Di Balik Ruang Presdir yang Tertutup Rapat

1182 Words
"Maaf ya, Pak Bambang. Semalam saya lupa mau kasih kabar kalau harus menginap di Royal Ultima Tower!" ujar Celine di bangku belakang mobil sedan yang dikemudikan sopir pribadinya. Pak Bambang melirik kaca spion tengah dan tersenyum turut senang, majikannya yang lama menjanda sepertinya sekarang punya pacar baru. "Nggakpapa, Bu Celine. Mungkin sudah waktunya Den Diego dapat ayah baru!" sahutnya sembari fokus menyetir. Lalu lintas di jam berangkat kantor sangat padat dan beberapa kali mereka harus terjebak macet. Lidah Celine kelu, dia memang sudah berstatus istri orang saat ini. Hanya segalanya berada di balik layar, serba rahasia. "Ahh, Pak Bambang bisa aja! Tolong jangan cerita ke karyawan lain di rumah ya apa lagi sampai kedengaran Diego. Bocah itu soalnya rasa ingin tahunya tinggi," pesan Celine mewanti-wanti ke sopirnya. "Siap, Bu Celine. Aman pokoknya kalau menyimpan rahasia di tangan saya!" sahut sopir yang telah melayani keluarga Gerano puluhan tahun itu. Memang sejak menjanda, Celine tidak lagi menggunakan nama keluarga suaminya, dia lebih suka bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan menggunakan nama keluarga Wright, pendatang asal Negeri Kangguru. Mama papanya juga sudah meninggal beberapa tahun yang lalu di negara tanah air mereka dan dimakamkan di Perth. Sesampainya di rumah, Celine segera mencari putranya, "DIEGO ... DIEGO, kamu di mana, Baby?!" Akan tetapi, asisten rumah tangganya saja yang tergopoh-gopoh menghampirinya dan melapor, "Nyah, si Aden mah sudah berangkat ke kampus sejak pukul 07.00 karena ada kuliah pagi katanya tadi!" "Ohh, gitu Bik Rumi. Ya sudah nanti sore aja deh. Saya siap-siap ke kantor dulu!" ujar Celine lega. Maka Celine pun bergegas mandi dan berdandan cepat sebelum berangkat kerja. Dia memilih sarapan sandwich yang bisa dimakan di perjalanan ke kantornya. Sekalipun terlambat masuk kerja lagi, tetapi Celine bisa membusungkan d**a ketika tiba di kantornya disambut oleh Silvia. "Selamat pagi jelang siang. Jadi gimana perpanjangan kontrak suplai kita ke Grup Goldstone International, Bu Celine?" ujar sekretaris kepercayaan Celine tersebut di dalam ruang presdir. "Pagi, Sil. Nih map yang kamu titipin kemarin sore!" Celine tersenyum bangga sembari menyodorkan dokumen maha penting itu ke sekretarisnya. Setelah memeriksa tanda tangan Ares Conrad Holmes yang tergores tinta dengan jelas di semua tempat klien mereka, Silvia pun berkata memuji, "Good job, memang Bu Celine paling bisa diandalkan!" "Dia baik lho, katanya mau bantu lobi ke teman-temannya yang juga owner club-club exclusive gitu, Sil. Aku minta print daftar semua klien perusahaan kita ya yang selama ini berlangganan produk minuman beralkohol dan juga zero alkohol!" titah Celine dengan jelas. Dia ada janji bertemu Ares untuk makan siang. Kemudian dia berpesan lagi, "Nanti sebelum jam dua belas pesenin bento box buat dua orang, kami mau meeting di sini!" "Wah, pake ajian apa tuh? Hebat bener Mister Ares bisa sampai nurut gitu sama Bu Celine!" Silvia berdecak kagum, pasalnya dia sulit sekali membuat janji dan berbicara dengan CEO jaringan night club Grup Goldstone International. Celine pun terkikik geli lalu menjawab asal-asalan, "Ajian Jaran Goyang tuh, mau kuajarin kamu, Sil?" "Ahh si Ibu, becanda mulu! Oke, saya pamit buat kerjain tugas-tugas yang tadi deh. Permisi!" ujar Silvia lalu bergegas meninggalkan kantor Celine dengan map penting di tangannya. Sedari pagi Celine membaca email klien dan berbagai pihak lainnya yang segera dia balas agar tidak terjeda lama responnya mewakili Stardust Liquor Company. Dia memang belajar bisnis dari mendiang suaminya semenjak usia pertengahan dua puluhan dulu. Tidak terlalu handal, tetapi nasib ratusan karyawannya bergantung kepada setiap keputusan Celine selama ini. Tak terasa waktu bergulir dari pagi hingga menjelang istirahat makan siang. Ketokan di pintu luar ruangannya membuat Celine mengangkat wajahnya di balik laptop. Silvia masuk membawa bungkusan berisi dua kotak bento dan dokumen print out data klien perusahaan, pesanan Celine tadi. Namun, dia tak sendirian. Ada sesosok pemuda dalam balutan setelan jas hitam yang melangkah masuk dengan gagah di belakangnya. "Sekalian antar pesanan Bu Celine juga nganter Mister Ares ke mari, Bu!" ujar Silvia tersenyum simpul sebelum dia bergegas keluar meninggalkan dua CEO tersebut. Ares menunggu hingga pintu tertutup rapat lalu menguncinya dari dalam sekaligus menutup tirai kaca jendela ruangan presdir. Di balik meja, Celine terbengong-bengong melihat tindakan tamunya itu. Rasa cemas menyelinap masuk ke hatinya, dia menatap Ares yang melenggang santai menghampiri dengan tatapan ganas ala predator berbahaya. "Ehh ... Res, kok ditutup semua begitu sih?" cicit Celine ketakutan akan diterkam suami berondongnya itu di dalam sangkar yang tak bercelah. Kemudian Ares mencondongkan badan sembari mengungkung istrinya di kursi bersandaran tinggi dengan kedua lengan kekarnya. "Aku merindukanmu, Sayang!" ucapnya menatap ke dalam sepasang mata bermanik biru itu. Aroma menthol yang kuat tercium oleh hidung Celine, sepertinya Ares mengisap vape dengan aroma tersebut tadi saat bekerja. Bibirnya segera tertawan dalam pagutan posesif pemuda itu tanpa daya. Sekali lagi dia menyerah dalam d******i suami barunya dan menjadi bulan-bulanan sentuhan Ares di titik-titik sensitifnya. "Honey, aku mau kamu sekarang!" ujar Ares tegas dengan tatapan mata berkabut gairah. "Sekarang?" cicit Celine panik. Dia menatap ke arah pintu keluar kantornya. Ares tak menerima protes, dia akan memberikan apa yang Celine minta nanti seusai istrinya menuntaskan hasrat liarnya siang ini. Tubuh ramping Celine terangkat dari kursinya dan dibawa dalam gendongan Ares ke sofa. "Kamu yang di atas biar baju kita nggak kusut!" ujar Ares seraya mengerling nakal. Sulit bagi Celine menolak kehendak suaminya, dia butuh Ares untuk memberi rekomendasi perusahaan ke teman-teman pemuda itu. Dengan penuh pengabdian, dia membuka gesper sabuk Ares lalu memelorotkan celana kain hingga teronggok di lantai. "Good Wife! Biarkan aku yang membuka celana dalammu, Cantik!" sergah Ares saat Celine menaikkan tepi bawah gaun selututnya yang bermotif batik. "Oya, sepertinya aku berubah pikiran. Kamu buka semua saja gaun itu biar nggak kusut nanti. Lagian aku ingin menyusu!" ujar Ares seenak jidatnya. "Ohh Gosh. Ares, kamu maniak!" seru Celine berkacak pinggang enggan membuka pakaiannya. "Suamimu maniak gila, Celine. Terimalah kenyataan!" sahut Ares terkekeh geli melihat kekesalan wanita itu yang baginya khas. Dia menarik tangan Celine hingga limbung lalu roboh menimpanya. "Buka sendiri atau kusobek-sobek kain penutup tubuhmu!" ancam Ares. Dengan mata berkaca-kaca Celine terpaksa bangkit berdiri lagi lalu dia membuka gaun batik selutut tanpa lengan itu hingga kulitnya kedinginan diterpa AC ruangan 17° Celcius. Ares membelai-belai jagoan tangguhnya yang telah siap bertarung hingga akhir. Dia bertitah, "Naik ke pangkuanku!" Perlahan pedang panjangnya menusuk tepat sasaran dan tersedot dalam gelombang kenikmatan tak bertepi. "You're special crafted only for me, Celine!" geram Ares di tepi telinga istrinya. Sulit bagi Celine menjaga pikiran tetap lurus, dia takluk dalam tawanan tuan, sang pemilik jiwa raganya sekarang. Tanpa disuruh oleh Ares, dia mulai menggerakkan badannya naik turun di atas pemuda itu. Ares menatap wajah merona yang terbakar gairah di hadapannya. Dia telah jatuh cinta, terjerat dalam pesona janda beranak satu itu. "Stop, aku ingin ini!" Ares menyapukan lidahnya perlahan ke pucuk cokelat kemerahan bulatan kembar milik Celine lalu mengisapnya seperti bayi besar hingga wanita itu merintih dalam kenikmatan. Waktu bergulir tanpa terasa hingga jam istirahat karyawan berakhir. Ruangan CEO mereka tertutup rapat dengan suara janggal terdengar sayup-sayup dari dalam. Silvia yang paham siapa yang berada di dalam kantor bosnya pun menegur rekan-rekannya yang nampak menatap pintu ruang presdir dengan tampang kepo maksimal, "Woii, tolong ya kerja aja. Nggak perlu ikut campur yang bukan urusan kalian. Bubar ... bubar!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD