Bab 8. Tak Ada Yang Bisa Memilikimu!

1384 Words
Setelah Sean selesai membelikan sebuah gaun pada Maria, mereka pun keluar dari pusat perbelanjaan. Saat tiba di parkiran, Sean menatap Maria, seumur-umur, selama tiga tahun mereka bersama, pria itu tak pernah mengijinkan Maria untuk duduk di dalam mobilnya. Sean menatap Maria dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu dia berkata, “Sebaiknya kamu naik taksi saja. Aku sudah memberikan banyak uang padamu, jadi kamu naik taksi. Ingat, tujuanmu ke mansion, bukan kembali ke apartemen sempitmu!” “Kamu masih merasa jijik untuk satu mobil denganku? Lalu kenapa tadi kamu memintaku untuk menggandengmu?” Sean seperti seekor tikus yang tertangkap basah, cepat-cepat dia memalingkan wajahnya ke arah lain menghindari tatapan dari Maria padanya. “Sampai rumah, aku akan membersihkan diri,” ucap Sean ketus, membuat perasaan Maria sakit mendengarnya. Selama bertahun-tahun, Sean selalu menghunjamnya dengan kata-kata yang sangat pedas, bahkan tak peduli saat Maria mengeluarkan airmata di hadapannya. “Untuk apa aku menurutimu?” “Karena aku masih berstatus suamimu, jadi kamu harus menurut, kecuali—“ “Besok aku akan menceraikanmu!” Potong Maria, lalu menarik paper bag dari tangan Sean yang berisikan gaun miliknya. Maria mengacuhkan panggilan dan teriakan Sean padanya, dengan segera dia melambaikan tangan memanggil sebuah taksi dan masuk ke dalam. “Northern Valley, 21. Ke alamat itu,” ucap Maria pada supir taksi. Sean memandang taksi yang membawa Maria dengan tatapan yang sulit dimengerti. Dia sendiri merasa aneh pada sikapnya hari ini. Saat itu, Daniel memberitahukan Sean jika Maria menyewa apartemen dan membayar untuk satu tahun. Saat mendengar kabar itu, dia merasa kurang senang, lalu meminta Daniel membuntuti Maria. Lalu pada saat itu Daniel kembali memberitahukan jika selain pergi bersama seorang gadis, ada satu pria yang ikut bersama Maria saat ini. Membuat hati Sean diliputi kemarahan. Sebuah amarah, yang sebetulnya tak berdasar. Sean tahu pernikahan yang terjadi antara dirinya bukanlah pernikahan seperti pasangan pada umumnya. Pernikahan yang terjadi antara dirinya dan Maria ada sebuah pernikahan yang sama sekali tidak dilandasi cinta. Sean masih mengingat dengan sangat jelas, bagaimana gadis itu merayu dirinya agar mau menyentuh Maria di malam pertama keduanya. Meski dia tahu, tubuh Maria benar-benar indah, tapi tak ada hasrat di dalam dirinya untuk mau menggauli gadis yang berstatus sebagai istrinya. Di dalam hati dan pikirannya hanya ada satu nama, Mya. Berkali-kali dia mengucapkan kata cerai pada Maria, ketika dia sudah tiba di catatan sipil untuk mengurus perceraian keduanya, hatinya kembali diliputi rasa bimbang. Kedua kakinya bahkan tak mampu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam gedung catatan sipil dan menyatakan niatnya. “Jika dia berani macam-macam, aku benar-benar tak akan segan mematahkan kedua kakinya,” ucap Sean setelah melihat taksi yang ditumpangi Maria telah lenyap dari pandangannya. Sean kemudian beranjak pergi dari tempatnya. Memutuskan untuk segera kembali ke mansion. Dia ingin memastikan jika Maria benar-benar mendengarkan kata-katanya dan kembali ke mansion tanpa harus berdebat lebih panjang lagi. Sesampainya di mansion, benar saja, Maria sudah berada di sana. Gadis itu sendiri tak mengerti kenapa dia menuruti kembali apa yang diinginkan Sean. Seakan, saat dia berada di hadapan Sean, setiap kalimat Sean padanya menghipotis kesadarannya. Maria menyentuh tiap sisi kamar yang baru saja ditinggalkannya tadi pagi. Seperti bertahun-tahun lamanya dia tak pulang. Seandainya saja sifat Sean tak buruk padanya, dia akan memillih untuk tinggal selamanya dengan pria dingin yang angkuh itu. Hanya saja, tekanan batin dan mental yang diberikan Sean padanya benar-benar membuat Maria merasakan sakit yang luar biasa pada hatinya. Walau, di lubuk hati terkecilnya, dia masih sangat mencintai pria yang tak pernah menganggap dirinya ada di dalam rumah besar nan dingin itu. Maria keluar dari dalam kamar tidur, lalu berjalan menapaki tangga, menuju ke lantai bawah. Sebentar lagi, semuanya akan benar-benar menjadi sebuah kenangan di dalam rumah besar itu. Karena, Maria telah memutuskan untuk pergi selamanya dan tak lagi menampakkan dirinya di hadapan Sean. Bibi Kate baru saja keluar dari arah dapur dan meletakkan secangkir kopi s**u di atas meja. “Nona Muda, minumlah dulu. Aku pikir, Anda benar-benar akan pergi dari rumah ini,” ujar wanita paruh baya itu dengan tulus. Dia tak ingin melihat Maria pergi dari rumah, dia hanya berharap suatu hari, tuan mudanya bisa benar-benar melupakan bayang-bayang masa lalunya bersama Mya, dan menerima ketulusan Maria dalam hatinya. Maria menoleh, dengan lembut dia tersenyum begitu melihat wajah wanita paruh yang terlihat sedih di depannya. “Aku memang benar-benar akan pergi, Bibi Kate. Malam ini mungkin akan menjadi malam terakhir aku berada di dalam rumah ini. Setelah aku selesai menemani Sean pergi ke acara Keluarga Wilson, aku akan menceraikan Sean.” Hati Kate terenyuh mendengar apa yang baru saja dikatakan Maria padanya. Bagaimana bisa Tuan Mudanya menyakiti hati seorang wanita yang begitu lembut? Bahkan wanita itu tampak tak memiliki daya untuk melawan Tuan Mudanya. Tiba-tiba pintu mansion dibuka dengan kasar, Sean baru saja tiba. Kedua matanya menatap nyalang ke arah Maria. Dia berjalan mendekati Maria, lalu dengan cepat satu tangannya mencengkram lengan kurus Maria, dia menarik Maria dengan kasar lalu berkata, “Ikut aku!” “S-Sean! Lepas!” “Ikut aku ke kamar!” Sean menarik Maria semakin kasar untuk mengikutinya naik ke lantai dua, di mana kamar Sean berada. Entah apa yang membuat Sean begitu berang padanya sehingga menarik Maria seperti menarik sebuah benda mati tanpa perasaan sedikit pun. “Lepaskan aku, Sean!” teriak Maria. “Melepaskanmu? Apa kau berhak memakiku?” tanya Sean berang dengan tingkah laku Maria yang menurutnya mulai berani membentaknya. “Kau dan aku, sebentar lagi—“ Sean mencium Maria dengan kasar, membuat Maria berusaha meronta. Meski dia mencintai pria yang saat ini tengah memaksa untuk menciumnya, tapi bukan seperti ini, dengan pemaksaan. Kedua mata Sean menyalang, satu tangannya menarik rambut Maria dengan kasar, hingga leher wanita itu terasa sakit. “Kau dan aku, apa?” tanya Sean seraya menggertakkan gigi-giginya. “Katakan!” bentak Sean dengan suara keras. “Kita akan bercerai, sesuai yang kau inginkan!” teriak Maria membalas Sean. Dia benar-benar sudah tak tahan. Mencintai Sean selama tiga tahun, bahkan bersedia merendahkan harga diri serendah-rendahnya, tapi apa yang didapatnya? Sean kembali mencium bibir Maria dengan kasar, membuat Maria merasa sesak, kedua matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit di dalam hati. Maria menggigit lidah Sean yang memaksa masuk ke dalam mulutnya. Bukannya merasa berang dengan apa yang dilakukan Maria barusan, Sean melepas pagutannya pada bibir Maria, lalu mengusap darah yang mengalir di bibirnya. Maria menggigit lidah Sean kencang hingga berdarah. “Kau menginginkan perceraian itu?” tanya Sean diiringi seringai tajam dari wajah tampannya. Noda darah di bibirnya membuat sosok Sean menjadi sangat menakutkan. d**a Maria bergerak naik turun berusaha menahan emosi akibat perbuatan Sean barusan. “Kau ... yang menginginkannya. Karena aku mencintaimu, maka aku mengabulkan permintaanmu, Sean Davis!” Tangan Sean kembali meraih rambut panjang Maria, dan menariknya lebih keras dari sebelumnya, lalu menyeret Maria, dan mengempaskannya di atas kasur. Sean terlihat seperti iblis di mata Maria saat ini. “Kau kira, setelah kau bercerai dariku, aku memperbolehkanmu pergi dari sisiku? Kau harus tetap bersamaku sampai aku sendiri yang meminta enyah dari hidupku!” Maria beringsut dari tempat tidur, menjauhkan diri dari Sean ke sudut ranjang. Kedua matanya tertutup embun yang mengumpul di pelupuk mata. “Aku ... tak akan mau hidup bersama denganmu lagi. Kau sudah sepakat setelah malam ini, kau dan aku akan bercerai.” “Tidak, aku tak akan mengabulkannya!” Sean bergerak maju dan naik ke atas tempat tidur, wajahnya benar-benar membuat Maria ketakutan. Maria mendekap tubuhnya, kakinya bergerak menendang-nendang ke arah Sean, mengusir agar suaminya menjauh. Tapi Sean terus bergerak, tangannya menarik kaki Maria, lalu Sean menarik kasar rok yang dikenakan Maria. “Sean .....” “Hm?” Sean berlaku bagai kesetanan, dia berhasil mengoyak rok yang dipakai Maria, lalu beralih pada blouse yang dikenakan Maria, dan menariknya lebih kasar dari sebelumnya, membuat kulit halus dan putih milik Maria menjadi merah. Berkali-kali Maria menelan ludah, berusaha untuk mencari cara menghentikan kegilaan Sean padanya. “Kau gila!” maki Maria. Sean tetap tak peduli. Tubuh Sean bergerak naik ke atas tubuh Maria, merasa blouse yang dikenakan Maria masih tetap utuh, dengan kedua tangannya dia mencengkram bagian leher blouse tersebut, dengan sekali sentak, terdengar suara sobekan yang membuat kedua mata Maria terbelalak. “Jadi ... kau membutuhkanku di sisimu, untuk kau sakiti?” Sean menunduk, lalu mendekatkan wajahnya, dan berbisik, “Aku akan membuat agar tak ada pria yang mau denganmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD