DI ambang pintu kamar inap, langkah Fiona tiba-tiba terhenti. Matanya terpaku pada wanita yang sedang berbaring setengah duduk menyandar ke punggung ranjang—wanita yang merupakan satu-satunya keluarga yang Fiona miliki—wanita yang dahulu selalu melindungi dan menghiburnya—sekaligus wanita yang sering ia panggil kakak. Iona. Air mata Fiona berkumpul di pelupuk mata, ia hampir tidak memercayai orang yang sangat ia sayangi sekarang sudah sehat. Tidak lagi terpejam atau berbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit, tidak. Kakaknya kini bisa membalas menatapnya dengan raut yang sama-sama terharunya. Tidak menyangka akhirnya tiba bagi mereka untuk saling menatap dan melempar senyum lagi seperti saat ini. “Hiks… kakak!” Fiona menubrukkan tubuhnya memeluk Iona. “Fiona… kakak merindukanm

