Dalam kepala Celine penuh pertanyaan yang membuat dirinya tak nyaman karena one-night-stand yang dilaluinya semalam bersama Ares Holmes. Seingatnya dahulu bukan pemuda ini yang menanda tangani kontrak suplai dalam jumlah besar ke sepuluh night club yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia.
"Sebentar! Bukankah dulu yang membuat kesepakatan kerja sama dengan Stardust adalah Mister Joseph?" tanya Celine penasaran. Dia cemas Ares akan mempersulit dan meminta syarat yang tidak-tidak darinya untuk memuluskan kontrak baru.
"Daddy? Oh ... maybe, tapi beliau sudah mewariskan bisnis yang di Indonesia ke tanganku, putra nomor tiga. Ada apa, Celine?" jawab Ares dengan tatapan misterius.
“Pantesan tempat tinggalnya mewah banget, si Ares ini tuan muda tajir. Oke, back to business!” batin Celine berusaha fokus ke tujuan meeting clientnya.
"Tidak apa-apa, bagaimana kalau kita tanda tangani saja surat kontrak suplai yang baru untuk tahun ini sekarang, Mister Ares?" ujar Celine dengan nada melunak.
Namun, Ares tak sependapat. "Kita makan siang dulu deh, aku lapar!" tukasnya lalu menjentikkan jemarinya agar pelayan restoran hotel menghidangkan menu pesanannya ke meja.
"Sedari tadi malam aku belum sempat makan. Ditambah lagi aku semalam aku harus kerja keras!" sindir Ares sembari melirik ke arah Celine yang wajahnya merah padam.
Makan siang pun berlangsung dengan tenang sekalipun Celine merasa bahwa wajahnya begitu menarik perhatian Ares. Pria berondong itu terus menerus menatapnya sambil mengunyah makanan. Dia jadi salah tingkah sendiri.
"Miss Silvia, aku ingin Madam Celine saja yang menemuiku sendirian saat dinner malam ini. Ada beberapa hal pribadi yang harus kami bahas berdua saja tentunya!" tutur Ares yang membuat kedua wanita itu terkejut lalu saling bertukar pandang.
"Bagaimana ini, Bu?" tanya Silvia tak bisa memutuskan.
Celine mau tak mau mengangguk setuju dengan kehendak kliennya. Dia seperti jatuh dalam jaring perangkap yang tak terlihat. "Baik, saya bisa menemui Mister Ares saat makan malam nanti!" jawabnya santai sekalipun terpaksa.
"Good. Kutunggu di penthouseku ya, Madam Celine!" ujar Ares dengan senyum kemenangan terukir di bibir merah mudanya. Dia pun bangkit berdiri dan mengulurkan tangan kepada Celine.
***
Ketika sore tiba, Celine dijemput oleh putra semata wayangnya.
"Mama Cantik, apa sudah kelar kerjanya? Pulang sama Diego, yuk!" ajak pemuda berusia 19 tahun yang baru menginjak tahun pertama perkuliahan tersebut.
Celine pun bangkit dari kursi kerjanya lalu menerima peluk cium Diego yang berperawakan tinggi gagah itu. "Iya, Mama sudah kelar nih. Yuk kita langsung pulang!" jawabnya. Mobil Lamborghini two seats itu dibuka atapnya oleh Diego. Kendaraan itu meluncur di tengah jalan raya Jakarta yang ramai.
Sepasang mata di dalam mobil sedan lainnya memperhatikan dengan hati panas. “Sialan! Itu 'kan Celine, berani-beraninya dia jalan sore dengan berondong lain, padahal nanti kami ada dinner date. f**k!” rutuk Ares cemburu buta.
Mobil mereka berdua sempat bersisian di jalan raya, Ares pun menurunkan kaca jendela mobilnya dan berteriak kepada Celine, "Jangan lupa kencan kita nanti jam tujuh!"
"Ma, itu pacar baru Mama, ya? Mobilnya keren juga, tajir pasti si Om!" komentar Diego kegirangan. Dia tak sempat melihat wajah pria tadi karena fokus menyetir.
Celine tak ingin menjawab, dia merasa kepalanya pening. Entah berapa usia Ares? Hanya saja dia tak ingin merumitkan diri dengan cinta ala anak muda zaman sekarang.
***
Di rumahnya, wanita yang sedang dijadikan obyek gerutuan Ares sedang mandi berendam di bathtub kamarnya. Celine merasa agak stres memikirkan perpanjangan kontrak kerja sama dengan Grup Goldstone International.
Suara dering telepon di HP Celine yang ada tergeletak di atas meja riasnya membuat wanita itu segera membilas busa di badannya dengan shower dan mengenakan handuk.
"Hah … Ares?" Celine terkejut karena ID caller di layar HP yang muncul nama “Ares Darling”. Seingatnya, dia tak pernah menyimpan nomor pemuda itu. "Halo?" ucap Celine gugup.
Suara pria yang keluar dari loudspeaker HP Celine berkata, "Halo, Celine. Ini Ares, jangan lupa kita ada janji kencan!"
"Iya, aku baru saja selesai mandi. Ini masih pukul 18.00 kurang," jawab Celine jutek.
Ares terkekeh m***m. "Good, pasti tubuhmu wangi. Sampai jumpa di penthouseku ya!"
"Oke, Mister Holmes!" sahut Celine sopan lalu memutus telepon terlebih dahulu. Dia mengeringkan tubuh dengan benar lalu memilih baju di lemarinya.
Celine lalu berjalan ke teras depan rumah di mana sopir pribadinya menunggu. Di pangkuan Celine ada map surat perpanjangan kontrak suplai yang dititipkan Silvia kepadanya sore tadi. Dia berharap Ares tidak mempersulit pekerjaannya malam ini. Ada sebersit kekuatiran yang menyusup di hati kecil Celine, jangan-jangan pemuda itu ingin mengulangi apa yang terjadi tadi malam.
Mobil itu melambat di depan pintu lobi Royal Ultima Tower. Celine pun berpesan kepada Pak Bambang, "Tungguin di parkiran gedung ini aja ya, Pak. Saya nggak lama-lama kok. Kalau sudah kelar nanti saya WA buat jemput di lobi lagi!"
Langkah Celine terhenti ketika sampai di tengah ruangan lobi menuju lift. Empat orang pria bersetelan jas hitam mencegatnya seraya menyapa, "Selamat malam, Bu Celine. Kami diperintahkan Tuan Muda Ares untuk menjemput Anda naik. Mari!"
Lift yang cukup luas itu bergerak naik dengan lima penumpang menuju lantai teratas. Pengawal tadi menekan tombol bel penthouse milik Ares. Tak lama kemudian pintu terayun membuka dari dalam. Wajah pemuda yang ingin ditemui Celine muncul di ambang pintu.
"Hello, Darling. Senang melihatmu datang, ayo masuk!" sambut Ares yang segera merangkul bahu kurus Celine. Dia menutup kembali pintu dan menguncinya.
Celine melangkah di sebelah pemuda itu menuju ke sofa. "Permisi, Mister Ares. Jadi, apa kita bisa langsung membicarakan–"
"Nggak bisa. Ikuti mauku kalau memang perpanjangan kontrak suplai minuman perusahaanmu itu penting!" potong Ares tegas.
"Maksud Anda gimana, ya? Oke, mungkin kita makan malam terlebih dahulu?" tebak Celine seraya mengerjap-ngerjapkan sepasang mata bermanik birunya yang indah. Tatapan Ares terkunci di sana lalu tertawa sendiri.
Pemuda itu pun berdehem, dia menyodorkan sebuah map plastik berwarna merah sembari berkata, "Aku ingin kamu melakukan sesuatu terlebih dahulu. Baca dokumen ini lalu tanda tangani. Setelah itu baru aku tanda tangani yang kau bawa, okay?"
"Baik." Celine segera membuka dokumen yang diserahkan Ares dan membaca dengan teliti isinya. Dia mengerang tak setuju lalu menoleh ke arah Ares yang tersenyum lebar kepadanya. "Maksudmu, kita nikah kontrak?! Untuk apa? Kita baru bertemu tadi malam, Ares. Apa kau tahu usiaku 39 tahun? Berapa umurmu?" cecar Celine, menolak keras keinginan Ares.
Pemuda itu tertawa renyah. "Hey, aku tahu karena melihat ID card di dompetmu semalam. Statusmu janda, bukan? Usiaku bukan urusanmu, Sayang. Hal yang perlu kamu ketahui hanyalah senjata perangku berfungsi penuh dan ... mampu bikin kamu lemas. Tanda tangani saja surat ini, kita bisa bercerai kalau sudah bosan satu sama lain!" jawab Ares santai.
"Kau sudah gila. Aku bukan perempuan murahan yang bisa kau jadikan obyek pemuas napsumu, Ares!" sembur Celine lalu dia bangkit berdiri dari sofa untuk pulang saja.
Namun, secepat kilat pinggangnya diraih hingga jatuh ke sofa lagi. Ares memerangkap tubuh wanita itu dan berbicara dari jarak wajah yang dekat, "Pikirkan lagi, kau akan rugi besar kehilangan klien kelas kakap. Aku suka menaklukkan wanita bengal sepertimu, Madam Celine Wright!" Dia menautkan bibir mereka dalam ciuman yang dipaksakan. Akankah Celine menyetujui pernikahan kontrak itu?