BAB Sembilan

1166 Words
        “Kamu nggak bisa menikahi wanita itu gitu aja, Ramon.” Mamah tampak terkejut akan pernyataan Ramon untuk menikahi Nat.             “Tapi, Kakek sudah setuju, Mah.” Ramon mencari pembelaan kakeknya dengan menatap kakek.             Kakek mengangguk. “Betul.”             “Iya, tapi, bagaimana dengan keluarganya? Sebelum kamu benar-benar ingin menikahi seorang wanita setidaknya kamu harus tahu semuanya sebelum nanti menyesal.” Kali ini papah yang berkata. Papah sebenarnya penganut kebebasan dan tidak mempermasalhkan putranya akan menikah dengan siapa. Seperti David tapi tentu saja kalau Ramon sudah berbeda dan harus lebih selektif lagi. Mengingat dia sudah pernah menikah dan gagal. Apalagi soal foto v****r yang tersebar itu.             Sedangkan David dan Lanna memilih diam. Lanna tidak punya andil apa pun untuk ikut mnegomentari keinginan Ramon menikah. Itu haknya. Bukankah itu bagus setidaknya Lanna tidak akan merasa canggung lagi bila bersama Ramon.             Ramon jadi merasa serba salah. Nat sudah dibawa ke Indonesia dan orang tuanya bersikap seperti ini. Masa Nat harus pulang ke Singapura lagi? Lagian Ramon sudah yakin menikah dengan Nat dan berharap tidak ada kecanggungan antara dirinya dan Lanna. Setelah semua yang dilakukannya untuk Nat dan setelah apa yang dilakukan Nat padanya.             “Nat hamil.” Ramon menunduk untuk menghindari tatapan orang tuanya.             Semua mata membelalak menatap Ramon termasuk Lanna dan David. Mamah tidak bisa berkata-kata lagi.             “Kamu serius?” tanya Papah yang lebih tenang.             Kakek memilih menikmati kue buatan Lanna sambil menatap Ramon yang menunduk malu.             Dusta apa lagi ini?             “Iya, Pah.” Ramon mendongak menatap papahnya. “Itu sebabnya Ramon mau menikahi Nat.”             “Mamah ingin ke toilet.” Mamah bangkit dengan perasaan tak keruan. Dia mendadak pusing. Meskipun mamah hanya mamah tiri Ramon, tapi dia sangat menyayangi Ramon. Dan kecerobohan Ramon membuatnya kecewa.             “Kamu ini sudah dewasa, Ramon. Kenapa bisa seceroboh itu sih?” gerutu Papah menyusul mamah.             Ramon menarik napas panjang mencoba memperbaiki suasana hatinya. Dengan berbohong seperti itu dia telah mengecewakan orang tuanya.             “Bawa saja wanita itu ke sini, Mon.” Ujar kakek santai. Sejauh ini kakek yang paling santai menanngapi Ramon dan berita hebohnya. Kakek tidak ingin sakitnya kambuh dan lagi dia setuju-setuju saja Ramon menikah. Kakek tahu kalau Ramon masih memiliki perasaan pada Lanna dan sebab itulah kakek terus mendesaknya menikah.             “Ramon takut papah dan mamah nyuekin Nat, Kek.” Kata Ramon tanpa menutupi kecemasannya.             “Biar Kakek yang atur.” Kakek mengedipkan sebelah mata pada Ramon. Ramon tersenyum kecil.             Tatapan Ramon beralih ke David yang menatapnya tanpa mau berkomentar. Dia takut komentarnya dapat menyinggung Kakek. Lalu ke Lanna yang tersenyum dan mengagguk kecil seakan merestui hubungan Ramon dan Nat. Di mata Ramon, Lanna semakin kalem dan lembut. Wajahnya memancarkan sikap keibuan. Apakah itu karena hormon hamil? ***             “Parah!” seru David seraya memberikan minuman kaleng ke kakaknya.             “Apanya yang parah?” tanya Ramon sok polos.             “Bisa hamil begitu ya.” David tersenyum sinis. Dia tidak percaya akan ucapan kakaknya karena David tahu betul bagaimana karakter kakaknya. Ramon tidak sebodoh itu. “Apa cewek itu yang minta Kak Ramon buat bilang kaya gitu ke mamah dan papah.” Ramon menoleh tajam.             “Nggaklah. Emang Nat hamil. Aku teledor, Vid. Ya, namanya orang lagi mabuk.” Kebohongan Ramon mudah sekali dideteksi David.             “Biasanya sesama cewek bisa tahu apa Nat cewek baik atau nggak. Nanti aku suruh Lanna biar bisa akrab sama Nat.”             “Nat cewek baik kok, Vid. Nggak usah parno gitu deh.”             “Dulu juga, Kak Ramon bilang Tiara cewek baik.” David berhasil membuat Ramon bungkam.             “Tapi, Nat berbeda dari Tiara, Vid.” Ujar Ramon dalam hati. Dia tidak ingin membuat David berprasangka bahwa dirinya terlalu mudah dibodohi wanita. ***             Nat mengenakan dress terusan motif garis-garis berwarna cokelat yang dibeli dengan kartu kredit Ramon. Malam ini dia akan bertemu dengan keluarga Ramon. Dia menatap wajahnya di cermin. Rambut hitam panjangnya dicurly. Riasan natural yang manis membuatnya tampak secantik salah satu aktris mandarin.             Nat tidak sepenuhnya yakin diterima keluarga Ramon, tapi toh, ini hanya semacam permainan yang dimulai dari dirinya sendiri. Beruntunglah pria yang dijebaknya adalah pria baik bayangkan kalau pria yang djebaknya adalah pria semacam Tristan.             Nat tersenyum miris pada dirinya sendiri. Alangkah beruntungnya dia kalau Ramon memang mencintainya dan dia pun mencintai Ramon. Dan khayalan romantis itu menari-nari di benaknya. Nat menggeleng cepat, mencoba memusnahkan apa yang seharusnya tidak dia khayalkan. Kebaikan Ramon hanyalah semacam rasa kasihan padanya. Dia yang terlunta-lunta, berhutang pada mantan kekaishnya yang berengsek.             “Cukup, Nat. Cukup.” Nat berkata pada dirinya sendiri seakan berusaha untuk menguatkan diri.             “Aku bersyukur dan bahagia meskipun hidupku penuh dengan drama penderitaan. Aku punya Alpha dan aku punya Cleo. Dan—“ Nat menelan ludah. “Ayah.”             Dia masih menatap dirinya di cermin.             Sebuah ketukan membuat Nat terkesiap. Itu pasti Ramon.             Dia membuka pintu kamar hotel dan pria berlesung pipit itu sedang berdiri dengan sebelah tangan terbenam di saku celananya. Sekilas Ramon terpesona dengan Nat yang mirip salah satu aktris mandarin favoritnya saat dia kecil dulu. Cantik dan elegan. Dress branded itu membuat Nat benar-benar tampil seperti wanita kelas atas tanpa riasan yang berlebihan.             “Ayo!” ujar Nat tanpa basa-basi.             “Ayo kemana?” dahi Ramon mengernyit.             “Ke rumah orang tuamu. Kamu bilang ntar malam kita ke rumah orang tuamu.” Nat keheranan. Ramon amnesia atau bagaimana sih?             “Nggak jadi.” Ramon melenggang masuk kamar.             “Lho...” Nat semakin terheran-heran.             Ramon merebahkan tubuhnya di atas kasur.             “Gimana sih?” gerutu Nat sebal. Dia sudah mengenakan dress yang paling disukainya. Dia sudah make-up dengan hati-hati agar tidak terlihat berlebihan. Dia sudah siap dan Ramon dengan seenaknya bilang “nggak jadi”.             “Tapi... bercanda.” Dia tertawa kecil.             Nyari saja Nat mencari benda tajam semacam carter di tasnya untuk menusuk bibir pria itu. Saking kesalnya.             Ramon duduk dan menatap Nat dengan tatapan sedikit gelisah. Tapi dia berusaha menutupi kegelisahan itu. “Kamu sudah siap, Nat?”             Nat mengangguk.             “Di keluargaku itu ada Kakek, Mamah dan Papah. David dan Lanna. David adalah adikku dan Lanna istrinya.”             Lanna. Wanita yang dicintaimu itu? Gumam Nat dalam hati.             Nat mengangguk.                                  “Kalau ada perkataan yang tidak mengenakkan dari kelurgaku jangan dimasukkan ke hati ya. Mereka hanya syok karena aku memutuskan menikah dengan wanita yang foto vulgarnya tersebar. Ya, meskipun fotonya sama aku.” Sampai detik ini Ramon masih tidak tahu kalau Nat telah menjebaknya. Nat berniat jujur pada Ramon. Ini adalah saatnya agar pria itu tahu apa yang sebenarnya terjadi.             “Ramon, aku mau bilang sesuatu boleh?” kata Nat hati-hati.             “Bilang apa?” tanya Ramon cuek. Dia bangkit dan bersiap-siap.             Nat berpikir. Kalau dia bilang sekarang apakah tidak menghancurkan mood pria itu? Bisa saja setelah Ramon tahu kejahatan Nat, Ramon akan membenci Nat. karena merasa dia benar-benar dijebak, dibohongi, dan diperalat.             Nat menggeleng. “Nggak jadi.”             “Ya, lebih baik juga nggak usahlah nanya-nanya. Ayo!” Ramon menarik Nat keluar kamar seperti menarik tali tambang pada saat lomba tujuh belas agustusan hingga Nat merengek kesakitan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD