Hello Mister Dominant Hubby

1023 Words
"Mmhh ... aakh!" racau Celine saat Ares menyatukan raga mereka di atas tempat tidur selama berjam-jam. "Hey, sudah dong!" protes Celine, mencubiti lengan kekar Ares yang memeluk perutnya dari arah belakang. Mereka masih bercinta hingga malam berganti pagi. Desahan dan geraman maskulin itu membuat bulu roma Celine meremang. Terlalu seram, ditambah AC di penthouse Ares dipasang di suhu paling rendah. "Nggak boleh nyuruh-nyuruh suami udahan ya. Bandel banget istriku ini!" omel Ares seraya menjewer daun telinga Celine dengan bibirnya. "Apaan sih?! Geli ... jangan begitu!" tukas Celine galak. Akan tetapi, suaminya hanya terkekeh menanggapi sikapnya yang bertemperamen panas. Namun, yang diomelin malah memagut lekuk leher mulus Celine hingga menyisakan sebuah bentukan merah membulat di situ. "Aku nggak takut dimarahin. Kamu 'kan istriku!" ujar Ares, dia masih meneruskan aktivitas panas mereka. Dia tahu wanita galak itu juga menikmati aksi kegagahannya jadi bohong kalau Celine bilang servisnya tidak enak. Setelah menuntaskan keinginannya atas tubuh Celine, dia membiarkan istrinya yang kelelahan beristirahat. "Sebenarnya benihku masih banyak lho. Jadi Ares dan Celine junior seratus biji kali kalau sel telur kamu banyak kayak ikan Salmon. HA-HA-HA!" canda Ares sembari matanya berkilat-kilat menatap Celine dengan seringai bandel. Kemudian Ares berbaring terkapar di sebelah wanita yang dia puja itu. Dia berkata, "Sayang, kita istirahat bentar ya? Kalau kamu masih mau lagi, nanti aku akan ladenin sampai puas!" Celine hanya terdiam, dia masih berpikir tentang banyak hal. Bagaimana dia menjelaskan pernikahan ini kepada Diego? Putranya itu cerdas, tak mungkin menerima kebohongannya bila setiap malam tidak pulang ke rumah. Sedangkan, bayi besar yang rebah di sisinya manja setengah mati melebihi putranya sendiri. Mana mau ditinggal tidur di rumah masing-masing? "Ares ... Ares ... ARES!" panggil Celine tak sabar. Pemuda itu terbangun gelagapan karena sempat terlelap sejenak tadi. Dia segera menopang kepalanya bertelekan telapak tangannya menatap Celine. "Ada apa, Sayang?" ucap Ares menahan kuap kantuknya. "Aku bingung gimana jelasin sama Diego tentang hubungan kita. Kalau kamu mau aku tidur setiap malam bersamamu, aku jelas nggak bisa!" jawab Celine jujur. Telapak tangan kanan Ares menyusuri bulatan empuk nan kenyal itu lalu mengusap pucuk cokelat kemerahan yang mengeras akibat tindakannya. "Ya bilang aja; Baby Boy kamu punya papa baru yang ganteng, namanya Ares Conrad Holmes. Mama mesti temenin dia bobo kalau malam biar nggak digigit nyamuk. Kelar!" jawab Ares dengan seringai bandel khas. "Aduh percuma nanya sama bocah berondong kayak kamu mah!" Celine mendengkus kesal lalu menepis tangan nakal Ares dan berbalik memunggungi wajah suami barunya itu. Karena gemas, Ares mendekap istri galaknya dan menyusupkan kembali pedang panjang miliknya ke sarung hidup yang berukuran pas itu seperti buatan Sang Pencipta untuk saling melengkapi satu sama lain. "Res, kamu ini napsuan banget. Mendingan tadi kamu tidur aja, diem!" Celine meronta-ronta didekap erat dari belakang dan juga dililit tungkai kakinya oleh Ares. "Sudah tahu suami kamu gampang h***y, digangguin. Tanggung jawab deh kamu sampai jagoanku lemes!" kelit Ares dengan tawa senang. Sekalipun awalnya ogah-ogahan lama kelamaan Celine menyukai permainan dominan suami berondongnya. Akan tetapi, dia diam saja, tak ingin Ares kegirangan jika mengetahuinya. Bibir Ares meninggalkan jejak kemerahan di leher mulus Celine. Dia senang bukti kepemilikannya atas wanita bengal itu diakui. Mereka memainkan gaya yang membuat tubuh keduanya menghangat dan berpeluh karena menempel serta menggesek satu sama lain. "Mendesahlah, jangan ditahan nanti jadi sakit malahan, Istriku!" bisik Ares bagaikan iblis penggoda di tepi telinga Celine yang merona. "Oughh ... akh!" lenguh Celine, dia tak tahan lagi dan kelepasan. Nyatanya memang seenak itu perlakuan Ares yang staminanya tahan lama. "Res, umur kamu berapa sih? Pelit cuma kasih tahu gitu aja pake ngeles-ngeles!" desak Celine karena dia sudah kelewat kepo. Ares pun membalas, "Kalau aku jawab kamu mau kasih aku apa? Blow job dong!" "Ohh Gosh, dasar cowok m***m!" tukas Celine. "Ya udah, kamu nggak usah tahu berapa usiaku sampai kiamat!" Ares memilih untuk menjuteki balik wanita itu biar kapok. Dia kebetulan sudah siap menyembur deras. Setelah tuntas perjuangannya, Ares bangkit dari tempat tidur lalu melenggang ke kamar mandi. Dia buang air kecil dan membasuh organ vital kebanggaannya sebagai kaum Adam. Tanpa disangka sepasang tangan ramping menyusup di sekeliling pinggangnya. "Ngapain nih? Tumben!" sindir Ares judes sekalipun sebaliknya dia tersenyum girang tanpa sepengetahuan Celine. "Maaf ya, aku galak terus sama kamu. Habisnya kamu juga nyebelin sih. Ini sudah dini hari masih dihajar mulu!" ujar Celine pelan. Suaminya yang berusia jauh lebih muda itu membalik badan tinggi kekarnya lalu menangkap dagu Celine. Ares menundukkan kepalanya menghampiri wajah cantik imut-imut tersebut. "CUP!" Lumatan bibir Ares tak main-main, selalu posesif seakan-akan dia pemilik jiwa raga Celine. Tak ada pria selain dia yang boleh menyentuh Celine sedikit pun. Spontan kedua lengan wanita matang itu terangkat melingkari leher kokoh Ares. Dia bergelanyut tak berdaya seiring ciuman nikmat itu menyesap mesra bibirnya dan bermain lidah bersamanya. Telapak tangan Ares meremas b****g Celine dan menekannya ke depan. Dia lalu berkata di tepi telinga istrinya, "Kamu tahu 'kan efek sentuhanmu di tubuhku? Nggak semua cewek bisa melakukannya semudah kamu. Jangan pikir aku masih muda lantas kurang pengalaman!" Wajah Celine merona, dia tertunduk. Akan tetapi, Ares menangkap dagunya lalu menatap lekat-lekat sepasang mata biru bak Cobalt itu. "Say you love me, Honey!" pintanya. "Uhm .... A—aku ... aaku!" Pemuda itu memberinya contoh, "Aku cinta kamu, Suamiku, Ares!" Celine menghirup oksigen banyak-banyak seiring helaan napas panjangnya. "Aku cinta kamu, Suamiku, Ares!" "Good Wife!" puji Ares mengapresiasi usaha Celine menyenangkan hatinya. Dia mendudukkan wanita itu di kloset lalu mengambil sprayer untuk membantu membersihkan sisa percintaan mereka tadi. "Aku akan merawat wanita yang kucintai, bukan hanya menggunakan tubuhnya demi kepuasanku. Setelah ini kita bobo, besok kamu kerja 'kan? Aku juga. Siang aku akan ajak kamu makan siang, jangan bikin janji sama klien, okay?!" tutur Ares bergaya bossy yang membuat Celine memutar bola matanya. Sepertinya selama Celine menjabat sebagai CEO perusahaan warisan mendiang suaminya, belum pernah ada yang menyuruh-nyuruhnya seperti Ares. Sulit baginya mengalah dan menundukkan ego di hadapan suami berondongnya. Namun, dia tetap saja menjawab, "Iya, Hubby." "Aku suka kamu versi nurut kayak kucing imut begini. Yeah ... sekalipun kalau kamu ngajakin battle juga sama serunya!" Ares mengendikkan bahunya acuh seraya menghanduki bagian pribadi Celine. "Done! Ayo bobo, Cayankku!" tukasnya lalu menggendong wanita kesayangannya kembali menuju ke tempat tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD