Nat tidak menyangka kalau Ramon akan mendaratkan kecupan di keningnya. Pria itu mencium sesukanya dan meninggalkannya begitu saja. Ya, selepas Nat ternganga karena kecupan di keningnya, Ramon pergi meninggalkannya dengan meninggalkan senyuman yang—manis, memikat dan menggoda. Lesung pipit yang dalam milik pria itu menyihir Nat.
“Astaga...” setelah sadar dari kecupan lembut itu, Nat menyadari bahwa mienya melar. Dia terlalu lama mengabaikan mie. “Ini gara-gara Ramon, kalau aja dia nggak nyium kening aku. Mienya nggak akan melar begini.”
Nat muncul dengan semangkuk mie instan. Ramon tampak santai-santai saja seperti dia tidak melakukan apa-apa pada Nat. cleo masih menangis. menyesali betapa jahatnya dia pada Nat. Entah dia benar-benar menangis sedih atau hanya karena hatinya sedang dirundung kemelankolisan aneh karena Nat akan dipersunting pria kaya.
“Cleo kenapa?” tanya Nat bingung, menatap Cleo lalu Alpha dan Ramon.
Alpha mengangkat bahu disusul Ramon.
Nat meletakkan mangkuk mie yang mengeluarkan uap, menatap Cleo dengan khawatir. “Cleo, kamu kenapa?” Nat bertanya sambil membelai lembut bahu Cleo.
Tangisnya tidak mereda. Dia malah semakin mraung-raung. “Nat, ma’afin aku. Aku suka ngilang kalau kamu butuh. Sebenarnya bukan karena aku nggak mau bantu kamu, tapi aku juga nggak punya uang.” katanya seraya memeluk Nat.
Alpha dan Ramon cekikikan karena Cleo benar-benar tampak melucu. Nat memasang ekspresi polos, pasrah dan kasihan pada Cleo dibandingkan mengkasiani dirinya sendiri.
“Ya, nggak papa, Cle. Aku sudah maklum kalau kamu kaya gitu.”
***
“Kamu sudah siap kan ketemu orang tua aku, adik dan kakek?” tanya Ramon saat mereka berdua di dalam mobil untuk mengantar Nat pulang.
Ya, mau nggak mau aku harus siap karena kamu udah baik banget ke aku. Aku nggak bisa ngecewain orang yang udah nolong aku.
Nat menatap Ramon dengan tatapan yang seakan ingin membantu Ramon. Akhirnya, Nat memilih mengangguk. “Aku siap,” ujarnya, meski dalam hati dia merasa sangat inferior. Siapalah dia dibandingkan dengan keluarga Ramon.
“Kamu belum tahu satu rahasia aku, Nat.” Ramon menatap sekilas Nat.
Dahi Nat mengernyit. “Rahasia apa?” tanyanya pura-pura. Nat yakin kalau Ramon akan cerita bahwa dia mencintai adik iparnya. Nat agak lupa nama adik ipar Ramon itu.
“Aku pernah menikah, Nat.”
Nat tercengang. Rahangnya terbuka. Dia agak terkejut mendengar pengakuan jujur Ramon. Dia berkata seakan Nat adalah kekasihnya dan dia akan menikah dengan Nat. “Kamu pernah menikah?” tanya Nat dengan nada hati-hati, takut kalau Ramon hanya bercanda atau dia salah mendengar pernyataan Ramon.
“Ya.” Ramon mengangguk. “Aku berpisah dengannya.” Lanjutnya.
Nat tidak tahu virus apa yang menyebar di atmosfer antara mereka hingga dia merasa tegang dan berada dalam keseriusan yang ganjil. Ternyata Ramon pernah menikah. Apakah dia punya anak? Punya anak berapa? Itu berarti Nat akan menjadi ibu tiri untuk anak-anak Ramon. Nat tak pernah siap berurusan dengan anak-anak.
“Aku nggak bisa cerita banyak, Nat. Yang jelas aku pernah menikah.”
“Kamu punya anak berapa?”
Refleks, Ramon menoleh pada Nat. “Anak?”
“Ya, kan kamu bilang pernah menikah.”
Ramon menggeleng dan tersenyum ironi. “Aku belum punya anak.”
Nat menarik napas lega. Menghadap keluarga Ramon saja dia seperti akan naik pesawat perang apalagi kalau harus menghadapi anak-anak Ramon. Nat tidak bisa menghadapi anak-anak. Dia tidak ingin membohongi anak-anak.
“Kenapa?” tanya Ramon, melirik ke arah Nat.
Nat menggeleng. “Aku nggak bisa bohong sama anak-anak.”
“Anak-anak mudah dibohongi, Nat. Beda sama orang dewasa.”
“Sewaktu aku kecil, aku sering dibohongi ayahku. Aku nggak ingin ada anak kecil yang mendapat kebohongan.” Ujar Nat membayangkan kembali masa kecilnya. Air matanya merebak. Dia ingat banyak hal tentang kebohongan yang dilakukan ayahnya. Ayahnya tidak pernah membelikannya tas baru saat sekolah padahal ayahnya sering bilang bahwa dia akan membelikan Nat tas baru, sepatu baru, baju baru, mainan. Sayang, ayahnya pembohong. Nat mendapatkan tas baru dari saudara-saudaranya. Itu pun bukan baru. Pernah dipakai saudaranya.
“Hei, Nat, kamu kenapa?” menyadari mata Nat yang basah, Ramon meminggirkan mobilnya.
“Kenapa berhenti?” tanya Nat seraya menghapus air matanya yang mulai jatuh.
“Kamu nangis? Kenapa?” Ramon menatap Nat dengan tatapan tidak tega. Dia tidak suka melihat wanita menangis di depannya.
“Nggak papa.” Ujar Nat. Menggeleng.
“Nggak papa, tapi nangis begitu.” Ramon merasa serba salah. Tadi dia ngomong apa sih Nat sampai nangis begitu. Apa gara-gara dia bilang dia pernah menikah?
“Kamu nggak akan ngerti.” Kata Nat ketus tanpa menatap Ramon.
“Yaiyalah nggak ngerti, kamu kan belum cerita.”
Nat menatap Ramon. Kali ini air matanya jatuh tanpa bisa dikendalikan. “Kamu nggak akan ngerti gimana rasanya hidup serba kekurangan, Ramon.”
Ramon tidak tahu harus bagaimana dan bersikap apa. Tapi dia tahu Nat tampak begitu sedih. Kesedihan mendalam. Dan ini berkaitan dengan kehidupan ekonominya. Ya, Ramon tidak pernah tahu bagaimana rasanya hidup serba kekurangan karena dari kecil dia terbiasa mendapatkan semua yang diinginkannya.
Ramon menarik napas dalam. Dia menarik lembut rambut hitam Nat ke belakang telinga. Dia menatap mata merah Nat. “Aku emang nggak pernah tahu rasanya hidup kekurangan Nat. Tapi, aku nggak paham kenapa kamu tiba-tiba jadi sensitif begini.”
“Aku benci ayah.” Kata Nat dengan nada yang dalam. Semua cerita masa kecilnya yang buruk berlompatan di benaknya.
Ramon tidak tahu harus bagaimana. Tapi dia tahu bahwa Nat butuh sesuatu. semacam pelukan. Dia tidak berpikir apakah Nat akan menolak pelukannya. Dia hanya bisa melakukan apa yang memang seharusnya. Ramon menarik tubuh Nat dalam pelukannya. Nat tidak menolak. Dan tangisnya pecah dipelukan Ramon.
Nat terus bergumam kalau dia membenci ayahnya. Tapi, jauh di kedalaman hati Nat, dia tidak sanggup membenci ayahnya meskipun ayahnya hendak memberikannya pada Tristan. Karena ayah adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki di dunia ini. saudara-saudaranya selalu memandangnya sebelah mata. Ayah, Alpha dan Cleo. Dan sekarang ada Ramon.
“Keluargaku akan menyayangimu seperti menyayangi putrinya sendiri, Nat. percayalah, mereka selalu suka dengan anak perempuan.” Ramon teringat Lanna. Dia ingat betapa keluarganya menyayangi Lanna yang notabene hanya sekeretaris David. Dan betapa kakek sangat menyayangi Lanna melebihi cucu kandungnya sendiri.
Ramon yakin bahwa Nat akan mendapat perlakuan yang sama seperti perlakuan yang diterima Lanna dari keluarganya.
Nat melepas pelukan Ramon. “Ma’af,” dia menghapus air matanya.
Suasana berubah canggung.
“Ayo kita pulang.” Kata Nat yang mendadak merasa gugup untuk menatap Ramon.
“Ya,” kata Ramon. “Pelukan ini harganya seratus dollar ya.”
Nat mengernyit. “Seratus dollar?”
“Ya, ini jasa peluk.” Ramon nyengir.
Nat menyikut Ramon. “Aku nggak akan bayar.”
“Nggak papa, bayarnya nanti aja kalau kamu udah jadi istri aku.” Ramon kembali nyengir dan Nat tidak bisa menahan bibirnya agar tidak membentuk kurva senyuman.
***