."
Evelyn menarik kursi dan duduk tak jauh di depan Rose.
"Kau tahu? Jack William berumur 35 tahun. Bisa kau bayangkan perbedaan umur mereka? 17 tahun!" cerita Evelyn penuh semangat.
"Sebentar, kau bilang Jack William ini pimpinan mafia?" tanya Rose memastikan.
"Iya, tapi masih belum bisa kupastikan tentang kebenaran kabarnya. Aku hanya mencuri dengar dari beberapa pengunjung club malam saja," sambung Evelyn.
"Eve kau tahu sedang berhadapan dengan siapa kan?"
"Apa maksudmu? Tentu saja aku tahu!" Evelyn mengernyit.
"Baiklah kalau dia hanya dikabarkan sebagai pemimpin mafia ku rasa kita bisa aman. Bayangkan kalau kabar itu benar, bagaimana kalau Jack William benar-benar pemimpin mafia? Bukan hanya kau, aku pun akan tamat, bodoh!"
"Ck, aku lebih percaya dia koruptor atau penggemplang pajak daripada seorang mafia."
Evelyn berucap santai mencoba meyakinkan dirinya bahwa selentingan kabar soal Jack William hanya lah isapan jempol belaka.
"Apa ini yang namanya Jack William?"
Rose menunjukkan foto yang terpampang di kamera Evelyn.
"Benar, yang pakai coat hitam berkulit pucat, itu dia."
Evelyn berucap semangat.
"Aku yakin dia pasti sangat kaya. Aku setuju denganmu, daripada seorang mafia dia lebih cocok menjadi b******k pengemplang pajak."
Rose mengangguk-angguk sambil memperhatikan foto Jack William.
"Jadi bagaimana? Apa kita edarkan saja beritanya sekarang?"
Evelyn menaik turunkan alisnya sekali lagi.
"Apalagi yang kita tunggu?"
Rose menarik laci meja, mengambil kabel USB yang akan dia gunakan untuk mengkoneksikan kamera Evelyn dan komputer miliknya.
"Mari kita pikirkan headline untuk berita besar ini," ucap Rose semangat.
"Iya, ayo berpikir!" sahut Evelyn bahagia.
"Ah, bagaimana kau bisa masuk ke dalam klub malam itu? yang ku tahu mereka tidak mengizinkan sembarangan orang untuk masuk."
Rose melirik ke samping di mana Evelyn tengah sibuk berpikir.
"Aku memakai kartu keanggotaan klub milik direktur Jasmine. Kalau tidak, mana bisa aku masuk ke sana! Bisa-bisa mereka menendangku bahkan sebelum aku memegang gagang pintunya," cerita Evelyn.
"Dia memiliki kartu keanggotaan itu?"
Rose menaikkan alisnya kaget.
"Demi keperluan pekerjaan, apa yang tidak bisa dilakukan? Jangan lupakan suaminya pemilik pabrik kapal pesiar. Mengeluarkan puluhan juta hanya untuk sebuah kartu bukanlah hal yang sulit untuknya. Aku yakin kalau direktur Jasmine minta dibelikan seisi mall pun suaminya pasti akan membelikannya."
"Kau benar. Harusnya aku tidak melupakan fakta kalau Sebastian Vettel itu sangat-sangat kaya."
Rose mengangguk-anggukkan kepalanya.
Berita sudah tersebar setelah keduanya sibuk berdiskusi selama 1 jam. Tidak sampai 10 menit, kolom komentar dari berita yang mereka edarkan sudah mendapatkan lebih dari 700 komentar dan 10% nya adalah komentar penuh hinaan yang terlontar untuk Sandria.
***
"Cari tahu siapa yang mengambil foto ini?"
Perintah mutlak itu datang dari seorang pria pucat yang sedang duduk dengan rokok berada di sela jari telunjuk dan jari tengahnya. Jas yang memeluk tubuhnya dilepas dari tubuhnya, meninggalkan kemeja hitam dan celana bahan berwarna sama di tubuhnya.
"Apa kita perlu mendatangi kantor media online ini Tuan?"
Salah satu tangan kanan Jack yang berdiri di depan mejanya bertanya dengan tingkat kesopanan tinggi.
"Tidak perlu, media online ini milik istri temanku. Cukup cari saja siapa yang mengambil foto ini dan bawa dia ke hadapanku. Temukan dia tidak lebih dari 24 jam atau ...."
Jack mengangkat benda silver berkilau tertimpa cahaya dan memainkannya di depan wajahnya.
"Kalian yang selesai!"
Wajahnya tersenyum, menampilkan senyum dingin nan mengerikan di wajah tampannya.
"Kami mengerti, Tuan."
Tangan kanan Jack, Chris, membungkuk dan mengundurkan diri dari hadapan Jack, diikuti dengan dua orang di belakangnya.
Jack terdiam lama memandangi foto dirinya bersama seorang gadis yang pinggangnya dipeluknya erat. Dia tertawa, tapi matanya menyorot dingin.
Tawanya makin terdengar mengerikan saat membaca kembali headline berita yang terpampang di layar komputernya.
BREAKING NEWS : SANDRIA DAN JACK WILLIAM KEDAPATAN BERKENCAN DI KLUB MALAM