Malam Pertama Ares dan Celine

1142 Words
"Mau nanya apa, Istriku Tersayang?" jawab Ares mencoba menahan gejolak panas membara di tubuh bagian vitalnya. "Gimana kalau sambil kamu wawancara, aku buka baju kamu pelan-pelan ya?" bujuknya dengan tatapan mesra. Sebenarnya pemuda itu parasnya memiliki kadar kegantengan di atas rata-rata, Celine pun mengakui jujur dalam hatinya. Namun, cara pendekatan Ares terhadapnya terlalu brutal. Baru kenal sehari sudah main paksa menikahinya dengan ikatan kontrak. "Jelasin maksudnya istri kontrak itu hak dan kewajibannya apa aja?!" tanya Celine dengan judes. Ares yang sedang sibuk mendaratkan kecupan-kecupannya di kulit mulus seputih s**u di bawah kungkungannya pun menjawab, "Hak kamu sebagai istriku ... boleh minta apa saja, asal jangan minta nyawa atau 'burungku' dipancung aja. Kewajiban kamu sebagai Nyonya Ares Holmes adalah menyenangkan suami, termasuk menuruti semua keinginanku!" "Udah gitu aja?" sahut Celine yang membuat Ares memicingkan sepasang mata biru cemerlangnya membalas tatapan menantang istrinya. "Yeaah, kamu coba puaskan aku. Manjain juniorku lah. Ini perintah suamimu!" balas Ares gemas. Wanita bengal berusia matang itu wataknya keras sekali, mungkin karena dia CEO dan lama menjanda. "Okay, aku paham—" Ares memotong perkataan Celine dan ganti menginterogasinya dengan cecaran pertanyaan, "Paham apanya hmm? Paham caranya nyenengin suami, iya? Kan' sudah pengalaman! Anak kamu berapa? Cowok apa cewek sih?" "Ahh ... apaan sih? Mau tahu aja!" tukas Celine sengit. "Itu kewajiban kamu menjawab pertanyaan suami!" desak Ares pantang mundur. Dengan enggan Celine pun berkata, "Aku sudah punya seorang anak cowok seusia kamu mungkin, dia kuliah semester satu. Apa kamu nggak malu?" Ares tertegun sejenak mendengar jawaban Celine. Dia lalu tertawa renyah. "Malu? Ngapain? Hot mommy seperti kamu bikin aku b*******h kok, beneran!" balasnya di luar dugaan wanita itu. "Dasar!" desis Celine kesal. Gaun cantik yang membungkus tubuhnya terlucuti sempurna dan membuat Celine sangat malu. Dia dalam kondisi kesadaran penuh dan tidak minum alkohol seperti tadi malam. Siulan nakal dari Ares membuatnya makin sebal saja. "Yang tadi malam belum sempat lihat ya, perangkat perangku, Sayang?!" Ares bangkit dari ranjang dan mulai melepaskan seluruh baju dan celana hingga tak tersisa selembar benang pun di badan kekar berototnya. "Aaauw!" jerit Celine seram melihat junior milik Ares yang nampak berbahaya. Dia menutupi wajahnya dengan telapak tangan seraya berbaring memunggungi pemuda itu. Suara tawa Ares menggema di penthouse saking gelinya melihat respon Celine. Dia asli keturunan bule sekalipun pernah lama dibesarkan di Jakarta semasa SD. Dengan penuh tekad, Ares memanjat ke ranjang yang ditempati Celine lalu dia menarik bahu wanita itu. "Hey, jangan pengecut dong. Masa begini aja takut, Honey? Seingatku semalam kita pas banget, mana ada kamu nolak ... eheemm gitu aja!" goda Ares seraya membawa telapak tangan Celine menjamah bentukan panjang berurat yang mengeras itu. Kepalanya tertunduk mendekat ke tepi telinga Celine lalu berbisik, "Aku jablai sama kamu, ayo kita mulai, Istriku!" Seingat Celine, milik papanya Diego tak sebesar kepunyaan Ares. Dia jadi mendadak teringat senjata bazoka di film Sylvester Stalone semasa dia muda dahulu. Seram! "Ohh Gosh, aku nggak sanggup!" seru Celine berusaha kabur dari atas tempat tidur king size itu. Dia baru menurunkan sebelah kakinya dan buru-buru perutnya ditangkap oleh lengan kokoh Ares. Tubuh rampingnya segera dihempaskan lagi ke ranjang lalu ditindih badan pemuda berondong tersebut. "Kamu mau kabur ke mana, Cintaku? Penthouse ini hanya menuruti sensor suaraku saja. Mau coba buka pintu di depan sana?" ujar Ares seraya menaikkan sebelah alisnya dan menoleh ke pintu. Celine tak ingin terlihat bodoh dengan bergelanyut pada gagang pintu yang enggan terbuka. "Mau kamu apa sih?!" hardiknya kesal. "Malam pertama dong, kita 'kan sudah sah jadi suami istri. Kamu setuju tanda tangan tadi. I'm officially your hubby, Darling!" jawab Ares lalu melumat bibir Celine. Tak ada pilihan lain bagi Celine, dia membiarkan suami barunya yang berondong itu memasuki area terlarang miliknya. Suara terkesiap meluncur dari bibirnya yang terbuka. "Akhh ... penuh banget!" seru Celine lalu melemas dalam dekapan Ares. Ternyata berondong itu tidak kaleng-kaleng, begitu jantan dan sanggup membuatnya seakan melayang sampai ke surga dunia. Setiap hentakan pinggul Ares membuat Celine spontan memekik kecil. "Enak ya, Sayang? Mau berapa kali malam ini, hmm?" tanya Ares dengan sengaja. Dia sebenarnya suka foreplay yang perlahan serta lama, sayang sekali wanita taklukannya gemar kabur-kaburan dan terus menolak sentuhannya. Celine gengsi mengakui kenikmatan yang dia rasakan saat ini di tubuhnya. Dia nyaris tak sanggup menahan desahan yang sudah berada di ujung lidah. "Lepasin aja, Honey. Aku pengin dengar kamu, aahh gitu!" rayu Ares sambil mengerling genit. Dia ingin sekali membuat Celine menjadi binal seperti bidadari yang terbakar gairah. "Kamu nyebelin!" tukas Celine, dia membuang muka ke samping. Akan tetapi, tubuhnya tak bisa berbohong. Dia menginginkan hunjaman dalam bertenaga itu lagi dan lagi. Menit demi menit berlalu seakan tak berbatas, Ares masih belum menunjukkan kelemahannya sebagai seorang pejantan tangguh. Peluh mereka berdua bercucuran seakan tak bisa didinginkan AC penthouse. "Res, kamu nggak takut batang itu patah atau cedera?!" ujar Celine berharap ronde pertama yang panjang itu berakhir. Dia sudah mengalah sejak tadi, semuanya basah karena dia berair-air tak terhitung banyaknya. "Sabar, aku nyaris keluar ini! AARGH!" Ares menyemburkan benihnya begitu deras ke dalam rahim Celine. Celine yang telah lama tidak menggunakan alat kontrasepsi jenis apa pun membulatkan kedua bola mata bermanik birunya. "Aku nggak ingin punya anak lagi, besok aku ingin meminta obat ke dokter agar tidak terjadi kehamilan!" tuturnya kepada Ares. "Nggak bisa begitu, kamu tadi baca surat perjanjian kita nggak sih?" debat Ares serius kali ini. Dia ingin wanita itu melahirkan anaknya sekalipun harus sembunyi-sembunyi dari keluarga mereka. "Aku nggak mau! Mana ada sih isi suratnya begitu tadi? Aku nggak ada baca kalimat yang menyatakan tentang kehamilan dan memiliki anak, Ares!" protes Celine keras kepala. Ares mencabut batang beruratnya yang sama sekali tidak melemas usai peperangan begitu lama. Dia tanpa malu melenggang tanpa busana menuju meja sofa untuk mengambil map perjanjian nikah kontrak mereka. Dia mencari kalimat yang seharusnya ada di dalam surat, sesuai pesan khusus darinya untuk dibuat notaris kepercayaannya. Akhirnya ketemu juga, dia tersenyum puas dan membacakan kalimat itu untuk istrinya, "Apabila selama pernikahan terjadi peristiwa kehamilan dari benih Tuan Ares Conrad Holmes, maka Nyonya Celine Annastacia Wright harus memelihara janin hingga dilahirkan dengan selamat. Putra atau putri mereka akan mendapat nama keluarga Holmes di bagian belakang namanya!" Mata Celine membulat terkejut, dia memang belum menopause. Akan tetapi, untuk menjadi seorang ibu di usia keempat puluh, rasanya dia pun tak siap. Pasti dia sudah seperti nenek si jabang bayi. Ares menyimpan map tersebut di laci nakas samping tempat tidurnya. Dia berkata tegas, "Pokoknya, aku tegaskan. Kita nggak ada yang namanya melakukan pencegahan kehamilan. Kamu itu masih awet muda kok, takut kenapa gitu sih?!" "Sumpah, kamu tuh kepedean banget. Aku aja takut kalau harus ketemu keluarga Holmes. Apa yang akan mereka pikirkan tentang aku?!" Celine menarik selimut menutupi tubuh polosnya dengan wajah mencebik. "Emang penting? Sudah deh, kita lanjut pertarungan yang tadi aja!" tukas Ares masa bodoh. Dia merangkak menghampiri Celine dengan tatapan buas. Selimut putih yang membungkus tubuh molek istrinya disentakkan hingga terbuka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD