Bab 7. Kusedekahkan Uangku Padamu

1129 Words
Maria berdiri mematung, enggan untuk menoleh ke belakang, karena dia mengenal dengan baik suara yang baru saja didengarnya itu. “Hei, kamu gila?” pekik Maggie yang melihat satu tangan puteri kesayangannya dipuntir oleh seorang pria. Tak ada yang berani bersuara, mereka mengenal dengan betul siapa pria yang saat ini berada di toko pakaian itu. Maria berbalik dan menatap dengan tajam pria yang saat ini masih belum melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Elise. “Tuan Muda Davis Yang Terhormat, buat apa kamu berada di sini?” tanya Maria. Dia tak mengerti bagaimana bisa Sean bisa berada di dalam toko, dan baru saja dia membantu Maria, sehingga pot kaca itu tak mengenai kepalanya? Apakah ada seorang malaikat yang hinggap di bahu kanan Sean, sehingga pria itu menjadi agak jinak dan baik padanya? Tapi tunggu .... “Kenapa kamu bisa ada di sini?” Maria mengulang kembali pertanyaannya. Sean menyentak tangan Elise, lalu beralih pada Maria. Dia menarik dengan kasar pergelangan tangan Maria, dan menyeretnya keluar dari dalam toko. Kilatan cahaya di mata Sean, membuat Maria bergidik ngeri. Dia sudah sering melihat Sean marah dan mengacuhkannya berhari-hari. Tapi kilatan yang sedikit aneh, dan wajah Sean yang begitu dingin, membuat Maria mengikuti Sean yang terus menarik lengannya dengan kasar dan menjauh dari toko. “Pantas saja kamu mengacuhkan panggilan dariku. Rupanya kamu sedang bersama Dylan? Mantan pacarmu, kan?” “Hah? Apa yang terjadi dengan kepalamu?” “Untung saja, aku menyuruh Daniel untuk mengikutimu. Kamu masih belum bercerai denganku, Maria Wilson, tapi kamu sudah berani berjalan dengan pria lain di belakangku? Ada berapa nyawa yang kamu miliki?” Meski dia belum mencintai Maria, atau mungkin tak akan pernah mencintai wanita itu, dia tak pernah suka jika ada orang lain yang terlihat menyukai barang miliknya sebelum dia sendiri yang membuang atau menyerahkan barang itu pada orang lain. Maria terlihat kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri, wajahnya terlihat pias menatap ke arah toko, di mana Dylan dan Ruby masih menunggunya di sana. “Dengan ya, Sean Davis, suami yang tak pernah mencintai isterinya. Sebentar lagi aku akan mengurus perceraian kita, jadi kamu tak perlu takut jika aku akan membuat malu keluargamu karena terlihat jalan dengan pria lain.” “Jangan membantahku, tolong,” ucap Sean lebih lembut kali ini. “Lagi pula, aku tidak hanya jalan berdua dengan pria, ada sahabat wanitaku, Ruby. Ingat sebentar lagi, setelah malam ini aku menemanimu ke acara ulang tahun mendiang adikku, aku dan kamu tak akan lagi saling berhubungan, kamu paham!” seru Maria. Maria masih mencintai pria yang terlihat tampan di matanya, hanya saja sifatnya yang selalu seperti iblis pada akhirnya membuat Maria harus menyadari jika pria itu tak pernah memiliki rasa cinta padanya! “Tidak, kamu tak akan bisa menceraikanku! Jangan harap malam ini kamu bisa pulang kembali ke apartemen sempitmu itu! Kamu akan pulang denganku!” bentak Sean Davis dengan nada tinggi. Membuat beberapa pengunjung di mall itu menoleh dan memperhatikan kedua suami istri yang terlihat absurd. “Sekarang lepaskan tanganku, aku ingin mengambil gaunku dan membayar!” Sean memelototi Maria lalu berkata, “Gandeng aku, sekarang!” Menggandengnya? Sungguh suatu keajaiban dunia ke sepuluh. Selama ini Sean enggan disentuh oleh Maria, dan kali ini dia memaksa Maria untuk menggandeng tangannya? Apakah sewaktu perjalanan menuju mall, kepala pria itu terbentur sesuatu? Pada akhirnya keduanya kembali ke dalam toko. Para pelayan, beserta pengunjung toko lainnya tak henti-hentinya mengagumi sosok Sean yang bertubuh tinggi, tegap, kekar ditunjang dengan paras yang menawan. Bahkan Elise tak sempat berkedip. “Berikan gaun itu kepada isteriku, aku yang akan membayar,” ujar Sean seraya menarik kartu Amex Black Card milik Dylan dari tangan kasir. Dilemparkan kartu itu pada Dylan, dengan sigap, Dylan menangkap kartu miliknya, membuat Ruby menggelengkan kepalanya. “Ah, Tuan Muda Davis, maaf ... saya tidak tahu jika wanita ini adalah isteri Anda,” ujar Maggie seraya berjalan mendekati Sean, dan mengusap bahu Sean. Wajahnya tampak seperti penjilat sejati yang sama sekali tak tahu malu. Maggie menarik lengan baju Elise, dan berbisik pada puterinya. Terlihat Elise menganggukkan kepalanya. “Maafkan saya, Tuan Muda Davis.” Sean menoleh dan menatap kedua anak beranak itu dengan sangat sinis. “Jika semuanya bisa diselesaikan dengan minta maaf, lalu apa gunanya polisi?” jawab Sean dengan ketus. Entah darimana dia mendapatkan kata-kata yang terdengar sangat ajaib itu. Maria sampai menunduk karena menahan rasa malu, wajahnya terlihat merah. “Kamu berdua, pergi saja. Aku akan mengurus wanita itu bersamaku,” ucap Sean menunjuk ke arah Ruby dan Dylan dengan dagunya. Dia memicingkan kedua matanya pada Dylan, ada rasa tak suka yang dia sendiri tak mengerti ketika melihat Dylan. Akhirnya Dylan dan Ruby pun mengalah. “Maria, aku dan Ruby akan pergi lebih dulu. Kamu baik-baik dengan serigala satu ini. Jika dia berani berlaku kasar, hubungi aku, aku akan membuat perhitungan dengannya.” Dylan menatap tajam pada Sean, tak suka jika wanita yang dicintai bertahun-tahun lamanya diperlakukan dengan sangat kasar. Rasanya dia ingin menyuruh Maria menceraikan Sean saat itu juga, melihat kelakuan Sean yang memperlakukan Maria seperti bukan perlakuan terhadap seorang istri. Sean terkekeh, wajah tampannya terlihat kejam. Berani-beraninya seorang pria dari golongan B berkata akan membuat perhitungan dengan seorang Sean Davis yang bahkan kekayaannya menguasai hampir seluruh kota? Sesaat Sean merasa tersinggung. “Apakah kamu memiliki sembilan nyawa, sehingga mampu menggertakku?” “Aku hanya memiliki satu nyawa, meski hanya satu nyawa aku masih mampu melawanmu. Kamu pikir dengan kekayaanmu bisa membuatku takut?” balas Dylan tak kalah sengitnya. Ruby sudah merasa jika dia tak melerai kedua pria dewasa itu pasti sebentar lagi akan terjadi perang teluk di antara keduanya dan toko di mana mereka berada sekarang akan hancur lebur. “Dylan, sebaiknya kita pergi. Jangan melayani pria setengah waras itu, doakan saja, Maria cepat bercerai darinya,” sindir Ruby. Satu tangan Sean hampir terangkat hendak memukul Ruby begitu mendengar kata-katanya barusan, beruntung Maria dengan sigap menahan tangan Sean. “Aduh!” Maria menginjak kaki Sean dengan geram, tingkah laku Sean benar-benar seperti anak kecil yang tak mau kalah berdebat. “Kamu itu sudah tua, jadi bersikaplah dewasa. Sekarang bayar gaun itu lalu kita pergi dari sini.” Maggie dan Elise yang merasa kesal dan malu dengan perlakuan Sean kepada mereka, langsuung melangkah keluar dari dalam toko tanpa membeli apa pun. Mereka mengira, akan mudah mengambil hati Tuan Muda Keluarga Davis? Hanya Maria yang tahu dengan pasti seperti apa sifat iblis berwajah tampan berkedok suami, yang selama tiga tahun ini selalu saja berlaku kasar dan seenaknya pada Maria. Setelah Sean membayar gaun yang dipilih Maria, dia pun berkata, “Percuma aku memberimu banyak uang untuk membeli gaun, dan pada akhirnya aku juga yang membayarnya.” “Kalau kamu tak rela memberikan uang, aku akan mengembalikannya,” balas Maria. “Aku tak sudi menerima uang yang sudah kusedekahkan pada wanita yang tak berguna sepertimu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD