"Ares ... hey, Baby Boy kamu ngambek ya?!" seru Celine berusaha mengejar langkah lebar tungkai panjang suami barunya. Dia meringis salah tingkah ketika pemuda berondong itu membalik badan menghadapnya.
"Aku nggak suka diperlakukan nggak tulus. Apa lagi istriku sendiri yang berbuat begitu. Maybe we have some agreement about marriage, but ... please treat me tender and sweet. Got it?!" balas Ares dengan wajah muram. Dia harus memaksa wanita yang berusia matang itu tunduk kepadanya.
Celine melangkah menghampiri Ares lalu menempelkan tubuh langsing berlekuk feminin itu rapat-rapat ke badan kekar suaminya. "Maafkan aku, sepertinya memang masih sulit bagiku untuk beradaptasi dengan pernikahan kontrak ini. Rasanya seperti sebuah permainan bodoh!" ujarnya jujur.
"Bukan kamu yang berhak mengakhirinya, tetapi aku. Selama aku masih menginginkanmu menjadi istriku, jangan harap bisa kabur atau melepaskan diri. Terkadang aku memilih bersikap kejam seperti menghancurkan bisnis orang yang tak kusukai. Jadi berhati-hatilah!" tutur Ares tegas.
Mulut Celine terperangah, dia merasa bulu romanya meremang ngeri. Sehebat itukah kekuasaan pemuda berparas imut-imut di hadapannya? Dia berjinjit lalu mengecup bibir Ares dengan lembut. Tentu saja suaminya merespon baik inisiatifnya untuk berdamai.
Ares batal menonton TV, dia meraup tubuh ringan itu ke gendongannya lalu membawa Celine ke ranjang. Hari telah beranjak menuju pagi, tetapi mereka belum sempat tidur. Dia tak ingin wanita kesayangannya jatuh sakit. "Kita tidur saja, pikirkan saja cara untuk menyenangkan hatiku besok pagi. Kau pasti ingin beristirahat, bukan?" ujarnya dengan tatapan mata yang lembut.
Celine berbaring memeluk Ares di bawah selimut. Pemuda itu melucuti kancing kemeja putih yang dia pinjamkan tadi kepada istrinya.
"Hey, kok dibuka sih?" protes Celine menepis tangan Ares. Suaminya menatap tajam dengan alis tertaut. Akhirnya Celine mengalah dilucuti sekali lagi dan tidur tanpa pakaian di dalam selimut. Badan kekar Ares yang membungkusnya dengan kehangatan.
'Nih berondong jago amat sih bikin aku nyaman. Gimana dong kalau aku keburu baper lantas dianya minta cerai?' batin Celine gelisah sambil menatap wajah rupawan yang telah memejamkan mata di hadapannya.
Ares tahu wanita itu belum tertidur dan sedang memandanginya, bahasa tubuh Celine masih tegang terjaga dalam dekapannya. Dia membiarkan saja tanpa menegur Celine. Tak lama kemudian napas wanita itu teratur dan dalam, dia terlelap.
Ketika hari berganti pagi, mentari menerangi penthouse Ares yang memiliki banyak dinding kaca. Celine menggeliat untuk merenggangkan tubuhnya yang kaku, dia terkesiap teringat bahwa kemungkinan besar Diego akan mencarinya yang tak pulang semalaman.
"Res ... Ares, bangun! Aku harus pulang ke rumah sekarang, ini sudah pagi. Anakku pasti mencari mamanya!" ujar Celine menepuk-nepuk pipi suami barunya.
"Hmm ... okay, mandi dulu sebentar lalu aku anterin pulang pake mobil ke rumahmu!" sahut Ares yang duduk di atas ranjang memandangi Celine yang tetap cantik sekalipun bangun tidur.
Celine menepuk jidatnya, dia teringat kemarin berpesan kepada Pak Bambang, sopir pribadinya untuk menunggu di parkiran gedung tempat tinggal Ares. Kasihan sekali kalau benar pria berumur itu menginap di parkiran dalam mobilnya.
"Nggak usah, sopirku nungguin di parkiran bawah, Res. Kita ketemu di kantor aja nanti kalau kamu ngajakin aku makan siang. Bye!" Celine beranjak bangkit dari tempat tidur yang berantakan itu lalu celingukan mencari pakaiannya yang berserakan di lantai.
Ares terkekeh melihat tingkah istrinya, dia gemas ingin menyeret lagi wanita itu ke atas ranjang. Sayangnya, mereka hanya akan berkelahi dari pada bercinta dalam kondisi damai. Dia lalu menghampiri Celine yang sedang merapikan gaunnya di depan cermin rias dalam walk in closet milik Ares.
Dengan dagu disandarkan ke bahu Celine, dia melingkarkan kedua lengannya ke sekeliling perut Celine lalu berkata dengan nada manja, "Nanti malam temeni aku bobo lagi ya, Istriku?"
"Nggak janji, aku takut Diego curiga kalau mamanya sering tidur di luar rumah. Putraku itu cerdas, sulit menyembunyikan rahasia darinya!" tolak Celine dengan hati-hati.
"Ckk ... alasan kamu aja!" tukas Ares. Dia melepaskan pelukannya dan beranjak meninggalkan Celine sendiri merapikan dandanannya di depan cermin rias.
Rasanya seperti punya bayi besar yang gampang merajuk. Celine menghela napas seusai memoles lipstik di bibirnya. Dia melangkah keluar dari walk in closet lalu mengambil tas tangan beserta map perjanjian perpanjangan kontrak suplier untuk night club jaringan Grup Goldstone International di meja sofa.
Pintu kamar mandi terdengar dibanting menutup di belakang punggung Celine. "Wah, Ares kayaknya bad mood gara-gara aku menolak tidur bersamanya malam nanti!" gumamnya lalu memutuskan bergegas keluar dari penthouse itu.
Pintu keluar satu-satunya tak dapat dibuka oleh Celine. Dia teringat perkataan pemuda itu semalam, sistem pengaturan penthouse hanya bisa dikendalikan oleh suara Ares saja. Terpaksa Celine melangkah cepat menuju depan pintu kamar mandi lalu menggedornya. "Ares, bukakan pintu depan untukku keluar!" teriaknya.
Sunyi.
Hanya suara siulan santai di sela-sela air shower yang mengalir deras. Nampaknya teriakan Celine sama sekali tak digubris oleh suami berondongnya itu.
"Ckk ... nyebelin banget sifatnya yang kekanak-kanakan itu. Katanya CEO, tapi nyatanya tantrum dan ngambekan!" Celine menepuk jidatnya lalu memeriksa jam tangan. Sepertinya hari ini dia akan telat ke kantor lagi.
"Ceklek." Suara kunci pintu kamar mandi dibuka dalam kondisi tertutup daun pintunya.
Celine pun menekan gagang pintu lalu membukanya. Dia melangkah masuk dan berkata lembut, "Hubby, aku mau pulang. Apa kamu bisa memerintahkan agar pintu depan terbuka untukku?"
"Bisa, syaratnya kasih aku B-J dulu!" jawab Ares ringan. Dia menyibakkan handuk putih yang meliliti pinggulnya.
Celine menutup matanya sekilas, reflek karena melihat perangkat keras Ares yang besar, panjang, dan tegang maksimal. Dia kembali membuka matanya lalu menghampiri Ares dan berlutut. Dengan patuh dia melakukan perintah suaminya.
"Good job. Coba kurangi marah-marah dan juteknya, Sayang. Aku pasti makin cinta!" ujar Ares sembari menatap kepala Celine maju mundur memanjakan jagoannya yang nampak mudah takluk kepada pawangnya.
Lipstik di bibir Celine belepotan dan mulutnya menampung semburan benih Ares. Dia menelannya karena takut kalau dibuang ke wastafel, Ares akan marah lagi.
Segera Ares membantu Celine berdiri. Dia mengambil tisu untuk merapikan lipstik yang overlap dari bibir istrinya. "Maaf, aku agak keterlaluan. Tapi cobalah untuk lebih menghargai suamimu juga lain kali, Sayang!" ujarnya lalu mengecup kening Celine.
Tanpa menjawab kasar, wanita itu mengangguk patuh. Dia tak berdaya menghadapi pemuda berondong tengil tersebut. "Aku mau pulang," ucapnya lirih.
"Tunggu aku berpakaian sebentar. Kita turun bersama saja, okay?" jawab Ares lalu bergegas masuk ke walk in closet untuk memilih pakaian kerjanya.
Tubuh atletis itu sempurna dalam setelan jas ala eksekutif muda. Dia mengenakan kaca mata hitam stylish lalu keluar mencari Celine yang duduk menunggu dengan tenang di sofa.
'Jinak banget, tumben!' batin Ares geli melihat istrinya begitu kalem. Dia lalu mengulurkan tangannya kepada Celine yang segera diraih. "Beri akses pintu keluar penthouse untukku lalu kunci kembali setelah aku pergi!" perintahnya ke sistem pengatur canggih.
Celine terkagum-kagum dengan kecanggihan teknologi hunian mewah itu, dia melangkah di samping Ares yang dia pegang lekuk lengannya. "Ares, aku pulang sendiri saja. Pak Bambang sudah menunggu di dekat pintu keluar lobi gedung!" ujarnya yang disetujui oleh pemuda tersebut.
"Suruh sopirmu berhati-hati. Sampai ketemu nanti siang, Cantik. I'm gonna miss you!" sahut Ares lalu mengecup pipi Celine.