"Kau hanya ingin tubuhku saja untuk memuaskan hawa napsumu, Ares! Aku akan hubungi Mister Joseph Holmes, minggir!" hardik Celine emosional. Suhu tubuhnya menghangat dan mulai berpeluh karena bergumul melawan kekuatan Ares.
Kedua tangan Ares menangkap pergelangan tangan Celine kanan kiri. Dia harus menang dan berhasil menertibkan wanita bengal yang begitu menarik perhatiannya, bagai nyengat dan api.
"Don't be silly! My Dad busy, kau tak akan bisa menghubungi beliau kalau aku tak mengizinkanmu melakukannya!" bantah Ares dengan seringai bandel.
Ternyata Celine mulai kelelahan melawan pemuda berondong itu. Dia pun terdiam sambil berpikir solusi untuk perusahaannya yang terancam kerugian besar. "Kau jahat sekali karena mempermainkan nasib orang!" sembur wanita itu terisak-isak tak berdaya.
"Ckk ... aku selalu mendapat apa yang kuinginkan. Memangnya kenapa, Sayang?" cibir Ares dengan congkak. Dia tak peduli dengan perasaan Celine, toh dia 100% yakin bahwa wanita itu pasti akan bahagia bersamanya.
"Aku nggak suka sama kamu, Baby Boy!" Celine berhenti bersikap melankolis dan mencoba untuk bersikap logis. Dia pun menawarkan kesenangan instan untuk Ares, "Kau boleh menikmati tubuhku lagi malam ini, tapi tolong tanda tangani surat perpanjangan kontrak suplai perusahaanku terlebih dahulu!"
"No ... no ... no, cara mainku tidak begitu, Cantik. Kau, tanda tangani saja surat pernikahan kontrak yang tadi. Maka aku juga akan beri tanda tangan ke dokumen yang kau bawa. Tunduklah kepadaku, Celine!" jawab Ares bersikukuh. Dia tak bisa mengalah kepada kaum wanita karena memang dididik oleh ayahnya untuk menjadi pria dominan, seorang pemimpin.
Sepasang mata biru Celine menatap ke dalam bola mata lawan bicaranya lalu dia menjawab, "Aku ingin mengajukan syarat kepadamu. Rahasiakan pernikahan kontrak kita dari pihak luar, hanya kita berdua yang tahu. Tidak keluargamu dan juga keluargaku. Deal?"
"With my pleasure. DEAL!" Ares melepaskan tangan wanita yang sedang dia tindih di sofa lalu mereka bertukar map dokumen. Dia berkata seraya menyerahkan pulpen kepada Celine, "Kau duluan, aku mengikuti!"
Celine menghela napas dengan berat, dia seperti menyerahkan dirinya ke tangan iblis saja. Pemuda itu tersenyum puas memandanginya membubuhkan tanda tangan di surat pernikahan kontrak di pangkuannya.
"Giliranmu sekarang, Ares!" Celine menyerahkan pulpen ke pemuda itu. Namun, Ares mengambil map dokumen yang baru ditanda tangani oleh Celine dan memeriksanya dengan teliti. Dia tak ingin ada yang tak sempurna.
"Nice work. Baiklah, sekarang kita suami istri, Celine. Karena kau tak ingin ada perayaan maka aku akan langsung mengajakmu menikmati malam pertama kita saja!" tutur Ares. Sesuai janjinya dia juga menanda tangani dokumen yang dibutuhkan oleh Celine untuk kerja sama mereka dalam bisnis yang saling menguntungkan.
Dalam hati kecilnya Celine sangat gundah, dia mengunjungi penthouse Ares hanya untuk mencari tanda tangan pemuda itu mewakili Grup Goldstone International. Namun, dia kini justru menjadi istri pria muda itu malam ini.
"Done. Ayo kita makan malam, kau pasti lapar!" Ares menelepon ke bagian dapur Royal Ultima Tower untuk mengirim hidangan kencan dinner istimewa bersama istri barunya ke hunian.
Makan malam itu berlangsung dalam keheningan, hanya peralatan makan beradu dan berdenting yang terdengar, tanpa percakapan hangat. Ares terus memperhatikan raut wajah cantik di hadapannya yang lesu.
"Apa makanannya tidak sesuai seleramu, Istriku?" tanya Ares penasaran. Dia belum begitu mengenal wanita tersebut.
Celine membalas tatapan pemuda bermata biru itu. "Aku hilang napsu makan!" Dia menjawab sekenanya sekalipun jujur.
"Mungkin kita sudahi saja makan malamnya kalau begitu. Aku ingin berolah raga malam bersamamu, Darling. Namun, ada baiknya kita membiarkan makanan turun dulu ke usus ya. Ikutlah denganku ke balkon!" Ares bangkit dari kursi lalu mengulurkan tangannya kepada Celine. Agak berjeda beberapa detik sebelum istri barunya menaruh telapak tangan ramping itu di sana.
Pasangan suami istri nikah kilat berkontrak itu berjalan berdampingan menuju balkon. Pemandangan kota metropolitan dari atas gedung pencakar langit itu nampak menakjubkan sekalipun agak menyeramkan bagi orang yang phobia dengan ketinggian.
"Apa kau takut, Celine?" tanya Ares seraya memeluk dari belakang perut rata wanita yang kini telah sah menjadi istrinya di atas kertas itu.
"Nggak sih. Cuma masih bingung menghadapi semua yang terjadi begitu cepat." Celine terdiam dan tak sengaja bulir air matanya mulai menetes hingga membasahi lengan Ares.
"Hey, kok malah jadi nangis lagi sih? Kamu bukan bocah ABG 'kan?" Ares membalik badan wanita berusia 39 tahun itu menghadap dirinya.
Celine melengos menghindari tatapan mata biru identik sewarna iris matanya itu. "Aku bukan w************n, kau membuatku merasa begitu!" protesnya tak ingin menjadi obyek pelampiasan napsu pemuda berondong yang memaksanya jadi istri kontrak.
"Pernah dengar nggak, kalau batas antara benci dan cinta itu tipis? Keduanya bisa tertukar tanpa disadari. Aku tuh cinta berat sama kamu semenjak pertama lihat di night club. Kamu ceria dan memancarkan aura yang tak bisa kuabaikan begitu saja. Semalam ketika kita one-night-stand, aku berusaha menjejalkan logika ke dalam otakku. Namun, cinta sudah membuatku bodoh!" tutur Ares seraya membelai pipi lembut Celine untuk menghapus air matanya.
"Apa kamu nggak takut kalau cintamu itu bertepuk sebelah tangan?" sindir Celine agar pemuda yang menggebu-gebu jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya itu sadar.
"Hahaha. Awas kalau bencimu itu berubah jadi bucin ya!" balas Ares tak mau kalah. Dia percaya diri bahwa dirinya layak dicintai oleh Celine. "Apa aku harus mengingatkan peristiwa semalam ketika kamu mendesah minta aku untuk terus menyentuhmu?" goda Ares dengan senyum bandelnya.
Celine merasa pemuda berondong itu terlalu bebal untuk tersadar dari cinta gilanya. Sepertinya malam ini akan menjadi malam pertama untuk kali kedua dalam hidupnya. Celine tak berdaya ketika Ares merengkuh dia ke dalam dekapan lengan kokohnya dan menanamkan ciuman panas di bibir Celine, begitu posesif seolah ingin melahapnya saja seperti makanan lezat.
Ketika ciuman itu usai, Celine harus menata napasnya yang terengah. Dia memekik kecil saat merasakan permukaan lantai yang dia pijak menjauh dari kakinya.
"Hmm ... kau boleh berteriak sepuasmu di ranjangku, Sayang. Ini malam pertama kita, aku pasti akan membuatnya jadi momen tak terlupakan!" ujar Ares menggendong tubuh ringan bertulang ramping itu masuk kembali ke penthousenya.
Tirai putih yang menutupi ambang pintu ke arah balkon berkibar tertiup angin malam yang hangat di musim kemarau.
"Redupkan lampunya!" titah Ares ke sistem pengaturan dengan sensor suara di penthouse mewah miliknya.
Celine agak terkagum dengan betapa canggih hunian putra konglomerat keluarga Holmes itu. Wajar sih karena tycoon asal Amerika Serikat tersebut hartanya unlimited. Sekarang sudah kepalang basah, dia pun tak ingin terlalu melankolis menghadapi nikah kontrak yang dipaksakan Ares kepadanya.
Saat Ares membaringkan tubuh Celine yang masih terbalut pakaian lengkap ke tengah ranjang, dia sudah siap memulai permainan panasnya bersama istri barunya.
"Tunggu dulu, sebelum kamu ingin macam-macam denganku. Jawab dulu pertanyaanku!" sergah Celine menepis tangan nakal pemuda itu dari depan dadanya.