Siasat Jitu Ares

1105 Words
Celine merasa lapar juga pada akhirnya dan berkata kepada Ares yang baru saja merebahkan badan kekarnya bersebelahan dengannya, "Aku lapar. Makanan di meja seperti masih oke buat dimakan lagi 'kan ya?" Tanpa merasa enggan, Ares bangun lalu duduk memandangi Celine. "Entah juga, yang jelas mana enak kalau dimakan kondisi sudah dingin terkena angin, hmm. Beneran kamu mau makan? Kupesankan lagi saja ke kitchen!" "Jangan, yang tadi aja deh. Dilihat dulu ya?" tolak Celine karena teringat betapa mereka menyia-nyiakan begitu banyak makanan. Awalnya dia tak napsu makan karena dipaksa menikah. Ares mengangguk lalu bergegas menuju walk-in-closet pribadinya untuk mengambil sebuah kemeja putih. Dia membuka kancing kemeja itu lalu memakaikannya ke tubuh telanjang Celine. "Biar nggak masuk angin ya, Sayang. Sekalipun nanti kubuka lagi di ranjang!" ujarnya bandel. "Dasar omes!" tukas Celine lalu membiarkan bahunya dirangkul oleh Ares seraya berjalan menuju ke meja makan. Di atas meja makan ada berbagai menu lezat tak tersentuh oleh mereka berdua tadi yang terlalu banyak. Celine pun berkata, "Jangan pesan menu baru, aku bisa makan yang ini saja!" "Okay, kau nampaknya penyuka mode hemat, baguslah!" komentar Ares lalu duduk di kursi samping Celine. Namun, dia melirik istrinya dan meminta, "Duduklah di pangkuanku, Celine. Aku akan menyuapimu!" Wanita itu mencebik, tapi segera mematuhi suaminya yang suka memerintah. Dia menaruh bokongnya di paha Ares. "Aku lapar, ayo suapin cepet, nggak pake lama!" tukasnya jutek. Seperti apa pun sikap galak yang ditunjukkan Celine, pemuda berondong itu tak memasukkan ke dalam hati. Dia mengambil seporsi kentang tumbuk dingin dan tumis daging dengan asparagus saus barbeque ke piring. Ares menyuapkan makanan ke mulut Celine yang membuka dengan patuh. "Masih enak kok. Kamu nggak makan juga?" ujar Celine santai sembari mengunyah makanannya. Ares menyendok makanan dengan sendok yang sama lalu mulai makan. "Lebih enak dari yang tadi karena bercampur air liurmu, Sayang!" Dia mengerlingkan matanya. Celine memutar bola matanya tanpa menjawab perkataan Ares. Dia disuapi lagi dengan menu lainnya, udang goreng oatmeal with mayo dipping. "Masih renyah deh, yummy!" komentar Celine tersenyum puas. "Iya, aku juga lebih suka pesan makan via room service dari pada pergi keluar dan menunggu antrean order dimasak!" sahut Ares setuju. Dia lalu menyuapi Celine dengan menu ayam, seafood, dan juga sayur hingga wanita itu memintanya berhenti saat perutnya telah penuh. Ares pun menurutinya, dia melingkarkan kedua lengannya di seputar pinggang ramping Celine. "Sayang, jangan langsung tidur ya. Tunggu sebentar, mau beer atau wine untuk teman nonton TV?" tawarnya. "Hmm ... memangnya kamu punya persediaan apa?" tanya balik Celine. Dia pengusaha minuman beralkohol berbagai jenis, sangat paham tentu saja. "Oops ... salah pilih lawan, kali ini!" Ares tertawa menyadari situasi tersebut. Dia lalu meminta Celine berdiri dari pangkuannya dan menggandeng wanita itu menuju mini bar di sudut ruangan penthousenya. Berbagai jenis botol dengan aneka merk ternama berjejer di rak display. Beberapa juga berada di dalam chiller agar tidak rusak. Celine bersiul kagum. "Boleh juga koleksi kamu, Res!" ucapnya sembari melempar senyum manis tanpa disadarinya. Pemuda berondong itu kelabakan terkena damage wanita cantik di hadapannya dengan telak. Ares berdehem lalu menjawab, "Kamu ternyata bukan cuma sekadar owner perusahaan miras, tapi juga penikmat ya?" "Iya. Baileys Irish Cream aja deh yang smooth, pake es batu ya!" pinta Celine sambil menunggu Ares mengambilkan minuman pesanannya di meja mini bar. Rupanya Ares sehandal bartender melayani customer, betapa tidak karena dia mewarisi bisnis night club keluarga Holmes. Menyajikan minuman adalah hal mudah baginya. Segelas Baileys Irish Cream yang dingin tersaji di hadapan Celine. "Sebenarnya kita pasangan yang cocok, apa kau tak menyadarinya, Wifey?" ujar Ares mendentingkan gelas mereka sebelum menyesap seteguk besar. "Masa sih?" Celine tersenyum dengan wajah tersipu malu, dia tak se-pede itu menganggap dirinya serasi disandingkan dengan berondong tampan dan tajir seperti Ares. Sayang sekali pemuda itu tak ingin menyebutkan usianya yang sebenarnya kepada Celine. Ares berujar, "Kau pemilik perusahaan suplier minuman beralkohol. Aku pemilik bisnis night club dan beach club. Apa kau paham maksudku?" "Hmm ... omonganmu ada benarnya! Tapi kita menikah sembunyi-sembunyi dari publik, selain itu hanya sementara karena berkontrak. Apa manfaatnya bagiku?" balas Celine mengendikkan bahu lalu mengibaskan rambut panjang kecoklatannya ke belakang. Pemuda itu menambah minuman ke gelas kosong Celine sembari menjawab, "Kau bisa memanfaatkan koneksi dariku untuk mendapatkan klien pemilik tempat hiburan dan club-club elite. Itu kalau kau mau, Sayang!" Otak bisnis Celine segera berputar cepat, dia senang sekali kalau sudah berbicara tentang uang dan profit. Senyum lebar terkembang di bibirnya. "Hubby, bantu aku ya buat dapetin klien baru? Besok kalau kamu ke kantor bisa kulihatin daftar klien perusahaanku, mungkin ada teman-temanmu yang bisa diprospek menjadi klien baru!" rayu Celine melunak. Tentu saja Ares mengamati perubahan sikap wanita pujaan hatinya yang tadinya kasar, galak, dan suka jual mahal itu. Dia terkekeh mengetahui siasatnya berhasil memancing target. "Apa yang nggak buat istriku yang cantik ini?!" Dia mencubit dagu runcing Celine lalu mengerucutkan bibir minta dicium. Celine menggigit bibir bawahnya seraya mundur menghindar, tetapi Ares bergeming dari posisinya, menunggu sebuah kecupan sebagai sogokan agar dia mau berbaik hati. "Kenapa tuh kok bibir kamu dimonyong-monyongin?" tanya Celine sok tidak paham. Dia mengulum senyuman geli menatap berondong gajes yang sebenarnya menggemaskan itu. "Ahh, di-php doang ternyata. Sudahlah males aku repot-repot bantuin kerjaan kamu!" tampik Ares bergaya ngambek. Dia bersedekap memundurkan badannya dari meja mini bar. Celine pun tak ingin menghilangkan peluang emasnya mendapat klien baru potensial untuk perusahaannya. Dia segera turun dari kursi tinggi dan memutari meja minibar untuk merangkul bahu suaminya. "Hubby Cayankku, ayo dong jangan ngambekan begini! Bantuin pekerjaanku ya?" rayu Celine. Dia menangkup pipi Ares agar menghadapnya. "Malesss ... tadi jual mahal, emang lo siapa?!" ujar Ares dengan gaya Jakarta. "Istri kamu 'kan?" jawab Celine tak mau kalah. Ares melanjutkan perdebatan mereka, "Ohh, istri? Berarti tahu dong tugas kamu tuh apa?" "Tahulah—" "Apa emang?" tukas Ares menaikkan dagunya. Celine pun menjawab dengan pipi merona, "Nyenengin suami 'kan?" "Ohh syukur dianya paham, kirain gue bakal dijadiin pajangan kayak patung Tugu Selamat Datang tuh mpe berlumut!" ujar Ares sengaja, dia lalu bertanya lagi, "cara kamu nyenengin suami gimana?" Pertanyaan itu membuat Celine menghela napas, dia nampaknya harus melayani hasrat suami berondongnya lagi agar project lancar. "Junior kamu kumanjain ya?" tawarnya. "Ohh, nggak nolak, Sayangku! Yuk mau di mana? Di sini apa di kasur?" sahut Ares antusias. Dia puas telah membuat wanita sombong itu bertekuk lutut kepadanya pada akhirnya. "Di kasur aja deh sekalian mau bobo, aku ngantuk!" jawab Celine ogah-ogahan. Ares yang awalnya bersemangat pun mendadak kecewa. Dia kehilangan binar tawa lalu bangkit berdiri dari kursi tinggi. "Kalau males nggak perlu dipaksain, ntar kasian si junior kena gasak gigi kamu malah jadi lecet!" tolak Ares, balas jual mahal lalu dia berjalan cepat menuju ke sofa meninggalkan Celine yang sontak panik mengejar suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD